Selasa, 22 September 2015

Yulfani Danisaprina

Hadiah Terindah

            Pagi ini aku melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah dengan semangat. Baru selangkah memasuki kelas, ucapan selamat dari teman-teman untuk hari kelahiranku langsung terdengar. Tak lupa, berbagai macam hadiah dan bingkisan sudah terduduk manis di atas mejaku. Aku tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih kepada teman-temanku. Akan tetapi senyumku luntur mengingat sesuatu,

            “Alan dimana ya?” gumamku.
            Seakan mendengar suara pikiranku, tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki di ambang pintu dengan nafas  terengah-engah dan langsung berjalan ke arahku.
            “Selamat ulang tahun, Anita. Ini hadiah dariku. Maaf mungkin ini tidak terlalu special.” Ucapnya seraya menyodorkan kotak bingkisan kumal dan kotor.
            Aku menatap lama bingkisan itu. Dengan berat hati, aku mengambilnya dengan perlahan dari tangannya.
            “Ah, ya. Tidak masalah, terima kasih.” Aku memaksakan senyum dan langsung berjalan ke arah mejaku dan memasukkan seluruh hadiah yang kudapatkan ke dalam tas plastik besar yang sengaja aku bawa dari rumah.                                                                                                                        Tak lama kemudian, suara langkah berat terdengar dari arah pintu.  Hah..! Hari berat yang menyenangkan akan dimulai. Aku membatin.
            Sesampainya di rumah, aku langsung berlari menuju kamar. Tak sabar aku mengeluarkan seluruh hadiah dari plastik besar itu. Ah, kotak hadiah dari Sofwan terlihat paling besar di antara yang lain. Dengan semangat aku membuka kotak itu perlahan. Wow..! Sebuah vinyl (piringan hitam) lengkap dengan alat pemutarnya. Ini sangat luar biasa dan pastinya harganya juga tidak murah.

            Mulai dari sepasang anting , sepatu, tas keluaran terbaru, mp3 player,  hingga miniatur big ben, dan berbagai macam barang lainnya tersusun di hadapanku. Hingga tinggalah satu kotak kecil dengan bungkusan kotor dan kumal. Aku mulai merobek bungkusnya dan mengambil isinya. Sebuah sapu tangan kecil dengan benang yang tidak beraturan, terlihat ukiran namaku di ujung kanan atas. Aku terhenyak. Hanya sapu tangan? Batinku mencelos. Alan sahabat terdekatku hanya memberikan ini? Sangat tidak sebanding dengan hadiah dari Sofwan yang notabene adalah anak baru yang sekitar dua pekan aku kenal. Dengan mood yang berantakan, aku merapikan semuanya dan merangkak naik ke tempat tidur.
Ÿ  Ÿ    Ÿ
            Esok paginya di sekolah, aku mengacuhkan Alan. Saat dia menyapaku dan mengucapkan selamat pagi seperti biasanya, aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan langsung berlalu. Aku masih tidak percaya dan sedikit sakit hati dengan hadiah yang diberikannya. Mungkin  ini sedikit berlebihan, tetapi aku tidak perduli. 
            Sudah hampir sepekan aku mengacuhkannya. Sekitar tiga  hari yang lalu, secara tiba-tiba dia menghampiriku dan menanyakan apa yang membuatku mengacuhkannya. Aku hanya menggelengkan kepala dan meninggalkannya.  Aku bersikap seperti itu selama empat hari berturut-turut. Pagi ini, tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menghampiriku lagi. Bagus, mungkin dia lelah karena diabaikan terus-menerus.
            Satu bulan sudah berlalu. Hari ini adalah hari pertama ujian kenaikan kelas. Aku mulai merasa ada yang mengganja. Jika biasanya ketika mendekati ujian seperti ini aku dan Alan selalu belajar bersama di rumahku sepulang sekolah. Aku merasa terbantu. Dia selalu menjelaskan dengan sabar pelajaran yang tidak aku mengerti. Sekarang, aku cukup kelimpungan karena hanya belajar seorang diri. Sejujurnya, aku merasa bersalah dan tidak enak. Aku terlalu egois menjauhi sahabatku hanya karena hadiah ulang tahun. Akhirnya, aku memutuskan untuk meminta maaf sepulang sekolah nanti.
            Itu dia Alan! Sudah sekitar setengah jam aku menunggunya di dekat gerbang sekolah. Aku ingin menghampirinya. Tapi, entah bagaimana perasaanku mengatakan untuk mengikutinya secara diam-diam.  Setelah berjalan selama kurang lebih 40 menit, dahiku mengerut ketika sadar dimana aku berada sekarang. Sebuah pemukiman kumuh di dekat perlintasan rel kereta api. Yang lebih membuatku terkejut, aku melihat Alan masuk ke dalam salah satu rumah bedinding triplek dan beratap seng. Aku mendekati rumah itu dan mengintip sedikit. Terlihat Alan sedang mencium tangan seorang perempuan yang kira-kira berumur setengah abad dan mencubit pipi seorang bocah perempuan yang kurasa adalah adiknya.
            Aku termangu. Selama ini aku bersahabat dengannya. Tapi, aku tidak tahu latar belakang keluarganya. Memang selama ini dia tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Aku  juga tidak pernah bertanya. Rasa bersalah kian membuncah di pikiranku. Pantas dia hanya memberikan selembar sapu tangan kecil yang terlihat berantakan dengan bungkusan kotor dan kumal. Mungkin dia sudah berusaha keras untuk membuatnya.
            Aku mengetuk jendela di samping pintu yang terbuka.
            “Assalamu  alaikum.”
            Alan menoleh. Dengan raut muka kaget, dia menjawab, “Waalaikumsalam. A...A….Anita, kamu ngapain kesini?”
            “Alan, aku minta maaf,.” ucapku sambil menunduk.
            “Tidak apa-apa, aku mengerti.” Alan tersenyum.
            “Aku berharap persahabatan kita bisa berlanjut seperti dulu lagi.”
“Tentu saja, Anita. Tentu. Kamu adalah sahabat terbaikku. Mana mungkin aku menjauhimu.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya.

            Mungkin banyak temanku yang mampu memberikan hadiah yang bagus dan mewah. Tapi sahabat sejati adalah sahabat yang setia menemaniku di kala susah dan senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar