Sabtu, 19 September 2015

M. Zulfikri Maulana

Alan, Mengapa?

     Di kala matahari mulai merangkak naik, aku sudah berada di sekolah, bukan karena ada hal yang harus dijerjakan, tetapi memang aku selalu datang dikala sekolah masih sepi, agar aku dapat belajar dengan tenang sebelum masuk sekolah.Di saat aku sedang belajar dikelas, dan baru ada beberapa orang temanku yang datang, tiba-tiba temanku Alan datang dari luar kelas dan memberi tahu kepadaku, bahwa pembina ekskul ROHIS meminta kepada ku selaku ketua untuk mengadakan rapat guna menentukan waktu untuk mengadakan regen.
     Setelah mendengar kabar dari Alan, akupun segera menghubungi Bana selaku wakil ketua, Dan kitapun sepakat untuk membicarakan hal ini pada saat jam istirahat pertama di Masjid setelah melaksanakan sholat Dhuha. Istirahatpun tiba, aku langsung bergegas menuju Masjid dan sudah tampak Bana sedang mengambil air wudhu, akupun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Dhuha, sholat akhirnya selesai dan aku menghampiri Bana yang sudah menunggu ku sedari tadi, setelah melalui percakapan yang cukup panjang akhirnya kitapun sepakat untuk mengadakan rapat pengurus guna menentukan waktu mengadakan regen di hari Jumat tepatnya setelah ba'da sholat Jumat, setelah itupun aku langsung menghubungi para pengurus untuk memberitahukan informasi tersebut.



     Hari Jumat tiba, ini adalah hari dimana aku dan para pengurus ekskul rohis akan mengadakan rapat pengurus.Dan di hari ini aku sedikit terlambat datang kesekolah, tidak seperti biasanya, dan saat aku menuju kelas aku berpapasan dengan Alan, tampak raut wajah yang menandakan bahwa ia sedang bingung, "Assalamu'alaikum,Lan!" sapaku. 
"Wa'alaikumsallam, tumben jam segini baru dateng." jawabnya.
" iya nih, Saya kesiangan." jawab ku.
"ohh." jawabnya singkat, akupun semakin heran, tidak biasanya Alan seperti ini, padahal Alan ialah anak yang ceria walaupun ia hidup didalam himpitan ekonomi dan telah ditinggal Ayahnya untuk selama-lamanya.Setelah itu, akupun segera menuju ke kelas, dan memengikuti pelajaran sebagaimana biasanya, tetapi sifat Alan yang berubah masih berkecamuk di fikiran ku, meskipun begitu aku coba meredamnya dan akhirnya akupun melupakannya, waktu demi waktu pun berlalu hingga akhirnya tiba waktu sholat Jumat.Akupun bergegas menuju masjid dan akupun melihat beberapa orang pengurus ekskul dan akhirnya kamipun duduk berdekatan.
     Sholatpun selesai, kamipun segera menuju teras masjid untuk mengadakan rapat, pengurus utama di ekskul ini tidak ada perempuan, perempuan di ekskul ini berperan sebagai seksi seksi di berbagai bidang. Rapatpun dimulai, aku selaku ketua membuka rapat dan selanjutnya kita berdiskusi mengenai hari yang tepat untuk mengadakan regen, sempat terjadi perdebatan yang cukup alot, hingga akhirnya di tengah tengah rapat, seorang anggota ROHIS yang bernama Tuti menghampiriku dan memberitahu bahwa, Alan mencuri uang dari kotak amal, akupun tidak lantas percaya,dan bertanya kepadanya,"Apakah ada saksi mata lain selain mu?"
"Tidak tahu, tetapi tadi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu kita tanyakan saja langsung kepada Alan." jawab ku
"Jangan!!" jawab Tuti spontan
"Mengapa?" tanyaku.
"Mana ada yang namanya penjahat mengaku."
"Ya, memang, tetapi alangkah baiknya kita tanyakan langsung kepadanya agar tidak terjadi fitnah." jawabku.
"Baiklah." jawabnya.
Kamipun segera menghampiri Alan yang sedang duduk dan melaksanakan tugasnya yaitu, menghitung jumlah uang yang didapatkan dari kotak amal untuk dimasukkan kedalam kas Masjid.
"Assalamu'alaikum lan.", sapa ku.
" Wa..wa..wa'alaikumsallam." jawabnya sedikit kaget.
"Sebenarnya kita kesini untuk menanyakan suatu hal." kataku.
"A..AApa yang ingin kau tanyakan?." tanyanya sedikit panik.
"Betulkah kau mengambil uang di kotak amal?" Tanyaku.
"Tii..tiidak." Jawabnya gagap.
"Alahh gausah bohong deh lan, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, kalau kau mencuri uang dari kotamal." kata Tuti.
"Ti..tidak, aku tidak mencurinya..." Jawab Alan.
"Sudah lah lan, sepandai pandainya kau menypan bangkai kelak akan ketahuan juga." potong Tuti.
"Sudah sudahh!!, sekarang berkatalah jujur Lan, apakah kau mengambil uang dari kotak amal?" kataku.
"Ba..baiklah, iya aku mengambil uang dari kotak am.." jawab Alan.
"Tuhkan betul!!" potong Tuti.
"Sudah Tut sudah, Apa yang membuatmu mencuri uang dari kotak amal?" tanyaku.
"Aku mencuri uang dari kotak amal karena aku sangat membutuhkan uang untuk menebus obat adikku yang sedang sakit, sementara Ibuku sedang tidak mempunyai uang." jawabnya.
"Mengapa kau tidak mencoba mencari uang dengan jalan yang halal?" tanyaku.
"Aku sudah mencobanya, tetapi aku tidak mendapatkan cukup uang, sementara obat harus ditebus secepatnya." jawabnya.
"Baiklah kalau seperti itu, sekarang kembalikan uangnya ke kotak amal, dan aku akan berusaha untuk membantu mu!" jawabku.
"Baiklah, Terimakasih banyak atas bantuannya." jawab Alan sambil mengembalikan uang kedalam kotak amal.
“Berterimakasihlah kepada Allah dan mohon lah ampunan-Nya.” Jawab ku.
Akupun membuat janji bersama Tuti untuk tidak menceritakan peristiwa ini kepada oranglain, dan akhirnya teka-teki yang sejak pagi terfikir oleh ku, tentang raut wajah dan sikap Alan yang sedikit berubah terjawab.
     
   




  Akupun melanjutkan rapat, dan diputuskan regen diadakan dihari Senin tepatnya, setelah sholat asar di kelas 11 Mipa 5, dan akupun membantu Alan dengan cara meminta sumbangan seikhlasnya kepada seluruh pengurus, seksi-seksi berbagai bidang, dan beberapa anggota ekskul Rohis, dan akhirnya kamipun mendapatkan biaya yang cukup, bahkan lebih untuk membiayai obat untuk adiknya Alan, dan uang lebihnya kami berikan kepada Ibunya Alan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar