Sial
“sial nih bakal telat,,,,, sial sial..” gumam Alan dalam hati, di hari pertama ia bersekolah setelah libur panjang ia telat bangun dan terpaksa kebut kebutan menuju sekolah, SMA Negeri tapi Swasta 1, tempat menimba ilmu yang Alan cintai dan sayangi, namun naas usaha Alan kebut kebutan tidak membuahkan hasil, pagar sudah ditutup oleh Bang Somat, satpam garang dengan hidung pesek dan kepala botak, untungnya Alan pantang menyerah, dia mulai bernegosiasi dengan Bang Somat, “bang so, bang so, kalo saya kasih 30 rebu abang mau bukain pagernya ga?”, blarrrrr ucapan Alan menghantam nafsu dunia Bang Somat, namun Bang Somat masih belum puas dengan tawaran Alan, “yaelah lan, jadiin gocap aje,” Bang Somat menanggapi rayuan Alan, “yaudah lah nih gocap, bukain pagernya,” kata Alan sambil memberi lima puluh ribu ke Bang Somat, krekerkkekkkk pagar dibuka, Alan pun masuk dengan motor gedenya yang mengkilat seperti kepala Bang Somat.
“sialan nih si somat, uang jajan gue tinggal gocap buat seminggu ini,” gumam Alan dalam hati sambil berjAlan menuju kelas barunya, xi ipa 11, kelas terpojok dan katanya paling angker di SMANS 1, “nih guru BK milihin kelas gue kok yg paling pojok, sial banget dah gue,” Alan bergumam. Saat Alan masuk kelas “bruakkkkk” Alan tertabrak seorang gadis, Alan dan gadis itu terjatuh, sang gadis langsung bangun dan ngomel, “eh elu! Cowo jenggot lebat ! punya mata gak sih lo? Cowo kok klemer klemer!” setelah ngomel gadis itu langsung keluar, tanpa berkata sepatah kata pun Alan ditinggalkan, “gile untung juga gue datang rada telat, bisa tabrakan ama cewe cantik macem tuh cewe,” gumam Alan sambil berdiri, “plak” ada seseorang yang meneplak Alan dari belakang, Alan langsung menoleh, dan ternyata Cepot, sang teman baiknya yang meneplaknya, “eh pot lu ngapain neplak gua,”ucap Alan, “jangan pura pura suci lu lan, gua tau lu sengaja nabrak Anita, si bunga sekolah kita,” Cepot mulai berargumen tidak jelas, “yeh, itumah bukan sengaja, tapi rejeki pot! Hahhahaha,” dengan tawa lebarnya Alan membalas kata kata Cepot, “yah terserah lu lah, taruh tas lu samping bangku gue buruan, udeh gua siapin buat om om ganteng macem elu,” kata Cepot, “iye iye” balas Alan.
Di hari pertama sekolah, anak anak kelas mulai beradaptasi dan berkenalan satu dengan lainnya, mulai beradaptasi juga dengan guru gurunya, saat istirahat, Alan dan Cepot makan bersama di kantin, “gimana guru gurunya?” Cepot memulai perbincangan, “ ya… gimananya soal apaan pot?” kata Alan, “ ada yang nyantol gak di hati elu?” balas Cepot, “gile lu, yakali gua ama nenek nenek,” balas Alan dengan wajah kesalnya, “hahhahaha bercanda kali lan selaw aje,” Cepot menenangkan Alan. “oh iya abis ini pelajarannya Bu Donita, salah satu guru garang di sekolah kita,” Cepot memulai pembicaraan lagi, “yaelah pot, santai aja,” ucap Alan dengan senyum om om nya, “iyedah terserah lu lan,” ucap Cepot yang berusaha untuk santai.
Kringgg, bel masuk bordering, waktu istirahat telah habis, semua siswa masuk ke kelas masing masing, “selamat siang…..” suara mengerikan yang terdengar oleh semua siswa kelas xi ipa 11, ternyata itu suara Bu Donita, si guru garang yang konon doyan daging perjaka muda. “tuh, guru yang gua ceritain lan” ucap Cepot pelan, “se…se..serem juga pot,” Alan membalas dengan pelan dan cepat, “ya,,,, hari ini kalian saya bagi jadi 15 kelompok yang masing masing kelompok beranggotakan 2 orang, saya mulai bagi ya.” Ucap sang pelahap daging, “iyaaaaaaaa bu” jawab anak kelas dengan kompak. Semua nama sudah disebutkan dan kelompok kerja telah dibagi sama rata, Alan masuk ke kelompok 11 dan entah anugerah atau cobaan, Alan berpasangan dengan Anita. “lo jangan bikin nilai gua jelek dengan tingkah aneh lo, ngerti lo?” ancam bunga sekolah, “iyeeee selaw,” jawab Alan. Setelah dijelaskan apa saja yang harus dikerjakan dan diberi deadline, setiap kelompok mulai mengerjakan tugas mereka, lain dengan Alan yang malah males malesan, sementara Anita mengerjakan tugasnya dengan cepat, “eh lo, kerja dong” ucap Anita yang mulai resah dengan tingkah Alan, “yaelah santai kali, deadline kita kan besok ta.” Alan membela diri, “yaudah besok lo harus udah selesai ya, awas aja kalo belom,” kata Anita, “iya gue pasti selesai kok besok,” Alan mencoba meyakinkan Anita dengan wajah om om nya. Akhirnya pelajaran Bu Donita selesai yang berarti waktu pulang sudah datang, “asik, bisa main game lagi nih gue,” gumam Alan dalam hati.
Setelah pulang sekolah, Alan langsung menuju kamarnya, dan menyalakan pc nya, bukan untuk mengerjakan tugas, tapi malah untuk bermain lego marvel super heroes, game yang akhir akhir ini sedang popular, 1 jam, 2 jam, 3 jam, waktu terus berlanjut dan ketika Alan sadar jam sudah menunjukan pukul 01.00 pagi, tanpa rasa bersalah dia tidur, meninggalkan semua tugasnya.
Bruak, Kasur membangunkan Alan dengan cara yang kasar, dengan tubuh yang sakit Alan berjAlan ke ruang makan dan duduk di kursi deibelakang meja makan yang memiliki memo bertuliskan,” lan, mama kerja dulu ya, buat sarapannya susu saja, sudah mama seduh dan mama masukkan ke kulkas,”, “sial, masa gue sarapan pake susu doang, dingin pula, punya hati gak si si emak.” Ucap Alan, dengan berat hati Alan meminum susu buatan ibunya, namun setelah meminum susu itu Alan mendapatkan perasaan yang tidak enak, bukan saja sakit perut tapi juga jam sudah menunjukan pukul 6.30, “waduh! Bisa telat lagi gua”, Alan langsung bergegas dan tancap gas, namun naas, gerbang telah tertutup, Alan ingin bernegosiasi dengan Bang Somat lagi namun apadaya jika ia memberikan uangnya ia tidak akan bisa jajan minggu ini.
Alan akhirnya kembali ke rumah, dan tidur. Bruak, Kasur kembali membangunkan Alan dengan cara yang tidak menyenangkan. Saat Alan bangun dan membuka pemberitahuan di handphonenya, Alan sontak kaget, disana tertulis “pesan dari Cepot : lan mana lu, si Anita sampe nangis diomelin & dihukum Bu Donita gara gara elu ngga ngerjain tugasnya.”, “lah gua lupa kalo ada tugas hahhaha.” Balas Alan yang mengira Cepot hanya bercanda. Dengan cepat Cepot membalas, “gua lagi ga bercanda nih lan, “, membaca tulisan Cepot Alan hanya membalas dengan emotikon, “ ._.” Alan langsung kembali ke pc nya, bukan untuk bermain lego melainkan untuk mengerjakan tugasnya dan tugas Anita.
Keesokan harinya Alan tak lagi telat, walaupun hampir. Sesampainya dikelas, Alan langsung ke meja Anita, Anita tak mau bicara sedikitpun kepada Alan yang akhirnya Junilla sang teman sebangkunya yang bicara dan memarahi Alan habis habisan, untungnya Alan dapat membuat alasan yang dapat meyakinkan Junilla, dan berjanji tugasnya akan diterima oleh Bu Donita, barulah Anita mau bicara, “kalau sampe tugasnya gaditerima dan nilai gue jelek gara gara lo, gue bakal lapor bokap gue,” “mampus” hati Alan bergumam, lagi. “si..siap, liat aja nanti,” dengan gagap Alan mencoba bicara dengan Anita.
Istirahat pertama Alan langsung menghadap ke Bu Donita, dengan Cepot pastinya. Sesampainya diruang guru Alan dibentak dan dihukum habis habisan sebelum tugasnya diterima, Cepot sama sekali tak membantu malah dia malah mentertawakan sahabatnya itu. Akhirnya setelah Alan bersimbah keringat karena hukuman Bu Donita yang tak manusiawi tugasnya diterima, “tugas ini saya terima namun nilai kamu dan temanmu hanya 80.” Ucap Bu Donita, Alan sebenarnya senang dengan nilai tersebut namun ia merasa bahwa nilai itu kurang untuk Anita, “bu bagaimana kalau nilai saya dijadikan 75, tapi Anita dijadikan 80?” Alan mulai bernegosiasi, “serius kamu?” Bu Donita bertanya pada Alan, “iya bu, gak tega saya sama teman saya.” Dengan wajah pengemis Alan menjelaskan, “yah kalau gitu saya jadi gak tega juga, yaudah kamu 80 teman kamu 85.” Bu Donita berbaik hati, “serius bu? Makasih banget loh bu.” Wajah Alan kembali seperti wajah om om, “iya, kamu kembali sana ke kelas, gausah nunjukin wajah jenggotan kamu yang kaya gitu ke saya lagi.” Ucap Bu Donita. “siap bu.” Ucap Alan dan Cepot yang ikut ikutan.
Sesampainya di kelas, si Cepot menjelaskan semuanya ke Anita, sementara Alan tak ke kelas karena lapar, maklum dia hanya sarapan susu dingin. Anita mendengar cerita Cepot dengan antusias, “jantan juga ya si Alan.” Ucapnya, “wah lu naksir ya ta?” Tanya Junilla teman sebangkunya, “eh enak aja enggak yeu..” Anita menjawab dengan wajah merah padam, “udeh udeh, gausah ngomongin yang lagi gaada, urusan orang suka sama siapa juga gausah diurusin, yang penting dia bertanggungjawab dengan tugasnya.” Cepot membela sang sahabat, “iyeee pot.” Jawab dua gadis itu. “Hasyim!” Alan bersin, “ sial, ada yang ngomongin gua nih,” gumam Alan, si om om yang suka bergumam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar