Sabtu, 19 September 2015

Anita Dwi Astuti

Kisah Tak Usai


            Sejam sudah aku dan anak-anak yang terlambat lainnya  menunggu pintu gerbang sekolah dibuka. Aku masuk di fakultas kedokteran UGM, cita-citaku semenjak SMA. Hari ini adalah hari pertama masuk kampus setelah diadakannya OSPEK seminggu yang lalu. tetapi aku sudah membuat ulah, huh. Aku sudah mencoba untuk bangun lebih awal tetapi aku tetap terjebak kemacetan. Aku duduk sendiri dibawah pohon rindang untuk menghindari sengatan matahari pagi ini, pikirku. “Eh wan, lo udah ngerjain tugas dari bu Sita?”, tanya seorang senior “udah selesai dari kemarin.”jawabnya.
Suara itu, suara yang kurindukan, suara yang tak pernah kulupakan seberapa lama pun aku tak mendengarnya. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara tadi dan benar saja dia adalah Kak Sofwan, kakak kelas, sahabat, sekaligus cinta pertamaku sewaktu di SMA dulu. Belum kering luka hati ini mengingat memori saat aku masih mengenalnya. Tetapi tanpa sadar, aku sudah memandanginya sejak pertama kali tadi kumendengar suaranya. Ah, perasaan aneh itu muncul kembali, perasaan yang membuat perutku seperti dikelilingi kupu-kupu.
Srrreeekkkk, suara pintu gerbang yang lebih dari sejam kutunggu itu akhirnya dibuka, segera saja anak-anak yang sudah kepanasan dari tadi menyerbu gerbang sedangkan aku hanya bisa berjalan karena takut jatuh saat berebut masuk. Dari tempatku berjalan aku terus memperhatikan Kak Sofwan karena masih tak percaya aku bisa bertemu dengannya lagi disini. Aku ingin sekali menyapa dan dekat dengannya lagi tapi aku takut dia tak mengenaliku.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang yang menandakan bahwa pelajaran telah selesai dan segera saja aku pergi ke kantin karena perut yang sudah keroncongan sejak di kelas tadi. Aku hanya memesan semangkok bakso dan es teh lalu memilih tempat duduk di pojok kantin yang tidak terlalu luas itu. Aku memang sangat suka menyendiri sejak dulu, jadi tidak heran jika aku tidak terlalu memiliki banyak teman. “Yaudah duduk disana aja yuk, ditempat lain udah penuh semua tuh.”,”yaudah deh daripada gak dapet tempat duduk” sahutnya. Tiba-tiba saja segerombolan senior datang dan duduk di meja yang sama denganku. “Eh kita gabung sama lo gapapa kan? Di tempat lain soalnya udah penuh.”Tanyanya,”I..iya gapapa kak”jawabku gugup.
Kak Sofwan benar-benar tidak mengenaliku, sakit batinku, tapi setelah kupikir-pikir lagi itu wajar saja karena penampilanku yang sudah berubah dari SMA dulu. Sepanjang aku makan makananku itu, aku selalu curi-curi pandang kearahnya, memperhatikan apakah ada yang berubah dari wajah tampannya yang dulu, apakah ada yang berbeda dari senyuman manisnya yang dulu.
Pelajaran dan hari-hari selanjutnya masih seperti keseharianku yang biasa, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen, jalan-jalan sembari menghilangkan kepenatan, atau hanya mengurung diri di kamarku sendiri. Hingga pada suatu hari di siang yang terik, aku memutuskan untuk mencoba mengajak kak Sofwan berbicara. Kulihat dia sedang berjalan sendirian ke arah taman kampus yang memang tempatnya senang menyendiri. Dia membersihkan bangku taman yang kotor dari daun-daun pohon yang berjatuhan dan duduk sambil membaca buku Sherlock Holmes, buku kesukaannya.
“K….kak, boleh duduk disini gak?” tanyaku gugup,
“Oh ya”jawabnya singkat.
“Umm kakak masih kenal aku gak?”
“Gak, emang lo siapa?”, jawabnya sambil tetap membaca novel.
“Aku junilla kak, adek kelas kakak dulu di SMA. Masih belum inget juga?”
Mata kak Sofwan langsung terbelalak. “Jun…junilla ajeng?”kulihat tangannya agak gemetar.
“Iya kak hehehe, ngga nyangka ya kita bisa ketemu lagi disini.”jawabku santai.
            Tiba-tiba kak Sofwan langsung memasukkan bukunya ke dalam tas dan pergi dengan langkah yang terburu-buru. “kak Sofwan, mau kemana kak?”teriakku, tapi dia seperti tidak mendengarku. Aku hanya bisa duduk dibangku taman itu sambil menerka-nerka apa yang membuatnya seperti itu. Ada rasa sakit yang menekan dadaku, rasa sakit diabaikan oleh seseorang yang sangat berarti. Tak terasa air mataku mulai menetes membasahi pipi ini. Aku memang lemah untuk urusan yang semacam ini.
            Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kerumah dan menenangkan diriku sejenak, padahal aku masih ada jadwal 1 mata kuliah lagi. Sesampainya di rumah, aku langsung mengurung diriku di kamar dan masih tetap memikirkan kejadian tadi di taman. Kak Sofwan mungkin benar-benar sudah tidak mau mengenalku lagi. Aku harus bisa melupakannya juga, pikirku.
            Sudah 3 hari sejak kejadian itu, tapi aku masih belum bertemu ataupun melihat kak Sofwan di kampus. Walaupun aku sudah mencoba melupakannya tapi masih ada perasaan khawatir akan dirinya.
“Jun, boleh ikut sebentar gak?”, suara itu memecah lamunanku.
“Hah?i..iya kak”jawabku kaget. Orang yang sudah kutunggu-tunggu akhirnya bisa kulihat lagi.
            Kami menyusuri lorong-lorong kelas dan sampai di tempatnya biasa membaca novel. Ya, di bangku taman yang berada dibawah pohon rindang ini. Angin sejuk berhembus menyapu rambutku. Dia mengisyaratkanku untuk duduk disebelahnya dan aku pun mengangguk pelan.
“Pertama, gue mau minta maaf sama lo dulu nih karna waktu itu gue ninggalin lo gitu aja disini. Jujur, gue kaget pas lo ngomong kalo lo Junilla. Karna Junilla yang gue kenal dulu gak kayak gini.”jelasnya.
“Hehehe iya gapapa kak, wajar aja kakak ngga ngenalin aku, kan kita udah 3 tahun ngga ketemu”
“Iya iya jun. lo beda banget ya sekarang, jadi makin cantik”.
“Ah bisa aja kakak”jawabku malu.
            Ada jeda yang agak panjang dalam percakapan kami sampai akhirnya dia menoleh ke arahku dengan tatapan serius.
“Lo pasti masih marah ya sama gue jun gara-gara dulu gue ninggalin lo tanpa pamit.”
“Umm… marah sih engga kak, Cuma agak kecewa aja kenapa waktu itu kakak ngga dateng”
            Hari itu aku sedang menunggu seseorang yang sudah berjanji akan menemuiku. Matahari tidak terlalu terik dan awan pun mengiringi langit yang sedang sunyi. Hanya ada suara desiran angin dan burung-burung yang saling bernyanyi. Rimbunnya pohon-pohon juga menambah kesejukkan taman ini.
Sudah sejam aku menunggu kak Sofwan tetapi dia belum datang juga. Handphonenya sudah kutelepon berulang kali tetapi dia belum mengangkatnya juga. 1 jam, 2 jam, dia masih belum datang. Sementara itu, awan terus berkumpul dan menutupi seluruh langit pada sore itu. Hujan deras disertai angin mengiringi penantianku pada hari itu. Aku hanya bisa menelan kekecewaan pahit hari itu.
“Heh, kenapa?kok bengong aja?dimaafin gak nih gue?”tanyanya memecah lamunanku. Kenangan itu kembali muncul, kenangan yang tak ingin kualami.
“Hah, iya?”
“Iya gue minta maaf karna dulu ngga nepatin janji gue ya.”
“Emang waktu itu kakak kenapa sampe ngga dateng gitu?”tanyaku
“Waktu itu bokap gue ada pindahan dinas ke Jogja mendadak, trus hp gue juga ketinggalan di rumah yang lama jadi gak bisa ngehubungin lo, Jun. Habis gue pindah gue ngga bisa berhenti nyalahin diri gue sendiri karna gak sempet ngabarin lo, Jun. maafin gue banget ya”jawabnya tulus.
“Iya gapapa kak”.
Tak terasa air mataku sudah berteriak ingin keluar dari kelopak mataku. Aku tak tahu mengapa mendengarnya bercerita tentang semuanya membuatku lega. Mulai sekarang, memori lama itu sudah tidak lagi mengganggu pikiranku. Aku mulai bisa memaafkan kak Sofwan.
“Gue suka sama lo. Itu kata-kata yang mau gue ucapin dihari itu. Maaf baru bisa bilang sekarang, Jun.”
            Darahku berhenti mengalir, otakku tak mampu lagi berpikir, jantungku ikut berdenting. Kata-kata itu terdengar seperti peluru yang ditembakkan sang tuannya.
“Ss…serius kak?”tanyaku masih tak percaya.
“Iya, Jun.”jawabnya tersenyum kecil.
“Aku juga suka sama kakak dari pertama kali kakak nolongin aku dari bullyan temen-temen aku. Cuma kakak yang mau temenan sama orang jelek kayak aku.” Jelasku sambil terisak.
“Nih, hapus dulu tuh air matanya”, memberikan saputangannya.
“Makasih kak.”sambil mengusap air mataku.
            Percakapan selanjutnya hanya membahas tentang kisah-kisah masa lalu kita berdua dan kekagumannya  pada penampilanku yang berubah drastis semenjak dia pergi.
“Yaudah yuk gue anter lo pulang”
“Ngga ngerepotin kan kak?”
“Yaelah ngga lah biasa aja”
“Yaudah ayo, udah mau magrib juga nih”
            Selama diperjalanan kami membicarakan tentang kekaguman satu sama lain, cerita tentang perubahanku, hubungan kita kedepannya dan lain-lain. Kita memutuskan untuk menjalin hubungan serius jika kak Sofwan sudah lulus dan mendapatkan gelar sarjana hukumnya itu.



            Dari pengalaman ini aku belajar bahwa jodoh tidak akan kemana. Sejauh apapun jarak kita dengan orang yang kita sayang, jika memang sudah ditakdirkan untuk bersama, maka tidak ada yang bisa mengelaknya. Seperti halnya aku dan kak Sofwan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar