Selasa, 22 September 2015

Jesica Angel Demak Taruli

Chrysanthemum


Entah apakah aku harus bersyukur harus kembali lagi ke kota ini. Kota yang sangat terkenal dengan artis yang sangat molek parasnya dan pandai menggoyangkan tubuhnya yang semolek parasnya. Disetiap kejadian dan pengalaman, pasti ada pesan yang ingin disampaikan Tuhan dengan hal itu, begitulah kata orang orang.
Memang sungguh pandai Tuhan menciptakan segala hal. Semuanya begitu cantik. Menurutku yang paling cantik adalah bunga. Ah, mungkin kalian bertanya-tanya mengapa aku bilang bunga lah yang paling cantik? Oh tidak, dia lah yang paling cantik. Akhir-akhir ini aku banyak mempelajari berbagai hal tentang bunga. Selain bentuknya yang menawan, bunga sangatlah pandai menyampaikan pesan. Setiap bunga, setiap warna, mengandung pesan didalamnya.


Dia, wanita yang lebih jelita dari semua bunga di dunia, yang telah memberiku kesan mendalam terhadap tumbuhan cantik itu. Disetiap pertemuan, entah mengapa darahku serasa membeku, mulutku terkunci, pergerakan badanku kaku tak terkendali. Selalu aku memaki-maki diriku karena telah bersikap bodoh di depannya. Mungkin dalam pandangannya aku adalah lelaki terdungu yang pernah dijumpainya.
Awal pertemuanku dengannya tak jauh-jauh dari bunga. Sore itu, di sudut kota Seoul sedang bercuaca agak buruk, dingin udara terasa sampai tulangku. Sedangkan di berbagai tempat kulihat tubuh dan wajah semua orang tenggelam oleh mantel dan syal nya. Aku lebih memilih menyeruput kopi di kedai, daripada berjalan-jalan di hari itu. Saat ingin menengguk kopi Cappucino ku, aku melihat dia, ia sedang berlari, entah berlari dari apa, sambil menggenggam bunga Chrysanthemum kuning di tangan kanannya, aku tak jadi menyeruput kopiku, pandanganku tertuju padanya, rambut hitam itu yang menjadi pusat perhatianku awalnya, terlihat indah dengan ikal hanya dibagian bawahnya. Wajahnya sangatlah cantik, tetapi menyimpan duka. Mungkin telaga yang ada di matanya, menghalangi pandangannya sehingga ia terjatuh. Melihat kejadian itu, keinginanku untuk tetap tenang menyeruput kopi ku kalah oleh hati nuraniku yang berteriak memerintahku untuk menolong wanita itu. Aku berlari melawan dingin untuk segera menjemputnya dari keterpurukannya itu.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku dalam bahasa korea. Saat bertanya, aku berusaha menatap wajahnya yang tertunduk. Kalian pernah memperhatikan sinar rembulan yang cantik itu? Seperti itulah rupa matanya, bulat, dan memancarkan keanggunan. Tapi mata itu mengeluarkan air yang tak seharusnya dikeluarkan mata yang sangat indah itu. Dia tetap begitu, malah tangisnya makin manjadi. Aku mulai takut, apakah yang terjadi pada wanita yang sangat cantik ini? Aku bingung, aku kaku, aku tak tahu dengan apakah aku bisa menolongnya. Saking bingungnya aku sampat berujar tentang kebingunganku dalam bahasa Indonesia. Saat mendengar itu, wanita yang sedang dihadapanku itu menoleh ke arahku dengan pandangan kaget. Mulutnya yang mungil dan merah muda berkata dalam bahasa Indonesia “Kau juga orang Indonesia?” Betapa terkejutnya aku, aku bisa bertemu wanita secantik ini di Korea ini dan ia berasal dari tanah airku. Aku hanya mengangguk kaku.
Mungkin mengetahui itu, wanita itu merasa lebih aman. Ketika aku bertanya apakah dia mau ikut denganku, dia segera mengangguk. Hanya itu yang bisa kulakukan, mengajaknya ke kedai tadi, menuntunnya ke sudut yang paling hangat di tempat itu dan memberikannya syal supaya dia merasa lebih hangat karna aku melihat hidungnya yang merah karna ia tidak memakai syal. Aku memaki diriku pada saat itu, mengapa aku tidak langsung memakaikan syalku kepadanya saja, agar terlihat romantis seperti pertemuan-pertemuan pertama di film roman kebanyakan. Aku hanya terdiam memaku. Aku kesal, mengapa aku tak bisa mengatakan suatu hal? Aku memikirkan hal apa yang menurutnya pantas di bicarakan seorang lelaki yang baru pertama kali ia jumpai.
Aku melamun sambil memandangi bunga berwarna kuning yang sedari tadi ia pegang dengan erat di tangannya. Ah mungkin aku harus bertanya, mengapa ia membawa-bawa bunga itu. Saat ingin bicara, ia tiba tiba bertanya, “Hmm.. boleh pesenin kopi buatku gak?”  Ah! Dasar bodoh! Mengapa aku tak segera menyadarinya? Kita sedang di kedai kopi, dan ia sedang kedinginan, mengapa aku tidak segera memesankannya kopi? Aku terus memaki diriku dalam hati. Buru-buru aku memanggil pelayan dan memesankan apa yang dia mau.
Detik berlalu, Menit, bahkan ber jam-jam sudah berlalu, aku hanya memandangi wanita itu, menemani ia terdiam dan berpikir entah kemana, aku pun berusaha untuk tidak mengacaukan pikirannya. Hingga kedai itu akan tutup dan si pelayan mengingatkan kami akan hal itu, barulah kami beranjak dari tempat itu. Awalnya ia ingin pulang sendiri setelah mengucapkan beribu-ribu terimakasih padaku karna telah menolongnya, tetapi ada rasa ingin lebih lama bersamanya, yang membuatku berani bertanya, “Boleh aku temani?” awalnya mungkin dia merasa canggung, tetapi ia mengangguk juga. Sepanjang perjalanan begitu sunyi, aku tak bisa mengatakan apa-apa. Seketika aku teringat akan penesaranku tentang bunga yang di pegangnya itu. “Kok, bawa-bawa bunga itu terus dari tadi? Udah layu tuh” Dia memandangku sangat lama, seakan memastikan, apakah orang sepertiku pantas dijadikan tempat meluapkan perasaan. Akhirnya ia mengeluarkan suaranya, “Kau tahu? bunga ini namanya Chrysanthemum, kalo dia berwarna kuning, artinya adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan” Semula aku tak tahu kalau bunga bisa berpesan, tetapi setelah ceritanya yang panjang lebar tentang bunga, aku menjadi tahu bahwa tumbuhan itu sangatlah berguna bagi dia yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung. Melalui ceritanya, aku juga tahu bahwa ia sedang mengalami cinta sepihak oleh sahabat lamanya dulu. Karena itulah ia ada di korea ini. Untuk mengejar cintanya. Ah mendengar itu, hatiku segera luluh lantak. Sepertinya aku punya perasaan terhadapnya.
Jauh rumahnya tak terasa dengan obrolan kami di perjalanan. Sesampai di pagar rumahnya, aku bisa melihat bahwa halamannya dipenuhi dengan berbagai bunga dengan berbagai warna yang di terangi dengan lampu taman. “Kau punya rumah disini?” tanyaku. “Ya, aku sudah 4 tahun disini.” Wah perjuangannya terhadap lelaki itu pastilah sangat berat buatnya. “Senang bisa berbincang denganmu, kau mau berteman denganku? Kau bisa temui aku di studio balet di sebelah kedai ramyun di pertigaan sebelum kita berbelok tadi. Aku latihan disana setiap hari kamis jam 5” Dengan kaku aku segera mengiyakan ucapannya, dan berpamitan pulang.
Siang malam aku selalu mengingat wajahnya, seperti ada yang selalu memutarkan kejadian awal kami bertemu. Hatiku mulai terasa aneh, bila ada obat untuk hatiku ini, bertemu dengannya lah obat yang paling mujarab. Benar, aku telah rindu padanya, padahal baru dua hari yang lalu bertemu dengannya. Seketika aku teringat Akan tawarannya untuk bertemu dengannya lagi di studio balet. Kebetulan besok hari kamis, aku tak sabar menunggu esok hari dan melepas rindu ini.
Akhirnya kamis segera tiba, aku berusaha berpenampilan se-stylish mungkin untuk menemuinya. Sesampainya disana, dengan ragu aku memasuki bangunan yang agak besar itu. Setelah masuk, terlihat di ruangan berkaca transparan, orang yang begitu aku rindukan, detak jantungku terus berpacu melihat kelihaian tubuhnya menari balet, tangannya sangat lentik melambai-lambai, sendangkan kakinya sangat lincah meloncat-loncat. Ekspresinya sangat serius mendalami makna dari tarian itu. Dandanannya begitu menawan hari itu, dengan cepolan di rambutnya, dan sedikit lipstick pink di bibirnya membuat wajahnya terlihat imut.
Aku terus memandanginya sampai tariannya selesai. Tiba-tiba ia mendapatiku sedang menggunakan ekspresi melongo memandanginya. Ekspresinya langsung ceria dan ia langsung mengambil salah satu bunga yang ada di keranjang bunganya dan keluar dari ruangan itu untuk menemuiku. “Sudah kuduga kamu pasti datang! Selamat ya!” Ujarnya sambil memberikan bunga berbentuk bulat berwarna putih. “Bunga apa ini? Apa artinya? Selamat untuk apa?” tanyaku agak gelagapan. “Ini bunga akasia putih, dia melambangkan pertemanan. Selamat kamu resmi jadi temanku! Hehehe”. “Ohhh.. hehhee.. terimakasih bunganya teman”. “Cukup panggil aku Najla, namamu siapa?” “Najla? Nama yang cantik. Namaku Riyadi, atau banggil aja Adi” “Oh namamu Adi! Nah Adi, aku laper nih, mau makan ramyun di sebelah gak sama aku?” “Oh boleh” reaksiku masih kaku.
Di kedai ramyun kami saling berbagi tentang pribadi masing-masing. Kami merasa sudah saling percaya untuk membagikan itu semua. Ia wanita yang sangat ceria dan tegar. Tak kulihat lagu duka di wajahnya setelah kejadian 3 hari yang lalu. Dia juga sangat berbakat dalam balet, ia memintaku untuk menonton pertunjukan balletnya 7 bulan lagi. Itu adalah pertunjukan yang sangat peting baginya, katanya itu adalah pertunjukan terakhir baginya, setahuku itu karna ia akan naik tingkat menjadi penari balet profesional. Semenjak itu, aku merasa telah sangat mengenalnya, tapi masih urung niatku untuk meluapkan perasaanku yang mungkin akan ditertawakan olehnya.
Hari-hari berlalu, tawa canda nya telah menjadi kesenanganku, duka nya menjadi kesulitanku. Tiap kali ia selalu menyempatkan memberiku bunga, seperti saat aku lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan ia memberiku bunga lily warna merah muda, yang berarti kekayaan dan kemakmuran. Disaat aku lelah terhadap pekerjaanku, ia memberiku bunga tulip berwarna oranye yang berarti semangat/energi/gairah. Disaat aku merasa sendiri dan tak ada yang menyayangiku, ia memberiku bunga anggrek berwarna pink yang berarti kasih sayang murni. Aku merasa bahwa diriku ini adalah lelaki yang paling beruntung didunia yang selalu mampu mendapat perhatiannya. Aku memintanya apabila ia memberikan bunga supaya dengan akarnya ia beri, agar aku bisa menanamnya di pot di balkon apartemenku. Begitulah hari-hari kami berlalu bersama bunga-bunga yang berwarna-warni. Setiap ia memberikan bunganya padaku, ia menjelaskan secara gamblang tentang arti yang tersirat dari bunga itu. Balkon ku mulai penuh dengan pot-pot bunga yang bermacam-macam.
Enam bulan telah berlalu, aku masih memendam perasaan sukaku yang makin lama makin menjadi, yang kini telah mekar menjadi perasaan sayang padanya. Entah sudah dari berapa lama aku mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan ini padanya, tetapi keberanian itu langsung menciut begitu melihat wajahnya. Aku selalu menunda-nunda untuk mengungkapkannya. Entah dia sudah tahu atau belum tentang perasaanku ini.
Saat itu pernah aku sempat ingin menyatakan perasaanku kepadanya. Saat itu kami sedang bermain bersama di taman bermain. Aku telah berencana dari rumah bahwa aku akan meluapkan perasaanku padanya pada hari itu juga. Tetapi hari itu kami begitu ayik bermain hingga lupa waktu, dan aku pun mengurungkan niatku untuk menembaknya. Toh aku masih punya waktu lain pikirku. Sejak itu aku merasa seperti menjadi orang paling pengecut didunia ini.
Kulihat ia akhir-akhir ini menanam banyak bunga Chrysanthemum berwarna ungu di halamannya yang luas itu. Saat aku tanya, mengapa banyak sekali bunga berwarna ungu itu di halamannya, ia menjawab bahwa itu karna ia sangat menyukai bunga Chrysanthemum.
Sebulan lagi adalah pertunjukan yang teramat penting baginya itu. Aku pun berencana akan menyatakan perasaanku pada hari itu juga pada akhir pertunjukan di taman bunga sakura. Menurutku tempat itu adalah tempat yang paling sempurna dan paling cantik untuk menyatakan perasaanku padanya. Walau bunga sakura itu tak lebih cantik dari wanitaku.
Akhirnya hari itu pun tiba. Dan hari itu bukanlah hari yang penting baginya lagi, tapi sangat penting juga bagiku. Ini lah saatnya aku akan mengetahui bagaimana perasaanya padaku. Aku telah menyiapkan bunga serba merah yaitu Bunga mawar merah yang artinya ‘Aku mencintaimu’ bunga Anyelir merah yang artinya ‘Aku menginginkanmu’ dan bunga tulip merah yang artinya ‘Percayalah padaku’. Aku berusaha tampil sebaik mungkin di hari yang sangat penting ini. Ia tampak begitu pucat hari itu. Mungkin dia sangat gugup, dan mengalami demam panggung. Aku berusaha menenangkannya dan menyemangatinya. Hingga ia mengeluh pusing, aku berusaha mengambilkan obat sakit kepala agar ia bisa tetap tampil dengan maksimal. Saatnya tiba, dia menari sangat anggun di panggung, sangat cantik. Tapi dalam tariannya aku bisa merasakan kesedihan mendalam didalamnya. Entah itu hanya peraasaanku saja atau aku yang sok tahu.
Saat aku memejamkan mata menikmati alunan musik yang mengiringi tariannya, tiba tiba aku mendengar teriakan para penonton. Aku tersontak, begitu melihat wanitaku yang paling kusayangi itu terjatuh di panggung itu. Aku berlari sangat cepat ke arah panggung dan mendapati wanitaku bertubuh dingin dan sangat pucat dengan darah yang keluar dari hidungnya. Aku marah, sedih, bingung, entah perasaan apa yang ingin di keluarkan hatiku. Bahkan saat tim medis mengangkatnya aku hanya bisa terdiam memaku tak mengerti apa yang terjadi.
Dua bulan telah berlalu dari kejadian itu. Aku melihatnya di tempat studio balet sedang menari-nari, tetapi tariannya tidak seanggun yang biasanya. Ya dia, wajah yang sangat kucintai dan kurindukan, entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatiku, aku langsung menariknya dan membawanya ke taman sakura dengan mobilku. Aku melaju dengan cepat dengan berharap ini bukanlah mimpi. Saat sudah sampai di taman sakura, aku langsung mengajaknya keluar, dan memeluknya.
“Kemana saja kau selama ini, aku sangat merindukanmu.” Tanyaku sambil memeluknya dengan sangat erat. Tetapi wanita itu melepas pelukanku dan berkata, “Kau mencari Najla ya? Bukan aku orangnya, seperti yang kau tahu, ia telah bahagia di surga.” Aku tak percaya, lalu siapa orang yang dihadapanku ini? “Kau pasti bingung” katanya. “Aku Najwa kakak kembar Najla sebelum ia pergi, ia memintaku untuk tinggal di Korea dan berlatih balet untukmu. Ia juga memintaku untuk menanam bunga Daisy putih dan bunga tulip putih untukmu. Kau tahu arti kedua bunga itu apa? Daisy putih berarti cinta yang setia dan tulip putih berati tanda permohonan maaf. Ia sangat menyesal tak dapat berbagi cerita tentang penyakitnya itu padamu, karna dia takut kau menjadi tidak bersemangat lagi bila ia memberimu bunga. Dia sangat berjuang untuk kesembuhannya, diam-diam ia berdoa dengan bunga Chrysanthemum berwarna ungu untuk kesembuhannya. Tapi apa boleh buat, hidup semua orang adalah kepunyaan Tuhan, Ia bisa mengambilnya kapanpun juga” “Oh ya, ada satu hal lagi yang paling penting, sedari 4 bulan yang lalu, diam-diam juga ia telah menanam bunga Chrysanthemum berwarna merah spesial untuk dirimu, dan ia ingin sekali menunjukkan kepadamu kecantikan bunga-bunga itu saat mereka sudah berbunga banyak dan berharap akan menjadi sangat istimewa bagimu. Ia berusaha menyampaikan pesan melalui bunga itu bahwa ia sangat mencintaimu.
Mendengar tuturan wanita yang kukira wanitaku itu, hatiku menjadi hancur berkeping-keping, aku tak tahu mau berbuat apa. Rasa sesal telah merajalela di sekujur tubuhku. Aku tak bisa menghadapi kenyataan. Bahkan untuk menangis pun aku tak mampu lagi. Hanya dengan mawar hitam, yang bisa mengungkapkan perasaanku kepada wanitaku, yang telah bahagia dengan lebih banyak bunga-bunga di surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar