TAK KENAL MAKA TAK SAYANG
Ketika kubuka mataku, dan kutatap langit tampak gelap gulita, jam dinding pun masih menunjukkan pukul 04.00 WIB. Ku bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Shubuh berjamaah di masjid dekat rumahku. Ketika menuju masjid aku melihat seseorang wanita yang wajahnya bersinar terang bagaikan sinar matahari menyinari bumi. Wajahnya tampak cantik dan enak untuk dipandangi, aku sapa dia dengan mengucapkan salam dia pun menjawab sapaku. Hatiku merasa senang bisa menyapanya dan membuatku ingin mengetahui dirinya lebih jauh lagi.
Hari demi hari ku hanya bisa menatapnya dari jauh bagaikan menatap bintang di langit yang mungkin hanya bisa dilihat dari jauh namun tak bisa ku raih dan kumiliki. Suara iqamah yang akan memulai shalat shubuh itu mengejutkan aku, ternyata aku sedang melamun sambil menatapnya masuk ke masjid . Aku memikirkan yang mungkin tidak akan menjadi milikku, semoga saja tuhan mengijinkanku untuk bisa duduk bareng di pelaminan hingga hari tua nanti.
Kantorku membuka lowongan kerja untuk menjadi staff HRD, lagi lagi aku melihat wanita yang setiap shubuh aku liat ketika hendak ke masjid. Rekan kerjaku pun banyak yang melirik bahkan hingga ingin menggodanya bagaimana tidak, wanita itu berpakaian seperti orang kantoran umumnya, memakai sepatu heels, berrambut panjang, tinggi dan bahkan body nya pun sangat menggoda kaum adam. Ya! Dia adalah wanita yang aku idamkan selama ini, ku lihat rekan kerjaku yang bernama gusti menghampiri wanita ituu dan terlihat akrab sekali seperti sudah lama kenal dengannya.
Gusti pun kembali duduk ke meja kerjanya setelah ngobrol dengan wanita itu,
“Ian, gue ingin menanyakan sesuatu”, ketika aku berbicara seperti itu, dia tampak binggung
“ Tanya aja kali haha” katanya dengan heran, tak biasanya aku basa-basi seperti itu
“ Siapakah wanita cantik tadi yang lo ajak ngobrol?”
“Wanita? Wanita yang mana?” katanya dengan heran
“Wanita yang akan melamar pekerjaan di kantor kita” kataku malu-malu
“ Ohh… dia adalah sahabat gue sejak SMA. Memangnya kenapa?”
“Kalau gue boleh tau, siapa namanya gus?” aku pun bermuka melas agar dia memberitahuku
“Mau gue kenalin sama dia? Haha” diapun ketawa, dan tampak ingin mengenalkan temannya
“ Boleh lah, kasih tau dan kenalin gue…” katakuu sambil bercanda
Tiba tiba seorang wanita keluar dari ruangan-
“Najla…..!!!” dia memanggil wanita itu dengan keras, sehingga rekan kerjaku yang lain tampak melirik kami.
“ Hei Gus, ada apa?” katanya dengan terkejut
“ Ada seseorangg yang ingin gue kenalin ke elo dan dia ingin kenalan juga sama “ katanya sambil nyengir
“ Hai Najla, kenalin gue Riyadi Saputra Wibisono” kataku sambil mengulurkan tangan
“ Hai Riyadi, gue Taajkhansa Najla biasa dipanggil Najla” dia pun mengulurkan tangannya dan berjabat tangan denganku.
Hatiku merasa beku bagaikan es karena baru kali ini aku berjabat tangan dengan gadis cantik idamanku. Akupun tak tahan untuk melepas tangannya
“ Hei udah berjabat tangannya, bukan mukhrim” katanya membuatku terkejut dan hampir tidak bisa kulepas
“ Eh iya, sorry Najla hehe…” kataku dengan tersenyum malu
“Oh ya, kalo boleh gue minta ID line lo dong hehe” aku pura pura memegang hp, barangkali dia ingin memberiku idnya.
“ Oh iya boleh, ID gue Najlala ” aahhh….. betapa senangnya hatiku, gadis ini sudah cantik, baik dan tidak sombong pula
“ Eh iya… terima kasih “ kataku tersenyum bahagia
Semenjak hari itu akupun mulai sering chat dengannya, dari keadaan yang kaku sampai kita mulai agak bercanda, sesekali aku mengajak makan malam bareng berdua tapi dia pun mengajak Gusti makan bareng. Hampir setiap hari Sabtu malam minggu kami lakukan ini hanya bertiga.
Hari demi hari berlalu, Najla pun diterima di perusahaan dimana aku dan Gusti bekerja. Keberadaan Najla dikantorku itu membuatku semakin bersemangat untuk bekerja sesekali aku lirik dia ketika bekerja. Tak perlu menunggu hari Sabtu untuk mengajaknya jalan-jalan atau makan malam bersama.
Saatnya pulang kerja, aku mengantarkan Najla pulang ke Apartemennya di daerah Kelapa Gading, aku merasa senang sekali bisa mengantarkan karyawan baru yang cantik itu kembali ke apartemennya.
Setelah 2 jam perjalanan dari kantor ke Apartemen Najla, tak seperti biasanya aku merasa tidak mengantuk dan lelah..
“ Terima kasih mas Riyadi udah nganterin gue pulang” katanya dengan tersenyum
“ Eh iya sama-sama, jangan pake kata ‘mas’ kan kita ga beda jauh umurnya “ kataku dengan senang hati
“ Oke Riyadi, hati hati dijalan “ duh, hatiku berdebar-debar ketika dia mengatakannya
“ Eh iya, kalo mau berangkat bareng tinggal telepon gue aja “ kataku dengan tersenyum dan meninggalkan apartemennya
Aku masih terbayang terbayang dengannya, betapa hatiku gembira sekali bisa mengantar Najla ke Apartemennya. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu hubungan kita semakin dekat dan sering pulang bareng.
Pada suatu ketika, Najla tidak mau ku antar pulang seperti biasanya, ada apakah gerangan? Apa yang membuatnya berubah dan sudah tidak seperti biasanya?. Ku tunggu, ku perhatikan namun dia pun tak kunjung pulang. Tak berapa lama, dia pingsan di kantor dan akupun panik karena kantor sudah sepi dan sudah tidak ada orang lagi kecuali Office Boy (OB)
Aku telephone ambulance untuk segera memberikan pertolongan pertama kepada Najla, aku beserta staff OB mengangkatnya ke ambulance dan dilarikan ke Rumah Sakit terdekat kantorku. Aku berharap Najla masih dapat tertolong jiwanya, dan sampai di rumah sakit kami pun langsung ke IGD. Aku mencoba menghubungi Gusti untuk datang ke rumah sakit secepatnya. Ketika dia datang, dia langsung menangis dan memelukku dengan erat.. Aku merasa heran, aku belum pernah melihat dia nangis dan memelukku seerat ini.
Aku ceritakan apa yang terjadi sore tadi ke Gusti, dan kamipun berdoa kepada Tuhan agar memberikan kesembuhan kepada Najla. Gustipun memberitahu kepada keluarga beserta rekan rekan kantor lainnya untuk menjenguk di rumah sakit.
Ibunya datang ke rumah sakit, dan langsung menangis,
“ Kenapa dia? Apa yang terjadi dengannya? “ katanya sambil menangis dan tidak menyangka
“ Aku tidak tau apa yang terjadi tante, tiba tiba Najla jatuh pingsan dan aku segera membawanya kemari” kataku mencoba menenagkan ibunya
“ Berapa lama dia harus dirawat dan istirahat di rumah sakit?” tampaknya seperti takut mahalnya harga ruangan yang harus dibayarkan
“ Kita berdoa aja tante, semoga Najla cepat sembuh”
Aku dan Gusti pun segera bertemu dengan dokter yang memeriksa kesehatan Najla, dan kutanyakan apa yang terjadi dengannya dan berapa lama harus dirawat dan istirahat di rumah sakit.
“ Dok, bagaimana keadaan teman kerja saya? “ kataku dengan penasaran
“ Temanmu tak apa-apa hanya butuh istirahat disini.” Sang dokter menenangkankua
“Berapa lama dok?” kataku penasaran
“ Kira kira 5 hari dia harus dirawat dan beristirahat disini.”
“ Baik lah dok, aku hanya tinggal membayar perobatan dan teman kerjaku bisa sembuh.”
Aku memberitahu ibunya Najla bahwa dia harus beristirahat di rumah sakit selama 5 hari di kelas I. Akupun berniat untuk mengumpulkan dana dari teman teman sebagai tanda kepedulian kepada Najla yang sedang sakit itu.
Aku memberikan ide kepada Gusti untuk mengumpulkan dana dan besok harinya Gusti datang ke kantor dan memberikan informasi kepada teman teman untuk memberikan sebagian dana untuk pengobatan Najla. Setelah terkumpul aku pun segera membayar ruangan rawat inap tersebut di kasir.
Setiap pulang kantor, aku mencoba menjenguk Najla di rumah sakit untuk mengetahui keadaannya semakin hari. Terkadang hatiku tergerak untuk menunggunya di rumah sakit sebagai bukti rasa sayang kepada sahabat dan tidak dapat terpisahkan bagaimanapun juga. Kadang kadang akupun sering mengajak Gusti ke rumah sakit, itupun kalau dia sedang tidak sibuk, dia tetap memanfaatkan waktu untuk merawat dan menajaga Najla di rumah sakit.
Seminggu berlalu, Najla pun diperbolehkan pulang oleh sang dokter ketika masuk mobil tiba tiba,
“ Eh guys, kan gue udah sembuh nih gimana kalo kita ke Mall…” kamipun kaget, baru saja dia keluar dari rumah sakit langsung mengajak ke Mall…
“ Eh, tapi lo kan baru sembuh Naj..” kataku dengan heran
“ Lo kan baru sembuh “ Gusti pun tampak satu suara denganku
“ Yah kalian mah gitu…” wajahnya pun berubah jadi cemberut
“ Yaudah deh, kita turutin aja. Kalo dia sakit lagi ga mau gue urusin haha…” Gusti mencoba menturuti permintaan Najla
“ Nah gitu dong… ngomong ngomong, makasih banyak kalian emang sahabat gue banget kalian peduli sama gue saat gue baik gue lagi sibuk atau lenggang, saat gue sehat dan saat gue sakit, lo berdua udah mencoba memberi tahu keluarga gue, teman teman kantor bahkan lo berdua ga pernah bosen ke rumah sakit buat jenguk gue dan nemenin gue di ruangan rawat. Gue ga bisa bilang apa apa, kecuali gue bilang GUE SAYANG LO SEMUA, YA ELO SAHABAT TERBAIK GUE yang pernah gue temuin.” Diapun tampak terharu dan sedih
“ Sama-sama, gue sebagai sahabat lo ga akan mungkin ninggalin lo dan kita harus merasakan bahagia dan duka bersama . Gue rela mengorbankan diri gue demi sahabat gue. Jangan pernah berhenti disini persahabatan kita walaupun kita semua sudah nikah nantinya. “ Gustipun menambahkan
Akupun tak bisa berkata apa-apa lagii, semua sudah terwakilkan oleh Gusti, dan saat itu kamipun berpelukaan sebagai tanda persahabatan kita yang akan terus berlanjut. Kamipun meneruskan perjalanan ke sebuah Mall dan Najlapun mulai kembali kerja sebagaimana bisanya dan melakukan aktivitas seperti biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar