Jodohku di Tangan-mu
Apa benar tiap manusia memiliki jodoh? Apa benar ‘Tulang Rusuk’ yang sering dilantunkan para penyair itu benar-benar ada? Haha… Aku tidak sedikitpun yakin, terlebih pada diriku sendiri. Memang sepertinya jodohku ada di tangan Tuhan,ya di tangan-Nya, tidak di tanganku.
Pagi itu, pagi yang sunyi, pagi yang sama seperti pagi-pagi lainnya dalam 25 tahun hidupku. Atau mungkin 10 tahun terakhir,entahlah. Aku terbangun dari kasur magnetku karena suara indah seorang perempuan. Ya, suara perempuan yang selalu setia membangunkanku selama aku bekerja sebagai sales di salah satu perusahaan mobil Jepang. Lalu aku mematikannya. Ya, alarmku, alarm smartphone kesayanganku yang bersuara perempuan. Kulihat jam, sudah menunjukkan pukul 5.00 WIB yang berarti waktu mandi bagiku. Aku tidak terlalu suka mandi, jadi jam 5.15 WIB pun sudah selesai dan siap untuk bekerja.
“Riyadi, tolong ini kerjaan diselesaikan besok!” seru bosku memecah lamunanku. “Iya Pak,” ujarku malas.
“Ingat ya, kamu sudah saya peringati berkali-kali agar bekerja lebih semangat lagi, kalau masih begini terus,maka—”
“Iya Pak! Siap!” potongku sembari berjalan keluar untuk pulang karena office hour yang telah selesai. Seperti biasanya aku pulang dengan menaiki angkot,begitu juga berangkat. Aku menempuh kurang lebih 1 jam untuk sampai ke kos-an ku. Setibanya di istana megahku, aku langsung berbaring, mengakhiri hari-hari membosankanku yang kurasa takkan pernah berakhir.
Pernah, atau bahkan sering ku bertanya dalam hati, Mengapa hidupku begitu membosankan? Bahkan aku tak memiliki seorang pasangan pun, padahal umurku yang bisa dibilang sudah harus menikah. Mengapa aku begitu sial? Ya, bisa dibilang kesialanku tentang cinta bermula 10 tahun yang lalu, atau tepatnya saat duduk di bangku kelas XI SMA. Saat itu aku menjalani hidup remaja layaknya remaja normal, yaitu dengan berorganisasi, mengikuti les, ekskul, dan lain-lain. Termasuk pula dengan jatuh cinta kepada seorang perempuan. Ya, dulu aku menyukai perempuan teman sekelasku, namanya Najla. Dia adalah perempuan paling manis dalam hidupku. Lesung pipitnya yang cute, matanya yang bersinar, hingga kacamata yang membuatnya semakin cantik di mataku. Tapi, aku tak pernah bisa mengungkapkan perasaanku padanya dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
Detik demi detik kulalui,tanpa kepastian perasaan ini. Hingga suatu hari kami harus disatukan dalam satu kelompok, hanya berdua. Mimpi apa semalam, gumamku senang. Ternyata setelah beberapa waktu, kami bersahabat. Dia bilang kepalaku sangat lucu karena rambutku yang botak. Seringkali dia mengelus-elus kepalaku, menunjukkan rasa persahabatan dia. Haha, andai saja rasa cinta.
Aku gerah. Meskipun menjadi sahabatnya membuatku bahagia sampai ke langit ke-7, namun aku menginginkan lebih.
Akhirnya suatu saat aku iseng menanyakannya pertanyaan di taman kota tempat favorit kami.
“Naj, Yadi mau nanya ke Najnaj dong,” Begitulah aku memanggilnya.
“Apa botakkk??” Begitulah dia menjawabnya.
“Najnaj kenapa sampai sekarang belum punya pacar?” tanyaku takut. “Haha Yadi Yadi.
Najla belum mau pacaran,karena belum ada cowok yang bisa memenuhi
persyaratan.Haha” jawabnya santai. “Kkkkalauuu..kkalauu Yadi mau jadi pacar
Najla,boleh?” ujarku gemetar. “Boleh, tapi Yadi harus bisa naik
peringkat,minimal satu” jawabnya. Lalu aku berpikir sejenak. Ranking semester 1 ku adalah 34 dari 34
siswa. Bagaimana caranya aku bisa naik peringkat. “Tapi mungkin naik satu saja
bisa” pikirku. Akhirnya tanpa pikir panjang aku
menyanggupi syarat dari Najla, tanpa berpikir apa-apa lagi.
Selang waktu,
aku terus berusaha untuk belajar,belajar, dan belajar. Tiap lembar buku ku buka
dengan jutaan harap akan hati Najla. Entah mengapa aku yang tadinya selalu
mementahkan pelajaran, menjadi rajin belajar karena hal ini. Tiba saatnya
pembagian rapot semester 2. Yang kutunggu hanyalah Ranking semester 2 ku. Saat giliranku maju, aku melihat dan tak
kusangka, aku Ranking 33. Sontak saja
aku berteriak “Yes!!!!” hingga mengagetkan seluruh isi kelas. Segera kuhubungi
Najla dan memberitahukan info penting ini, tapi tak kunjung dibalas. Hingga
tiba saatnya masuk kelas XII,dimana aku sekelas lagi dengan Najla, wah jodohnya
pikirku. “Najla kenapa gak bales line
Yadi?” ujarku. “ Yadi maaf yaa handphone-ku
habis ganti, nomorku juga ganti.” Balasnya. “ Oalah gitu….. Ehiya Naj, Yadi
naik satu lho peringkatnya!” ujarku semangat. “Wuih selamat ya Yadi atas
pencapaiannya” jawabnya begitu santai. Saat aku ingin menanggapinya, guru pun
datang memutus percakapan kami.
Hingga aku
menanyakannya lagi, di tempat yang sama. “Naj,aku udah tepatin syarat yang kamu
berikan, jadi maukan kamu jadi pacar Yadi? Ujarku dengan penuh harap. “ Yadi
maaf, Najla waktu itu cuman bercanda” jawabnya. Jawaban itu membuatku sakit
hati teramat dalam, sampai-sampai bibir ini terjahit tanpa mengucap satu patah
katapun. Aku langsung pergi tanpa menoleh ke belakang. Sejak saat itu, entah
mengapa percintaan ku selalu berakhir tragis.
Pagi ini, hari
minggu, hari dimana kebosananku berkurang beberapa derajat. Aku biasanya main
ke taman favoritku dahulu dengan Najla. Ah Najla lagi. Y ataman kota yang cukup
indah dan segar untuk menutup hari-hariku yang membosankan. Aku memesan es
kelapa sambil duduk mematung memandang langit. Sejenak pula aku melihat
sekitar. Tiba-tiba kulihat seorang yang menarik perhatianku. Lalu ku mencoba
menyapanya “Najla?” ujarku pelan. Ternyata
perempuan itu benar-benar Najla. Wow
sungguh mengagetkanku. “Yadi??? Yadiiii!!!” jawabnya terkejut dan spontan
langsung memelukku. “Yadi, ada yang mau aku tanyain ke kamu” “Aku juga Naj”.
Akhirnya kami duduk berdua saling bercerita. Ternyata setelah lulus SMA dia
langsung menuju Singapura untuk meneruskan kuliah disana, dan sekarang dia baru
pulang karena studinya yang sedang memasuki libur. Dan kami saling bertanya
soal pasangan, dan ternyata kami sama-sama belum mempunyai pasangan.
“Naj, apakah saat itu kamu benar-benar
mempermainkanku?” tanyaku. Dia terdiam, dan hanya melamun. “ Naj tenang saja,
aku sudah dewasa sekarang. Aku takkan sakit hati lagi kok” tambahku. Namun dia
masih saja diam melamun. Hingga dia berkata “ Kalau aku kasih syarat lagi, kamu
masih mau nerima gak?”. Entah mengapa Najla yang sekarang tak sesemangat dulu,
tubuhnya pun terlihat sangat lemas. “ Hmm jujur, aku masih berharap sama kamu
kok. Oke aku terima syarat kamu ini” jawabku. Ya karena jujur saja Najla masih
merupakan nama yang rutin kusebut di dalam Do’a ku. “ Oke syaratnya gampang,
Yadi cukup perlu terus menemui Najla disini, setahun sekali, selama tiga tahun.
Tahun pertama tolong bawa audio recorder.
Lalu tahun kedua membawa kertas putih dan pulpen tinta merah. Dan terakhir
membawa bunga,bunga yang indah. Bagaimana?”. Pernyataannya sunggu membingungkan dan aneh.
Mengapa harus menunggu selama itu, apa dia mengetes kesetiaanku? Atau mencoba
mempermainkanku lagi? Ah sudahlah yang lalu biarlah berlalu. “Oke Naj, Yadi
terima. Di hari ini juga kan?” “ Ya tentu saja. Kamu lupa ya hari ini hari
pertama kita mengucap janji persahabatan”. Ya ampun dia masih ingat saja dengan
janji anak SMA saat itu. Ya sudah akhirnya aku pulang, begitu pula Najla.
Tahun pertama,
sesuai janjinya aku membawa audio
recorder untuknya. Aku melihat, kini rambutnya dipotong pendek, entah
mengapa begitu. “ Gaya rambut baru nih, Naj?” “ Iya Di, Yadi masih botak terus
yah?hahaha..” ya begitulah pertemuan singkat kami. Hanya bertemu 2 jam di Taman
Kota ini, setahun sekali pula, tapi aku senang. Terakhir dia berkata “ Sampai
ketemu tahun depan botakkk”
Setahun t’lah
berlalu, kini aku membawakannya kertas putih dan pulpen bertinta merah.
Sekarang dia kurusan dan lebih langsing. “Wah kamu mau jadi model?” “ Emang
kenapa Di?” tanyanya heran. “ Itu badan jadi slim gitu. Jangan diet sembarangan, nanti sakit.” Kataku. “ Haha
nggak jugasih, cuman yaa gitudeh” “Lho kok bisa?” “Udah yaa sampai ketemu tahun
depan botakkk”
Tahun ini, tahun
terakhir dari persyaratan. Aku datang dengan sedikit berbeda. Dengan
menggunakan setelan terbaikku, ditambah mebawa bunga besar yang sangat indah
menurutku. Aku berjalan dengan yakin akan mendapatkan Najla setelah sekian
lama, impianku sejak SMA. Namun, yang hadir disana bukanlah dia, melainkan sang
Ibu. Aku menghampirinya, lalu Ibu berkata “ Nak Yadi, Najla udah gak ada. DIa
ngidap kanker udah dari kelas XI SMA. Cuman dia gak pernah mau bilang, apalagi
ke kamu.” Ujarnya sembari menangis. Aku jatuh berlutut, hidup membosankanku
yang kukira segera berakhir, berubah menjadi bencana. “Ini ada titipan terakhir
dari Najla, kamu yang sabar ya” Sembari Ibu Najla memberikanku audio recorder dan kertas putih.
Aku putar audio recorder itu dengan tangis di pipi
dan hatiku. “Yadi, Najla suka sama Yadi dari dulu. Yadi lucu, botak, imut lagi.
Terus aku beruntung banget sekelas sama Yadi di kelas XI. Apalagi,saat itu bisa
sekelompok sama Yadi. Aku juga seneng bisa mengucap janji sahabatan sama Yadi.
Tapi aku berharap lebih. Do’a ku didengar, saat itu Yadi , mau jadi pacar
Najla, Najla seneng banget bangetan. Tapi aku juga sedih, hari itu tepat saat
aku divonis kanker darah stadium awal. Akhirnya aku terpaksa nolak Yadi, tapi
aku ingin Yadi belajar buat aku, dan juga biar Yadi gak dihina temen- temen
sekelas lagi. Disitu aku sangat seneng Yadi bisa naik ranking. Tapi aku sedih menjadi jahat disaat bersamaan. Akhirnya
lulus kelas XII aku harus berobat di Singapura. Gak nyangka kalau 10 tahun
setelah itu ketemu Yadi lagi di taman itu, tapi aku sadar umurku tinggal 3
tahun lagi, dan Sawi ternyata masih mengharapkan aku, dan sebenarnya akupun
juga sama, maafin aku. Akhirnya aku terpaksa lagi melakukan ini semua, terpaksa
menunggu Tuhan mengambil nyawaku, terpaksa bohongin Yadi sampai sejauh ini,
untuk mengatakan NAJLA SAYANG SAMA YADI. Semoga rekaman ini bisa menghapus dosa
Najla ke Yadi.”
Aku tak kuasa
menangis, menjerit dan berteriak mencakar langit dan bumi. “ Mengapaa Ya
Tuhaan.. Mengapaa..” lalu aku melihat tulisan di kertas putih yang dituliskan
dengan tinta merah. “Yadi botak harus janji sama Najla, kalau bisa berubah jadi
orang yang lebih bersyukur sama keadaan, dan lebih dekat sama Tuhan, hidup Yadi
gak membosankan kok kalau dekat dan bersyukur kepada Tuhan, seperti Najla
sekarang. Dan jangan lupa move on :p”
“Apa benar tiap
manusia memiliki jodoh? Apa benar “Tulang Rusuk” yang sering dilantukan para
penyair itu benar-benar ada? Jawabannya Ya, ada. Aku yakin pada diriku. Memang
sepertinya jodohku ada di tangan Tuhan, ya di tangan-Nya, Najla telah berada di
sana”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar