Hadiah Terindah
Pagi ini aku melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah dengan semangat. Baru selangkah memasuki kelas, ucapan selamat dari teman-teman untuk hari kelahiranku langsung terdengar. Tak lupa, berbagai macam hadiah dan bingkisan sudah terduduk manis di atas mejaku. Aku tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih kepada teman-temanku. Akan tetapi senyumku luntur mengingat sesuatu,
“Alan dimana ya?” gumamku.
Seakan mendengar suara pikiranku,
tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki di ambang pintu dengan nafas terengah-engah dan langsung berjalan ke
arahku.
“Selamat ulang tahun, Anita. Ini
hadiah dariku. Maaf mungkin ini tidak terlalu special.” Ucapnya seraya menyodorkan kotak bingkisan kumal dan
kotor.
Aku menatap lama bingkisan itu. Dengan
berat hati, aku mengambilnya dengan perlahan dari tangannya.
“Ah, ya. Tidak masalah, terima
kasih.” Aku memaksakan senyum dan langsung berjalan ke arah mejaku dan memasukkan
seluruh hadiah yang kudapatkan ke dalam tas plastik besar yang sengaja aku bawa
dari rumah. Tak
lama kemudian, suara langkah berat terdengar dari arah pintu. Hah..! Hari berat yang menyenangkan akan
dimulai. Aku membatin.
Sesampainya di rumah, aku langsung
berlari menuju kamar. Tak sabar aku mengeluarkan seluruh hadiah dari plastik
besar itu. Ah, kotak hadiah dari Sofwan terlihat paling besar di antara yang
lain. Dengan semangat aku membuka kotak itu perlahan. Wow..! Sebuah vinyl (piringan hitam) lengkap dengan
alat pemutarnya. Ini sangat luar biasa dan pastinya harganya juga tidak murah.
Mulai dari sepasang anting , sepatu, tas keluaran terbaru, mp3 player, hingga miniatur big ben, dan berbagai macam barang lainnya tersusun di hadapanku. Hingga tinggalah satu kotak kecil dengan bungkusan kotor dan kumal. Aku mulai merobek bungkusnya dan mengambil isinya. Sebuah sapu tangan kecil dengan benang yang tidak beraturan, terlihat ukiran namaku di ujung kanan atas. Aku terhenyak. Hanya sapu tangan? Batinku mencelos. Alan sahabat terdekatku hanya memberikan ini? Sangat tidak sebanding dengan hadiah dari Sofwan yang notabene adalah anak baru yang sekitar dua pekan aku kenal. Dengan mood yang berantakan, aku merapikan semuanya dan merangkak naik ke tempat tidur.
Mulai dari sepasang anting , sepatu, tas keluaran terbaru, mp3 player, hingga miniatur big ben, dan berbagai macam barang lainnya tersusun di hadapanku. Hingga tinggalah satu kotak kecil dengan bungkusan kotor dan kumal. Aku mulai merobek bungkusnya dan mengambil isinya. Sebuah sapu tangan kecil dengan benang yang tidak beraturan, terlihat ukiran namaku di ujung kanan atas. Aku terhenyak. Hanya sapu tangan? Batinku mencelos. Alan sahabat terdekatku hanya memberikan ini? Sangat tidak sebanding dengan hadiah dari Sofwan yang notabene adalah anak baru yang sekitar dua pekan aku kenal. Dengan mood yang berantakan, aku merapikan semuanya dan merangkak naik ke tempat tidur.
Esok paginya di sekolah, aku
mengacuhkan Alan. Saat dia menyapaku dan mengucapkan selamat pagi seperti
biasanya, aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan langsung berlalu. Aku
masih tidak percaya dan sedikit sakit hati dengan hadiah yang diberikannya.
Mungkin ini sedikit berlebihan, tetapi
aku tidak perduli.
Sudah hampir sepekan aku
mengacuhkannya. Sekitar tiga hari yang
lalu, secara tiba-tiba dia menghampiriku dan menanyakan apa yang membuatku
mengacuhkannya. Aku hanya menggelengkan kepala dan meninggalkannya. Aku bersikap seperti itu selama empat hari
berturut-turut. Pagi ini, tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menghampiriku
lagi. Bagus, mungkin dia lelah karena diabaikan terus-menerus.
Satu bulan sudah berlalu. Hari ini
adalah hari pertama ujian kenaikan kelas. Aku mulai merasa ada yang mengganja.
Jika biasanya ketika mendekati ujian seperti ini aku dan Alan selalu belajar
bersama di rumahku sepulang sekolah. Aku merasa terbantu. Dia selalu
menjelaskan dengan sabar pelajaran yang tidak aku mengerti. Sekarang, aku cukup
kelimpungan karena hanya belajar seorang diri. Sejujurnya, aku merasa bersalah
dan tidak enak. Aku terlalu egois menjauhi sahabatku hanya karena hadiah ulang
tahun. Akhirnya, aku memutuskan untuk meminta maaf sepulang sekolah nanti.
Itu dia Alan! Sudah sekitar setengah
jam aku menunggunya di dekat gerbang sekolah. Aku ingin menghampirinya. Tapi,
entah bagaimana perasaanku mengatakan untuk mengikutinya secara diam-diam. Setelah berjalan selama kurang lebih 40 menit,
dahiku mengerut ketika sadar dimana aku berada sekarang. Sebuah pemukiman kumuh
di dekat perlintasan rel kereta api. Yang lebih membuatku terkejut, aku melihat
Alan masuk ke dalam salah satu rumah bedinding triplek dan beratap seng. Aku
mendekati rumah itu dan mengintip sedikit. Terlihat Alan sedang mencium tangan
seorang perempuan yang kira-kira berumur setengah abad dan mencubit pipi
seorang bocah perempuan yang kurasa adalah adiknya.
Aku termangu. Selama ini aku
bersahabat dengannya. Tapi, aku tidak tahu latar belakang keluarganya. Memang
selama ini dia tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Aku juga tidak pernah bertanya. Rasa bersalah kian
membuncah di pikiranku. Pantas dia hanya memberikan selembar sapu tangan kecil
yang terlihat berantakan dengan bungkusan kotor dan kumal. Mungkin dia sudah
berusaha keras untuk membuatnya.
Aku mengetuk jendela di samping
pintu yang terbuka.
“Assalamu alaikum.”
Alan menoleh. Dengan raut muka
kaget, dia menjawab, “Waalaikumsalam. A...A….Anita, kamu ngapain kesini?”
“Alan, aku minta maaf,.” ucapku
sambil menunduk.
“Tidak apa-apa, aku mengerti.” Alan tersenyum.
“Aku berharap persahabatan kita bisa
berlanjut seperti dulu lagi.”
“Tentu
saja, Anita. Tentu. Kamu adalah sahabat terbaikku. Mana mungkin aku
menjauhimu.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya.
Aku tersenyum mendengar ucapannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar