Si Mata Indah
Pagi ini seperti biasa. Jalanan sudah dipadati kendaraan yang penuh sesak. Bisa dibilang sebagai warga kota, kami takkan pernah bisa menghirup udara pagi yang segar. Tidak ada yang spesial pagi ini, bagiku setiap hari sangatlah memuakkan. Lelah, sudah pasti. Rutinitas yang kujalani masih sama, dengan loyang-loyang yang menumpuk, menyiapkan segala keperluan toko. Aku ini manusia tidak becus. Melalang buana sampai ke kota. Dipikir bisa mendapat pekerjaan dengan upah tinggi, ternyata hanya sebagai buruh serabutan di toko kue pinggir jalan. Paling tidak, bisa makan. Itu yang selalu dipikiranku, boro-boro bisa kembali ke kampung halaman. Malu. Perantau lain sudah membawa motor ke kampungnya, tapi aku?
“Riyadi, bagaimana bisa masih ada sisa sabun di loyang?! Kamu mau pelanggan toko ini mati?” ujar Dodi, sang koki sambil memaki.
Ucapan seperti tadi sudah biasa aku terima. Bahkan makian selalu menjadi sarapanku di setiap pagi. Tidak, bahkan setiap jam di toko. Ah masih salah, mungkin setiap menit. Ada saja pekerjaanku yang tidak becus di matanya.
“Riyadi! Sebenarnya kamu ngapain saja sih?! Masa sampah sejak semalam belum juga dibuang?!”
‘Ini juga mau dibuang’,pikirku. Mana kuat aku mengatakan apa yang kupikirkan. Bisa-bisa besok aku sudah nge-gembel di pinggir jalan karena tidak punya uang.
Dengan langkah gontai aku berjalan menuju belakang toko yang memang tempat pembuangan sampah. Aku melempar sampah ke tong sampah. Kupandangi ujung gang sempit itu.
Kau disitu. Dengan langkah kaki terseok-seok kau masih pantang menyerah. Dengan darah yang menetes sedikit demi sedikit di jalanan aspal itu kau pun masih berjalan. Rasa sakit seolah tak ada. Mungkin kau merasakan sakit yang amat sangat, tapi tak kau pedulikan. Hatiku terenyuh melihat matamu yang berbinar dengan penuh kesedihan. Matamu yang sangat indah seolah memancarkan cahaya. Kesepian. Ya, mungkin itu yang juga kau rasakan. Hatiku tergetarkan olehmu. Oleh mata bulatmu yang indah. Oleh sikapmu yang tak kenal kata menyerah.
***
Rasa apa ini? Aku juga tak mengerti. Satu-satunya perasaan yang kurasakan kali ini adalah aku kehilangan. Kehilangan sesuatu yang dulu berada di sampingku. Yang dulu mencarikanku makanan. Yang dulu membersihkan tubuhku yang kotor karena tingkahku yang usil. Ah rindu rasanya. Rindu padanya, juga rindu pada saudara-saudaraku. Rasa rindu ini mengalahkan rasa yang seharusnya aku rasakan. Aku ingin menjerit, supaya ia datang. Tapi itu semua akan percuma. Ia takkan kembali.
Mungkin rasa sepi yang aku rasakan saat ini juga salahku. Salahku yang berjalan terlalu jauh. Salahku yang masih tidak bisa apa-apa. Mungkin sakit yang kurasakan ini juga salahku. Aku yang berjalan tidak pada tempatnya. Membiarkan kaki ini terlindas benda-benda jahannam itu. Lantas kalau aku berjalan tidak pada tempatnya, dimanakah tempat aku harus berada?
Biasanya aku tak perlu memikirkan kemana aku harus pergi. Aku hanya perlu mengikuti dia yang akan memandu jalan untukku. Dia pula yang memberiku makan.
Di gang ini aku mencari tempat kehidupan. Tempat yang bisa kusinggahi. Tempat yang dapat menghangatiku. Apa ada tempat seperti itu?
Ah, tempat sampah! Biasanya ia mendapatkan benda itu dari sana. Mungkin kali ini ada benda kehidupan seperti itu yang bisa menolongku. Dengan kaki yang kuseret aku berjalan menuju tempat sampah. Perih, memang itu yang kurasa.
Tapi kau disitu. Dengan langkah diseret yang sama sepertiku, tapi sedikit berbeda. Kau yang tak kukenal tapi aku masih berharap bisa mendapatkan kehidupan darimu atau sesuatu yang kau buang itu. Aku menatapmu penuh harap.
***
Sepasang mata bulat nan indah itu masih menatapku sambil berjalan pelan. Hatiku tak tega melihat matamu. Kita memiliki perasaan yang sama. Mungkin itu yang ada di benakku yang membuat tanganku terulur padamu. Sedetik kemudian kau sudah ada di dekapanku. Tubuhmu kotor, dengan darah yang masih membasahi kakimu. Aku tak peduli.
Kubawa kau ke kontrakan 3X3 meter yang berantakan itu. Kutinggal kau di dalam ruangan lalu secepat kilat aku kembali dari warung parjo di seberang untuk membeli obat merah dan sisa ikannya. Aku bukan orang yang menyimpan cukup uang. Bukan orang kaya yang sanggup memelihara binatang dengan uang-uangnya. Aku hanya pekerja serabutan. Tetapi mata indahmu mengalahkan segalanya. Aku tak mampu meninggalkanmu. Rasanya hatiku ini telah terpaut oleh hatimu. Terpaut oleh mata indahmu.
Najla. Aku memberimu nama itu, yang artinya mata yang indah. Memang benar, mata bulatmu adalah yang paling mencolok darimu. Mata bulat yang sangat indah bagiku.
Aku mengambil sisa-sisa nasi yang niatnya mau kumakan sepulang kerja. Melihatmu dengan tubuh bergetar kelaparan membuatku tak tega. Kucampur sisa nasi dengan sepotong ikan dari Si Parjo. Setelah kuobati lukamu, kuberikan kehidupan padamu. Ah! Aku sampai lupa untuk kembali bekerja. Ini pasti sudah pukul 12. Jam-jam istirahat kantor toko kami pasti ramai. Bisa dipecat aku, pikirku begitu. Aku lantas meninggalkanmu dan kembali ke tempat mengerikan itu.
Benar saja, toko sedang ramai. Dodi menyilangkan tangannya dengan tatapan tajam yang tertuju kepadaku. Sepertinya ia cukup kelabakan dengan pelanggan-pelanggan itu yang terus menanya roti rasa apa yang terjejer di rak kue. Secepat kilat aku langsung mengambil alih pekerjaannya dan dia langsung kembali ke dapur, tempat biasanya.
Petang itu setelah kami menutuo toko, Dodi memanggilku. Kulihat ia membawa amplop. Entah apa isinya. Tapi sepertinya aku punya sedikit firasat buruk.
“kau tahu kan apa salahmu?” tanya Dodi dengan tatapan tajamnya yang seolah sangat menusuk.
Aku mengangguk. Jelas. Dia pasti sangat marah. Aku meninggalkan toko selama dua jam. Bukan waktu yang sedikit memang.
“aku minta maaf, kita tidak bisa bekerja sama lagi. Sebetulnya aku ingin memecatmu sejak dulu, tapi kutahan melihat keadaanmu. Tapi tadi adalah puncaknya. Aku tak kuat lagi melihat hasil pekerjaanmu yang kacau balau. Ini ada sisa gajimu dan sedikit uang tambahan dariku.” Ujar Dodi seraya mengulurkan amplop kepadaku.
Aku tertunduk. Kini aku resmi tak punya pekerjaan. Kuterima amplop yang diberikan Dodi kepadaku. Lalu berterima kasih dan pergi.
Kubuka pintu kontrakanku. Kulihat kau disana. Kini raut mukamu sudah menunjukkan kebahagiaan. Tak seperti hari pertama aku menemukanmu. Kau berlari menghampiriku dengan riangnya. Bersikap manja dengan memperlihatkan mata indahmu. Lalu kulihat lukamu. Masih belum sembuh. Meski kau masih merasa kesakitan tapi kau terlihat bahagia. Aku ingin sepertimu. Merasa bahagia walau sakit. Meski hidup ini sulit tapi masih ada kebahagiaan di wajahmu. Aku ingin seperti kau.
“hei, kau tahu? Hari ini aku dipecat. Apa yang akan kita makan nanti?”
Kau hanya menatapku, tak menjawab. Tapi mata bulatmu seolah mengisyaratkanku untuk terus berjuang. Tak berhenti sampai disini. Ya. Kau benar, aku harus terus berjuang untuk hidup. Aku akan mencari pekerjaan lagi.
Selanjutnya aku mencari pekerjaan baru. Sepertinya Tuhan berada di pihakku, aku mendapat sebuah pekerjaan. Meski hampir sama seperti pekerjaan sebelumnya, tapi tak mengapa. Asal ada uang untuk kita berdua hidup. Tak apa meski hanya sekedar buruh cuci di restoran.
Pekerjaan baruku cukup lancar. Berkat kau aku semangat menjalani hidup ini. Aku bahkan sekarang diangkat menjadi pramusaji. Sedikit demi sedikit uang kukumpulkan sampai paling tidak lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan selain menjadi pramusaji, aku juga mencuci mobil-mobil di waktu malam hari. Ya. Semua itu berkat kau. Uang pertamaku dari pekerjaan ini kupakai untuk membeli kalung untukmu. Kalung sederhana. Petanda kau ada yang punya. Kalung yang membuatku tahu kau bersembunyi dimana dengan suaranya. Ya meskipun aku pasti akan menemukanmu karena rumah ini yang kecil.
Lantas aku teringat keluargaku. Meski kau sudah seperti salah satu bagian keluargaku. Tapi aku ingat mereka. Mereka yang bersamaku di masa kecil hingga dewasa. Kuputuskan untuk membeli handphone untuk menelponnya. Sudah nyaris satu tahun rasanya tidak mendengar suara mereka.
Kulihat lukamu. Kau masih sedikit terluka. Masih belum sembuh juga rupanya. Tapi kau selalu tersenyum seolah terus menyemangatiku. Aku merasa seperti orang paling bahagia di dunia karena aku memilkimu, si mata indah. Umurmu mungkin baru empat bulan, tetapi semangatmu luar biasa.
Kali ini aku baru saja pulang bekerja. Pekerjaan yang amat melelahkan memang, tapi karena ada kau disampingku semua terasa menyenangkan. Aku berlari menuju rumahku. Rasanya aneh memang. Aku ini seperti anak kecil saja. Aku tak sabar ingin memberikanmu makanan kaleng yang lezat ini.
Begitu aku sampai di kontrakan aku sangat kaget karena pintu yang sedikit terbuka. Apa aku lupa menutupnya? Mungkin saja, tadi pagi aku memang sedikit terburu-buru. Kubuka pintu bagian kontrakanku. Ini aneh. Kau tidak menghampiriku seperti biasa. Firasatku berkata ini bukanlah hal yang baik. Aku segera menelusuri seluruh bagian rumah. Kau tak ada dimanapun. Kau sudah pergi. Hatiku terasa hancur. Kau inspirasiku. Penyemangatku. Segalanya bagiku.
Aku memasang iklan kucing hilang di akun sosial mediaku. Salah satu dari ratusan komentar yang datang adalah ‘kalau kucing sakit lalu menghilang biasanya dia sudah mati’. Aku langsung lemas seketika. Handphone dari genggamanku terlepas begitu saja.
Beberapa hari duka masih menyelimuti hatiku. Sampai suatu saat aku berpikir mungkin Najla datang kepadaku sebagai dewi penolongku. Ia ingin aku terus semangat menjalani hidup ini sebagaimana ia melakukan hal itu. Jika kau masih hidup berbahagialah, jika kau telah tiada semoga kau tenang di surga sana. Aku sudah merelakannya, kini tinggal bagaimana agar aku bisa mengubah nasibku.
Aku terus bekerja keras. Tak kenal lelah pagi dan malam. Sampai akhirnya aku memiliki usaha dagang yang kubuat dari keringat jerih payahku sendiri. Semua ini berkat kau. Meski kau hanya hadir di beberapa waktuku dengan cepat, tapi itu semua mengubah hidupku. Kau akan selalu terukir di hatiku sebagai sahabat paling berharga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar