Sabtu, 19 September 2015

Mila Ramadhani

DULU

Kriiingggg....... Kriiiinnggg..........Krrrrriiiiingggg..............
Alarm yang duduk manis di meja dekat tempat tidur gadis itu seakan tak sabar menunggu si empunya untuk bangun. Sudah tiga sesi yang dilalui alarm itu untuk berbunyi, dari jam 5 pagi sampai sekarang, sudah menunjukkan 5.30 pagi.
“Najla..... bangun nak, nanti kamu telat,” Ucap Ibu dengan lembut. Najla hanya mengusap wajahnya beberapa kali, menggerakkan tubuhnya di atas tempat tidur itu dengan gusar. Setelah beberapa menit berjuang untuk membuka matanya, akhirnya ia pun memasuki kamar mandi.



***

“Dulu Bapak hidup di kampung keadaannya susah, kemana-mana jauh. Tiap hari bangun jam 4 pagi,” Ucap Bapak, memulai pembicaraan saat sarapan di meja makan sederhana itu.
Najla memposisikan matanya untuk melihat ke arah Bapak. “Tapi kan sekarang kita tinggal di kota Pak, kemana-mana deket,” Protes Najla, tak terima dengan sindiran Bapak.
“Udah, kalian berdua berangkat. Nanti telat,” sela Ibu menyudahi pembicaraan mereka.

Pagi itu hujan turun dengan deras disertai petir yang membentak-bentak bumi. Dengan menaiki motor, Najla dan Bapak kerepotan memakai jas hujan yang sepertinya tak niat untuk melindungi pakaian mereka.
“Pak, Najla maunya dianter pake mobil dong. Biar gak ribet kehujanan, gak  kepanasan, gak kena debu,” Pinta Najla tiba-tiba.
Bapak menjawab dengan senyuman tipis, “Dulu Bapak jalan kaki ke sekolah. Berangkat jam setengah 5 Subuh, pulangnya jam 2 siang, tapi sampai di rumah jam 4 sore,”
Kesal, Najla pun buru-buru mencium tangan Bapak dan memasuki kelas.

Jam istirahat tiba. Najla mencari-cari tempat bekal di tasnya. Semoga hari ini isinya spagheti, atau kentang goreng, atau apa aja deh, batinnya dalam hati. Dan.....ternyata telur dadar. Bahunya lemas. Sudah 5 hari ini ia dibawakan telur dadar. Bisa-bisa aku bisulan! Umpatnya.
“Naj, ke kantin yuk. Beli mie ayam sama minuman,” ajak Rania, Febri, dan Fiqa.
“Mmm, gue dibawain bekal sama Ibu,” jawab Najla gugup, menatap nanar uang sakunya yang tak seberapa.
Sesampainya di rumah, Najla langsung menghampiri Ibunya yang sedang asyik bersama peralatan dapur. “Ibu, besok aku gak usah dibawain bekal Bu, jajan di kantin aja,” pinta Najla, kali ini berharap ke Ibunya.
“Dulu Ibu hanya diberi uang jajan kalau ada jam pelajaran olahraga, dan hanya 50 Rupiah aja.  Uang Rp. 50 udah cukup buat beli minuman. Kalau gak ada jam olahraga, Ibu dibawain bekal. Itu juga hanya nasi dengan lauk garam atau sambal terasi. Gak tau kenapa, rasanya enak sekali.” sahut Ibu dengan senyuman. Ck, sama aja seperti Bapak! Protes Najla dalam hati.
“Kenapa bekalnya gak habis?” tanya Ibu saat melihat Najla membuang isi tempat makan tersebut ke tempat sampah. “Ga ada selera Bu. Lebih enak jajan di kantin, tapi uang jajan gak mencukupi,” jawab Najla, sambil cemberut.

Bruuummm.
Terdengar jelas di luar sana suara motor Bapak yang memasuki rumah. Jam menunjukkan pukul 6 sore, Bapak baru saja pulang bekerja. Seketika Najla punya ide.
“Pak, uang saku aku ditambah, ya? Najla gak usah bawa bekal deh, pengen sekali-sekali jajan di kantin,” pintanya berseri-seri.
“Najla, Bapak aja masih di teras, belum masuk rumah. Sebentar ya,” Ucap Bapak sambil membuka kemeja yang ditempeli nametag bertuliskan Riyadi Saputra Wibowo, lalu masuk ke kamar mandi. Seketika wajah anak kesayangannya itu ditekuk.
Sekarang keluarga itu sedang makan malam dengan suasana hangat khas keluarga kecil mereka. Berbanding terbalik dengan raut wajah dingin anak tunggal itu.
Menghela nafas panjang, Bapak memulai cerita saktinya lagi. “Bapak anak ke 4 dari 7 bersaudara. Dulu, kalau Kakek kamu pulang dari pengajian atau acara aqiqah tetangga dan bawa kardus yang berisi nasi dan lauk, Bapak dan semua saudara Bapak sudah duduk rapih dengan piring yang sudah bertengger di tangan kami. Ibu akan memotong lauk yang biasanya tempe bacam atau ayam goreng menjadi 7 bagian sama rata,”
Najla acuh tak acuh. Dengan cepat ia menghabiskan makanannya dan langsung menuju ke kamar.
Tring! 1 pesan diterima.

Ada pesan. Dari Rania? Tumben.

Dari: Rania (+6281234567890)
Naj, besok kan Minggu. Lari pagi yuk! Sama Febri & Fiqa juga. Langsung ke taman aja ya.

Keesokan paginya, Najla sudah siap untuk lari pagi. Memakai sepatu hitam yang biasa ia pakai ke sekolah, ia pamit ke Bapak dan Ibunya.
Mencari-cari Rania, Febri, dan Fiqa, entah kenapa tidak begitu sulit walaupun banyak juga orang yang berolahraga pagi itu. Apa mungkin, karena sepatu mereka yang berwarna-warni?

“Assalamualaikum, Ibuu!” teriak Najla sambil berlari memasuki rumah.
“Waalaikumsalam, kenapa sih? Kayak lagi dikejar Satpol PP aja,” canda Ibu.
“Ck, Ibu, aku serius nih. Tadi Rania, Febri, sama Fiqa, pakai sepatu olahraga yang warnanya bagus-bagus. Merknya keren! Ada huruf N besar di atasnya. Masa Najla pakai hitam-hitam, kayak lagi baris-berbaris Bu. Aku mau sepatu berwarna Bu, boleh ya?” pintanya—entah sudah yang keberapa kali.
Ibu mengusap wajah putrinya itu dengan lembut. “Dulu, Ibu minta dibelikan sepatu sekolah aja susahnya minta ampun. Ibu ingat harganya hanya Rp. 25.000, waktu itu sepatu seharga itu sudah sangat mahal. Tiap kali hari raya Idul Fitri tiba, Ibu berharap sekali akan dibelikan oleh kakak Ibu yang bekerja di kota. Padahal sepatu yang sudah 3 tahun Ibu pakai saat itu sudah beberapa kali dijahit,”
Tentu bisa ditebak apa yang terjadi setelahnya. Mungkin kalau raut wajah bisa bicara, ia pasti mengeluh bosan sering sekali ditekuk seperti ini.
“Najla, nih, Bapak belikan eskrim. Pasti kamu capek abis olahraga,” tiba-tiba Bapak datang. Najla melemparkan senyuman tipis.
“Melihat kamu lagi makan eskrim, Bapak jadi teringat suatu kejadian. Dulu—“
Senyuman Najla seketika hancur ditarik kembali. “Kenapa, Pak? Bapak mau cerita kalau dulu beli eskrim susah? Kalaupun beli, pasti cuma 1? Terus dibagi bertujuh sampai meleleh? Pak, Bu, cerita jaman dulu Bapak dan Ibu memangnya harus dimasukkan di pelajaran Sejarah, ya? Biar diingat semua orang?” Terengah-engah, Najla berlari ke luar rumah. Ia berniat untuk bercerita semuanya ke Rania.
***
Kini Najla sudah berada di kamar Rania. Rumah Rania besar, ada garasi di depannya berisi mobil yang setiap hari mengantar Rania, juga dengan kolam renang di halaman belakangnya. Pasti amat menyenangkan menjadi Rania, batinnya.
“Gue minta dibeliin sepatu berwarna aja gak boleh, Ran,” ucap Najla memulai ceritanya.
Rania menatapnya dengan tatapan iba. “Mungkin mereka belum punya uang Naj,”
“Tapi gue bosen Ran sama semua cerita masa kecil mereka yang penuh kesedihan. Apa fungsinya buat jaman sekarang, coba? Jaman udah beda, gue juga dari lahir di kota. Mereka kan tinggal di kampung, jadi wajar aja,” tambah Najla membela diri.
“Ngomong-ngomong, Ayah sama Ibu lo mana, Ran? Tadi Mbak yang buka pintunya,” tanyanya. Rania menghela nafas. “Ayah sama Ibu gue sering pergi ke luar negeri Naj, jarang bisa kumpul kayak lo setiap sarapan atau makan malam,”
“Mungkin gue punya sepatu berwarna, tapi hidup gue gak berwarna. Gue gak dapet kebahagiaan dari keluarga gue. Gue selalu merasa kesepian. Setiap hari temen gue cuma Mbak. Gue yang seharusnya iri sama lo,” tambahnya dengan raut sedih.
Najla terhenyak. “Jangan sedih Ran, kalo lo kesepian, kan masih ada gue, atau Febri, atau Fiqa,” ucapnya menghibur.
“Kalian kan gak selalu bisa ke rumah gue. Lo gak pantes iri sama gue Naj. Gue malah pengen denger cerita-cerita masa kecil orang tua gue, gue malah pengen setiap pulang sekolah selalu ada Ibu yang nunggu gue di rumah,”

***

Kini Najla sudah berada di rumah hangatnya kembali, bersama kedua orang tua yang menyayanginya. Sekarang ia sadar, kebahagiaan dan kasih sayang yang sudah dimilikinya tidak dapat dibeli atau ditukar dengan uang, apalagi hanya dengan sepatu berwarna. “Mungkin cerita Ibu sama Bapak bukan dimasukkan ke pelajaran Sejarah, tapi Pendidikan Hidup,” canda Najla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar