Sabtu, 19 September 2015

M. Fairuz Najmuddin Adya

Bintang Paling Terang

"Hei, bintang apa yang paling terang?"
Masih kulihat dia mendongak keatas, di tengah malam disudut kota ini. Seorang gadis yang entah sejak kapan berada disana. Seolah dia sedang menunggu... menunggu sesuatu yang berada di langit.
Rasa penasaranku memuncak, kuubah arahku dan berjalan kearahnya. Kulihat dia menghela nafas dan berkata "masih belum ada..." Hah? apa yang dia bicarakan, kubuang rasa canggungku dan bertanya kepadanya.

"Apa yang kau cari?"
"Bintang..."
Aku tertegun sejenak, lalu aku pun berfikir. Benar juga dengan segala kesibukan, kerlap- kerlip cahaya lampu kota, aku tak dapat lagi melihat bintang. Suasana yang dulu dianggap sebagai keindahan malam, sekarang berubah. Hiruk-pikuk kota sudah melenyapkan malam yang biasa dinikmati menjadi malam yang melelahkan.
"Apa kau juga sedan mencari bintang?"
Aku sadar dari lamunan sejenak ku.
"Ah tidak..."
Lalu kusadari dia bangkit dari duduknya dan menatapku seolah keheranan.
"Carilah bintang"
"Ha?maksudmu?"
"Carilah bintang...."
Dia bicara seraya bergegas pergi. Akupun hanya termangun.
Aku terbangun dan kusadari aku sudah berada dikamar, hah... apa yang semalam cuma mimpi... pikiranku melayang-layang seharian, tidak jelas apa yang telah terjadi tadi malam, siapa dia.... mengapa dia mencari bintang.... Pikiran ku penuh dengan bintang dan... ya dan juga tentang gadis itu.
Degan langkah mantap aku langkahkan kakiku, kucari tahu semua tentang bintang dan kuputuskan malam ini, aku akan ketempat itu lagi. Dengan langkah cepat aku pergi ketempat itu dan berharap gadis itu ada disana lagi. Aku mengitari daerah itu lagi sambil memikirkan segala apa yang akan terjadi. Dan tepat harapanku, dia terduduk disana, direruputan yang diselingi oleh bunga-bunga itu.
"Hei, masih mencari bintang?" tanyaku
Akupun duduk disampingnya, tapi dia tetap tak bergeming, tak bicara sepatah katapun. Aku hanya menatapnya sekilas lalu kuikut larut dalam pencarian bintangnya.
"Masih belum ada..."
Ku dengar dia bergumam, dan dengan lantang ku jawab.
"Tentu saja tidak ada, dengan cuaca seperti ini dan juga kerlap-kerlip lampu membuat bintang tak akan terlihat"
Dia hanya menatap ku tanpa bicara sepatah kata pun. Uh canggung sekali rasanya pembicaraan ini. Dengan berani aku berusaha berkata-kata untuk memecah suasana.
"Hei aku belum tahu namamu"
"Na..."
"Ha?Siapa?"
"Najla"
"Hmmm...Aku Riyadi"
Dia tampak tak peduli dan beranjak dari duduknya. Sekali lagi sinar pagi menyadarkanku dari tidur, apa yang sebenarnya terjadi semalam?. Kembali aku larut dalam pikiranku. Berpikir apa yang telah terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi... apa itu cuma mimpi.... tidak mungkin karena tempat itu nyata. Semua pikiran ini membuatku tak nafsu untuk melakukan apapun, tak nafsu sekolah, makan, belajar, bahkan aku tak peduli dengan hal-hal yang biasanya menjadi kesenanganku.
Malam ini kuputuskan untuk tidak datang ke tempat itu dulu. Hal ini berlangsung selama beberapa hari, tapi dengan tidak datangnya aku ketempat itu, aku menghabiskan malam-malamku untuk membaca buku dan mempelajari segala hal tentang bintang, tentang bintang apa yang paling terang dan harusnya bisa terlihat.
Bintang yang berwarna putih biru itu, bintang paling terang yang namanya berasal dari bahasa Yunani itu Seirios ya bintang Sirius, sebuah bintang yang bisa dilihat dari belahan bumi manapun, akan kucari bintang itu, dan akan kutunjukkan kepadanya. Dengan berbagai pengetahuan yang kudapat selama beberapa hari dalam mempelajari bintang, aku berniat untuk pergi ke tempat itu lagi malam ini.
Aku berlari seolah tak memperdulikan hal-hal yang terjadi di sekelilingku. Kudapati dia duduk disana seperti hari-hari sebelumnya, dengan nafas terengah-engah aku berjalan kearahnya. Sadar akan keberadaanku dia pun menengok ke arahku. Dia menatapku sesaat lalu bertanya
"Hei, bintang apa yang paling terang?"
"Sirius"
Sontak ku jawab tanpa ada masalah karena aku sudah banyak mempelajari soal bintang. Malam hari ini terasa cukup panjang tanpa adanya percakapan yang penting, seperti biasa aku terlarut dalam pencarian bintangnya. Dia menunjukkan padaku bintang-bintang yang sebenarnya masih dapat dilihat dengan mata telanjang, seperti CanopusArcturusAlpha Centauri, dan juga Vega. Tapi aku masih tak paham apa maksudnya bintang yang belum muncul, sesungguhnya aku ingin tau bintang apa yang dia maksud dan kapan dia akan menemukan bintang itu, kuharap bintang itu tak akan dia temukan dalam waktu dekat agar keseharianku mencari bintang bersamanya tak akan pernah berhenti. Jujur jarang aku memperhatikannya tapi sebenarnya, wajah yang diterangi oleh bulan itu sangat memikat. Wajah tersebut sesungguhnya mampu membuat orang-orang terbayang bayang akan wajahnya seharian, hanya saja....
Aku bangun, kejadian yang sama lagi. Aku tak ingat bagaimana aku pulang dan hal-hal yang terjadi pada malam-malam sebelumnya. Tapi tanpa pernah peduli apa yang sebenarnya terjadi aku masih melanjutkan hari-hariku untuk mempelajari semua hal tentang bintang, sampai saat itu tiba. Dia tidak ada disana. Aku menunggu sepanjang malam tanpa tau dimana jejak keberadaanya, kupikir mungkin dia sakit, maka kuputuskan untuk datang, namun setiap hari makin kumenunggu kehadirannya makin kusadari bahwa hasilnya nihil, aku tak pernah bertemu lagi dengannya.
Masih ku ingat pertanyaan mu di pembicaraan terakhir kita.
"Hei, bintang apa yang paling terang?"
Namun dengan ini kutahu, berakhirlah pencarian bintang mu dan dimulailah pencarian bintang ku, bintang ku telah menghilang, ya dia adalah perempuan yang sesungguhnya adalah bintang yang bersinar paling terang dimalam itu menghilang. Menghilang selamanya.
Kukira cinta dapat berbincang tanpa berucap, melihat tanpa perlu memandang, dan mencintai tanpa perlu menyakiti. Ya aku sakit, bintang itu hilang, hilang tanpa pernah kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar