Sabtu, 19 September 2015

Bana Satria Purwanto

Petani Bawang

Siang hari yang terik di Brebes tidak menyurutkan niat Nandri sang petani bawang untuk pergi ke ladangnya. Kaki hitam, badan dekil, dan keringat mengucur itulah yang menjadi bukti kerja kerasnya. Berasal dari sebuah keluarga sederhana, Nandri, dilahirkan oleh seorang wanita perkasa, ibunya Hasanah. Ayahnya adalah seseorang yang tak pernah ia kenal. Pernah suatu ketika Nandri bertanya kepada ibunya tentang keberadaan sang ayah, ibunya menceritakan bahwa dulunya dirinya adalah seoarang bintang dangdut tarling, bunga desa.
Hingga suatu ketika datang seorang pria gagah yang tak pernah ia lihat sebelumnya, pria itu merupakan orang terkaya di Kampung Soro, Brebes. Pria itu mampu berkata hal-hal yang mustahil yang membuat dirinya mabuk kepayang. Ibarat lebah yang tertarik kepada madu, Hasanah tertarik semakin dalam ke rayuan pria itu.
Pria itu bernama Riyadi Bowo, tengkulak bawang yang terkenal di seantero Kampung Soro, Brebes. Hasanah menceritakan kepada anaknya bahwa mereka bertemu ketika ia sedang manggung di kampung tersebut. Mereka bertemu di acara dangdutan yang digelar oleh Riyadi sebagai perayaan ulang tahunnya. Singkat cerita merekapun menikah dan sembilan bulan kemudian lahirlah Nandri, anak pertama dan satu-satunya untuk pasangan itu.
Namun Riyadi tiba-tiba pergi, ada yang bilang dia kawin lagi, ada yang bilang dia pindah ke Pekalongan, kemungkinan terbesarnya adalah dia kawin lagi. Ditinggal suami dan memiliki seorang anak bayi, Hasanah pun tidak bisa manggung lagi, karena waktunya habis untuk mengurus Nandri. Karirnya pun sebagai bintang dangdut tarling pun hancur. Pengangguran dan memiliki kewajiban untuk mengurus anak, Hasanah memilih untuk pergi ke pedalaman Brebes dan hidup sebagai petani bawang. Kenyataan itulah yang menjadi lecutan penyemangat untuk Nandri.
Di umurnya yang sudah tua ini, Hasanah sudah tidak bisa lagi pergi ke ladang, pekerjaannya sebagai petani bawang sudah diserahkannya kepada anaknya, Nandri. Ibunya sendiri sangat menginginkan agar Nandri merantau ke Jakarta, karena prospek bertani sebagai tumpuan hidup sangatlah tidak bagus, lagipula sekarang tanah kosong dan ladang banyak yang dibeli pemerintah untuk membangun jalan tol Trans Jawa.
Nandri sangat enggan untuk pergi ke Jakarta karena menurutnya Jakarta itu sangat jauh, padahal sudah berkali-kali ibunya berkata bahwa Jakarta – Brebes hanya 4 jam jika ditempuh dengan bus. Maklum saja karena kurang biaya Nandri belum pernah mengenyam dunia pendidikan, jadi pemahamannya tentang geografi sangatlah kurang.
Nandri lebih memilih tinggal di pedalaman Brebes dan menjadi petani bawang di lahan tandus yang gersang sampai dia tua nanti. Dia lebih memilih menjadi seorang petani di desa ketimbang menjadi karyawan di perkantoran di Jakarta, lagipula Nandri tidak suka kehidupan kota yang cepat dan sibuk. Dia sendiri berkeinginan untuk menjadi seorang petani hingga mati.
Kehidupan menjadi seorang petani memanglah sulit, tapi itulah jalan hidup yang dipilih Nandri. Dia adalah contoh pekerja keras yang sangat menikmati pekerjaannya, tidak memiliki impian yang tinggi, hanya ingin menjadi seorang petani bawang, tapi itulah yang dia kerjakan dan dia mahir dalam hal itu.
“Ke Jakarta le,” kata Hasanah.”Ah ndak mau mbok, aku liyane penak di kampung,” jawab Nandri.”Mau jadi apa kamu Nandri di kampung? Petani bawang sampai mati? Di Jakarta itu kesempatan kerja lebih banyak le,”kata Ibunya.”Bu, aku hanya bisa jadi petani bu, aku ndak pernah sekolah mbok, bisa apa aku disana,”kata Nandri. Hasanah pun hanya terdiam mendengar jawaban anaknya tersebut. Dia membatin, “benar juga kata anakku tadi, aku sendiri tidak pernah menyekolahkannya karena keterbatasan biaya.” Percakapan singkat di pagi hari yang panas di Brebes itu menjadi sarapan untuk Nandri yang kemudian memutuskan untuk mengambil cangkul kesayangannya dan pergi ke ladangnya.
Selagi mencangkul Nandri pun memikirikan perkataan ibunya, mungkin ada benarnya Ibunya menyuruhnya untuk pergi ke Jakarta, tapi ia tidak memiliki kemampuan apapun selain bertani. Ijazah pun dia tidak punya, mau apa dia jika pergi ke Jakarta, kalaupun dia pergi kesana, begitu sampai dia hanya akan menjadi orang yang mengemis pekerjaan.
Diapun teringat, banyak orang-orang di kampungnya yang pergi merantau namun begitu disana malah menjadi gelandangan, pengemis, dan pengamen. Nandri tidak mau menjadi seperti itu. Matahari pun menyambar Brebes di tengah hari, karena merasa kepanasan Nandri pun memutuskan untuk pulang kerumahnya. Begitu sampai di teras rumahnya, dia langsung ke dapur membuat secangkir kopi dan membawanya ke teras. “Secangkir kopi lebih enak dengan sebatang rokok,” gumam Nandri. Diapun mengeluarkan rokok kretek dari kantongnya dan menyalakan rokoknya tersebut. Menghisap rokok sambil meminum kopi memang sangat nikmat.
Nandri pun merenung, memikirkan kehidupannya, berharap suatu nanti ada gadis cantik yang mau menikah dengannya. Maklum di umurnya yang sudah kepala 3 dia belum mempunyai istri, mana ada wanita yang mau hidup pas-pasan sebagai istri petani bawang.




Berharap suatu nanti dirinya bisa menikah ketika sudah menjadi petani yang sukses dan memiliki banyak anak dan tinggal di desa tercintanya. Sampai sekarang ini, hidupnya hanyalah makan, tidur, dan bertani. Itulah jalan hidup yang dipilih Nandri sang petani bawang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar