Sabtu, 19 September 2015

Nandri Arun Saxsena

Menebus Kesalahan

Bunyi hening kedamaian disudut pegunungan yang menenangkan hati, jauh dari bisingnya kendaraan, hawa sejuk menyelimuti badan, disanalah tempat Hasanah dan Ibunya tinggal. Desa Kreyek namanya, yang subur akan tanaman perkebunan teh. Ibu Hasanah yang tiap harinya menggendong bakul tempat daun teh, tak lelah ia kerjakan demi uang untuk memenuhi biaya kuliah anaknya dikota yang tak jauh dari desa. Hasanah yang selalu ingin membantu mencari nafkah namun selalu dilarang, wajah melasnya tuk membantu pun tak dihiraukan oleh ibunya.
Hasanah seringkali bolos kuliah demi mencukupi kebutuhan hidup, yang Ia tahu sepeninggal ayahnya itu memang sangat berat menjalani hidup. Tanpa sepengetahuan ibunya, Hasanah bekerja di warung makan Pak De Maman, tempat istirahat para pengusaha teh. Tak seberapa memang gajihnya itu, namun Hasanah tetap menjalani walaupun hanya sebagai pelayan. Seringkali Hasanah disapa dan diajak berbicara oleh beberapa pelanggan warung Pak De Maman. Salah satunya adalah Nandri, pengusaha teh sukses yang masih sepantaran dengan Hasanah, mereka sudah saling akrab, sampai-sampai Nandri mengajak untuk membuka usaha berkebun teh bersama, namun Hasanah selalu menolaknya, dalam pikirannya dia bisa membuka usaha sendiri.

Untuk sementara waktu Hasanah berhenti bekerja di Warung makannya Pak De maman. Sekali lagi Hasanah memang nekat, Ia berani berhutang kepada Rentenir tanpa sepengetahuan ibunya untuk modal berkebun teh. Dengan percaya diri Hasanah memulai berkebun, namun apa yang Dia harapkan benar-benar tidak menjadi kenyataan, kebunnya gagal panen. Hasanah rugi besar dan apalagi nanti belum ditagih oleh rentenir.
Tak lama esoknya, rumahnya didatangi oleh rentenir untuk menagih hutang. Setiap hari Hasanah tidak bisa diam, tubuhnya selalu gugup gemetar dan keringat yang beranak sungai. “Gubrak....” pintu terbuka begitu saja menghempaskan angin yang kuat. Hasanah dan ibunya benar-benar kaget, rasanya seperti jantungnya ingin lepas. Ibunya tiba-tiba pingsan, Hasanah kebingungan bagai orang yang hilang ingatan, warga sekitar langsung membawa ibunya Hasanah kerumah sakit, namun tidak ada warga yang berani menghentikan perbuatan para preman rentenir  yang membabi buta dalam menagih hutang yang membawa senjata api. Karna tidak bisa membayar hutang, Hasanah dan ibunya diusir dari rumah.
Diselingi isak tangis menuju rumah sakit, Hasanah khawatir akan keadaan Sang Ibu, disepanjang jalan hatinya tak tenang menyesali kesalahan yang telah Ia perbuat.
Sudah menunggu selama satu minggu dirumah sakit, ibunya belum sembuh juga. Hasanah seperti mayat hidup, wajah dan tubuhnya pucat lemas. Nandri sudah lama tidak mendengar kabar dari Hasanah, selepas Dia berhenti bekerja di warung Pak De Maman. Nandri berkunjung ke rumah Hasanah, namun apa yang Ia dapat Hasanah sudah tidak lagi menempati rumah itu karena rumahnya dijadikan pengganti hutang kepada rentenir, dan sekarang Hasanah sedang menemani ibunya yang dirawat di rumah sakit. Setelah mendengar kabar tersebut Nandri dengan rasa ikhlas menebus rumahnya dari rentenir, kemudian Ia langsung menuju kerumah sakit untuk menemui Hasanah dan ibunya. Sesampainya dirumah sakit, Nandri datang dengan muka kaku memberitahukan bahwa rumahnya sudah Ia tebus dan sekarang bisa ditempati lagi, namun Hasanah malah marah besar, meja besi yang ada dihadapannya jadi korban amarahnya, Hasanah merasa dirinya direndahkan, tanpa basa-basi dia langsung meninggalkan ibunya dan Nandri dirumah sakit begitu saja.
Hasanah pergi begitu saja, ia mencari pekerjaan untuk membayar biaya rumah sakit dan untuk mengembalikan uang Nandri. Sisa tenaganya dihabiskan untuk mencari pekerjaan. Akhirnya Dia mendapat tawaran untuk  bekerja sebagai TKI di luar negri bersama temannya. Setelah Ia yakin akan bekerja sebagai TKI, Hasanah kembali kerumah sakit untuk menyiapkan barang bawaannya. Rasa gugup dan tak peduli apapun disekitarnya selalu menemaninya, Namun sebelum Ia pergi, Hasanah bertemu Nandri dipintu keluar rumah sakit. Nandri benar-benar tak tahu apa yang akan Hasanah lakukan. Nandri terus bertanya-tanya, Hasanah hanya menjawab Ia akan pergi mencari uang keluar negri. Sebagai teman baiknya Nandri  melarang Hasanah untuk pergi keluar negeri, Nandri khawatir kepadanya. Diluar negri memang mudah mendapatkan uang namun belum jelas nasib para pencari nafkah disana, apalagi Ibunya yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Namun Hasanah menghiraukan perkataan itu. Tanpa pamit Hasanah langsung berangkat menuju ke Bandara. 
Namun apa yang terjadi, ia mengalami kecelakaan saat menuju ke bandara. Hasanah pun masuk kerumah sakit. Setelah 2 hari Nandri mendapat kabar bahwa Hasanh mengalami kecelakaan. Dia langsung kerumah sakit untuk menjenguk Hasanah. Hasanah yang tidak berdaya dirumah sakit itu, membuat Nandri tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya menyelipkan sesuatu dibantal yang ditiduri Hasanah. Tak lama Nandri meninggalkan Hasanah dan Ibunya dirumah sakit.
Setelah beberapa minggu, Hasanah terbangun dari kondisinya yang kritis itu. Disampinya sudah ada orang yang sangat dicintainya, yaitu Ibunya. Hasanah hanya tersenyum manis dan dengan mata yang berisi air kesedihan. Hasanah merasa tidak nyaman dengan bantal yang Ia tiduri, Tidak sengaja saat Dia membenarkan bantalnya itu, Dia menemukan surat  dan buku atas nama teman baiknya. ternyata surat itu berisi pesan dari Nandri yang meminta maaf  kalau Hasanah merasa direndahkan, dan rumah tempat tinggal Hasanah dan ibunya sudah dikembalikan kepada rentenir. Kemudian Ia mengambil buku yang  berjudul “Cara Berkebun Teh” dengan nama pengarangya Nandri, lalu ia meneteskan air mata sambil memeluk ibunya.
Setelah Hasanah sembuh kembali, Hasanah mulai mencoba berkebun teh diladang Pak De Maman, untuk sementara Hasanah dan Ibunya tinggal diwarung makan Pak De. Setelah beberapa bulan Hasanah sukses besar. Ia pun kembali membeli rumah lamanya dan melunasi semua biaya rumah sakit.
Setelah sukses menjadi pengusaha teh, ia sadar bahwa suksesnya itu berkat buku dan pengalamannya yang dahulu gagal berkebun. Dan seorang yang selalu mendukungnya yaitu Nandri. Hasanah pun berniat untuk menemui Nandri.
Pagi petang yang sejuk dan daun yang masih basah embun, melewati jalanan kerikil dengan perasaan senang Hasanah menuju kerumah Nandri. “Tok..tok...tok”, tak ada suara apapun yang menjawab ketokan pintu, tiba-tiba ada salah satu tetangganya Nandri, “Maaf  nak.., Kamu ingin bertemu dengan siapa?”, dengan suara lembut. “Saya ingin bertemu orang pemilik rumah ini..”, “Maksud kamu Nandri?”, “Iya benar..”, dengan suara lirih dan isakan kecil, tetangganya Nandri itu menjawab “Sayang kamu terlambat kesini, beliau telah tiada untuk selamanya nak.., Dia sudah bersama dengan tuhan disana”, ucap terimakasih kecil yang Hasanah sampaikan, Dia langsung balik badan mengarah jalan pulang kerumahnya, bagai suasana yang damai berubah menjadi hitam dan kelam, disepanjang jalan Hasanah seperti tak bernyawa. Sesampainya dirumah Ia tergeletak pingsan dihadapan ibunya.
Setelah sadar, melihat ibu disampingya, Hasanah langsung meluapkan kesedihannya dengan memeluk Sang Ibu sangat erat. Buat dia seperti kapas yang akan menjatuhinya tiba-tiba berubah menjadi batu. Hanya senyuman ibunya yang membuat tenang dirinya.



Setelah beberapa minggu kemudian Hasnah mendapat surat yang ia temukan dipintu kayu rumahnya, dan isinya Ia telah di DO dari kuliahnya, Hasanah pun tersenyum kecil membaca surat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar