Sabtu, 19 September 2015

Ni Desak Gede Putri Megagita

AKU DAN KAMU


                Tak semua orang dapat merasakan kesempatan kedua. Maka dari itu, pergunakanlah kesempatan pertamamu sebaik mungkin.
                Aku cukup merasa lelah kemarin sehingga aku tidur lebih awal, dengan harapan aku bisa bangun lebih pagi dan mencoba mempelajari beberapa materi pelajaran yang mungkin akan dipelajari besok. Aku mengatur alarmku untuk membangunkanku  pukul  3 pagi, namun aku lupa untuk mengganti baterainya dengan baterai yang baru. Sehingga paginya, aku terbangun pada pukul 6 pagi dan melompat dari tempat tidurku untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Untungnya, Pak Nandra sudah bersiap didepan rumah menungguku dengan mobil yang bersih. Aku berlari ke mobil dengan cepat dan berteriak “Ayo pak! Anita sudah terlambat banget nih..”
  
                Memang, kalau sudah terlambat begini, Pak Nandra memang yang paling pengertian. Ia memacu  kereta kuda besinya dengan cepat dan sebisa mungkin sampai disekolah sebelum bel sekolah berbunyi. Tapi tanpa disangka, macet sudah merajalela di jalanan. Kanan kiri, depan belakang, semuanya diam, tak bergerak. Awalnya, aku merasa ingin kembali ke rumah, berfikir tak ada harapan sampai ke sekolah tepat waktu. Namun, Pak Nandra menyarankanku untuk berjalan kaki saja. Toh, sudah tidak jauh lagi jaraknya, pasti juga sampai disana lebih cepat daripada aku naik mobil. Akhirnya aku turun dari mobil, dan berjalan menyusuri jalanan yang bagaikan deretan semut mati itu. Benar kata Pak Nandra, aku masuk tepat waktu dan tidak terlambat. Memang, Pak Nandra penyelamatku hari ini.
                Hari ini tak ada satupun guru yang bisa datang ke kelasku. Jujur saja, aku paling tidak suka jika ada guru yang tidak masuk ke dalam kelasku padahal itu sudah jam pelajarannya. Karena itu dapat memancing otakku untuk pergi ke kantin bersama teman teman yang lain. Meskipun aku tidak suka, tapi entah mengapa tetap saja aku lakukan.
                Baru aku sampai disana, kantin sudah ramai sekali. Segerombolan anak banyak yang sedang makan sambil berbincang dengan temannya, ada pula yang terlihat bingung, hendak membeli makanan apa. Karena kantin sekolah terlalu ramai, maka aku memutuskan untuk membeli minuman dan langsung kembali ke kelas. Saat aku hendak berbalik badan dan kembali, aku tak sadar telah membelakangi seseorang, sehingga aku menumpahkan minuman itu ke baju seragamnya.
                “Ups....maaf ya! Aku gak sengaja!” Kataku dengan penuh penyesalan
                “Yah... basah bajunya.. yasudahlah gapapa, lagian kamu gak sengaja juga kan” Balasnya sambil tersenyum.
                Sebenarnya aku merasa aneh dengan pria itu. Aku baru saja menumpahkan minumanku ke bajunya, dan kenapa ia tidak marah? Apalagi aku menumpahkannya cukup banyak. Dia malah tersenyum ke arahku dan mengatakan tidak apa apa. Seketika aku langsung bertanya tanya, siapa dia? Mengapa ia sebaik itu? Mengapa ia tak marah? Dan yang paling utama, kenapa aku baru melihatnya? Apakah dia anak baru atau akunya saja yang tak mengenalnya? Ah entahlah. Paling hanya akan bertemu sekali.
                Aku berjalan kembali ke kelas. Di jalan, aku berpapasan dengan Alan, sahabatku dari SD. Aku seolah tak melihatnya dan terus saja berjalan. Namun memang dasar Alan, ia menyelengkatku dan meraih tanganku. Aku yakin, aku terlihat seperti orang dengan tatapan bodoh yang tersandung dan diselamatkan oleh seorang superhero.
                “Kalau jalan, hati-hati. Juga jangan sombong kalau bertemu” katanya.
                Aku langsung berdiri dan berkata
                “modusnya bisa banget ya Lan. Hahaha... Pengen ngobrol sama orang cantik aja harus nyelengkat segala.” Balasku sinis
                “Dih,.. Jangan kepedean kamu. Emang ada yang mau sama kamu Nit? Hahahaha.. Kalau ada, pasti bakalan aku buat putus Nit. hahaha”
                “Yhaa cemburu kamu Lan? Hahaha”
                “Yeuu apasih Nit. Mana ada yang cemburu hahaha”
                “hahaha, yaudah ya Lan, aku duluan. Udah ditungguin sama temen temen tuh disana”
                “Lah,.. yaudah sana. Emang ada yang nahan kamu? Hahaha”
                Dengan jutek, aku meninggalkannya, berjalan menjauhinya, tak menghiraukannya. Aku dan Alan akhir akhir ini memang suka bercanda seperti itu. Pura-pura tak mengenal, juga pura-pura kesal satu sama lain. Tak tahu tujuannya, namun begitulah kami.
                Saat aku berjalan menjauhinya, dan mulai mendekati teman-temanku yang menungguku di depanku, mereka meledekku. Jujur, ledekannya itu benar. Aku memang suka jika dimodusin sama Alan, si pria tampan, berkulit putih, berbadan tegap, juga mata berbentuk almond dan jambulnya yang menambah ketampanannya. Saking tampannya, teman-temanku suka menjulukinya Mario Maurer asli Sunda.
                Mentari hari itu cepat sekali terbenam, digantikan bulan yang berbentuk sabit. Karena besok aku tidak punya begitu banyak tugas dan PR, aku mencoba jalan jalan di taman komplek rumahku. Taman di sana memang tak jauh dirumahku. Aku cukup berjalan mengikuti jalan, melewati pos satpam, lalu belok kiri. Pos satpam saat itu memang sedang ramai. Banyak yang sedang menonton pertandingan sepak bola saat itu. Tua muda, tinggi pendek, saling tak mengenal perbedaan, mereka asyik sekali menonton pertandingan itu. Dan aku mencoba melihat siapa saja yang ada disana. Tadinya aku hanya iseng, namun, aku sekilas melihat wajah sahabatku. Aku mencoba memastikannya dengan memanggil namanya “Alan!”. Ia menoleh dan entah kenapa aku senang sekali bisa bertemu Alan malam itu. Alan menghampiriku dan bertanya padaku.
                “ANITA! Kamu ngapain malem malem disini? Sendirian lagi. Gabaik tau anak cewe keluar rumah sendirian. Kamu mau kemana? Aku anterin ya” katanya.
                “ Aku mau ke taman, mau cerita deh sama kamu. Kamu bisa gak?” Jawabku
                “Iya udah, aku temenin. Tapi kamu jangan suka keluar malem sendiri lagi ya.” Katanya lagi dengan nada cemas
                Aku dan Alan berjalan melewati malam menuju taman. Sesampainya di taman, aku menceritakan semuanya kepada Alan. Karena Alan adalah pendengar yang baik, maka aku selalu merasa nyaman saat bercerita dengannya.
“Alan, kamu tahukan temen sekelas kita pas kelas 10, Zul?” tanyaku
“ya, aku tahu. Kenapa dia? “ Jawabnya
“Kemarin, Zul bilang, kalau dia suka sama aku. Katanya dia udah suka sama aku sejak pertama kali kita chat-an. Kemarin dia ngomong gitu, terus aku bilang, kita kan temen satu sekolah, lebih baik kita temenan aja ya. Terus tadi pagi dia malah ngehindar gitu dari aku Lan. Menurut kamu, emang aku salah ya?”
                Alan terdiam, dan menatapku sambil menyipitkan kedua matanya. Ia juga terlihat berkeringat. Aku fikir Alan sakit, ternyata ia hendak mengatakan sesuatu padaku.
                “Dengarkan aku kali ini ya Anita. Aku sudah menyukaimu sejak kita masih sama sama kecil. Aku menyukaimu, namun tak ada yang tahu. Aku menyukaimu dengan tulus. Jika dibandingkan dengan Zul yang populer, mungkin aku tak ada apa-apanya. Tapi untuk kali ini saja, aku memintamu, Mau gak kamu jadi pacarku?”
Mendengar hal itu, aku terdiam. Terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar. Sejujurnya, aku juga menyukainya. Dan itu sebabnya aku menolak  Zul. Namun, aku berpikir, karena aku suka bercanda dengan Alan, jadi aku akan mempermainkan Alan dulu.
“Apasih Lan. Kan aku cerita tentang Zul. Kenapa kamu yang jadi nembak aku? Hahaha, kalo kamu nembak aku dengan tangan kosong, dan gak bawa apa-apa juga aku gamau kali. Mendingan aku pacaran sama Zul aja kalo gitu.”
Ia berlutut dan menatapku. Entah mengapa tatapannya dalam sekali. Aku seperti melihat rasa tulusnya ia menyukaiku lewat matanya. Jujur saja, aku sungguh tersentuh dengan tatapan itu. Namun, aku masih belum bisa menerimanya. Aku akan menerimanya nanti, jika aku sudah selesai mempermainkan hati Zul, Fikri, dan Aceng.
Setelah menatapku, ia terlihat pucat. Keringatnya juga semakin banyak. Bibirnya gemetaran seperti orang yang sedang ketakutan melihat hantu. Aku menertawakannya karena  dia lucu sekali. Tiba –tiba saja ia menutup matanya dan jatuh ke arah belakang. Ia terjatuh diatas bebatuan yang berujung agak tajam dan darahnya keluar deras sekali. Aku panik setengah mati. Aku coba menamparnya, namun dia tak kunjung sadar. Aku coba memapahnya ke pos satpam, ternyata sudah tidak ada orang. Semua orang sudah kembali ke rumahnya masing masing, karena pertandingan telah selesai. Pak satpam yang berjaga juga sedang tidak ada. Aku melihat sebuah ponsel di meja, dan aku mencoba menelepon ayahku. Ayahku sedang sibuk nampaknya, ia tak mengangkat teleponnya. Kucoba cari nama seseorang yang kukenal di kontak hp tersebut.Ternyata ada nomor teleponnya Pak Nandra. Segera kuhubungi pak Nandra dan untung sekali dia sedang bersantai dirumahku. Aku memintanya segera kesini dan membawa Alan.
                Aku dan Alan akhirnya tiba di rumah sakit. Alan masuk ruang UGD dan aku panik sendiri diluar UGD. Tak berapa lama, dokter pun keluar dari UGD tersebut.
                “Pak, bagaimana keadaan Alan?’’ Tanyaku pada dokter
                “Maaf nak, Kami tidak bisa menyelamatkannya. Ia sudah kehilangan banyak darah dan dia juga menderita Kanker Langka.” Pak dokter menjelaskan.
                Aku berlutut dan menitikkan air mata. “Alan tidak mungkin pergi! Alan tidak mungkin pergi dok!”
                Dihari pemakamannya, aku melihat pria yang kemarin terkena tumpahan minumanku itu. IA datang dan menemuiku.
                “Hai, Apa kabar? Kau masih mengingatku tidak?” Tanyanya
                “Iya, masih. Kamu itu yang terkena tumpahan minumanku kan?” Jawabku
                “Nampaknya kamu masih mengingatku dengan baik. Kenalkan, aku Yadi, teman dekat Alan.
“Alan banyak ceita tentangmu. Alan bilang dia sangat menyayangimu. Namun sayang, dari kecil ia sudah harus memikul penyakit yang langka dan mematikan itu. Alan ingin kamu bahagia. Alan tidak mau melihatmu sedih, apalagi menangis. Setidaknya itu yang bisa kusampaikan padamu.”jelasnya
Isi suratnya singkat,
“hai Anita! Kamu pasti menerima surat ini dari temanku, Yadi. Maafkan aku ya, karena gak pernah bilang sama kamu, kalau aku punya penyakit Kanker. Kankerku ini emang cukup langka, jadi kamu harusnya bangga punya sahabat kayak aku yang bisa punya kanker langka dan bisa hidup agak lama. Sekarang, aku sudah ditempatku seharusnya. Jadi jangan sedih ya. Semoga kamu selalu senang disana. Sehat selalu ya Anita!”
Seketika aku terpaku dan diam. Tak bergeming.  Yadi memberikanku surat dari Alan. Katanya surat itu memang telah dipersiapkan jika terjadi hal seperti ini. Setelah aku membaca surat dari Alan, aku menangis hebat. Air mataku ini mengucur deras keluar. Aku pun mengambil benda tajam di sekelilingku dan ku goreskan pada nadiku.
Aku terbangun di samping sebuah tiang infus dan nadiku semacam diikat sesuatu. Aku mengingat apa yang telah terjadi. Ayah dan Ibuku menangis disampingku.Tuhan Maha Pengasih. Aku diberikan  kesempatan hidup satu kali lagi. Aku tersenyum pada ayah dan ibu. Mereka memelukku dengan erat.


Kini sudah 6 tahun sejak kepergian Alan. Jujur aku merindukannya. Namun apa daya. Kini aku harus merelakan ia pergi. Aku juga kini sudah mempunyai pasangan baru, Yadi namanya. Kini aku dan Yadi sudah mempunyai 4 orang anak. 2 orang laki-laki dan 2 anak perempuan. 2 anak lelakiku mempunyai nama Andi dan Lonso. Sedangkan 2 anak perempuanku bernama Anis dan Neytiri, yang jika keempat huruf awalnya digabungkan, akan membentuk nama sahabatku, ALAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar