Selasa, 06 Oktober 2015

Di Asingkan

Yak....kembali lagi dengan kami,sekarang kami ingin memberti tahu kan bahwa... "KELA5" bakalan pindah kelas lg (diasingkan).Sebenarnya ini sudah ke 2x nya di lempar,sana lempar situ (?) dan terbesit di pikiran kami kalo bakalan ganti nama dari "KELA5" menjadi "ANSO5".
Kenapa? Ya karena kita di Asingkan ke tempat yg sebelah kanan ruangan nya itu tembok dan sebelah kirinya adalah siswa kelas 10...gk ada temen,mau main susah,mau nyayur susah(?),tp kalo mau TP(Tebar Pesona) ama adek kelas gampang *plak*.Yak langsung saja kita ke TKP dan melihat teman kita dengan penuh perjuangan *prok-prok-prok* membersihkan lem aibom yg menjadi bekas tempat merekatnya karpet...

Selasa, 29 September 2015

Qurban

Yak....karena hari idul adha sudah terlaksanakan...pastinya ada qurban dong......."KELA5" ikut berpartisipasi dalam pembagian daging hasil qurban dan mengolahnya (sate) di sekolah tercinta #aseek SMAN 1 Negeri Bekasi....
Berikut adalah dokumentasi pada hari tersebut....namun ternyata ada 1 foto, yang tidak tersangka saat kami sedang bakar-bakaran...

Selasa, 22 September 2015

Jesica Angel Demak Taruli

Chrysanthemum


Entah apakah aku harus bersyukur harus kembali lagi ke kota ini. Kota yang sangat terkenal dengan artis yang sangat molek parasnya dan pandai menggoyangkan tubuhnya yang semolek parasnya. Disetiap kejadian dan pengalaman, pasti ada pesan yang ingin disampaikan Tuhan dengan hal itu, begitulah kata orang orang.
Memang sungguh pandai Tuhan menciptakan segala hal. Semuanya begitu cantik. Menurutku yang paling cantik adalah bunga. Ah, mungkin kalian bertanya-tanya mengapa aku bilang bunga lah yang paling cantik? Oh tidak, dia lah yang paling cantik. Akhir-akhir ini aku banyak mempelajari berbagai hal tentang bunga. Selain bentuknya yang menawan, bunga sangatlah pandai menyampaikan pesan. Setiap bunga, setiap warna, mengandung pesan didalamnya.


Yulfani Danisaprina

Hadiah Terindah

            Pagi ini aku melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah dengan semangat. Baru selangkah memasuki kelas, ucapan selamat dari teman-teman untuk hari kelahiranku langsung terdengar. Tak lupa, berbagai macam hadiah dan bingkisan sudah terduduk manis di atas mejaku. Aku tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih kepada teman-temanku. Akan tetapi senyumku luntur mengingat sesuatu,

Junilla Ajeng Pawestri

KEMBALI


Mata itu, tidak bisa hilang dari pikiran Sofwan. Senyumnya yang rupawan terus menghantui Sofwan. Sofwan hanya tertunduk bisu, termenung menyesali perbuatannya. Gadis berparas cantik itu pergi meninggalkan orang yang sangat menyayanginya dengan tulus dan Sofwan mulai menjalani hari-harinya yang pahit tanpa Anita.
            Ngennnggg, Sofwan terus memacu Ninja merahnya dengan kecepatan bagaikan kilat. Entah setan apa yang merasuki jiwanya, tidak peduli bagaimana caranya, ia terus bersikeras untuk memenangkan balap motor itu. Dinginnya malam yang menusuk kulit sofwan itu seakan-akan lenyap tak tersisa. Segerombolan anak muda bersorak untuk Sofwan ketika ia hendak sampai pada garis finish. Sofwan sadar bahwa ini berbahaya, dalam hati kecilnya ia ingin berhenti, tetapi ini sulit. Bukan imbalan yang besar dan gengsi yang tinggi yang ingin ia dapat, tapi hanya melampiaskan perasaannya yang kacau balau, bagaikan diterpa angin ribut disertai sambaran petir masuk ke dalam jiwanya.


Firdaus Fitri

Kasih Sayang Yang Sebenarnya


Aku menatap gundukan tanah di hadapanku. Memori - memori kelam kembali berputar di otakku. Aku tak pernah melupakan hari itu. Hari di mana aku kehilangan sahabatku.

Suara musik yang memekakan telinga membuat kepalaku sakit. Lampu warna - warni berkedip – kedip mengikuti dentuman musik. Aroma alkohol serta rokok menggelitik bulu hidungku. Aku tak mengerti mengapa orang - orang ini betah di tempat yang benar - benar jauh dari kata tenang. Bukankah mereka ingin melarikan diri dari masalah? Harusnya mereka tidak pergi ke tempat ini.


Arvian Syandika Pramasta

Jodohku di Tangan-mu

Apa benar tiap manusia memiliki jodoh? Apa benar ‘Tulang Rusuk’ yang sering dilantunkan para penyair itu benar-benar ada? Haha…  Aku tidak sedikitpun yakin, terlebih pada diriku sendiri. Memang sepertinya jodohku ada di tangan Tuhan,ya di tangan-Nya, tidak di tanganku.

Sabtu, 19 September 2015

Viony Syahira Deben

Surat Terakhir Riyadi


            Sore ini, udaranya seperti biasa terasa begitu sejuk. Angin dingin kota Bandung yang selalu menemani sore akhir pekanku ditambah dengan semilir angin hujan yang baru saja berhenti beberapa saat yang lalu. Entah sudah berapa lama aku berada di balkon rumahku dengan berbalut selimut warna merah jambu kesukaanku, sambil menikmati coklat hangat dan melihat sebuah album foto berwarna biru dongker bertuliskan “Our Lovely Life” dan dibawahnya ada tanda tanganku dan Riyadi dengan menggunakan pulpen tinta emas.

Anisya Permatasari

Hujan

Hujan yang dengan ganas mengguyur kota Bekasi, bahkan seluruh Indonesia secara merata telah reda. Yang tersisa hanya anak-anak hujan beserta genangan di sepanjang jalan. Karena ganasnya hujan yang mengguyur, beberapa daerah di Indonesia banjir. Itu yang kuketahui dari teve. Untungnya sekolahku ini belum pernah kebanjiran, mungkin karena banyaknya pohon yang ditanam, yah setidaknya itulah salahsatu sebab yang dapat aku pikirkan.

Anita Dwi Astuti

Kisah Tak Usai


            Sejam sudah aku dan anak-anak yang terlambat lainnya  menunggu pintu gerbang sekolah dibuka. Aku masuk di fakultas kedokteran UGM, cita-citaku semenjak SMA. Hari ini adalah hari pertama masuk kampus setelah diadakannya OSPEK seminggu yang lalu. tetapi aku sudah membuat ulah, huh. Aku sudah mencoba untuk bangun lebih awal tetapi aku tetap terjebak kemacetan. Aku duduk sendiri dibawah pohon rindang untuk menghindari sengatan matahari pagi ini, pikirku. “Eh wan, lo udah ngerjain tugas dari bu Sita?”, tanya seorang senior “udah selesai dari kemarin.”jawabnya.

Annis Safira Nur Aulia

Si Mata Indah


Pagi ini seperti biasa. Jalanan sudah dipadati kendaraan yang penuh sesak. Bisa dibilang sebagai warga kota, kami takkan pernah bisa menghirup udara pagi yang segar. Tidak ada yang spesial pagi ini, bagiku setiap hari sangatlah memuakkan. Lelah, sudah pasti. Rutinitas yang kujalani masih sama, dengan loyang-loyang yang menumpuk, menyiapkan segala keperluan toko. Aku ini manusia tidak becus. Melalang buana sampai ke kota. Dipikir bisa mendapat pekerjaan dengan upah tinggi, ternyata hanya sebagai buruh serabutan di toko kue pinggir jalan. Paling tidak, bisa makan. Itu yang selalu dipikiranku, boro-boro bisa kembali ke kampung halaman. Malu. Perantau lain sudah membawa motor ke kampungnya, tapi aku?
“Riyadi, bagaimana bisa masih ada sisa sabun di loyang?! Kamu mau pelanggan toko ini mati?” ujar Dodi, sang koki sambil memaki.
Ucapan seperti tadi sudah biasa aku terima. Bahkan makian selalu menjadi sarapanku di setiap pagi. Tidak, bahkan setiap jam di toko. Ah masih salah, mungkin setiap menit. Ada saja pekerjaanku yang tidak becus di matanya.
“Riyadi! Sebenarnya kamu ngapain saja sih?! Masa sampah sejak semalam belum juga dibuang?!”

Bana Satria Purwanto

Petani Bawang

Siang hari yang terik di Brebes tidak menyurutkan niat Nandri sang petani bawang untuk pergi ke ladangnya. Kaki hitam, badan dekil, dan keringat mengucur itulah yang menjadi bukti kerja kerasnya. Berasal dari sebuah keluarga sederhana, Nandri, dilahirkan oleh seorang wanita perkasa, ibunya Hasanah. Ayahnya adalah seseorang yang tak pernah ia kenal. Pernah suatu ketika Nandri bertanya kepada ibunya tentang keberadaan sang ayah, ibunya menceritakan bahwa dulunya dirinya adalah seoarang bintang dangdut tarling, bunga desa.

Bayu Jati Kartiko

Pengorbanan Teman

Hariku diawali dengan adzan subuh yang sangat merdu, aku bermaksud untuk pergi kekampus lebih awal pada hari ini. Aku sangat senang karena pagi ini, jam pertama adalah pelajaran kesukaanku. Akupun bergegas mandi dan sarapan, kemudian dengan mengendarai motor blade ku. Tetapi sesampainya dijalan besar, aku lupa membawa uang dan bensinku pun ingin habis. Eh tiba tiba motorku berhenti di jalan, akupun panik sekali.

Ezra Valentino Purba

 Sahabat Jadi Cinta

Najla Bergegas menyalakan motor kesayanganya untuk segera melaju ke rumah Riyadi, sahabat dekatnya sedari duduk di bangku SMP. Ia Berencana melakukan belajar Fisika bareng di rumah Riyadi. Belajar bersama dengan Riyadi merupakan kebiasaan Najla Sejak duduk di bangku SMA dan kebiasaan itu awet hingga mereka kelas XII. Memang Riyadi termasuk anak yang cukup cerdas dalam bidang fisika di kelasnya.

Febriyeni Susi

Jadi, Ini Namanya Kehidupan di Ibukota?
                
                Luka masa lalu itu mungkin masih membekas bagi Riyadi. “Bagaimana mungkin sebuah luka tidak meninggalkan bekas walaupun sudah pulih ?”. Riyadi kini harus mempersiapkan segala sesuatunya dari nol kembali. Dalam pikiran Riyadi, mungkin terlintas sesekali rasa takut akan kejadian masa lalu tersebut akan terulang kedua kalinya disini. Akhir bulan April 3 tahun lalu Riyadi dan teman-teman hanya bisa termangu melihat si jago merah melahap kios-kios milik mereka.

Fikri Muhammad Rifai Patongai

Cerpen Ini

         Cerita ini berawal dari seorang yang bernama Riyadi, anak laki- laki dari pasangan Edy dan Ana. Berbicara tentang keluarga nya, dia merupakan anak tunggal dari keluarga PNS, bapaknya adalah camat Rawalumbu dan ibunya sebagai sekretaris camat. Riyadi mengenyam pendidikan di fakultas ekonomi UNPAD dan telah lulus pada tahun 2014 , setelah lulus dia melamar pekerjaan di perusahaan dibidang ekspor dan impor yang berada di Tanjung priok. Dia mendapat posisi sebagai manajer, salah satu teman sepekerjaanya bernama Najla. Riyadi sudah cukup lama mengenal Najla karena berasal dari universitas yang sama. “ Wah, hebat juga kamu di bisa masuk perusahaan ini mungkin aku harus memuji otak kerasmu itu” kata Najla, “ ah bisa aja kamu naj kata-kata pedasmu sama seperti dulu” bilang Riyadi. Dari saat itu Riyadi sering mengantar pulang Najla, hujan lebat pun terjadi riyadi tidak bisa kemana-mana karena banjir di apartemen Najla. “Naj gimana nih, aku gak bisa pulang?” Tanya Riyadi, “udah gak apa-apa tinggal disini aja dulu”bilang Najla. Saat banjir sudah surut Riyadi bergegas pulang kerumhnya untuk merapihkan ruamhnya, dan berterima kasih pada Najla karena diperbolehkan tinggal. Beberapa bulan kemudian Riyadi meminang Najla, mereka pun  dikaruniai satu anak bernama Tejo. Dan Najla pun mengundurkan diri untuk mengurusi Tejo.

Gustiantira Alandi

Organisasi

Kring-kring”, Bunyi alarmku berdering tepat jam setengah 5 pagi aku terbangun dari mimpi-mimpi yang tadi menghantuiku. Ya hari ini aku ada janji untuk mendaftar ulangkan adek kelasku di SMAN 1 Bekasi, aku bergegas  wudhu terlebih dahulu dan lansung solat subuh. Hari ini juga masih libur sekolah, tapi aku harus ke sekolah karena ada urusan ekskul. Ya beginilah kalau jadi anak organisasi, gabut dirumah menjadi satu hal yang mustahil
 Jam 10 pagi aku sudah sampai disekolah. Aku mengambil no antrian dan mengantri bersama orang tua murid dan calon adik kelasku nanti. Yang aku dengar orang tua mereka sangat senang  anaknya dapat diterima di Smansa, ada yang menanyakan NEM,  jurusan mipa/iis, bahkan PTN. Ya aku hanya bisa mendengar saja sambil tersenyum kecil.

Jasmine Hany Tazkia

Gadis Pejalan Kaki


            Manusia terlahir sebagai pejalan kaki, begitulah kata orang. Tapi di era modern ini, kalimat itu mulai sirna. Semua serba canggih, tak kalah dengan dunia otomotif yang selalu berkembang. Motor dan mobil semakin menjamur di setiap sudut kota. Tak jarang pula terjadi kemacetan dimana-mana bagai pasukan semut yang terlihat dari sang pencakar lagit. Beralasan kenyamanan, pengguna kendaraan semakin banyak, banyak, dan banyak.

M. Fairuz Najmuddin Adya

Bintang Paling Terang

"Hei, bintang apa yang paling terang?"
Masih kulihat dia mendongak keatas, di tengah malam disudut kota ini. Seorang gadis yang entah sejak kapan berada disana. Seolah dia sedang menunggu... menunggu sesuatu yang berada di langit.
Rasa penasaranku memuncak, kuubah arahku dan berjalan kearahnya. Kulihat dia menghela nafas dan berkata "masih belum ada..." Hah? apa yang dia bicarakan, kubuang rasa canggungku dan bertanya kepadanya.

Meutia Alya Safira

Perpisahan Terakhir


Aku terbangun dari tidur panjangku karena mendengar suara itu lagi. Suara itu selalu membangunkanku dari mimpi buruk  yang selalu berjalan-jalan dipikiranku.

“Anita bangun!!nanti kamu bisa terlambat”kata mamaku yg berusaha membangunkanku.
“iya ma…Anita bangun”kataku yg masih mengantuk.

Lalu mama keluar dari kamarku dan aku pergi untuk mandi. Selesai mandi aku turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama keluargaku,setelah itu aku berangkat sekolah.
Sesampainya disekolah aku sudah di sapa oleh sahabatku,namanya Alan. Dia adalah sahabat lamaku yang selalu bersedia menemaniku. Dia baik, ganteng, dan pintar.Dulu, aku sempat suka sama dia tetapi kini tidak lagi setelah menyadari bahwa dia tidak mempunyai perasaan padaku. Aku pikir bersahabat lebih baik untuk kita daripada pacaran. Aku bersahabat dengan nya dari kelas 1 SD sampai sekarang tepat nya kelas 3 SMP.

M. Haikal Ma'arif Syahputro

Kasih tak Sampai

            Udara pagi ini berbeda dengan pagi sebelumnya, terasa lebih gelap dari biasanya. Dikala masih banyak orang yang tertidur lelap, diriku mulai menjalani kesibukan yang teramat padat di pusat kota. Ya.. bisa dibilang kotaku ini adalah kota tersibuk di Nusantara. Seperti biasanya, aku berjalan diantara jutaan kerumunan manusia yang sedang berkelahi dengan waktu, demi satu tujuan yaitu datang secepat mungkin ke kantornya. Terkadang aku berfikir mengapa mereka begitu berkorban dengan pekerjaannya demi mendapat perhatian lebih dari seorang bos besar di kantornya. Padahal jika dihitung-hitung, presentasi perhatian seorang bos besar kepada anak buahnya hanya sedikit. Dari jutaan orang sibuk itu, mataku hanya tertuju kepada seorang wanita yang memakai baju berwarna biru terang dengan kerudung putih yang sedang duduk menyender sambil mengotak-atik smartphone miliknya. Kupandangi ia tak henti-henti, parasnya yang cantik nan muslimah. Tampaknya sempurna sekali wanita itu. Saat aku memandanginya, tersirat dalam hati kecil ku “Oh tuhan.. alangkah indahnya makhluk ciptaanmu.” Tiba-tiba serangkaian gerbong kereta Commuter line jabodetabek mengagetkanku ditengah pikiranku yang hanya tertuju padanya. Tak berapa lama rangkaian kereta itu mulai berjalan, satu-persatu gerbong kereta yang penuh penumpang itu melewatiku. Kulihat gerbong terakhir sudah melewatiku dengan mulus. Kulihat wanita itu sudah tidak lagi duduk di kursi panjang itu. Seakan-akan pikiranku buyar, kemudian aku tersadar bahwa kereta tadi adalah kereta yang biasanya mengantarku ke kantor “Sial! Gue tertinggal kereta lagi.”
           

Mila Ramadhani

DULU

Kriiingggg....... Kriiiinnggg..........Krrrrriiiiingggg..............
Alarm yang duduk manis di meja dekat tempat tidur gadis itu seakan tak sabar menunggu si empunya untuk bangun. Sudah tiga sesi yang dilalui alarm itu untuk berbunyi, dari jam 5 pagi sampai sekarang, sudah menunjukkan 5.30 pagi.
“Najla..... bangun nak, nanti kamu telat,” Ucap Ibu dengan lembut. Najla hanya mengusap wajahnya beberapa kali, menggerakkan tubuhnya di atas tempat tidur itu dengan gusar. Setelah beberapa menit berjuang untuk membuka matanya, akhirnya ia pun memasuki kamar mandi.


M. Zulfikri Maulana

Alan, Mengapa?

     Di kala matahari mulai merangkak naik, aku sudah berada di sekolah, bukan karena ada hal yang harus dijerjakan, tetapi memang aku selalu datang dikala sekolah masih sepi, agar aku dapat belajar dengan tenang sebelum masuk sekolah.Di saat aku sedang belajar dikelas, dan baru ada beberapa orang temanku yang datang, tiba-tiba temanku Alan datang dari luar kelas dan memberi tahu kepadaku, bahwa pembina ekskul ROHIS meminta kepada ku selaku ketua untuk mengadakan rapat guna menentukan waktu untuk mengadakan regen.
     Setelah mendengar kabar dari Alan, akupun segera menghubungi Bana selaku wakil ketua, Dan kitapun sepakat untuk membicarakan hal ini pada saat jam istirahat pertama di Masjid setelah melaksanakan sholat Dhuha. Istirahatpun tiba, aku langsung bergegas menuju Masjid dan sudah tampak Bana sedang mengambil air wudhu, akupun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Dhuha, sholat akhirnya selesai dan aku menghampiri Bana yang sudah menunggu ku sedari tadi, setelah melalui percakapan yang cukup panjang akhirnya kitapun sepakat untuk mengadakan rapat pengurus guna menentukan waktu mengadakan regen di hari Jumat tepatnya setelah ba'da sholat Jumat, setelah itupun aku langsung menghubungi para pengurus untuk memberitahukan informasi tersebut.


Mikhael Sibuea

Nasi Goreng

Namaku Riyadi, aku adalah anak pertama di keluargaku. Sebagai anak pertama aku harus bisa menjadi contoh untuk adikku. Ayahku adalah seorang pengusaha, usahanya pernah bangkrut saat krisis moneter tahun 98. Ibuku adalah seoeang ibu rumah tangga, aku sangat sayang ibuku. Dia adalah motivatorku ketika aku gagal, tempat aku mengadu dan juga tempat aku untuk bermanja. Dia adalah orang yang paling mengenal aku, saat dewasa nanti aku akan membuat dia bangga padaku.
Dari kecil aku sudah bercita-cita untuk menjadi seorang pilot. Namun saat aku kecil pilot yang aku impikan adalah pilot TNI Au. Dahulu aku sangat ingin menjadi tentara, mungkin ini terjadi karena aku dan ayahku sering menonton film aksi yang berisikan tentara melawan teroris. Seiring berjalannya waktu, cita-citaku pun berubah.
Aku ingin menjadi pilot pesawat komersial saja. Hal ini aku putuskan karena aku berpikir ke depan nanti, akan sangat malang anakku jika ayah mereka meninggal di medan perang saat mereka masih kecil. Lagipula pilot pesawat komersial berpenghasilan yang cukup besar. Jadi aku bisa hidup bahagia tanpa rasa khawatir tewas di medan perang serta aku bisa hidup berkecukupan nantinya.

Nanda Kirana Citagami

Reuni Dadakan

“M..Maksud kamu?” Jantungku perlahan-lahan berdegup dengan cepat.
“Hhh.. Di, aku rasa kita sampai di sini aja,” hela perempuan itu.
“Aha..hah.. Kamu kenapa, sih? Lagi bercanda ya? Kamu cuma lagi iseng, kan?” tanyaku lagi berusaha meyakini bahwa ini semua hanya mimpi belaka.
“Di. Tolong anggap aku serius! Aku. Mau. Udahan.”
Sontak, aku terdiam seribu bahasa karena permintaan itu.
“Kamu… Kamu nggak bisa kasih aku masa depan,” ujar perempuan itu.
Aku tak bergeming. Kaget. Tak bisa menemukan kata-kata.
“Kamu terlalu sibuk dengan diri kamu sendiri.”
“Sibuk…?” tanyaku lebih pada diri sendiri.
“Udah ya, Di. Jaga diri kamu baik-baik. Selamat tinggal.”
Tut. Tut. Tut. Tut.

Ni Desak Gede Putri Megagita

AKU DAN KAMU


                Tak semua orang dapat merasakan kesempatan kedua. Maka dari itu, pergunakanlah kesempatan pertamamu sebaik mungkin.
                Aku cukup merasa lelah kemarin sehingga aku tidur lebih awal, dengan harapan aku bisa bangun lebih pagi dan mencoba mempelajari beberapa materi pelajaran yang mungkin akan dipelajari besok. Aku mengatur alarmku untuk membangunkanku  pukul  3 pagi, namun aku lupa untuk mengganti baterainya dengan baterai yang baru. Sehingga paginya, aku terbangun pada pukul 6 pagi dan melompat dari tempat tidurku untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Untungnya, Pak Nandra sudah bersiap didepan rumah menungguku dengan mobil yang bersih. Aku berlari ke mobil dengan cepat dan berteriak “Ayo pak! Anita sudah terlambat banget nih..”

Nandri Arun Saxsena

Menebus Kesalahan

Bunyi hening kedamaian disudut pegunungan yang menenangkan hati, jauh dari bisingnya kendaraan, hawa sejuk menyelimuti badan, disanalah tempat Hasanah dan Ibunya tinggal. Desa Kreyek namanya, yang subur akan tanaman perkebunan teh. Ibu Hasanah yang tiap harinya menggendong bakul tempat daun teh, tak lelah ia kerjakan demi uang untuk memenuhi biaya kuliah anaknya dikota yang tak jauh dari desa. Hasanah yang selalu ingin membantu mencari nafkah namun selalu dilarang, wajah melasnya tuk membantu pun tak dihiraukan oleh ibunya.
Hasanah seringkali bolos kuliah demi mencukupi kebutuhan hidup, yang Ia tahu sepeninggal ayahnya itu memang sangat berat menjalani hidup. Tanpa sepengetahuan ibunya, Hasanah bekerja di warung makan Pak De Maman, tempat istirahat para pengusaha teh. Tak seberapa memang gajihnya itu, namun Hasanah tetap menjalani walaupun hanya sebagai pelayan. Seringkali Hasanah disapa dan diajak berbicara oleh beberapa pelanggan warung Pak De Maman. Salah satunya adalah Nandri, pengusaha teh sukses yang masih sepantaran dengan Hasanah, mereka sudah saling akrab, sampai-sampai Nandri mengajak untuk membuka usaha berkebun teh bersama, namun Hasanah selalu menolaknya, dalam pikirannya dia bisa membuka usaha sendiri.

R. Sofwan Ilham Pratama

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

            Ketika kubuka mataku, dan kutatap langit tampak gelap gulita, jam dinding pun masih menunjukkan pukul 04.00 WIB. Ku bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Shubuh berjamaah di masjid dekat rumahku. Ketika menuju masjid aku melihat seseorang wanita yang wajahnya bersinar terang bagaikan sinar matahari menyinari bumi. Wajahnya tampak cantik dan enak untuk dipandangi, aku sapa dia dengan mengucapkan salam dia pun menjawab sapaku. Hatiku merasa senang bisa menyapanya dan membuatku ingin mengetahui dirinya lebih jauh lagi.

Rania Aisyah Herima

Dalam Diam


            Lagi-lagi aku terjebak. Aku sangat akrab dengan situasi seperti ini sampai aku sudah hafal bagaimana rasanya dan juga apa resikonya. Namun, hal itu tak kunjung membuatku jera dan melakukan hal yang serupa walau akhirnya hatiku jadi korban. Mencintai seseorang secara diam-diam. Hal itu terdengar wajar dan banyak dialami orang lain. Aku sungguh tidak menyukai hal itu terjadi padaku namun aku serasa sangat menikmati.

Riyadi Saputra Wibowo

Sial


“sial nih bakal telat,,,,, sial sial..” gumam Alan dalam hati, di hari pertama ia bersekolah setelah libur panjang ia telat bangun dan terpaksa kebut kebutan menuju sekolah, SMA Negeri tapi Swasta 1, tempat menimba ilmu yang Alan cintai dan sayangi, namun naas usaha Alan kebut kebutan tidak membuahkan hasil, pagar sudah ditutup oleh Bang Somat, satpam garang dengan hidung pesek dan kepala botak, untungnya Alan pantang menyerah, dia mulai bernegosiasi dengan Bang Somat, “bang so, bang so, kalo saya kasih 30 rebu abang mau bukain pagernya ga?”, blarrrrr ucapan Alan menghantam nafsu dunia Bang Somat, namun Bang Somat masih belum puas dengan tawaran Alan, “yaelah lan, jadiin gocap aje,” Bang Somat menanggapi rayuan Alan, “yaudah lah nih gocap, bukain pagernya,” kata Alan sambil memberi lima puluh ribu ke Bang Somat, krekerkkekkkk pagar dibuka, Alan pun masuk dengan motor gedenya yang mengkilat seperti kepala Bang Somat.

Rosmaniar Hasanah

Gelang Persahabatan


Setapak demi setapak Alan jalani hari-harinya penuh semangat. Menikmati suasana pagi yang tenang dan sejuk dilewatinya bersama Anita dengan sepeda. Ya Anita atau biasa disapa dengan nama Tuti, sahabatnya sejak kecil, Anita selalu ada disaat Alan susah, sedih maupun senang. Sekarang mereka di SMA yang sama, tidak hanya SMA tapi sejak di taman kanak-kanakpun mereka juga sudah bersama, tak heran apabila mereka selalu digosipkan pacaran, sebenarnya tidak. Dari dulu sudah biasa mereka berangkat dan pulang bersama maklum jarak antar rumah mereka berdekatan dan sekolah mereka pun tak jauh dari rumah.

Sultan Alif Pranatagama

Anak Desa

Pagi yang sejuk seperti biasa, embun masih membasahi dedaunan dan rerumputan. Pergi ke sekolah menjadi hal yang wajar untuk anak seumuran ku. Hanya dengan bermodalkan buku tulis , buku pembimbing dari dan sepeda kuno milik kakek ku,aku berangakat ke sekolah yang letaknya tidak jauh namun juga tidak dekat,ya sekitar 3 KM dari rumahku.Menempuh jalan yang sama seperti hari hari yang lalu kulewati, SEPI… Ya karena hanya sedikit anak yang ingin sekolah di desa ku ini.Paling hanya 3-5 orang lalu lalang untuk bersekolah, mengurus kebun dan ladangnya.

Zuhriana Ilmi Hasanah

Dibalik Cahaya


Malam yang begitu pekat. Hanya terlihat rembulan yang menghias cakrawala. Cahayanya yang kemilau mengisyaratkan rintihan yang begitu pedih akibat tak ada bintang yang biasanya selalu di sisi. Suara jangkrik bergeming. Rerumputan menari – nari bak gelombang karena terpaan angin malam. Asap yang mengepul menusuk rongga hidungku. Aroma teh mengundang hasrat yang tak tersampaikan. Ku tolehkan kepalaku menyambut seorang paruh baya yang membawa secangkir teh ditemani biskuit kelapa favoritku.

Yesenia Zurafa

Reuni Betty

Brak! Seseorang menggebrak mejaku keras. Aku terbangun. Ternyata Anita, salah satu rekan kerjaku menghampiriku.
“Najla bangunn! nih, ada 3 interview buat hari ini sama besok. Terus lo urusin asuransi karyawan baru yang namanyaa.. hmm aduh gue lupa namanya siapa”
“Fani?”tanyaku. “iya, Fani! Tolong selesein secepetnya ya. Gua udah diburu-buru bos. Makasih” Anita pergi meninggalkan mejaku begitu saja bahkan sebelum aku sempat membalas perintahnya. Parah. Baru 5 menit aku sampai kantor, sudah lebih dari banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Mataku berat, kepalaku pening. Pantas saja. kalau ku ingat, semalam aku begadang menyelesaikan tugas essay dari dosenku. Ya, kini aku sedang menempuh studi S2ku.

Syafiqa Amanda

KERJA KERAS KU, LADANG SUKSES KU!


Nampaknya, pagi itu sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Matahari pagi di tengah kota Jakarta  menyambutku dengan senyum setiap paginya. Dan itulah yang aku rasakan sekarang. Bahagia, hidup bersama orang tua ku . tanpa cemoohan yang dikeluarkan orang-orang yang tak punya hati nurani.
 Ya, rutinitas ku adalah bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan besar dan ternama di kota Jakarta. Najla, itulah namaku.  Walaupun seorang manager, setiap berangkat dan pulang kerja aku selalu berjalan kaki atau juga kadang kadang aku menggunakan sepedaku. Aku bisa sukses seperti ini tak luput dari dukungan keluargaku. Dan juga sahabatku ini, Namanya Riyadi. Dulu aku tinggal di kampung, sebuah pedalaman di daerah Sumatera Barat, lebih tepatnya di Pariaman. Jadi bisa dikatakan aku adalah orang minang, yang tau akan sopan santun dan juga sebagai seorang perempuan minang haruslah bisa menjadi seorang perempuan yang bisa masak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Aku tak tau dengan adat di daerah lain. Mungkin saja sama.