Sabtu, 19 September 2015

M. Haikal Ma'arif Syahputro

Kasih tak Sampai

            Udara pagi ini berbeda dengan pagi sebelumnya, terasa lebih gelap dari biasanya. Dikala masih banyak orang yang tertidur lelap, diriku mulai menjalani kesibukan yang teramat padat di pusat kota. Ya.. bisa dibilang kotaku ini adalah kota tersibuk di Nusantara. Seperti biasanya, aku berjalan diantara jutaan kerumunan manusia yang sedang berkelahi dengan waktu, demi satu tujuan yaitu datang secepat mungkin ke kantornya. Terkadang aku berfikir mengapa mereka begitu berkorban dengan pekerjaannya demi mendapat perhatian lebih dari seorang bos besar di kantornya. Padahal jika dihitung-hitung, presentasi perhatian seorang bos besar kepada anak buahnya hanya sedikit. Dari jutaan orang sibuk itu, mataku hanya tertuju kepada seorang wanita yang memakai baju berwarna biru terang dengan kerudung putih yang sedang duduk menyender sambil mengotak-atik smartphone miliknya. Kupandangi ia tak henti-henti, parasnya yang cantik nan muslimah. Tampaknya sempurna sekali wanita itu. Saat aku memandanginya, tersirat dalam hati kecil ku “Oh tuhan.. alangkah indahnya makhluk ciptaanmu.” Tiba-tiba serangkaian gerbong kereta Commuter line jabodetabek mengagetkanku ditengah pikiranku yang hanya tertuju padanya. Tak berapa lama rangkaian kereta itu mulai berjalan, satu-persatu gerbong kereta yang penuh penumpang itu melewatiku. Kulihat gerbong terakhir sudah melewatiku dengan mulus. Kulihat wanita itu sudah tidak lagi duduk di kursi panjang itu. Seakan-akan pikiranku buyar, kemudian aku tersadar bahwa kereta tadi adalah kereta yang biasanya mengantarku ke kantor “Sial! Gue tertinggal kereta lagi.”
           
     Saat menunggu kereta berikutnya, aku mulai memikirkannya lagi. Dalam pikiranku, paras cantiknya mengalihkan duniaku. Kereta selanjutnya pun tiba, aku mulai memasuki gerbong kereta yang sudah penuh dengan orang. “Alamat dimarahin sama bos lagi nih..” pikirku. Kemudian kereta yang kutumpangi pun sampai di stasiun yang kutuju. “Alhamdulillah.. Gue sampe di kantor juga” ucapku sambil mengelus dada. Dari kejauhan, aku melihat seseorang yang berbadan tinggi besar, “Oh shit!!! Mati gueee” seketika jantungku berhenti berdetak. Dia adalah bos besarku, alasan apa yang harus aku katakan,  sudah berkali-kali aku memberikan alasan yang sama. 

            Kakiku mulai menapaki lantai keramik kantor yang sangat licin dan dingin. Tiba-tiba suara yang menggelegar mengagetkanku, “Kenapa kamu telat lagi riyadi??” Ucap pak Sultan dengan mata yang melotot, “Aihh pakk.. maap saya ketinggalan kereta lagi..” balasku dengan nada sunda, “Cepat kerja sana! Sekali lagi kamu telat, saya pecat!” . “Iya pak.”

           Setelah melewati penjaga pintu neraka tadi, aku mulai melangkah ke meja kerja ku. “Oh God..” mataku tertuju pada tumpukan berkas yang ada di mejaku, aku langsung berlari ke meja ku. Tertulis diatas berkas-berkas itu “Selesaikan hari ini!!!” , sepertinya bosku sudah sangat marah padaku. Seharian diriku menatap layar komputer dan tumpukan berkas itu, ya.. walaupun terkadang diriku masih saja memikirkan wajah wanita itu.

             Akhirnya waktu kerjaku hari ini pun selesai, walaupun masih ada berkas yang aku bawa pulang karena belum sempat terselesaikan di kantor. Seperti biasa, aku pulang menggunakan kereta Commuter line lagi. Kereta yang akan mengantarku pulang pun sampai di stasiun sudirman. Dengan  kaki yang sudah mulai terasa pegal, aku menapaki peron stasiun. Kereta mulai berjalan, aku mulai mendengarkan musik dari earphone ku yang sejak tadi tidak ku lepas. Tiba-tiba mulutku berkata “Oh tuhan.. aku bertemu dia lagi” aku melihat wanita itu berjalan datang kearah ku, kemudian dia berhenti tepat di depanku. Mataku yang sejak tadi tak berkedip sedikit pun karena melihat parasnya yang mengalihkan duniaku. Mulutku mulai bersuara “Hai sepertinya saya sering melihatmu, boleh kenalan?”, dengan nada yang sinis dia menjawab “Kamu ingin menjahatiku ya? Aku teriakin copet nih!”, “Wah parah.. emang muka saya tampang penjahat apa?? kenalin nama saya Riyadi” balasku dengan nada sedikit jutek. “Oh maaf.. namaku Najla, Taajkhansa Najla” ucapnya sambil tertawa kecil. “Nama yang indah, kamu kerja dimana?” Ucapku dengan penuh kehati-hatian, “Saya masih kuliah mas” balasnya dengan nada yang sangat lembut bagaikan suara bidadari surga yang sedang bernyanyi merdu. “Lho masih kuliah.. sangka saya sudah kerja”. Obrolan kami pun tak kunjung henti. Ditengah-tengah obrolan yang semakin seru, ia berkata “Saya turun duluan ya mas.. senang bertemu dengan anda” ucapnya sembari berjalan melangkahi batas peron dan kereta, “oh iya, hati-hati” balasku dengan nada yang gembira.

            Kereta mulai melaju dengan kencang mengantarku hingga stasiun bekasi kota. Rumahku cukup jauh dari stasiun, tapi mau gimana lagi.. demi menghemat biaya ongkos aku harus naik kereta tua itu. Hujan yang cukup deras menyambutku dengan suara gemuruh yang membelah langit. Kulihat petir saling menyambar dengan ganasnya. “Wah hujan deres banget lagi” ucapku dengan nada yang sudah lemas.

            Dengan sisa tenaga yang ada, aku ingin sampai dirumah dengan cepat, aku mulai memakai jas hujan yang selalu ku bawa di dalam tas. Setelah jas hujan terpasang dengan lengkap ditubuhku, ku mulai memacu motor ku dengan kecepatan tinggi. Air hujan sepertinya mulai memburuku, rasanya serbuan air itu menembaki ku layaknya seorang prajurit yang ditembak ribuan peluru di tengah medan perang. Kutempuh perjalanan cukup lama dari stasiun ke rumah. Sesampainya dirumah, aku langsung berganti pakaian dan mulai mengerjakan pekerjaanku yang belum sempat ku selesaikan di kantor tadi.

             Hari-hari berikutnya, aku semakin sering bertemu dengan anak kuliahan cantik itu. Obrolan ku pun sudah mulai mendalam. Sampai suatu hari, aku mengajaknya untuk makan malam di salah satu restoran cepat saji di stasiun. Obrolan kami pun mulai dekat. Dari bertukar nomer hp sampai alamat rumah.
            Setiap hari aku selalu berbincang dengannya di kereta, hubungan kita makin dekat. Sampai suatu saat aku tidak melihatnya di kereta yang biasanya kami berdua tumpangi. Hari demi hari telah kulalui. Terhitung sudah 5 bulan, aku tidak melihatnya lagi di stasiun maupun di kereta. “Kemana ya dia?? Padahal gue pengen banget nyatain perasaan gue”. Suasana hatiku yang rindu bercampur gelisah menunggu kedatangannya. Kereta pun datang, diriku mulai memasuki gerbong kereta itu.

            Ditengah perjalanan, seseorang mengagetkanku. Oh ternyata, dia adalah anak kuliahan itu. “Lho kamu kemana aja? Udah lama banget ga ngeliat kamu” ucapku yang sedikit terburu-buru, “Hehe iya” balasnya dengan nada yang manis. Sepanjang perjalanan kami berdua hanya terdiam. Tak seperti biasanya, tak ada bahan obrolan yang tersirat dalam pikiranku. Kereta pun berhenti di stasiun sudirman. Diriku turun dari kereta itu, sementara dia masih meneruskan perjalanan ke stasiun depok. Kujalani hari-hari seperti biasanya, hanya saja kali ini aku tak sabar menanti jam pulang kantorku.

            Jam pulang kantor pun tiba, dengan langkah yang terburu-buru aku berjalan menuju stasiun agar dapat bertemu anak kuliahan itu dengan secepat mungkin. Diriku memasuki gerbong kereta yang masih terlihat sepi, hanya ada beberapa pria dan wanita yang duduk di ujung rangkaian gerbong. “Mana anak kuliahan itu ya??” ujarku disertai rasa gelisah yang memenuhi pikiranku. Ekor mataku melihat anak kuliahan itu datang mendekat ke arahku. “Lho ternyata disini, saya pikir di gerbong depan” ucapnya dengan lembut. “Hehe, oh iya saya mau ngomongin sesuatu” ucapku penuh keraguan. “Iya apa?” balasnya. “Aku suka sama kamu semenjak kita ketemu di stasiun manggarai, setiap aku didekatmu rasanya dunia hanya miik kita berdua. Kamu mau ga jadi pacarku?” ucapku dengan terbata-bata. Raut wajahnya seketika berubah, kepalanya langsung menunduk. “Aku salah ya? Maaf” ujarku sambil melihat wajahnya. “Maaf ya mas.. aku juga suka sama mas dari pertama kali kita ketemu. Entah kenapa ada rasa yang berbeda kalo kita berduaan. Aku seneng obrolan kita selalu nyambung. Tapi maaf.. aku sudah punya pacar. Dulu aku nunggu mas nembak aku, ternyata ada orang yang lebih dulu nyatain perasaannya sama aku. Maaf ya..” ucapnya sembari meneteskan air mata.

            Seakan dunia berhenti berputar, waktu berhenti berdetak, darahku juga seakan berhenti mengalir. Perasaanku hancur seketika bak sebuah gabus yang diremas sampai tak berbentuk lagi. “Oh gitu ya.. maaf ya..” balasku. Kereta pun berhenti di stasiun manggarai, senyumanku menghantarnya keluar pintu gerbong kereta. Kami berdua saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Bagi orang lain, kejadian itu biasa terjadi, tapi bagiku sangat tidak biasa. Pintu gerbong mulai menutup dan kereta mulai melaju dengan kencang. Pikiranku masih saja dihantui oleh ucapannya tadi. Tak kusangka dia telah milik orang lain.

            Berbulan bulan kemudian, aku tak lagi melihat batang hidungnya sedikit pun di stasiun maupun di kereta. Sampai suatu ketika bos besarku memberikan sebuah undangan pernikahan, “Datang ya ke undangan pernikahan saya. Oh iya besok kamu saya angkat menjadi direktur di kantor ini” ucapnya dengan nada yang sangat berwibawa. Mataku mulai mebaca undangan tersebut, di undangan itu tertulis “Pernikahan Taajkhansa Najla dengan Sultan Wibowo”. Diriku seakan kaku, tak bisa bergerak, layaknya sebuah patung. “Ah sudahlah, tak usah dipikirkan lagi” ucapku dalam hati. Aku terus melanjutkan pekerjaan ku.


            Hari pernikahan bos ku dengan anak kuliahan itu pun tiba. Diriku mulai memacu mobil sport yang kumiliki setahun sesudah aku diangkat menjadi direktur. Dengan langkah yang sedih bercampur bahagia, kakiku mulai melangkah masuk kedalam gedung pertemuan yang sangat megah dan mewah itu. Diriku langsung bersalaman dengan kedua pengantin baru itu. Hanya beberapa kata yang mampu ku keluarkan di depan kedua mempelai itu, “Selamatnya buat kalian berdua. Semoga langgeng sampai maut memisahkan”. Setelah diriku bersalaman dengan kedua mempelai, aku langsung pergi berjalan kearah mobil ku. Diriku mulai menduduki kursi nyaman mobilku itu. Tersirat dalam pikiran ku ”Alhamdulillah.. anak kuliahan yang cantik itu mendapatkan pria yang sudah lebih mapan dariku. Semoga pernikahan mereka dirahmati oleh Allah SWT.. Aamiin..” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar