Selasa, 22 September 2015

Junilla Ajeng Pawestri

KEMBALI


Mata itu, tidak bisa hilang dari pikiran Sofwan. Senyumnya yang rupawan terus menghantui Sofwan. Sofwan hanya tertunduk bisu, termenung menyesali perbuatannya. Gadis berparas cantik itu pergi meninggalkan orang yang sangat menyayanginya dengan tulus dan Sofwan mulai menjalani hari-harinya yang pahit tanpa Anita.
            Ngennnggg, Sofwan terus memacu Ninja merahnya dengan kecepatan bagaikan kilat. Entah setan apa yang merasuki jiwanya, tidak peduli bagaimana caranya, ia terus bersikeras untuk memenangkan balap motor itu. Dinginnya malam yang menusuk kulit sofwan itu seakan-akan lenyap tak tersisa. Segerombolan anak muda bersorak untuk Sofwan ketika ia hendak sampai pada garis finish. Sofwan sadar bahwa ini berbahaya, dalam hati kecilnya ia ingin berhenti, tetapi ini sulit. Bukan imbalan yang besar dan gengsi yang tinggi yang ingin ia dapat, tapi hanya melampiaskan perasaannya yang kacau balau, bagaikan diterpa angin ribut disertai sambaran petir masuk ke dalam jiwanya.



“Maaf ini perpustakaan, tidak baik berbica terlalu keras disini, dapat mengganggu yang lain.” Suara itu memecah keheningan di dalam perpustakaan.
“Oh ya? Ini perpustakaan nenek moyang lo?” Sofwan membantah perkataan librarian itu.
“Maaf! Tapi peraturannya emang gitu! Bisa baca nggak tulisan di samping loker? Apa perlu gue panggil guru TK?”
“Sumpah ya lo-“ omongan sofwan terputus, karena salah satu temannya menarik bahunya. “Udah Sof, tenang. Liat noh anak-anak pada ngeliatin lo.” Salah satu temannya mencoba menenangkan Sofwan.
Sofwan dan dua temannya pergi meninggalkan perpustakaan kampus. Sofwan memilih untuk pulang saja, karena mood-nya sudah hancur parah. Jalan pikirannya tak menentu saat ini. Ia terus teringat Anita, gadis yang sangat ia sayangi, tega berkata seperti itu. Sementara Bana, teman Sofwan tetap tinggal di perpus. Ia bingung bagaimana harus menyikapi sahabatnya ini.
“Gue butuh bantuan lu.” pinta Bana kepada librarian itu. “Apa?” jawab junilla ketus, sembari meletakkan buku ke dalam rak. “Hmm, keliatannya lo bisa bantu gua buat Sofwan supaya balik kaya dulu.” terang Bana dengan serius. “Hah? Ga salah denger? Bantuin orang keras kepala kaya dia? Psikolog juga belum tentu mau nerima pasien kaya dia” tolak Junilla.
Secara perlahan namun pasti, Bana menjelaskan apa yang terjadi pada Sofwan. Awalnya Junilla berat hati untuk menerima tawaran ini, karena ia belum mengenal Sofwan begitu dekat. Karena rasa kasihan, dan ekspresi wajah Bana yang penuh harap, ya, akhirnya Junilla menerima tawaran tersebut.
Keesokan harinya Bana dan Junilla pergi ke rumah Sofwan. Sepanjang perjalanan Junilla tak bisa memikirkan yang lain selain cara untuk membantu Bana. Jujur, sebenarnya Junilla bingung apa yang akan ia katakana nanti. Junilla tak mengenalnya, bagaimana ia bisa membantu orang itu?
“Tenang… sebenernya sofwan orangnya ngga kaya kemarin kok, dia itu baik, tapi karena masalah itu-“ Bana mencoba menjelaskan. “Iya gue ngerti,” tukas Junilla. “Gue bakal usahain,” sambung Junilla.
Prannnkk, semua mata terbelalak akan suara itu. “Mulai lagi” kata Bana. “Tadi itu apa?” tanya Junilla bingung. Sofwan suka membanting barang yang ada di kamarnya saat ia marah. Kami berdua pun langsung naik ke tangga untuk meredakan amarah sofwan. Begitulah keadaanya setiap hari. Seorang pemuda dengan rambut acak-acakan dan mata yang merah karena air mata ataupun layu karena kurang tidur. Baru kali ini Junilla melihat pemuda yang begitu putus asa. “Apa aku bisa merubahnya?” kalimat ini selalu muncul dalam benak junilla.
Sofwan sangat tidak suka setiap kali ia bertemu dengan Junilla. Baginya Junilla hanyalah mahasiswa yang magang sebagai librarian yang setiap harinya hanya di temani buku, tidak ada teman dan keheningan. Junilla sadar bahwa Sofwan begitu membenci kehadirannya, tetapi ia tetap berusaha, karena kasiahan. Ya. Kasihan melihat barang-barang mahal itu menjadi kepingan-kepingan yang berhamburan setiap hari. Hari-hari sofwan selalu seperti itu. Akhir-akhir ini ia sering ke perpustakaan. Bukan untuk membaca, tetapi hanya melamun dengan pikiran kosong. Duduk di meja paling ujung, dalam keheningan dan tidak ada yang melihatnya. Junilla secara perlahan memberikan nasihat kepadanya, meskipun selalu ia hiraukan.
“Lo udah bikin semua orang khawatir. Keluarga lo, temen-temen lo, cuma karena putus sama cewe.” Junilla berbicara pelan dalam keheningan. Sofwan tak menggubris sedikit pun perkataan Junilla, bahakan untuk mendengarkan saja tidak. “Menurut lo dengan lo berbuat kaya gini, balapan liar, banting-bantingin barang, ngejauhin orang-orang di sekitar lo, semuanya bakalan balik? Anita bakalan nangis-nangis di depan lo? Dia pun ga akan peduli sekarang lo mati.” Junilla pun meninggalkan Sofwan yang masih duduk melamun.
Sofwan terdiam. Tersadar, ia merasa bersalah. Beberapa hari ini ia mengusir semua orang yang berusaha mendekatinya, bahkan orangtuanya sekalipun yang selalu membujuknya untuk tersadar kembali dan melupakan tentang rasa kecewanya. Terdengar isakan tangis, Junilla pun menghampiri Sofwan. Junilla mencoba menenangkan sofwan. Hati Sofwan pun luluh.
Hari demi hari Sofwan mulai mau mendengarkan Junilla. Setiap hari mereka berdua bertemu di taman dekat kampus, atau di kantin pada sore hari untuk menjalani segala nasehat yang Junilla berikan. Tidak mustahil juga mereka berdua sering berada di perpustakaan, ketika Junilla sedang beralih menjadi librarian. Dua minggu berlalu, walaupun Sofwan selalu menuruti perkataan Junilla dan sedikit demi sedikit usaha Junilla berhasil, tapi apadaya Sofwan tetap masih teringat Anita. Terkadang ia pun suka membanding-bandingkan Anita dengan Junilla. Junilla sebenarnya baik, pintar, dan tingkahnya yang dewasa sangatlah berbeda dengan Anita yang sangat kekanakan.
03:06. Junila terbangun karena dering handphonenya berbunyi. ‘Unknown number’ terpampang dilayar hpnya. Sejenak ia berfikir untuk tidak mengangkatnya, tetapi, “Halo?” Junilla pun mengangkatnya dengan malas. “Nit, dengerin aku ya sebentar,” suara serak karena tangisan itu. Ia kenal dengan suara itu. “Sofwan?” tanya Junilla penasaran. “Please, Nit, aku akan lakuin apa yang kamu mau, aku coba move on dari kamu, aku coba, tapi aku ga bisa,” jelas Sofwan. “Sofwan..” Junilla tak bisa berkata apapun. Pikirannya membeku. Lidahnya kelu. Sofwan pasti mengira bahwa ia menelpon Anita, dan ia tidak menyadari bahwa itu Junilla. Pikiran Junilla berdebat antara ingin jujur atau berbohong kepada Sofwan bahwa ia bukan Anita. “Nit, tolong kasih aku alesan kenapa kita putus, apa salah aku ke kamu? Tolong jelasin, aku sayang kamu,” Sofwan tersedu. “Aku udah bilang kan, kita emang harus putus, aku ngga sayang sama kamu. Jadi tolong janan pernah hubungi aku lagi. Tolong..” Junilla menekan tombol merah dan ia pun merasa bersalah karena telah berbohong.
Keesokan harinya, Junilla menunggu Sofwan di taman dekat kampus, tempat mereka biasa bertemu, namun sudah sejam lebih, Sofwan tak kunjung datang. Tidak seperti biasanya ia seperti ini. Junilla mencoba menelfon hpnya beberapa kali, tetapi tetap tidak ada jawaban darinya. Junilla pun mulai khawatir dan memutuskan untuk pergi ke rumah Sofwan. Setibanya di rumah Sofwan, yang bisa Junilla lakukan hanyalah menunggu. Yap. Sofwan tidak ada di rumahnya. Akhirnya junilla memutuskan untuk pulang saja. “Mungkin ia masih nongkrong sama teman-temannya” pikirnya dalam hati. Belum sempat menutu pintu pagar rumah Sofwan, terdengar suara yang memanggil nama Junilla.
”Jun, lo disini?” tanya Sofwan dengan wajah penuh pertanyaan.
“Iya tadi gue nungg-“ jawab Junilla. Menyadari ada yang tidak beres, Junilla pun menghentikan perkataanya. “Lo kenapa? Ada masalah?” lanjutnya.
“Emm.. ini.. emm. Barusan gue ketemu Anita.” Jawab Sofwan. “Dia bilang kalo sebenernya dia masih sayang sama gue. Gue juga minta maaf gara-gara gue hubungan kita jadi berantakan gini. Tapi Anita bilang kalo ini bukan salah gue sama sekali. Sebenernya waktu itu Anita lagi kesel aja setelah dia tau ternyata gue itu mantan sahabatnya, dan dia mutusin gue demi sahabatnya itu” jelasnya. “Jadi? Anita mutusin lo cuma gara-gara lo mutusin sahabatnya? Hmm really true friend, that’s so cute awww” Junilla terharu mendengar perkataan Sofwan. Tetapi sofwan biasa saja, karena baginya sudah ada wanita yang dapat menemani hari-harinya belakangan ini, Yang dapat menggantikan posisi Anita, yang selalu ada setiap Sofwan butuh.
            “Gue suka sama lo,” tiba tiba saja kalimat ini mengalir begitu saja dari mulut Sofwan. Junilla masih terdiam, memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya. “Lo mau kan jadi pacar gue?” lanjutnya.
“Hehe. Lo nggak lagi mabok kan?” jawab Junilla sambil nyegir yang memperlihatkan gigi putihnya. “Hah? Serius dia bilang gitu ke gue? Nggak.. nggak. ini ngga boleh terjadi” bisik Junilla dalam hati.
“Jadi?” Tanya Sofwan. “Eh udah sore nih, gue harus pulang, banyak tugas di tambah harus nyusun daftar sumbangan buku, hehe gue duluan ya. Kapan-kapan aja kita omongin lagi.” Junilla mencoba mengalihkan semuanya.
Junilla pergi meninggalkan Sofwan. Tetapi, ia malah meninggalkan semuanya. Junilla mencoba menjauh dari Sofwan, ia pergi untuk menemui ayahnya di Solo. Sofwan mencoba mencari Junilla, tetapi ia tidak tahu dimana wanita pujaan hatinya itu berada. Sofwan mulai khawatir, sudah dua minggu ini Junilla tidak masuk kuliah, di samper ke kost-annya juga tidak ada.
Sudah 4 bulan berlalu, semester pun telah berganti, namun Junilla belum juga kunjung datang menemui Sofwan. Sofwan masih terus memikirkan seseorang yang menyelamatkannya dari keterpurukan itu. Nomor handphone-nya tidak aktif, Sofwan juga sudah bertanya kepada teman-teman sekelas Junilla, namun satupun diantara mereka tidak ada yang mengetahui batang hidung Junilla. Tetapi sofwan pantang menyerah. Kampus ini terasa sangat sepi tanpa kehadiran gadis yang telah merubahnya itu.
Sofwan pergi ke salah satu universitas di Solo. Kabarnya sedang ada seminar ‘Mahasiswa Hebat’ se-pulau Jawa, dan ia menjadi perwakilan dari kampusnya di Jakarta. Saat ia menuju perpustakaan untuk mengisi waktu luang sebelum seminar dimulai, ia melihat sosok wanita yang tak asing, wajahnya tersenyum berseri seperti malaikat, ya itu Junilla. Tanpa basa-basi apa pun, Sofwan langsung menghampiri wanita yang dikenalnya itu.       
“Junilla..” sapa Sofwan. “Eh, hmm, kok lo bisa disini?” tanya Junilla bingung. Sofwan menarik tangan Junilla menuju keluar perpustakaan tersebut. Takut menggangu yang lainnya.
“Eh apann sih? Gue lagi kerja tau.” kata Junilla kesal. “Lo kemana aja? Lu ngga tau selama 4 bulan ini gue nyariin lo? Lo nginggalin gue gitu aja? Ngga lucu Jun,” jelas Sofwan. “Hmm, maaf,” balas Junilla. “Lo juga belum jawab pertanyaan gue waktu itu.” Lanjut Sofwan. “Oh haha, pertanyaan itu. Maaf gue udah jauhin lu kaya gini, hehe sebenernya gue ga ada maksud, cuma jujur aja, gue masih ngga bisa lupain Mikhael, mantan gue. Lo tau sendiri kan lupain orang yang lo sayang itu ga gampang, jadi ya gue mutusin buat kesini aja, pengen menetralkan hati gue lagi, hehe. Balik ke orang tua gue, dan sekarang gue kuliah disini, juga jadi librarian lagi kaya dulu. Ngga gampang juga ya buat jauhin lo, rasanya sakit…” balas Junilla.
Sofwan terdiam. “Kenapa ngga lo bilang dari dulu? Kita bisa sama-sama ngobatin perasaan ini bareng-bareng.” Sofwan akhirnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi sama Junilla. Yap, apa yang junilla alami sama persis seperti apa yang dulu pernah Sofwan rasakan, hanya saja Junilla masih bisa bersikap tegar dan berpura-pura seperti “everything’s okay”.
Not that simple” bisik Junilla dalam hati. Junilla menghela napas.
Okay, gue ngerti kok, gue juga pernah ada di posisi kaya lu.” Sofwan berpikir sejenak. “Kalo gitu bisa dong gue mulai terapi cinta ala cewe librarian, haha,” Sofwan tersenyum lebar. “Seneng bisa liat lo balik kaya dulu lagi.” Junilla tersenyum dalam hati. Dan senyuman Sofwan itu, yang belum pernah Junilla lihat sebelumnya. Kalau saja primadona se-kampus ada disini. Habislah Sofwan. 



Mereka pun akhirnya menjalani hidup berdua sebagai seorang sahabat yang saling membantu sama lain. Mereka pun kembali kepada masa-masa seperti dulu, yang selalu berwarna, dan mereka telah melupakan masa lalu yang sebelumnya selalu menghantui pikiran mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar