Surat
Terakhir Riyadi
Sore ini, udaranya seperti biasa terasa begitu sejuk. Angin dingin
kota Bandung yang selalu menemani sore akhir pekanku ditambah dengan semilir
angin hujan yang baru saja berhenti beberapa saat yang lalu. Entah sudah berapa
lama aku berada di balkon rumahku dengan berbalut selimut warna merah jambu
kesukaanku, sambil menikmati coklat hangat dan melihat sebuah album foto
berwarna biru dongker bertuliskan “Our
Lovely Life” dan dibawahnya ada tanda tanganku dan Riyadi dengan
menggunakan pulpen tinta emas.
Ya,
Riyadi. Ia merupakan teman laki-laki terdekatku, bisa dibilang Ia lebih dari
sekedar teman bagiku dan begitu pula baginya. Ia merupakan calon masa depanku,
kedua orangtua kami sudah menyetujui hubungan kami. Namun, sekali lagi Ia
hanyalah sekedar calon bagiku. Dan aku, Najla. Teman dekat sekaligus calon masa
depan Riyadi. Saat ini, aku tengah membuka satu demi satu halaman pada album
foto kami yang foto-fotonya kami abadikan pada saat terjadinya suatu peristiwa
yang mengesankan bagi kami dan dapan dikenang dikemudian harinya.
Hari
itu, tepat pukul17.00 aku baru saja sampai dirumah. Senang rasanya karena hari
itu Mama sedang ada dirumah. “Eh Najla udah pulang, sini sini makan dulu Mama
masak Soto Crispy kesukaan kamu, loh” “Wah iya? Asikdong. Makasih ya, Ma”
padahal jujur saja aku sudah makan tadi di kantin sebelum pulang ke rumah. Tapi
apadaya, Soto Crispy buatan Mama memang ter-enak sejagad raya gak ada yang bisa
nandingin, deh. “Najla, tadi didepan pintu ada bingkisan buat kamu tuh. Mama
gaktau dari siapa soalnya tadi Mama temuin pas mau nyiram taman. Mama kira itu
kacang. Sekarang udah Mama simpan di kamarmu.” “Wah dari siapa ya, Ma? Kayanya
aku gapernah mesen kacang kesiapapun deh. Nanti deh aku liat” Kataku sambil
menyuci piring yang habis ku gunakan untuk makan.
Sesampainya
dikamar, aku membuka box yang telah Mama bicarakan padaku. Saat aku membukanya,
terdapat Dress berwarna putih, kalung berwarna gold, dan flatshoes
berwarna hitam berkombinasi dengan warna rose
gold. Dan terdapat secarik kertas bertuliskan:
“Aku
jemput jam 8 udah siap siap pake semua pakaian yang ada di box ini ya, Naj.
Kita bakal ngeliat indahnya kota Bandung waktu malam hari, dijamin gak nyesel!
Sampai jumpa nanti malam
-Riyadi<3 o:p="">3>
Riyadi selalu saja membuatku tersenyum.
Bagaimana tidak, tingkahnya yang romantis membuatku selalu jatuh hati padanya.
Dan akupun bersiap, menggunakan semua pakaian yang Riyadi berikan didalam box
itu. Ditambah dengan menyemprotkan parfume
bermerk Victoria’s Secret untuk menyempurnakan
penampilanku malam ini.
Jam
sudah menunjukan pukul 20.00, bertepatan dengan bunyinya klakson mobil dari
depan rumah tanda Riyadi sudah datang menjemputku. Aku bergegas untuk pamit
terlebih dahulu pada Mama. “Yaampun, Mama kira tadi box nya isi kacang.
Gataunya mah dari Didi. Duh Gadis mama udah dewasa yah” kata Mama dengan logat
Sundanya yang khas. “Apasih, ma. Kok Didi? Yaudah Najla pamit ya maa” “Iya
sayang, hati-hati ya”
Setelah
menutup pagar rumah, perlahan aku membuka pintu mobil Riyadi. “Haii.” Kataku
dengan gugup. “Hai, kamu cantik banget malam ini. Selamat hari jadi yang
pertama kalinya ya, Boo” Kata Riyadi sambil tersenyum. Dan aku baru saja ingat
bahwa hari ini merupakan genap 1 tahun hubunganku dengan Riyadi. Sebagai
perempuan, disitu kadang saya merasa sedih. “Wah. Iya, Didi. Aku seneng banget
malam ini. Kita mau kemana, Di?” “Kamu gaperlu tau kita mau pergi kemana,
sekarang tutup mata kamu duluya. Aku mau ngeliatnya kalau kita udah sampai di
tempat tujuan” “Yaampun, Di. Tega deh kamu. Kalau kesananya butuh waktu 1 hari
masa mata aku mesti di tutup selama itu” “Ah kamu, kebiasaan deh terlalu
berlebihan. Udah ikutin apa kata aku ya” Ya mataku ditutup dengan penutup mata
oleh Riyadi. “Yap, kita sudah sampai” “Berarti mataku boleh dibuka sekarang
dong?” “Ets, nanti dulu. Sebentar lagi kok” “Daritadi kamu bilang sebentar
sebentar mulu, udah sejam nih mata aku ketutup.” “Lebay ah,Boo. Orang baru
30menit.” Kata Riyadi sambil menuntunku untuk masuk kedalam tempat yang dituju
dengan keadaan mata tertutup. Lalu, aku duduk ditempat duduk dan aku dapat
merasakan hembusan angin malam yang menusuk tubuhku. “Kamu siap ya? Jangan
kaget kalau nanti pas buka mata” “Iya, Didiii” Riyadi membuka penutup mataku
dan tebak apa yang terjadi? Riyadi memesan sebuah tempat khusus untuk candle-light dinner kita berdua dengan
hiasan bunga bunga berwarna biru muda, merah, dan putih di meja yang kita
tempati. Lalu disekitar meja yang kita tempatin di tebarkannya kelopak bunga
mawar serta lilin-lilin yang menerangi malam itu. Dan kitapun dapat menikmati
pemandangan kota Bandung di malam hari dari tempat kami berada. Memang tak
dapat diragukan lagi, Riyadi memang lelaki terbaik yang ku miliki
“Didi….”,
kataku terkaget sambil menutup mulutku dengan tanganku. “Tuhkan, kan tadi udah
dikasih tau jangan kaget” “Kamu yang nyiapin semua ini?” “Yaiyalah, masa pa
Maman yang nyiapin hehe” Kata Riyadi sambil mencubit pipiku. “Naj, Ini aku ada
album foto buat kamu. Aku mau untuk kedepannya kalau kamu ada foto foto kita
yang mungkin bisa kamu kenang nantinya, simpen di Album ini ya. Dan satu lagi,
tutup mata kamu lagi” Kata Riyadi seraya bangkit dari tempat duduknya dan
berjalan kebelakangku sambil mengenakan sesuatu padaku. “Sekarang buka mata
kamu” Ya, ternyata Riyadi mengenakan ku sebuah kalung berwarna Silver dengan
Inisial RN. “Riyadi, Makasih yaa. Makasih Didi makasih banyak” Kataku sambil
mengeluarkan air mata tanda terharu. Kesimpulannya, malam itu merupakan malam
terindah bagiku. Dan juga bagi Riyadi.
Hari-hari,
dan bulan-bulan selanjutnya kami lewati bersama. Dan tentunya tingkah romantis
Riyadi kepadaku yang membuatku semakin hari semakin bahagia bersamanya. Hari
ini merupakan 1 minggu menjelang ulang tahun ku yang ke-22 tahun. Hal tersedihnya,
Riyadi tidak ada kabar sama sekali semenjak satu bulan yang lalu. Entah
keberadaannya dimana… Aku taktau. Aku hubungi melalui segala social media pun tidak membuahkan hasil.
Sampai pada hari itu, aku iseng pulang kuliah dengan jalan kaki karena jarak
kampus dengan rumahku yang tidak terlalu jauh. Aku melewati circuit yang biasa
digunakan untuk balap motor. Pandanganku terkunci pada salah satu pengemudi
motor dan motornya yang bermerk Ducati
berwarna hitam yang sedang bermesraan dengan perempuan berambut pirang berwarna
merah. Aku pun penasaran dan memasuki tempat tersebut. Dan benar saja,
pandanganku taksalah lagi. Lelaki itu Riyadi. Ya, Riyadi ‘lelaki terbaikku’
itu. Amarahku sangat memuncak kala itu. “Riyadi, maksud kamu apa sih sama cewe
pirang ini nih?” “Bentar, kamu siapa ya? Kamu kok tiba tiba manggil nama saya,
dan marah-marah. Padahal saya gatau kamu itu siapa?” “Gausah pura-pura gatau,
maksud kamu apa tiba-tiba menghilang dan ada ditempat kayak gini dan bermesraan
sama perempuan ini?” “Saya tegasin, kamu gausah ada dihadapan Saya lagi. Saya
gakenal kamu. Pergi sana” Kata Riyadi. Hatiku benar benar hancur
berkeping-keping. Taktau apa yang harus dilakukan selain menangis dan pergi
dari tempat itu. Muak. Aku muak dengan lelaki itu.
Riyadi
“Aku merasa sangat menyesal berbuat seperti itu
pada Najla. Aku gak bermaksud seperti itu, Naj. Semua ini aku lakuin buat kamu.
Najla, Maafin Didi ya.” Kataku dalam hati saat melihat Najla meninggalkanku
dengan keadaan menangis. Ya, hari itu merupakan jadwal balap ku. Tapi, saat ini
harus ditunda hingga nanti malam karena beberapa sebab. Niatku sekarang adalah
mengunjungi rumah Najla dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi dengan
membawa bunga Edelweiss, bunga kesukaan Najla karena bunga itu abadi. Layaknya
kasih sayang kami pada satu sama lain. Saat dalam perjalanan ke rumah Najla
dengan Ducati-ku, aku melihat seorang
perempuan sedang jalan kaki dan sepertinya aku mengenal sosok itu. Akupun
mendekati perempuan itu, dan benar saja.. Perempuan itu ialah Najla.
“Jla, maafin aku atas apa yang telah terjadi
tadi, aku bisa jel…”
“Gausah ganggu aku lagi. Cukup jelas apa yang
kamu lakuin tadi”
“Naj, bukan gitu maksud aku. Semua ini buat
kamu”
“Buat aku? Buat aku sakit hati. Iya?”
“Kamu gaada kabar selama itu tiba tiba kamu
berada ditempat balap bersama perempuan. Itu semua buat aku? Berhasil kok… Buat
aku sakit hati.”
“Bukan gitu, Naj. Tapi..”
“Udah, aku gamau berhubungan sama kamu lagi.
Gamau ngeliat muka kamu lagi. Lebih baik kamu tinggalin aku sekarang” Ucapan
Najla membuatku tersentuh, betapa bodohnya aku melakukan hal bodoh dari yang
terbodoh itu. “Baik kalau itu mau kamu”. Akupun menancap gasku sekencang
mungkin meninggalkan Najla dan sekarang aku menuju ke tempat balap tadi. Dan
tidak terasa, ini waktu nya aku melakukan pertandingan balap motor.
Najla
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain
menangis pada hari itu, sudah berjam-jam aku mengurung diri didalam kamarku.
Mungkin Mama sudah khawatir akan kondisiku sekarang. Aku mencoba melupakan
Riyadi. Melupakan kenangan kenangan yang ada bersamanya. Dan karena terlalu
lelah, akupun tertidur. Tidak sampai 2 jam kemudian, handphone-ku berbunyi. Akupun terbangun dan segera mengangkat
telfon dari sahabatku, Fika.
“Halo, Naj..” Kata Fika yang kedengarannya
sedang menangis.
“Fik? Lo kenapa? Kok lo nangis?”
“Jla, yang sabar ya. Gue tau lo bisa ngelewatin
semua ini.”
“Ada apasih, Fik? Gue pasti bakal ngelakuin apa
yang lo bilang kok. Lo jangan nangis dong.”
“Riyadi Jla, Riyadi…”
“Riyadi kenapa?”
“Riyadi kecelakaan waktu dia lagi pertandingan
balap motor. Dia nabrak dan terluka berat hingga ia kehabisan darah pada saat
dibawa kerumah sakit” “La..La..Lalu?” Kataku dengan air mata yang mulai
menghujani pipiku.
“Nyawa Riyadi gak ketolong, Jla. Kuat ya, sayang.
Lo bisa ngelewati semua ini” “Ma..Kasih ya Fika atas informasinya.” Kataku yang
takbisa menahan tangis terlebih lagi saat melihat Riyadi yang tak bernyawa
lagi.
Pada
saat dipemakaman, saat orang lain telah meninggalkan makam Riyadi. Hanya
tersisa aku, dan keluarga Riyadi. Tetapi saat keluarganya hendak meninggalkan
tempat ini, Mama Riyadi memberikan ku sebuah surat. Akupun membacanya didekat
batu nisan Riyadi.
“
Najla.. Perempuan yang terbaik bagiku.
Mungkin beberapa saat terakhir ini, kamu bertanya-tanya kemanakah
aku pergi sehingga aku tidak memberikan kabar sama sekali kepadamu. Jla, aku
lagi mempersiapkan pernikahan sekaligus kado untuk hari ulangtahunmu. Aku ingin
memberikan kejutan yang sangat istimewa dan mungkin yang takan kamu lupakan
selamanya. Aku sedang menambah pemasukanku, dengan mengembangkan kelebihanku
dalam balap motor. Mungkin caraku yang salah dengan rencana yang telah aku
susun ini. Sehingga berakhir degan membuatmu marah besar kepadaku dan
mengakhiri hubungan kita.
Tapi aku senang sekaligus bahagia, karena aku telah mewujudkan
keinginanmu memiliki sebuah rumah yang terletak di Bandung. Disana kamu dapat
menikmati udara Bandung disore hari, dan pemandangan lampu-lampu dari rumah
penduduk Bandung pada malam hari. Mungkin aku tidak menemanimu saat ini dan
merayakan ulangtahunmu. Tapi percayalah, aku akan selalu bersamamu karena aku
berada di posisi yang mutlak, yaitu didalam hatimu. Najla, untuk terakhir
kalinya aku sangat meminta maaf kepadamu. Aku menyayangimu. Dan selamat ulang
tahun, sayang.
-Riyadi<3 o:p="">3>
Aku takuasa menahan air mataku saat itu, yang
dapat aku lakukan hanya menyesal. “Terimakasi banyak, Riyadi.”
Aku
meninggalkan lokasi pemakaman itu juga meninggalkan duka yang menyelimutiku.
Dan selalu tersenyum menjalani hari-hari setelahnya.
-----
“Bunda, Bunda bangun. Kok Bunda tidur disini
sih?”
“Ehiya, sayang. Bunda Ketiduran”
“Aku udah pulang les nih, Bun. Kita makan sore
yuk” Ya, rupanya aku tertidur daritadi. Kini aku sudah mempunyai seorang anak
laki-laki bernama Delbyn yang sudah berusia 4 Tahun. Dan aku telah memiliki
suami, bernama Zulfikri. Sudah 4 tahun kami menikah. Dan… Sudah 6 Tahun
semenjak perginya Riyadi dariku.
Aku akan
mengenang Didi, laki-laki yang mengesankan bagiku. Sampai kapanpun.
Terimakasih, Riyadi.
( VIONY
SYAHIRA DEBEN / XI MIPA 5 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar