Selasa, 16 Februari 2016

"Todou Kirin"

Apa yang Kudapat Hari Ini?


“Kirin, ayo bangun!” Perlahan kubuka mataku. Rasanya istirahat semalaman tidak cukup untuk menghilangkan letih. Terlebih, bukan sinar terangnya sang mentari yang menyambutku, melainkan germercik hujan. Memang sudah satu minggu terakhir ini hujan lah yang menyapaku setiap pagi, bukan sialuan mentari.  “Sarapan dulu dek, udah ditunggu papah dan kak Adi.” Suara lembut mama memberiku semangat untuk mulai menjalani hari. Sampai lulus SMA pun, aku harus tetap dibangunkan mama setiap pagi, seakan tak peduli kata teman-teman yang selalu mengingtkan ku untuk tidak lagi manja.
“Selamat pagi sayang.” Kalimat ini selalu kudengar setiap pagi, kalimat yang memberi energi baru untuk setiap hariku. “Selamat pagi pa, kak” jawabku. Mama menyiapkan sandwich untuk sarapan pagi ini. Ditambah lagi, pudding rasa coklat sebagai makanan penutup. Lagi-lagi, sifat manjaku belum hilang. Mama menyuapiku pudding dengan sabarnya. Kehangatan seperti ini yang mungkin sebentar lagi tidak akan ku rasakan. Akan datang rindu yang teramat dengan suara lembut mama, sapaan penuh kasih papa setiap pagi, dan kehangatan yang ada disaat dinginnya udara memasuki rumah.

              Salah satu rutinitasku setelah sarapan adalah menyempatkan mengobrol atau sekedar berbagi cerita dengan Kak Adi. Aku selalu tertarik dan tidak pernah bosan dengan semua yang Ia ceritakan kepadaku. Kak Riyadi memang menjadi sosok yang aku kagumi. Juara kelas, pernah menjadi ketua osis, sampai sekarang menjadi ketua BEM. Bahkan, kak Adi juga aktif di klub bolanya dan sering memenagkan pertandingan. Tak heran kalau mama dan papa bangga dengannya. Waktu seakan berlari. Karena obrolan kami yang terlalu asyik mungkin. Selalu ini yang terjadi. Kami saling berbagi cerita sampai tak sadar akan menit demi menit bahkan jam yang berlalu. Aku senang sekali bisa akur dan dekat dengan kakak. Yaa walaupun kakak suka mengejekku anak manja. Sampai saat aku hendak beranjak ke kamar, kakak memanggilku. “Rin, coba kamu tuliskan di papan ini, satu pelajaran hidup paling berharga yang kamu dapatkan di hari ini. Hari terakhir sebelum kamu berangkat ke Paris. Satu saja.” Pinta kak Adi.  Ya, esok rencananya aku akan berangkat ke Paris untuk menempuh studi S1 ku, Kak Adi tersenyum seraya memberikanku papan hitam berukuran 30 cm x 20 cm bergaya vintage dengan gambar menara Eiffel di sudut kanan bawahnya, “Gamau kak. Untuk apa sih?” jawabku menolak. “Tulis saja, nanti juga kamu tahu untuk apa.” Aku menyimpan papan tersebut dan langsung bersiap untuk pergi.

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari ini aku akan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Ini hari terakhirku di Indonesia, jadi aku memutuskan untuk bersenang-senang dan berbelanja apa saja yang aku mau. Berbicara tentang belanja, mungkin bisa dibilang itu adalah hobiku. Mama dan papa sudah berulangkali mengingatkanku untuk lebih menghargai uang dan tidak menghamburkannya begitu saja, begitu juga teman-temanku yang tak henti hentinya mengingtkanku untuk menghilangkan sifat boros dan manja ku,sayangnya sulit sekali untuk menuruti semua nasihat itu.
Seperti biasa, gedung gedung kaca pencakar langit menghalangiku untuk memandang langit Jakarta. Klakson mobil saling membalas. Debu berterbangan dan asap hitam mencemari udara Ibukota. Semua itu kujumpai setiap hari. Menjadi hal yang biasa. Akhirnya, setelah melawan kemacetan selama 2 jam, aku sampai di mall dan langsung masuk ke salah satu salon disana. Tak terasa 3 jam sudah waktu yang kuhabiskan di salon. Merasa belum puas, aku masuk ke salah satu toko baju disana dan memutuskan untuk membeli satu dress berwarna hitam, satu blouse putih, dan satu mantel berwarna tosca. Senang sekali rasanya. Tetapi, sepertinya aku belum juga puas.Aku langsung melangkahkan kakiku ke salah satu toko sepatu branded. Baru masuk saja, mataku langsung tertuju pada satu sepatu berwarna coklat, mengkilat, dan terlihat sangat trendy. Tak berfikir panjang, aku memutuskan untuk membelinya. Saat hendak memanggil penjaga toko,  telefon genggamku bergetar. Rupanya pesan dari kak Adi. Ingat ya yang kakak minta tadi. Ohiya, ingat kata mama papa, coba belajar lebih menghargai uang. Jangan boros yaa. Seakan tahu kalau aku sedang berbelanja banyak barang dan tak sedikit uang yang aku keluarkan, pesan kak Adi membuatku berfikir dua kali untuk membeli sepatu tersebut. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak jadi membeli sepatu coklat itu dengan berat hati. Sedih sekali rasanya. Saat hendak meninggalkan toko, aku melihat seorang gadis membeli sepatu serupa, hanya saja yang berwarna hitam. Ya ampun gadis itu membuatku iri. Aku berfikir bahwa aku akan menyesal jika tidak membeli sepatu itu. Sebaliknya, aku akan sangat senang jika bisa memilikinya. Mungkin, itu akan menjadi sepatu favorite ku. Langsung saja aku putuskan untuk membelinya. Entah sudah berapa banyak uang yang aku keluarkan hari ini. Demi kepuasanku, demi kesenganku.
Menuju rumah, aku tak dapat menghindari kemacetan Jakarta. Sore ini lebih parah. Hujan deras sebagai pelengkapnya. Semua orang tergesa-gesa seakan dikejar waktu. Berlarian agar tak basah terguyur hujan. Klakson kendaraan saling bersautan. Aku hanya bisa manatap keadaan lewat kaca mobil. Diantara semua kesibukan dan kakacauan di luar sana, mataku melirik seorang gadis cantik yang terlihat berusia sekitar 7 tahun. Terus kuperhatikan gadis kecil yang cantik itu. Disaat semua orang mencari tempat berteduh untuk menghindari hujan, gadis itu melakukan hal sebaliknya. Ia berjuang sendiri. Menerjang derasnya hujan sambil membawa payung, barangkali ada yang mau menyewa payung yang ia tawarkan. Bajunya basah. Pasti Ia kedinginan, tapi tak dirasa. Matanya penuh harap. Ia rela, dibayar seikhlasnya untuk payung yang ia sewakan. Begitu besar perjuangannya, tak sebanding dengan apa yang Ia dapat. Mungkin untuk membeli makan saja tak cukup. Yang membuatku terkagum, raut wajahnya menggambarkan ia ikhlas dan bahagia, tanpa menyiratkan kesedihan sedikitpun. ‘Hebat sekali, dia bisa bahagia dengan sederhana. Satu orang menyewa payungnya saja, ia sudah bisa tersenyum senang’ gumamku. Kemacetan belum juga berakhir. Aku langsung teringat dengan pesan kak Adi. Ya, mungkin ini pelajaran berharga yang aku dapatkan di satu hari terakhirku sebelum keberangkatanku ke Paris.
Sesampainya di rumah, langsung ku tuliskan apa yang kudapat hari ini diatas papan hitam yang diberi oleh kakak. Bersyukur atas apa yang kita punya. Dengan begitu, kita bisa bahagia dengan cara yang sederhana. Karena Bahagia itu, sederhana :) Ya, sekarang aku mengerti maksud kakak. Aku langsung menunjukannya kepada kak Adi, dan kak Adi seakan tak percaya adiknya yang manja ini bisa manulis kata-kata penuh makna itu. Aku bersyukur sekali bisa mendapat pelajaran itu di hari terkahirku sebelum berangkat ke Paris. Aku merasa ingin menjadi Kirin yang lebih baik. Tidak lagi manja, tidak lagi boros, dan selalu mensyukuri apa yang kupunya. Aku tak tahu apa yang akan kualami di Paris, jika sifatku masih manja seperti itu.
Hari ini aku akan berangkat ke Paris. Berat sekali rasanya berpisah dengan mama, papa, dan kakak. Tiga jam sebelum keberangkatan. Perasaanku campur aduk. Senang karena aku bisa menggapai mimpiku untuk sekolah di Paris, sedih karena aku pasti sangat merindukan suara lembut mama, sapaan papa setiap pagi, berbagi cerita dengan kak Adi, dan kehangatan rumah. Setidaknya, aku sudah mempunyai bekal untuk menjalani hidupku disana. Dengan kepribadianku yang baru. Ini saatnya aku berpisah. Aku harus check-in pesawat. Ku lihat mama dan papa melambaikan tangan, dan kak Adi menyemangatiku “Semangat ya sekolahnya! Jangan lupa apa yang kamu tulis di papan itu! hati-hati yaa disana.” Aku tak mampu lagi menatap senyuman mereka. Langsung saja kumantapkan langkahku, dengan pribadi baruku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar