AKU DAN KAMU
Tak semua orang
dapat merasakan kesempatan kedua. Maka dari itu, pergunakanlah kesempatan
pertamamu sebaik mungkin.
Aku cukup merasa lelah kemarin
sehingga aku tidur lebih awal, dengan harapan aku bisa bangun lebih pagi dan
mencoba mempelajari beberapa materi pelajaran yang mungkin akan dipelajari
besok. Aku mengatur alarmku untuk membangunkanku pukul 3
pagi, namun aku lupa untuk mengganti baterainya dengan baterai yang baru.
Sehingga paginya, aku terbangun pada pukul 6 pagi dan melompat dari tempat
tidurku untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Untungnya, Pak Nandra sudah
bersiap didepan rumah menungguku dengan mobil yang bersih. Aku berlari ke mobil
dengan cepat dan berteriak “Ayo pak! Anita sudah terlambat banget nih..”
Memang, kalau sudah terlambat
begini, Pak Nandra memang yang paling pengertian. Ia memacu kereta kuda besinya dengan cepat dan sebisa
mungkin sampai disekolah sebelum bel sekolah berbunyi. Tapi tanpa disangka,
macet sudah merajalela di jalanan. Kanan kiri, depan belakang, semuanya diam,
tak bergerak. Awalnya, aku merasa ingin kembali ke rumah, berfikir tak ada
harapan sampai ke sekolah tepat waktu. Namun, Pak Nandra menyarankanku untuk
berjalan kaki saja. Toh, sudah tidak jauh lagi jaraknya, pasti juga sampai
disana lebih cepat daripada aku naik mobil. Akhirnya aku turun dari mobil, dan
berjalan menyusuri jalanan yang bagaikan deretan semut mati itu. Benar kata Pak
Nandra, aku masuk tepat waktu dan tidak terlambat. Memang, Pak Nandra
penyelamatku hari ini.
Hari ini tak ada satupun guru
yang bisa datang ke kelasku. Jujur saja, aku paling tidak suka jika ada guru
yang tidak masuk ke dalam kelasku padahal itu sudah jam pelajarannya. Karena
itu dapat memancing otakku untuk pergi ke kantin bersama teman teman yang lain.
Meskipun aku tidak suka, tapi entah mengapa tetap saja aku lakukan.
Baru aku sampai disana, kantin
sudah ramai sekali. Segerombolan anak banyak yang sedang makan sambil
berbincang dengan temannya, ada pula yang terlihat bingung, hendak membeli
makanan apa. Karena kantin sekolah terlalu ramai, maka aku memutuskan untuk
membeli minuman dan langsung kembali ke kelas. Saat aku hendak berbalik badan
dan kembali, aku tak sadar telah membelakangi seseorang, sehingga aku
menumpahkan minuman itu ke baju seragamnya.
“Ups....maaf ya! Aku gak
sengaja!” Kataku dengan penuh penyesalan
“Yah... basah bajunya..
yasudahlah gapapa, lagian kamu gak sengaja juga kan” Balasnya sambil tersenyum.
Sebenarnya aku merasa aneh
dengan pria itu. Aku baru saja menumpahkan minumanku ke bajunya, dan kenapa ia
tidak marah? Apalagi aku menumpahkannya cukup banyak. Dia malah tersenyum ke
arahku dan mengatakan tidak apa apa. Seketika aku langsung bertanya tanya,
siapa dia? Mengapa ia sebaik itu? Mengapa ia tak marah? Dan yang paling utama,
kenapa aku baru melihatnya? Apakah dia anak baru atau akunya saja yang tak
mengenalnya? Ah entahlah. Paling hanya akan bertemu sekali.
Aku berjalan kembali ke kelas.
Di jalan, aku berpapasan dengan Alan, sahabatku dari SD. Aku seolah tak
melihatnya dan terus saja berjalan. Namun memang dasar Alan, ia menyelengkatku
dan meraih tanganku. Aku yakin, aku terlihat seperti orang dengan tatapan bodoh
yang tersandung dan diselamatkan oleh seorang superhero.
“Kalau jalan, hati-hati. Juga
jangan sombong kalau bertemu” katanya.
Aku langsung berdiri dan
berkata
“modusnya bisa banget ya Lan.
Hahaha... Pengen ngobrol sama orang cantik aja harus nyelengkat segala.”
Balasku sinis
“Dih,.. Jangan kepedean kamu.
Emang ada yang mau sama kamu Nit? Hahahaha.. Kalau ada, pasti bakalan aku buat
putus Nit. hahaha”
“Yhaa cemburu kamu Lan? Hahaha”
“Yeuu apasih Nit. Mana ada yang
cemburu hahaha”
“hahaha, yaudah ya Lan, aku
duluan. Udah ditungguin sama temen temen tuh disana”
“Lah,.. yaudah sana. Emang ada
yang nahan kamu? Hahaha”
Dengan jutek, aku
meninggalkannya, berjalan menjauhinya, tak menghiraukannya. Aku dan Alan akhir
akhir ini memang suka bercanda seperti itu. Pura-pura tak mengenal, juga
pura-pura kesal satu sama lain. Tak tahu tujuannya, namun begitulah kami.
Saat aku berjalan menjauhinya,
dan mulai mendekati teman-temanku yang menungguku di depanku, mereka meledekku.
Jujur, ledekannya itu benar. Aku memang suka jika dimodusin sama Alan, si pria
tampan, berkulit putih, berbadan tegap, juga mata berbentuk almond dan
jambulnya yang menambah ketampanannya. Saking tampannya, teman-temanku suka
menjulukinya Mario Maurer asli Sunda.
Mentari hari itu cepat sekali terbenam,
digantikan bulan yang berbentuk sabit. Karena besok aku tidak punya begitu
banyak tugas dan PR, aku mencoba jalan jalan di taman komplek rumahku. Taman di
sana memang tak jauh dirumahku. Aku cukup berjalan mengikuti jalan, melewati
pos satpam, lalu belok kiri. Pos satpam saat itu memang sedang ramai. Banyak
yang sedang menonton pertandingan sepak bola saat itu. Tua muda, tinggi pendek,
saling tak mengenal perbedaan, mereka asyik sekali menonton pertandingan itu. Dan
aku mencoba melihat siapa saja yang ada disana. Tadinya aku hanya iseng, namun,
aku sekilas melihat wajah sahabatku. Aku mencoba memastikannya dengan memanggil
namanya “Alan!”. Ia menoleh dan entah kenapa aku senang sekali bisa bertemu
Alan malam itu. Alan menghampiriku dan bertanya padaku.
“ANITA! Kamu ngapain malem
malem disini? Sendirian lagi. Gabaik tau anak cewe keluar rumah sendirian. Kamu
mau kemana? Aku anterin ya” katanya.
“ Aku mau ke taman, mau cerita
deh sama kamu. Kamu bisa gak?” Jawabku
“Iya udah, aku temenin. Tapi
kamu jangan suka keluar malem sendiri lagi ya.” Katanya lagi dengan nada cemas
Aku dan Alan berjalan melewati
malam menuju taman. Sesampainya di taman, aku menceritakan semuanya kepada
Alan. Karena Alan adalah pendengar yang baik, maka aku selalu merasa nyaman
saat bercerita dengannya.
“Alan, kamu tahukan
temen sekelas kita pas kelas 10, Zul?” tanyaku
“ya, aku tahu.
Kenapa dia? “ Jawabnya
“Kemarin, Zul
bilang, kalau dia suka sama aku. Katanya dia udah suka sama aku sejak pertama
kali kita chat-an. Kemarin dia ngomong gitu, terus aku bilang, kita kan temen
satu sekolah, lebih baik kita temenan aja ya. Terus tadi pagi dia malah
ngehindar gitu dari aku Lan. Menurut kamu, emang aku salah ya?”
Alan terdiam, dan menatapku
sambil menyipitkan kedua matanya. Ia juga terlihat berkeringat. Aku fikir Alan
sakit, ternyata ia hendak mengatakan sesuatu padaku.
“Dengarkan aku kali ini ya
Anita. Aku sudah menyukaimu sejak kita masih sama sama kecil. Aku menyukaimu,
namun tak ada yang tahu. Aku menyukaimu dengan tulus. Jika dibandingkan dengan
Zul yang populer, mungkin aku tak ada apa-apanya. Tapi untuk kali ini saja, aku
memintamu, Mau gak kamu jadi pacarku?”
Mendengar hal itu,
aku terdiam. Terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar. Sejujurnya, aku
juga menyukainya. Dan itu sebabnya aku menolak
Zul. Namun, aku berpikir, karena aku suka bercanda dengan Alan, jadi aku
akan mempermainkan Alan dulu.
“Apasih Lan. Kan
aku cerita tentang Zul. Kenapa kamu yang jadi nembak aku? Hahaha, kalo kamu
nembak aku dengan tangan kosong, dan gak bawa apa-apa juga aku gamau kali.
Mendingan aku pacaran sama Zul aja kalo gitu.”
Ia berlutut dan menatapku.
Entah mengapa tatapannya dalam sekali. Aku seperti melihat rasa tulusnya ia
menyukaiku lewat matanya. Jujur saja, aku sungguh tersentuh dengan tatapan itu.
Namun, aku masih belum bisa menerimanya. Aku akan menerimanya nanti, jika aku
sudah selesai mempermainkan hati Zul, Fikri, dan Aceng.
Setelah menatapku,
ia terlihat pucat. Keringatnya juga semakin banyak. Bibirnya gemetaran seperti
orang yang sedang ketakutan melihat hantu. Aku menertawakannya karena dia lucu sekali. Tiba –tiba saja ia menutup matanya
dan jatuh ke arah belakang. Ia terjatuh diatas bebatuan yang berujung agak
tajam dan darahnya keluar deras sekali. Aku panik setengah mati. Aku coba
menamparnya, namun dia tak kunjung sadar. Aku coba memapahnya ke pos satpam,
ternyata sudah tidak ada orang. Semua orang sudah kembali ke rumahnya masing
masing, karena pertandingan telah selesai. Pak satpam yang berjaga juga sedang
tidak ada. Aku melihat sebuah ponsel di meja, dan aku mencoba menelepon ayahku.
Ayahku sedang sibuk nampaknya, ia tak mengangkat teleponnya. Kucoba cari nama
seseorang yang kukenal di kontak hp tersebut.Ternyata ada nomor teleponnya Pak
Nandra. Segera kuhubungi pak Nandra dan untung sekali dia sedang bersantai
dirumahku. Aku memintanya segera kesini dan membawa Alan.
Aku dan Alan akhirnya tiba di rumah
sakit. Alan masuk ruang UGD dan aku panik sendiri diluar UGD. Tak berapa lama,
dokter pun keluar dari UGD tersebut.
“Pak, bagaimana keadaan Alan?’’
Tanyaku pada dokter
“Maaf nak, Kami tidak bisa
menyelamatkannya. Ia sudah kehilangan banyak darah dan dia juga menderita
Kanker Langka.” Pak dokter menjelaskan.
Aku berlutut dan menitikkan air
mata. “Alan tidak mungkin pergi! Alan tidak mungkin pergi dok!”
Dihari pemakamannya, aku melihat pria yang
kemarin terkena tumpahan minumanku itu. IA datang dan menemuiku.
“Hai, Apa kabar? Kau masih
mengingatku tidak?” Tanyanya
“Iya, masih. Kamu itu yang
terkena tumpahan minumanku kan?” Jawabku
“Nampaknya kamu masih
mengingatku dengan baik. Kenalkan, aku Yadi, teman dekat Alan.
“Alan banyak ceita
tentangmu. Alan bilang dia sangat menyayangimu. Namun sayang, dari kecil ia
sudah harus memikul penyakit yang langka dan mematikan itu. Alan ingin kamu
bahagia. Alan tidak mau melihatmu sedih, apalagi menangis. Setidaknya itu yang
bisa kusampaikan padamu.”jelasnya
Isi suratnya
singkat,
“hai Anita! Kamu
pasti menerima surat ini dari temanku, Yadi. Maafkan aku ya, karena gak pernah
bilang sama kamu, kalau aku punya penyakit Kanker. Kankerku ini emang cukup
langka, jadi kamu harusnya bangga punya sahabat kayak aku yang bisa punya
kanker langka dan bisa hidup agak lama. Sekarang, aku sudah ditempatku
seharusnya. Jadi jangan sedih ya. Semoga kamu selalu senang disana. Sehat
selalu ya Anita!”
Seketika aku
terpaku dan diam. Tak bergeming. Yadi
memberikanku surat dari Alan. Katanya surat itu memang telah dipersiapkan jika
terjadi hal seperti ini. Setelah aku membaca surat dari Alan, aku menangis
hebat. Air mataku ini mengucur deras keluar. Aku pun mengambil benda tajam di
sekelilingku dan ku goreskan pada nadiku.
Aku terbangun di
samping sebuah tiang infus dan nadiku semacam diikat sesuatu. Aku mengingat apa
yang telah terjadi. Ayah dan Ibuku menangis disampingku.Tuhan Maha Pengasih.
Aku diberikan kesempatan hidup satu kali
lagi. Aku tersenyum pada ayah dan ibu. Mereka memelukku dengan erat.
Kini sudah 6 tahun
sejak kepergian Alan. Jujur aku merindukannya. Namun apa daya. Kini aku harus
merelakan ia pergi. Aku juga kini sudah mempunyai pasangan baru, Yadi namanya.
Kini aku dan Yadi sudah mempunyai 4 orang anak. 2 orang laki-laki dan 2 anak
perempuan. 2 anak lelakiku mempunyai nama Andi dan Lonso. Sedangkan 2 anak
perempuanku bernama Anis dan Neytiri, yang jika keempat huruf awalnya
digabungkan, akan membentuk nama sahabatku, ALAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar