Pengorbanan Teman
Hariku diawali dengan adzan subuh yang sangat merdu, aku bermaksud untuk pergi kekampus lebih awal pada hari ini. Aku sangat senang karena pagi ini, jam pertama adalah pelajaran kesukaanku. Akupun bergegas mandi dan sarapan, kemudian dengan mengendarai motor blade ku. Tetapi sesampainya dijalan besar, aku lupa membawa uang dan bensinku pun ingin habis. Eh tiba tiba motorku berhenti di jalan, akupun panik sekali.
Aku bingung harus apa, mana kuota ku habis lagi, ingin telfon pun aku hanya punya nomer orang yang kusuka, ingin menelpon dan meminta pertolongan tapi malu rasanya. Ia adalah anita, orang yang kusuka sejak sma, wajahnya yang cantik bagaikan tangkai mawar membuatku semangat untuk pergi kuliah setiap hari.
Akhirnya, daripada aku diam saja akupun menelpon orang itu, suara rbt yang kudengar adalah lagu goyang dumang, akhirnya lagu itupun behenti dan ada suara wanita berbicara
“haloo” ucap anita
“ini siapa yaa?” lanjutnya
“hmm ini alan nit, aku boleh minta tolong tidak?”
“ooh alan yaa, kenapa lan?kamu tahu nomerku dari mana?”
“ah itu nanti saja,kamu sudah berangkat kuliah belum?”
“ini baru mau berangkat,kenapa memangnya?”
“aku minta tolong kamu kerumahku, lalu bilang pada ibuku jika dompetku tertinggal, tolong yaa”
“waah,memangnya kamu dimana?”
“aku dijalan raya, bensinku habis. Tidak bisa beli karena dompetku tertinggal”
“ohh begitu, yasudah nanti aku bawakan dompetnya ya lan”
“iyaa makasih banyak ya nit”
Setelah menunggu 15menit, akhirnya anita pun datang dengan ojek langgananya, diapun memberikan dompetku yang tertinggal
“hai alan, nih dompetmu yang tertinggal” sapanya
“haii, wah makasih ya nit. Kamu baik sekali”
“sama sama alan, oiya ada pesan dari ibumu lain kali jangan teledor tuh hahaha”
“ah ibu bisanya memalukanku saja”gumamku dalam hati
“yasudah aku berangkat duluan yalan, daaah”
“ iya nit,daah”
Akupun bergegas membeli bensin eceran dipinggir jalan, yang penting motorku bisa jalan haha. Setelah itu aku bergegas melanjutkan perjalananku kekampus. Sesampainya dikampus, seperti biasa aku langsung menuju kelasku yang sangat terpojok dari keramaian. Lalu aku membuka pintu kelas dan melihat anita duduk di meja paling depan, akupun langsung mengampirinya dan mengucapkan terimakasih sekali lagi.
Dengan senyum yang sangat indah, dia berkata “iyaa alan, tenang sajaa. Lagian rumah kita kan Cuma beda beberapa rumah, gangerepotin kok.” “betapa baiknya bidadari surgaku ini”gumamku dalam hati. “yasudah sebagai tanda terima kasihku, nanti istirahat aku traktir kamu makan.” Tanpa pikir panjang anita pun mengiyakan ajakanku. Betapa senangnya hatiku, wanita yang aku idam idamkan ingin makan bersama denganku dikantin.
Akhirnya jam istirahat pertama pun berbunyi, aku langsung bergegas mengajak anita kekantin, kamipun jalan menuju kantin. Dengan jantung yang berdetak kencang aku memberanikan diri untuk membuka percakapan.
“Kamu ingin makan apa nit?”
“hah?apasajalah yang penting aku makan hehe”
Sesampainya dikantin akupun memilih meja paling jauh dari keramaian. “lumayan biar bisa modus dikit hahahaha”gurauku. Setelah duduk akupun bergegas memesan makanan, sambil menunggu makananya tiba, akupun mengobrol banyaaak sekali denganya. Betapa senangnya hatiku hari ini bisa makan berdua bersama penyemangatku untuk pergi sekolah.
Setelah semuanya selesai, kitapun kembali kekelas. Aku mengikuti pelajaran hari itu dengan hati yang gembira.Selanjutnya bel pulang berbunyi,aku sangat tidak ingin mengakhiri waktu kuliah hari itu, karena aku juga harus berpisah dengan anita. Dan akupun menuju parkiran untuk mengambil motorku, akupun melihat anita kembali dijemput oleh ojek langganananya itu.
Aku bergegas pulang, sesampainya dirumah aku langsung makan dan istirahat. Sembari istirahat, akupun beranikan diri untuk menelpon anita sekedar untuk menanyakan pr dan lain lain. Tapi pembicaraan kami menjadi lama, karena kami mulai mencari topik agar pembicaraan tidak terputus. Setelah kejadian itupun aku dan dia menjadi semakin dekat, semakin akrab, dan kamipun sering berangkat dan pulang bersama.
Sampai suatu saat, dia benar benar tidak ingin bicara denganku, tidak ingin menegurku, tidak ingin menjawab telponku. Aku tak tahu mengapa, aku ingin sekali bertanya tapi dia tidak menghiraukanku. Aku bingung sekali, aku pun mengunjungi rumahnya saat dia tak ada dirumah, saat aku mengetuk pintu, keluarlah ibunya yang sangat ramah. Akupun dipersilahkan masuk dan kami duduk di ruang tamu, ketika aku bertanya bahwa kenapa anita akhir akhir ini jarang kuliah, ibunya menceritakan semua.
Ibunya bercerita bahwa sebenarnya anita mengidap gagal ginjal sejak dia smp, ibunya sudah menyuruhnya agar dia dirumah saja karena tidak boleh terlalu lelah, tapi anita memaksakan diri untuk kuliah karena ia ingin mengejar citacitanya menjadi dokter. Dia memutuskan untuk tidak berhubungan dengan siapa siapa karena ia tahu hidupnya takkan lama, dan ia tak ingin mengucapkan perpisahan, karena terlalu sakit untuknya.
Tapi saat dia kenal denganku, dia mulai berubah. Dia mulai ingin bersosialisasi dengan siapapun. Dia sudah memiliki banyak teman dan dia mulai suka padaku. Akupun kaget bercampur rasa sedih. Lalu aku bertanya kenapa akhir akhir ini dia tidak kuliah. Ibunya pun menjelaskan lagi bahwa seminggu yang lalu anita dan ibunya pergi kerumah sakit untuk kontrol dan ketika menerima hasil kontrol, ibunya dan anita kaget ternyata ginjal anita sudah semakin parah dan umurnya tidak lama lagi.
Air matakupun mulai menetes, lalu ibunya memberitahuku bahwa ia ingin mengatakan perpisahan kepada semua orang yang dia kenal. Dan aku menjadi orang terakhir yang ingin dia ucapkan kata perpisahan, karena ia tak sanggup. Aku pun bergegas pamit dan mencari anita kemana mana dan tidak ketemu. Malam pun tiba, akupun bergegas pulang dan beristirahat.
Keesokanharinya ketika aku beranjak dari tempat tidur, ibuku mengetuk pintu kamarku dan berkata “laaan, ada anita tuh nungguin diluar. Disuruh cepetan katanya masih ada perlu lagiii.” Akupun bergegas keluar dan mendapati anita sedang duduk di kursi depan rumahku. Saat aku ingin bertanya tiba tiba anita berkata “terimakasih ya lan, kamu udah ngajarin aku banyak hal. Kita gabisa temenan lagi yaa, aku mau pergi jauh soalnya hehe”. “kamu mau kemana emangnya?sampai kita harus mutusin hubungan pertemanan kita”sautku. “kamu tidak perlu tahu, aku ingin ikut ayahku” lanjutnya.
Lalu ia berlari dengan cepat, akupun mengejarnya. Tiba tiba ia terjatuh dan pingsan. Kemudian aku bergegas membawanya kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, dokterpun memeriksanya. Aku langsung menghubungi orangtuanya, dan tidak lama orangtua anita pun tiba dan bertanya kenapa ia bisa pingsan. Ketika aku sedang menjelaskan kenapa anita pingsan, tiba tiba ada seorang dokter dari tempat anita di periksa. Dokterpun memberitahu bahwa ginjalnya sudah sangat tidak berfungsi, dan dirumah sakit itu tidak ada persediaan ginjal, jika ingin anita hidup harus ada yang mendonorkan sebagian ginjalnya kepada anita. Tetapi mana ada orang sebaik itu sekarang ini.
Aku bingung, aku panik, aku ingin dia tetap hidup tapi aku tidak tau bagaimana caranya. “apakah ibu mengizinkan aku untuk mendonorkan sebagian ginjalku pada anita” gumamku. Aku bergegas pulang kerumah dan mencoba berbicara pada ibuku.
“buuu, ibuuu” aku memanggil ibuku
“iya lan, ibu didapur. Ada apaa?” sautnya
“sinidong, aku ingin bicara”
“ada apa lan, sepertinya penting sekali” ibu menghampiri ku
Kemudian aku bercerita tentang penyakit yang diderita oleh anita. Dan aku melanjutkan percakapanku dengan ibuku
“bu, jika aku mendonorkan sebagian ginjalku untuknya bagaimana?kasihan dia bu, agar dia bisa tetap hidup”
Ibuku meneteskan air mata kemudian memelukku “lan, ibu bangga sama kamu. Kamu rela menolong orang agar tidak kehilangan nyawanya. Tapii apa kamu bisa menjalani hidupmu dengan baik setelah mendonorkan sebagian ginjalmu?”
“insyaallah bu, aku akan terus berjuang dengan sisa ginjalku untuk membahagiakan ibu”
Ibuku pun tersenyum bangga padaku. Kemudian kami berdua bergegas kerumah sakit untuk menemui orang tua dan dokter yang merawat anita. Setelah sampai kami pun berbincang bincang sejenak dengan mereka.
Akhirnya aku memasuki ruang operasi untuk mengambil sebagian ginjalku, aku merinding, aku takut. Jujur itu adalah kali pertama aku memasuki ruang operasi. Sembari menuju tempat tidur, aku melirik kearah peralatan yang menakutkan, tapi aku harus tetap mendonorkan ginjalku untuk orang yang aku sayangi. Barusaja aku merebahkan diri, tubuhku sudah dibuat taksadar oleh jarum suntik berisikan obat bius.
Setelah kurang lebih 2 jam, operasi pengambilan ginjalkupun berjalan lancar. Aku masih tergeletak lemas taksadar akibat obat bius tadi. Dokter yang mengambil ginjalku tadi langsung membawa ginjalku ketempat anita akan di operasi. Aku dan yang lain pun hanya bisa berdoa untuk kelancaran operasinya. “anita harus hidup!!orang yang kucintai tidak boleh mati secepat ini!!” Gurauku dalam hati.
Akhirnya operasi selesai setelah melalui proses yang panjang, dokter keluar dari kamar tempat anita dioprasi dan memberitahu bahwa operasi berjalan dengan baik. “alhamdulillah” ucap kami semua, akhirnya anita bisa hidup tanpa harus memikirkan beban yang ia jalani, bahkan sampai sekarangpun dia tidak tahu bahwa aku yang memberikan ginjal kepadanya.
Seminggu kemudian, kami semakin akrab kembali dan kami sering jalan bersama. Kami juga tidak melupakan kuliah kami, karena kami punya cita cita yang besar yaitu membahagiakan orang tua kami. Kami selalu saling memberikan semangat jika kami hampir putus asa. Aku senang karena aku bisa menjalani hidup dengan orang yang kusuka sejak dibangku sma. Akhirnya kami bahagia dan meneruskan kuliah kami sampai mendapat gelar S1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar