Sabtu, 19 September 2015

Viony Syahira Deben

Surat Terakhir Riyadi


            Sore ini, udaranya seperti biasa terasa begitu sejuk. Angin dingin kota Bandung yang selalu menemani sore akhir pekanku ditambah dengan semilir angin hujan yang baru saja berhenti beberapa saat yang lalu. Entah sudah berapa lama aku berada di balkon rumahku dengan berbalut selimut warna merah jambu kesukaanku, sambil menikmati coklat hangat dan melihat sebuah album foto berwarna biru dongker bertuliskan “Our Lovely Life” dan dibawahnya ada tanda tanganku dan Riyadi dengan menggunakan pulpen tinta emas.
            Ya, Riyadi. Ia merupakan teman laki-laki terdekatku, bisa dibilang Ia lebih dari sekedar teman bagiku dan begitu pula baginya. Ia merupakan calon masa depanku, kedua orangtua kami sudah menyetujui hubungan kami. Namun, sekali lagi Ia hanyalah sekedar calon bagiku. Dan aku, Najla. Teman dekat sekaligus calon masa depan Riyadi. Saat ini, aku tengah membuka satu demi satu halaman pada album foto kami yang foto-fotonya kami abadikan pada saat terjadinya suatu peristiwa yang mengesankan bagi kami dan dapan dikenang dikemudian harinya.

            Hari itu, tepat pukul17.00 aku baru saja sampai dirumah. Senang rasanya karena hari itu Mama sedang ada dirumah. “Eh Najla udah pulang, sini sini makan dulu Mama masak Soto Crispy kesukaan kamu, loh” “Wah iya? Asikdong. Makasih ya, Ma” padahal jujur saja aku sudah makan tadi di kantin sebelum pulang ke rumah. Tapi apadaya, Soto Crispy buatan Mama memang ter-enak sejagad raya gak ada yang bisa nandingin, deh. “Najla, tadi didepan pintu ada bingkisan buat kamu tuh. Mama gaktau dari siapa soalnya tadi Mama temuin pas mau nyiram taman. Mama kira itu kacang. Sekarang udah Mama simpan di kamarmu.” “Wah dari siapa ya, Ma? Kayanya aku gapernah mesen kacang kesiapapun deh. Nanti deh aku liat” Kataku sambil menyuci piring yang habis ku gunakan untuk makan.

            Sesampainya dikamar, aku membuka box yang telah Mama bicarakan padaku. Saat aku membukanya, terdapat Dress berwarna putih, kalung berwarna gold, dan flatshoes berwarna hitam berkombinasi dengan warna rose gold. Dan terdapat secarik kertas bertuliskan:
“Aku jemput jam 8 udah siap siap pake semua pakaian yang ada di box ini ya, Naj. Kita bakal ngeliat indahnya kota Bandung waktu malam hari, dijamin gak nyesel! Sampai jumpa nanti malam
                                                                                                                        -Riyadi<3 o:p="">
Riyadi selalu saja membuatku tersenyum. Bagaimana tidak, tingkahnya yang romantis membuatku selalu jatuh hati padanya. Dan akupun bersiap, menggunakan semua pakaian yang Riyadi berikan didalam box itu. Ditambah dengan menyemprotkan parfume bermerk Victoria’s Secret untuk menyempurnakan penampilanku malam ini.
            Jam sudah menunjukan pukul 20.00, bertepatan dengan bunyinya klakson mobil dari depan rumah tanda Riyadi sudah datang menjemputku. Aku bergegas untuk pamit terlebih dahulu pada Mama. “Yaampun, Mama kira tadi box nya isi kacang. Gataunya mah dari Didi. Duh Gadis mama udah dewasa yah” kata Mama dengan logat Sundanya yang khas. “Apasih, ma. Kok Didi? Yaudah Najla pamit ya maa” “Iya sayang, hati-hati ya”
           
            Setelah menutup pagar rumah, perlahan aku membuka pintu mobil Riyadi. “Haii.” Kataku dengan gugup. “Hai, kamu cantik banget malam ini. Selamat hari jadi yang pertama kalinya ya, Boo” Kata Riyadi sambil tersenyum. Dan aku baru saja ingat bahwa hari ini merupakan genap 1 tahun hubunganku dengan Riyadi. Sebagai perempuan, disitu kadang saya merasa sedih. “Wah. Iya, Didi. Aku seneng banget malam ini. Kita mau kemana, Di?” “Kamu gaperlu tau kita mau pergi kemana, sekarang tutup mata kamu duluya. Aku mau ngeliatnya kalau kita udah sampai di tempat tujuan” “Yaampun, Di. Tega deh kamu. Kalau kesananya butuh waktu 1 hari masa mata aku mesti di tutup selama itu” “Ah kamu, kebiasaan deh terlalu berlebihan. Udah ikutin apa kata aku ya” Ya mataku ditutup dengan penutup mata oleh Riyadi. “Yap, kita sudah sampai” “Berarti mataku boleh dibuka sekarang dong?” “Ets, nanti dulu. Sebentar lagi kok” “Daritadi kamu bilang sebentar sebentar mulu, udah sejam nih mata aku ketutup.” “Lebay ah,Boo. Orang baru 30menit.” Kata Riyadi sambil menuntunku untuk masuk kedalam tempat yang dituju dengan keadaan mata tertutup. Lalu, aku duduk ditempat duduk dan aku dapat merasakan hembusan angin malam yang menusuk tubuhku. “Kamu siap ya? Jangan kaget kalau nanti pas buka mata” “Iya, Didiii” Riyadi membuka penutup mataku dan tebak apa yang terjadi? Riyadi memesan sebuah tempat khusus untuk candle-light dinner kita berdua dengan hiasan bunga bunga berwarna biru muda, merah, dan putih di meja yang kita tempati. Lalu disekitar meja yang kita tempatin di tebarkannya kelopak bunga mawar serta lilin-lilin yang menerangi malam itu. Dan kitapun dapat menikmati pemandangan kota Bandung di malam hari dari tempat kami berada. Memang tak dapat diragukan lagi, Riyadi memang lelaki terbaik yang ku miliki

            “Didi….”, kataku terkaget sambil menutup mulutku dengan tanganku. “Tuhkan, kan tadi udah dikasih tau jangan kaget” “Kamu yang nyiapin semua ini?” “Yaiyalah, masa pa Maman yang nyiapin hehe” Kata Riyadi sambil mencubit pipiku. “Naj, Ini aku ada album foto buat kamu. Aku mau untuk kedepannya kalau kamu ada foto foto kita yang mungkin bisa kamu kenang nantinya, simpen di Album ini ya. Dan satu lagi, tutup mata kamu lagi” Kata Riyadi seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kebelakangku sambil mengenakan sesuatu padaku. “Sekarang buka mata kamu” Ya, ternyata Riyadi mengenakan ku sebuah kalung berwarna Silver dengan Inisial RN. “Riyadi, Makasih yaa. Makasih Didi makasih banyak” Kataku sambil mengeluarkan air mata tanda terharu. Kesimpulannya, malam itu merupakan malam terindah bagiku. Dan juga bagi Riyadi.

            Hari-hari, dan bulan-bulan selanjutnya kami lewati bersama. Dan tentunya tingkah romantis Riyadi kepadaku yang membuatku semakin hari semakin bahagia bersamanya. Hari ini merupakan 1 minggu menjelang ulang tahun ku yang ke-22 tahun. Hal tersedihnya, Riyadi tidak ada kabar sama sekali semenjak satu bulan yang lalu. Entah keberadaannya dimana… Aku taktau. Aku hubungi melalui segala social media pun tidak membuahkan hasil. Sampai pada hari itu, aku iseng pulang kuliah dengan jalan kaki karena jarak kampus dengan rumahku yang tidak terlalu jauh. Aku melewati circuit yang biasa digunakan untuk balap motor. Pandanganku terkunci pada salah satu pengemudi motor dan motornya yang bermerk Ducati berwarna hitam yang sedang bermesraan dengan perempuan berambut pirang berwarna merah. Aku pun penasaran dan memasuki tempat tersebut. Dan benar saja, pandanganku taksalah lagi. Lelaki itu Riyadi. Ya, Riyadi ‘lelaki terbaikku’ itu. Amarahku sangat memuncak kala itu. “Riyadi, maksud kamu apa sih sama cewe pirang ini nih?” “Bentar, kamu siapa ya? Kamu kok tiba tiba manggil nama saya, dan marah-marah. Padahal saya gatau kamu itu siapa?” “Gausah pura-pura gatau, maksud kamu apa tiba-tiba menghilang dan ada ditempat kayak gini dan bermesraan sama perempuan ini?” “Saya tegasin, kamu gausah ada dihadapan Saya lagi. Saya gakenal kamu. Pergi sana” Kata Riyadi. Hatiku benar benar hancur berkeping-keping. Taktau apa yang harus dilakukan selain menangis dan pergi dari tempat itu. Muak. Aku muak dengan lelaki itu.

Riyadi
“Aku merasa sangat menyesal berbuat seperti itu pada Najla. Aku gak bermaksud seperti itu, Naj. Semua ini aku lakuin buat kamu. Najla, Maafin Didi ya.” Kataku dalam hati saat melihat Najla meninggalkanku dengan keadaan menangis. Ya, hari itu merupakan jadwal balap ku. Tapi, saat ini harus ditunda hingga nanti malam karena beberapa sebab. Niatku sekarang adalah mengunjungi rumah Najla dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi dengan membawa bunga Edelweiss, bunga kesukaan Najla karena bunga itu abadi. Layaknya kasih sayang kami pada satu sama lain. Saat dalam perjalanan ke rumah Najla dengan Ducati-ku, aku melihat seorang perempuan sedang jalan kaki dan sepertinya aku mengenal sosok itu. Akupun mendekati perempuan itu, dan benar saja.. Perempuan itu ialah Najla.
“Jla, maafin aku atas apa yang telah terjadi tadi, aku bisa jel…”
“Gausah ganggu aku lagi. Cukup jelas apa yang kamu lakuin tadi”
“Naj, bukan gitu maksud aku. Semua ini buat kamu”
“Buat aku? Buat aku sakit hati. Iya?”
“Kamu gaada kabar selama itu tiba tiba kamu berada ditempat balap bersama perempuan. Itu semua buat aku? Berhasil kok… Buat aku sakit hati.”
“Bukan gitu, Naj. Tapi..”
“Udah, aku gamau berhubungan sama kamu lagi. Gamau ngeliat muka kamu lagi. Lebih baik kamu tinggalin aku sekarang” Ucapan Najla membuatku tersentuh, betapa bodohnya aku melakukan hal bodoh dari yang terbodoh itu. “Baik kalau itu mau kamu”. Akupun menancap gasku sekencang mungkin meninggalkan Najla dan sekarang aku menuju ke tempat balap tadi. Dan tidak terasa, ini waktu nya aku melakukan pertandingan balap motor.

Najla
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain menangis pada hari itu, sudah berjam-jam aku mengurung diri didalam kamarku. Mungkin Mama sudah khawatir akan kondisiku sekarang. Aku mencoba melupakan Riyadi. Melupakan kenangan kenangan yang ada bersamanya. Dan karena terlalu lelah, akupun tertidur. Tidak sampai 2 jam kemudian, handphone-ku berbunyi. Akupun terbangun dan segera mengangkat telfon dari sahabatku, Fika.
“Halo, Naj..” Kata Fika yang kedengarannya sedang menangis.
“Fik? Lo kenapa? Kok lo nangis?”
“Jla, yang sabar ya. Gue tau lo bisa ngelewatin semua ini.”
“Ada apasih, Fik? Gue pasti bakal ngelakuin apa yang lo bilang kok. Lo jangan nangis dong.”
“Riyadi Jla, Riyadi…”
“Riyadi kenapa?”
“Riyadi kecelakaan waktu dia lagi pertandingan balap motor. Dia nabrak dan terluka berat hingga ia kehabisan darah pada saat dibawa kerumah sakit” “La..La..Lalu?” Kataku dengan air mata yang mulai menghujani pipiku.
“Nyawa Riyadi gak ketolong, Jla. Kuat ya, sayang. Lo bisa ngelewati semua ini” “Ma..Kasih ya Fika atas informasinya.” Kataku yang takbisa menahan tangis terlebih lagi saat melihat Riyadi yang tak bernyawa lagi.
           
            Pada saat dipemakaman, saat orang lain telah meninggalkan makam Riyadi. Hanya tersisa aku, dan keluarga Riyadi. Tetapi saat keluarganya hendak meninggalkan tempat ini, Mama Riyadi memberikan ku sebuah surat. Akupun membacanya didekat batu nisan Riyadi.
“ Najla.. Perempuan yang terbaik bagiku.
Mungkin beberapa saat terakhir ini, kamu bertanya-tanya kemanakah aku pergi sehingga aku tidak memberikan kabar sama sekali kepadamu. Jla, aku lagi mempersiapkan pernikahan sekaligus kado untuk hari ulangtahunmu. Aku ingin memberikan kejutan yang sangat istimewa dan mungkin yang takan kamu lupakan selamanya. Aku sedang menambah pemasukanku, dengan mengembangkan kelebihanku dalam balap motor. Mungkin caraku yang salah dengan rencana yang telah aku susun ini. Sehingga berakhir degan membuatmu marah besar kepadaku dan mengakhiri hubungan kita.
Tapi aku senang sekaligus bahagia, karena aku telah mewujudkan keinginanmu memiliki sebuah rumah yang terletak di Bandung. Disana kamu dapat menikmati udara Bandung disore hari, dan pemandangan lampu-lampu dari rumah penduduk Bandung pada malam hari. Mungkin aku tidak menemanimu saat ini dan merayakan ulangtahunmu. Tapi percayalah, aku akan selalu bersamamu karena aku berada di posisi yang mutlak, yaitu didalam hatimu. Najla, untuk terakhir kalinya aku sangat meminta maaf kepadamu. Aku menyayangimu. Dan selamat ulang tahun, sayang.
                                                                                                            -Riyadi<3 o:p="">
Aku takuasa menahan air mataku saat itu, yang dapat aku lakukan hanya menyesal. “Terimakasi banyak, Riyadi.”

            Aku meninggalkan lokasi pemakaman itu juga meninggalkan duka yang menyelimutiku. Dan selalu tersenyum menjalani hari-hari setelahnya.


-----

“Bunda, Bunda bangun. Kok Bunda tidur disini sih?”
“Ehiya, sayang. Bunda Ketiduran”
“Aku udah pulang les nih, Bun. Kita makan sore yuk” Ya, rupanya aku tertidur daritadi. Kini aku sudah mempunyai seorang anak laki-laki bernama Delbyn yang sudah berusia 4 Tahun. Dan aku telah memiliki suami, bernama Zulfikri. Sudah 4 tahun kami menikah. Dan… Sudah 6 Tahun semenjak perginya Riyadi dariku.

Aku akan mengenang Didi, laki-laki yang mengesankan bagiku. Sampai kapanpun. Terimakasih, Riyadi.
                                   



( VIONY SYAHIRA DEBEN / XI MIPA 5 )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar