Dalam Diam
Lagi-lagi aku terjebak. Aku sangat akrab dengan situasi seperti ini sampai aku sudah hafal bagaimana rasanya dan juga apa resikonya. Namun, hal itu tak kunjung membuatku jera dan melakukan hal yang serupa walau akhirnya hatiku jadi korban. Mencintai seseorang secara diam-diam. Hal itu terdengar wajar dan banyak dialami orang lain. Aku sungguh tidak menyukai hal itu terjadi padaku namun aku serasa sangat menikmati.
Aku seorang diri menyusuri koridor sekolah sambil sedikit berlari ke parkiran dan berniat segera enyah dari sekolah. “Duh, telat lagi nih les matematika”. Namun waktu yang kian mendesakku bukan suatu alasan untuk tidak sempat curi-curi pandang ke sosok yang sedang bermain voli di tengah lapangan itu. Potongan rambut dan alis yang tebal menjadi sinyal bagiku untuk mengetahui keberadaannya.
Haikal Ma’arif Syahputro, seniorku yang sudah menyita pandanganku semenjak aku pertama masuk SMA. Banyak yang bilang, Arif itu biasa saja, tak ada fitur yang luar biasa dari dia. Dia bukan seorang personil band, bukan ketua OSIS, atau ketua organisasi lainnya. Dia juga bukan anak konglomerat yang bersinar karena harta orang tua. Arif adalah lelaki beralis tebal dan mempunyai potongan rambut bak tokoh-tokoh anime Jepang, serta berpenampilan santai dan cool dan satu ciri khasnya adalah kegemarannya memasang earphone ke kedua telinganya. Arif biasa dibilang ‘ansos’ karena ia sering terlihat asyik sendiri dengan melodi-melodi yang mengalun di telinganya. Tapi, Arif ya Arif, sosok yang tampan apa adanya di mataku.
“Tet tonet tet tonet tonet tonet”, dering Line Free Call menyadarkanku. Ah, ternyata Alan.
“Anita, lu dimana? Lesnya udah mulai, nih. Bahas soal ulangan. Buruan.”
“Iya, iya, sabar. Gue udah di motor” Padahal nyampe parkiran aja belum. Ah, Kak Arif nggak nengok-nengok, sih. Nggak sadar apa kalau aku liatin daritadi. Kemudian aku berlalu pergi dengan hati yang agak dongkol. Sudah hampir dua tahun aku memendam rasa untuk Kak Arif. Tapi tak kunjung ada balasan. Entah sampai kapan perasaan ini harus kupendam.
Sudah banyak sahabatku yang tahu tentang ceritaku ini, dan mereka selalu menyarankan agar aku bisa mengungkapkan perasaan untuk Kak Arif. Apalagi Alan, dia yang paling sering memanas-manasiku sampai membuatku salah tingkah kalau ada Kak Arif. Alan satu-satunya sahabat laki-lakiku yang sangat setia mendengarkan curhatanku, dan sarannya selalu berhasil menggugah hatiku.
“Gue merasa puas walau gue hanya bisa mengaguminya dari jauh. Lagipula kalau gue menyatakan perasaan gue apa dia bakal punya perasaan yang sama? Dia sendiri aja gak pernah kasih isyarat” Kata-kata itu selalu kulontarkan apabila sahabatku menyarankanku mengungkapkan perasaan kepada Kak Arif. Memang benar, aku selalu merasa tidak percaya diri.
“Bagaimana kalau Arif ternyata suka sama lu? Apalagi dia sekarang dia udah kelas 12 nanti keburu dia lulus lu masih diem aja nahan perasaan ”
“Kalau Kak Arif suka sama gue, pasti dia udah nyatain perasaannya ke gue dari dulu, Lan. Minimal kasih kode-kode gitu. Tapi, buktinya sekarang engga kan? Nge-Line aja nggak pernah”
“Kalau Kak Arif suka sama gue, pasti dia udah nyatain perasaannya ke gue dari dulu, Lan. Minimal kasih kode-kode gitu. Tapi, buktinya sekarang engga kan? Nge-Line aja nggak pernah”
“Gimana kalau dia juga sama kayak lu? Dia takut lu bakal nolak? Mau sampai kapan kalian tenggelam sama perasaan kalian sendiri yang gak mampu kalian ungkapkan?”
“Haduh, Alan. Jangan bikin gue makin terlarut sama harapan-harapan kayak gitu, deh. Takutnya ketinggian nanti jatuh, sakit. Mending kita realistis aja”, elakku dengan tegas.
“Haduh, Alan. Jangan bikin gue makin terlarut sama harapan-harapan kayak gitu, deh. Takutnya ketinggian nanti jatuh, sakit. Mending kita realistis aja”, elakku dengan tegas.
“Yaa yaudah terserah, sih, An. Itu kan saran dari gue”
Aku juga sering kali memikirkan kata-kata Alan itu. Ah, biarin aja. Aku lanjut aja scroll-down media sosial Kak Arif. Bahasa kerennya, sih ‘stalking’.
“Lan! Liat!”
“Kenapa?”
“Tuh kan. Apa gue bilang. Harapan kita tuh terlalu tinggi. Sekarang lihat, dia udah ada modusan!”
“Yaa, temen doang kali, An. Posthink aja”
“Ini, sih, namanya bukan temen biasa, Lan. Udah sering banget mereka foto berdua. Ah, selalu aja kisah gue berujung kayak gini. Sampe capek.”
Ya. Selalu akhirnya begini. Tapi mau bagaimana lagi? Kan memang aku sudah terlalu nyaman dengan kebiasaanku yang menyengsarakan seperti ini. Memang sudah waktunya mungkin, dua tahun aku memendam rasa tanpa ada pergerakan, aku harus menghapuskan perasaan ini.
Di perjalanan menuju kantin, aku tak sengaja berpapasan dengan Kak Arif yang sedang berjalan sendiri dan tidak menggunakan earphonenya. Tiba-tiba saja perkataan Alan barusan kembali memenuhi pikiranku.
“Mau sampai kapan kalian tenggelam sama perasaan kalian sendiri yang gak mampu kalian ungkapkan?”
Aku cepat-cepat menebas pikiranku itu. Aku ingat lagi bahwa dia sudah punya tambatan hati. Dia berlalu begitu saja.
Hari demi hari terus berganti, namun pikiranku masih saja dipenuhi Kak Arif. Segala macam pertanyaan terus muncul dalam benakku. Kenapa aku selalu terjebak dalam ‘cinta diam-diam’. “Ting tung”, notifikasi Line dari Alan ternyata. Aku abaikan pesan dari dia itu.
“Ting tung”, huh, berisik sekali. Terpaksa kubuka, ternyata dia cuma menanyakan PR. Kubalas dengan kalimat sesingkat-singkatnya. Kebiasaan Alan, kalau aku membalas pesan singkat-singkat dia langsung mengenali pasti mood-ku sedang tidak bagus. Ya, dia segera menanyakan padaku apa yang sedang terjadi. Jadilah isi chat itu curhat lagi. Seperti biasa, nasihat-nasihat dari Alan selalu tertancap sampai ke relung hati paling dalam.
“An, belum tentu semua keinginan kamu dituruti oleh Yang Maha Kuasa. Dan belum tentu juga orang yang selalu kamu sebut dalam doamu itu akan menjadi milikmu, malah bisa jadi kamu akan bersama orang-orang yang selalu menyebut namamu dalam doanya”
Kata-kata Alan yang satu itu benar-benar memotivasiku untuk berpikir positif. Benar-benar menyemangatiku. Kalau jodoh nggak akan kemana, ‘kan.
Kujalani hari bersama teman-teman dengan pikiran yang segar. Bayang-bayang Kak Arif lama kelamaan memudar. Aku semakin menikmati hari yang terhias dengan canda tawa. Alan juga masih menemaniku dan terasa makin erat. Aku sering bertanya pada Alan tentang kondisi percintaannya. Tapi dia tak pernah menceritakan apapun. Haha, memang jomblo akut.
Tak terasa, sekarang sudah menginjak semester genap. Semakin dekat hari kelulusan bagi Kakak-Kakak kelas. Lega rasanya, aku sudah setengah tahun lepas dari memikirkan Kak Arif.
Hingga pada suatu hari, notifikasi Line-ku berbunyi. Alangkah kagetnya aku. Kak Arif nge-Line! Aduh, aku salah tingkah di kamarku. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Aku tidak berani membuka pesannya itu. Tapi perasaan senang tak kuasa tertahan lagi. Satu-satunya hal yang terpikir adalah memberitahu Alan dan meminta nasihatnya.
”Alan! Alan!”
“Alaaaaaannn, bales dong”
“Kak Arif ngeline gue nihhh”
“Alaaaan bales dongggg”
“Bingung nihhh”
Sudah sekitar 10 pesan kukirim ke Alan tapi tak dibaca juga. Huh, Alan kemana sih saat aku lagi butuh gini. Akhirnya kuberanikan diri untuk membuka pesan dari Kak Arif. Sambil memiringkan handphone, aku mengintip apa isi pesannya. Oh, tidak!!! Apa aku mimpi?! Ini kenyataan atau mimpi?! Aku mencubit-cubit pipiku, ah, sakit. Ternyata ini bukan mimpi!!
“Anita, selamat ulang tahun yaa, semoga panjang umur dan lancar sekolahnya J”
Ah!! Sebaris kalimat itu berhasil membuatku lupa akan usahaku melupakan Kak Arif selama setengah tahun. Perasaanku muncul lagi. Senang bukan kepalang. Langsung kubalas pesan itu sambil senyum-senyum sendiri di kamar. Kenapa Kak Arif tiba-tiba tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku? Ngobrol aja nggak pernah.
“Siapa peduli, yang penting dia nge-Line aku”, pikirku.
Loh, pesanku tak dibalas lagi? Hanya seperti itu? Aduh, Kak Arif maksudnya apa, sih? Aku jadi gundah lagi.
Alan belum juga membalas pesanku. Dia kemana? Di hari ulang tahunku ini dia belum ngasih apa-apa? Aneh Alan. Sahabat macam apa dia? Seribu pertanyaan kesal memenuhi pikiranku.
Keesokan harinya, aku memasang wajah yang sangat datar. Mood-ku benar-benar nggak bagus. Alan berusaha mengajakku mengobrol tapi selalu kuhindari. Kuharap dia peka atas apa yang kurasakan. Iya benar, dia peka. Dia bertanya padaku apa yang membuatku kesal, tapi tak kujawab. Akhirnya dia sadar sendiri.
“Maaf ya semalem gue lagi futsal jadi nggak buka Line dari lo”
“Happy birthday, ya. Maaf telat”
“udah telat, gak ngasih apa-apa. Cukup tau, Lan”, sentakku.
“mau kado apa emang? Kapan-kapan ya kadonya”
Huhh! Alan jadi menyebalkan gini, sih. Niatku ingin mendiamkan Alan sampai dia kasih aku kado. Ternyata tak berhasil, Alan selalu saja berhasil membuatku tertawa.
Wah, saking asyiknya ku melewati hari dengan canda tawa, aku sampai lupa untuk memikirkan Kak Arif yang sebentar lagi menghadapi Ujian Nasional. Besok akan diadakan Ujian Nasional, malam ini aku berniat memberi semangat untuk Kak Arif lewat Line. Saat aku sedang mengetik, tiba-tiba perkataan Alan muncul lagi di benakku.
“An, belum tentu semua keinginan kamu dituruti oleh Yang Maha Kuasa. Dan belum tentu juga orang yang selalu kamu sebut dalam doamu itu akan menjadi milikmu, malah bisa jadi kamu akan bersama orang-orang yang selalu menyebut namamu dalam doanya”
Aku langsung memberhentikan ibu jariku yang sedang merangkai kata untuk Kak Arif. Untuk apa aku melakukan ini? Adakah selama ini dia memikirkanku? Waktu aku UTS dia tidak melakukan hal seperti ini. Aku hapus semua pesan yang telah kuketik. Masa bodo, lah. Segera aku mengubur dalam-dalam perasaan itu.
Tak terasa tibalah hari pengumuman kelulusan. Dengan kata lain, hari ini adalah hari terakhir bagi Kakak-Kakak kelas 12 berada di SMA dan mengenakan seragam putih abu-abu. Jauh di dalam hatiku, aku masih mengharapkan sapaan dari Kak Arif minimal mengucapkan selamat tinggal. Aduh, bodoh juga aku mengharapkan hal seperti ini. Bagaikan menunggu kapal tiba di bandara. Semakin aku tersadar bahwa aku tak pernah sekali pun melintasi pikirannya. Harapan yang dia munculkan saat hari ulang tahunku hanyalah harapan kosong belaka. Mungkin aku yang salah, aku yang udah berharap terlalu tinggi hanya karena hal sepele. Kuceritakan kegundahanku ini ke Alan yang sedang duduk di bangkunya mengerjakan imtaq. Alan kaget bukan main. Dia kaget kalau ternyata aku masih berharap pada Kak Arif. Nasihat-nasihatnya yang manjur lagi-lagi menyejukkan pikiranku.
“An, maafin gue ya. Mungkin ini salah gue bikin lo galau lagi”
“Lu gak salah apa-apa, Lan. Malah gue makasih banget karena nasihat-nasihat lu beneran bikin gue sadar apa salah gue.”
“Enggak, An… Ada sesuatu pas lu ulang tahun…”
“Hah? Apaan sih?”
“Sebenernya gue gak lagi futsal waktu itu. Gue lagi nyusun rencana buat bikin kado terindah buat lo”
“Apaan sih, Lan? Gue gak ngerti maksud lo apaan”, tanyaku bingung.
“Pasti lo seneng banget ‘kan diucapin selamat ulang tahun sama Kak Arif?”
Aku diam sejenak.
“Alhamdulillah, berarti kado gue berhasil”, senyumnya yang terlihat terpaksa menghiasi wajahnya.
“Kado?... jadi?”
“Iya, An. Gue tau lo pasti bakal seneng banget kalau diucapin selamat ulang tahun sama Kak Arif. Jadi gue langsung kontak Kak Arif buat ngasih ucapan buat lu. Terus gue emang sengaja gak bales Line lo. Gue mau liat lo bahagia. Karena liat lo bahagia sendiri itu udah bikin gue seneng juga. Karena gue sayang sama lo, satu-satunya hal yang bisa gue lakukan biar lo bahagia ya itu. Maaf ya kalo gue udah bikin lo galau lagi, gue kira akibatnya gak bakal sejauh ini”
Mulutku membeku. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutku. Aku benar-benar tak menyangka sahabatku yang sama sekali tak menampakkan bahwa dia ada rasa untukku, malah orang yang menyayangiku.
“Oh, iya, An. Dulu lo sering banget ngeluh gara-gara sering terjebak sama cinta dalam diam. Lo gak tau aja, kalau gue udah menikmati itu pula sejak lama kenal sama lu, An”
“Jadi selama ini…..”, aku masih tidak bisa melanjutkan kata-kataku.
Alan kelihatan kikuk karena telah mencurahkan semua perasaannya kepadaku.
“Maaf ya, Lan. Gue gak tau. Maaf kalau gue sering ngeluh tanpa merhatiin perasaan lo. Maaf kalau gue gak pernah liat orang-orang yang ada di sekitar gue. Sekarang gue bener-bener sadar apa yang lo bilang waktu dulu, belum tentu semua keinginan kamu dituruti oleh Yang Maha Kuasa. Dan belum tentu juga orang yang selalu kamu sebut dalam doamu itu akan menjadi milikmu, malah bisa jadi kamu akan bersama orang-orang yang selalu menyebut namamu dalam doanya. Makasih ya, Lan. Udah selalu ada buat gue.”, tanpa sadar, air mata mulai menetes membasahi kelopak mataku.
“Ih, ngapain nangis lo? Cengeng banget”
“Lan! Bener-bener ya lo lagi kayak gini tetep aja ngeselin. Hahaha”
Aku sangat terpukul atas kejadian itu. Sungguh pelajaran yang sangat tepat. Jangan mengeluh karena kita tidak dapat mencapai apa yang kita inginkan, karena Allah pasti menyediakaan yang terbaik untuk hamba-Nya. Aku harap aku dan Alan terus bersahabat sampai Allah menentukan takdir-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar