Sabtu, 19 September 2015

Mikhael Sibuea

Nasi Goreng

Namaku Riyadi, aku adalah anak pertama di keluargaku. Sebagai anak pertama aku harus bisa menjadi contoh untuk adikku. Ayahku adalah seorang pengusaha, usahanya pernah bangkrut saat krisis moneter tahun 98. Ibuku adalah seoeang ibu rumah tangga, aku sangat sayang ibuku. Dia adalah motivatorku ketika aku gagal, tempat aku mengadu dan juga tempat aku untuk bermanja. Dia adalah orang yang paling mengenal aku, saat dewasa nanti aku akan membuat dia bangga padaku.
Dari kecil aku sudah bercita-cita untuk menjadi seorang pilot. Namun saat aku kecil pilot yang aku impikan adalah pilot TNI Au. Dahulu aku sangat ingin menjadi tentara, mungkin ini terjadi karena aku dan ayahku sering menonton film aksi yang berisikan tentara melawan teroris. Seiring berjalannya waktu, cita-citaku pun berubah.
Aku ingin menjadi pilot pesawat komersial saja. Hal ini aku putuskan karena aku berpikir ke depan nanti, akan sangat malang anakku jika ayah mereka meninggal di medan perang saat mereka masih kecil. Lagipula pilot pesawat komersial berpenghasilan yang cukup besar. Jadi aku bisa hidup bahagia tanpa rasa khawatir tewas di medan perang serta aku bisa hidup berkecukupan nantinya.


Ya, cita-citaku itu memang sangat indah. Aku harus sadar untuk mewujudkan itu aku harus belajar dengam baik, mempersiapkan fisik yang baik dan juga menjaga kesehatan. Aku bercita-cita untuk meneruskan sekolahku di STPI Curug setelah lulus SMA. Saat ini aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku memiliki sangat banyak teman, namun aku belum menemukan seorang sahabat.
Di sekolah aku dikenal sebagai orang yang ramah. Aku bersyukur karena itu aku memiliki sangat banyak teman. Aku bukanlah orang yang pandai dan bukan orang yang rajin. Namun aku tersadar untuk mengejar cita-citaku itu aku harus bergiat dalam belajar. Fisikku pun masih jauh dari kata cukup, jadi setiap pagi aku lari mengitari perumahanku sebelum berangkat sekolah.
Di sekolah aku sangat suka dengan temanku yang bernama Najla. Najla itu orangnya cantik dan baik. Dia orangnya pemalu, aku selalu penasaran terhadapnya. Aku selalu senang ketika berbicara dengannya, meskipun pemalu namun dia orang yang sangat asyik. Berbeda denganku najla orangnya sangat ranjin dan pintar. Aku terkadang memintanya untuk mengajariku sepulang sekolah.
Karena hal ini sering terjadi aku mulai merasakan tumbuhnya benih-benih cinta antara aku dan Najla. Aku mulai melihat Najla dengan cara yang berbeda. Awalnya aku memandangnya sebagai teman biasa, namun sekarang aku jatuh hati padanya. Semua kegiatanku selalu kuusahakan bersamanya hanya demi bersamanya. Akupun merasa kalau Najla sepertinya suka kepadaku.
Namun hal ini selalu kuacuhkan, sebab untuk apa aku lelah berpikir tentang ini jika aku tidak memiliki keberanian. Keberanian memang selalu menjadi masalah bagiku. Dalam beberapa hal aku tidak mempunyai keberanian namun untuk hal-hal bodoh aku sangat berani. Disitulah aku merasa sedih, karena aku berani untuk hal tidak berguna.
Saat kelas 12 aku tidak sekelas lagi dengan Najla, namun kebiasaan belajar kami tetap berlanjut. Jadi aku dan Najla tetap berinteraksi walaupun tidak sekelas. Di suatu malam, akhirnya aku berani mengajak Najla untuk makan bersama. Aku melakukan hal ini dengan alasan untuk membalas budinya yang selalu mengajariku.
Najla pun menyetujuinya. Meskipun hanya makanan pinggir jalan Najla sangat antusias makan bersamaku. Entah aku yang kepedean atau memang itu yang terjadi. Aku pun sangat bahagia untuk makan malam ini. Hal ini selalu aku ingat. Kami pun semakin hari semakin dekat namun aku masih belum berani menyatakan perasaanku ini.
Hingga akhirnya kami pun lulus SMA dengan hasil yang memuaskan. Aku hanya dapat berterima kasih kepadanya dan lagi-lagI aku tidak pernah berani menyatakan perasaanku kepadanya. Kami pun menempuh hidup kami masing-masing. Aku berhasil masuk STPI sedangkan Najla aku tidak tahu. Aku sudah lama tidak berbicara kepadanya bukan karena apa tapi penyebabnya adalah dia sudah pindah rumah dan ia mengganti nomor HP-nya.
Setelah menjadi pilot aku akhirnya memiliki keberanian yang kubutuhkan. Aku pun menjalin hubungan dengan wanita bernama Bianca. Aku mengenal Bianca dari teman sesama pilotku. Awalnya semua terasa sangat manis. Namun, pada suatu hari Bianca tertangkap basah denganku sedang bermesraan di sebuah restoran tempat aku makan. Aku pun menyudahi hubunganku dengannya.
Aku sempat kecewa dan takut untuk berpacaran lagi, karena hubungan pertamaku itu sangat memilukan dan terjadi dalam waktu yang dekat. Namun, di suatu pagi yang cerah aku menabrak seorang wanita di bandara ketika aku hendak memasuki pesawatku. Alangkah terkejutnya diriku, wanita itu adalah Najla pujaan lama hatiku. Aku pun berbincang-bincang dengannya sebentar sebelum aku bertugas.
Setelah selesai berbincang aku pun meminta nomor HP-nya. Hari demi hari kami terus berkomunikasi dan pada akhirnya aku mendapatkan momen terbaikku. Aku sudah lama menyukainya dan sekarang aku tidak mau kehilangannya. Di suatu malam, aku mengajaknya makan malam di sebuah restoran dekat rumahnya.
Saat itu hidangan yang aku pesan adalah nasi goreng, menu yang sama saat aku pertama dan terakhir kalinya makan bersamanya ketika SMA dulu. Dengan keberanian yang cukup aku pun mengatakan, "Najla, tahukah kamu bahwa selama ini aku sangat suka padamu? Tahukah kamu bahwa sejak dulu aku jatuh hati padamu? Tahukah kamu aku sering tersiksa karena memendam perasaan ini? Najla dengarkanlah aku, aku cinta padamu Najla. Aku ingin hubungan yang lebih serius bersamamu. Najla, maukah kamu jadi pacarku?".
Najla pun terdiam sejenak, kemudian terlihat air mata berjatuhan dari matanya yang indah. Ia pun menghapusnya dan menarik napas yang dalam. Ia pun berkata " Riyadi, ke mana saja kamu selama ini? Hal inilah yang selalu kutunggu sejak kamu mentraktirku makan nasi goreng, aku selalu berharap kamu mengatakan hal ini. Bahkan setiap hari aku mengharapkanmu. Pikiranku selalu lelah dalam mengharapkanmu. Bahkan aku tersiksa menjalani hariku karena memikirkanmu terus. Riyadi, aku bersedi menjadi pacarmu."



Akhirnya aku dan Najla pun berpacaran. Kami sangat bahagia, setelah 3 bulan aku pun melamarnya sebagai isteriku. Kamipun menikah setelah 3 bulan aku melamarnya. Aku sangat bersyukur karena aku dan Najla dikaruniai 4 orang anak yang hormat pada kami. Putra pertama sampai putra ketiga kami merupakan anak-anak yang tampan dan gagah. Dan juga putri kesayangan kami pun cantik serta pintar. Aku bersyukur atas semua yang telah kami punya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar