Sabtu, 19 September 2015

Sultan Alif Pranatagama

Anak Desa

Pagi yang sejuk seperti biasa, embun masih membasahi dedaunan dan rerumputan. Pergi ke sekolah menjadi hal yang wajar untuk anak seumuran ku. Hanya dengan bermodalkan buku tulis , buku pembimbing dari dan sepeda kuno milik kakek ku,aku berangakat ke sekolah yang letaknya tidak jauh namun juga tidak dekat,ya sekitar 3 KM dari rumahku.Menempuh jalan yang sama seperti hari hari yang lalu kulewati, SEPI… Ya karena hanya sedikit anak yang ingin sekolah di desa ku ini.Paling hanya 3-5 orang lalu lalang untuk bersekolah, mengurus kebun dan ladangnya.
Sesampai disekolah aku lihat jam yang tertera pada dinding di pos penjaga gerbang sekolah sudah menunjukan jam 6.45 pagi.”Masih ada waktu ternyata,mungakin makan enak kali…” dalam benak ku, karena tidak sarapan pagi ini,ya maklumi saja kakek ku sudah tua dan tidak biasa memasak pada pagi hari,nenekku masih ke pasar dekat rumah dan belum pulang juga.


Sesaat setelah memarkirkan sepeda , aku langsung bergegas ke kantin dan membeli sebungakus nasi uduk lalu menyantapnya.*waktu masuk pun di bunyikan*”syukurlah habis tepat waktu…”kataku,dan aku pun bergegas ke kelas dan memulai pelajaran. Disekolah ku ini banyak diduduki oleh para anak orang-orang kaya namun tidak banyak juga anak pedesaan biasa seperti ku.Aku lebih suka bergaul dengan orang pedesaan seperti ku dibandingakan orang kaya yang lain , hanya tidak suka saja dengan sikap mereka yang membangga-banggakan harta orang tuanya dan tidak jarang pula mem bully anak biasa yang lainnya,termasuk aku.

Setelah masuk kelas,”WOY NANDREH!”teriak Arvian. “Eh,kenapa? Masih pagi dah teriak aje.” “Ke kantin dulu ya?gak ngajak ngajak dah…” “Yaelah,hampir tiap pagi gua ke kantin dulu… Noh dah ada Pak Bambang… Tadi gua masuk terus gua liat Pak Bambang baru keluar kantor.” “Eh?!Nafsu juga itu guru bakal ngajar…” “Ahahaha, namanya juga guru ya… Digaji buat mendidik….” Lalu kelas pun dimulai sejalan dengan matahari yang kian menerangi kelas lewat jendela kelas yang tak berhorden. Arvian adalah teman sebangaku,dia tinggal di desa yang jaraknya 1KM dari sekolah dan 4KM dari desa ku.Dia teman baikku sejak SMP hingga SMA kelas 3 ini.

Sejalan dengannya waktu,kulalui dengan biasa. Namun pada suatu hari di semester akhir sekolah, Arvian bertanya kepadaku,”Nan,orang tua lu kemana sih? Kok setiap gua main kerumah lu cuman ada kakek ama nenek lu sih? Orang tua lu masih ada kan?”, Mendengar pertanyaannya membuat ku terpikir sejenak tentang orang tua ku yang tidak kian kembali ke desanya,”Orang tua gua pergi merantau,cari kerja di daerah kota.”jawabku.”Lah, elu kenapa kagak ikut? Gak demen ama mereka?” “Bukan masalah itu, mereka bilang kalo gua disuruh sekolah disini aja, soalnya kalo di kota hidup itu susah kalo gak ada penghasilan yang cukup.” “Wah iya juga sih, tapi…Orang tua lu gak balik kesini lg apa?” “Nah,itu juga yang gua heranin sampe sekarang,mereka cuman ngirim duit, beruntung kalo mereka juga ngirimin surat kabar tentang mereka.” “Oooohhh…..Terus tar abis SMA lu mau kemana?” “Menyusul mereka di kota!”dengan penuh tekad ku mengucapkannya.”Tapi di kota kan keras ya,jalan hidup,pergaulan dan lain-lain….Disini aja orang-orang kaya aja dah sering nge bully anak-anak yang laen,apalagi di kota? Makin menjadi pastinya.” “Santai aja,tuhan akan ngasih respon positif kalo kita berbuat yang positif kok,gak perlu takut juga.” “Emang anak alim lu Nan….” “Dih,malah kok kesannya diledek yeee…” “Ahahaha….sudahlah semoga entar lu dapet nilai memuaskan dah pas Ujian Akhir entar.” “Elu juga lah,masa gua doang…”

Saat Ujian Akhir pun tiba,dan terlewatkan hanya dengan menjawab soal yang diberikan selama 5 hari. Setelah ujian terakhir selesai aku pun kembali kerumah,mengganti baju dan membersihkan kebun kecil dibelakang rumah.Sesaat ku membersihkannya, aku terdiam dan terpaku melihat angakasa,”Akankah ku bisa menyusul orang tua ku di kota sana?”itulah hal-hal yang terbayang sampai hari pembagian nilai tiba.

“Gimana nilai lu?”Tanya orang yang tiba tiba menepuk pundak ku dari belakang,Arvian. “Biasa aja… gak sih?”jawabku. “Buih,45.00 gila!!! Apanya yang gak biasa?” “Ya,coba liat orang orang itu,banyak nilai yang diatas gua,dan gak dikit pula yg setara sama gua…” “Broooh….Mereka anak orang kaya semua, Ya pasti nyogok  semua lah…Dah yang penting lu susul orang tua lu di kota sana sambil ambil kuliah, biar lu jadi apakek yang berguna, ahahhaha” “Ah eluh,lah elu gak kuliah entar?” “Enggak gua mending bantu orang tua gua disini ngurusin kebun.” “Ya sudah kalau itu memang keinginan lu.”

Namun,keinginan ku ini terbatalkan hanya dengan sebuah surat yang di antarkan oleh 2 orang berpakaian rapih dan membawa dokumen dokumen yang tebal. Isi surat tersebut yaitu bahwa orang tua ku sudah tiada karena ada musibah tawuran di kota,dan orang tuaku menjadi korban salah bunuh. Aku,dan kakek,nenekku pun kaget mendengarnya,hingga nenekku tiba-tiba syok dan menghebuskan nafasnya didepan mataku sendiri.

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku hanya duduk mematung sambil memegangi tubuh nenekku yang sudah lemas tak bernyawa,hingga akhirnya ia pun dimakamkan bersamaan dengan jenazah  orang tuaku.Tetangga dan Sahabatku Arvian turut hadir dalam pemakaman mereka. Bahkan,Arvian pun mencoba mecoba menghiburku seusai pemakaman,namun hatiku sudah membatu,tubuhku sudah melemas,dan pikiran ku sudah hampa akibat apa yang terjadi ini.

Satu minggu pun berlalu,Pagi masih seperti biasa seperti saat sekolah dan mereka masih ada.Namun,Aku sadar bahwa hari ini tidaklah seperti hari-hari saat itu.Namun,ada yang berbeda hari ini yaitu sahabatku datang kerumahku dengan mengendarai sepeda yang sejenis dengan sepeda kakekku. “Mau ngapain?” tanyaku “Ya mau ketemu elu sama kakek lu lah….apalagi?lah kakek lu mana?” “Dah berangakat ke kebun.” “Lah elu gak kesana? Kasian tau…..Ayoklah kesana?” Sambil menarik tangan ku dan memboncengiku ke kebun kakekku.Sesampainya , Arvian berkata “ Noh kakek lu,turun…” “Emang kita kesini mau ngapain?” “Ya bantu kakek lu lah,mau ngapain lagi? Kakek lu udah tua sedangkan lu masih muda.Inget kalo kita berbuat positif,tuhan bakal kasih respon positif juga.”

Saat terik matahari masih ada diatas kepala,Aku,Arvian dan Kakekku membenahi kebun yang sudah 1 minggu ditinggal akibat kejadian waktu itu. Sesaat angin sejuk berhembus dikala terik matahari yang panas ini, Teringat saat-saat aku sedang membersihkan kebun belakang rumah,”Akan kah aku menyusul orang tua ku di kota sana.”itulah yang tiba-tiba terlintas dipikiranku. Lalu aku pun berteriak “GUA HARUS KE KOTA!” kakekku dan arvian pun kaget mendengarkannya.”Kenapa lu?” “Kenapa kamu nak?” Tanya Arvian dan Kakekku.”Aku harus ke kota!cari kuliah,jadi insinyur atau apalah lalu kembali ke desa ini,dan membenahi kebun kita ini!” “Akhirnya muncul juga semangat lu itu Nan!” ujar Arvian dengan muka senang.”Mau kuliah? Baiklah nanti kita pakai saja uang harta warisan orang tuamu.” “Loh nanti kakek tidak ada uang…” “Masalah uang gak masalah buat kakek,asal bisa tanem padi,kakek bisa makan.” “Dan juga ada gua kok nan,gua bakal kerumah kakek lu bantu-bantu tiap hari buat ngurusin kebun.”Arvian melanjutkan ucapan kakekku .

Hari-hari setelah hari itu menjadi sangat tenang dan tentram,hari itu adalah H-1 bulan untuk seleksi perguruan tinggi di kota.Sambil membantu kakek berkebun bersama Arvian juga, ku belajar disela-sela waktu istirahat tentang ilmu pertanian.Satu bulan pun berlalu,saat seleksi pun tiba, aku disuruh menunggu untuk keputusan pihak Perguruan Tinggi selama 1 minggu.Dan disaat 1 minggu setelah itu, Aku dan sahabatku datang untuk melihat apakah aku masuk atau tidak dengan menaiki kereta.*Nandi Arun S. DITERIMA* itulah salah satu nama yang terpapar di papan penerimaan perguruan tinggi tersebut . Dengan perasaan senang,Aku dan Arvian beranjak mencari kost-kost an dekat perguruan tinggi tersebut.Setelah aku mendapatkan kost-kostan kami pun segera kembali ke desa untuk memberitakannya kepada kakekku.Betapa senangnya wajah kakekku mendengarnya.

Beberapa minggu pun berlalu,dan jadwal untuk masuk kuliah sudah di tetapkan.Malam sebelum proses Ospek kuliah sudah memaksaku untuk bersiap-siap.Suara burung hantu yang berjaga malam itu adalah suara perpisahan darinya untuk ku karena aku harus berangakat ke kota untuk menimba ilmu lebih lanjut.Berpamitan dengan kakekku dan sahabatku sampai harus meneteskan air mata.Aku berangakat dengan mata yang masih berkaca-kaca tak kuasa untuk meninggalkan desa namun itu harus.

Setiap bulan dan saat libur aku kembali kedesa dan melihat keadaan desa,terkadang aku datang malam terkadang pula aku datang pagi.Semua masih sama seperti apa yang kurasakan di hari hari itu,Burung Hantu atau pun pagi yang tenang.Keadaan di kebun ku menjadi lebih baik bulan demi bulan.Karena ada sahabatku yang membantu kakekku dan aku yang datang setiap bulan dengan membawa ilmu yang bermanfaat bagi kebun kakekku ini.

Kian tahun terlewati tanpa terasa,hari ini adalah hari wisuda ku.Aku pun mendapatkan tawaran kerja yang begitu menggiurkan,namun yang aku ambil hanyalah kerja yang gajinya tidak seberapa namun bisa berkerja dirumah.Sehingga aku dapat sambil membantu kakekku di desaku itu.Saat aku kembali ke desa,dan sesampainya dirumah aku melihat kakekku yang sedang duduk di teras rumah.Lalu aku mengabarinya tentang wisuda ku ini dan tentang pekerjaanku yang sekarang aku dapatkan ini.Hanya yang ku herani,”Kemana si Arvian?Kakek ada disini kok dia gak ada?” dalam pikirku.Lalu kakekku berkata “Pasti nyari Arvian iya kan? Dia ada di kebun,akhir akhir ini dia kesana sendirian,kakek tidak tahu kenapa ia seperti itu,namun kelihatannya ia sangat menantikanmu untuk datang ke kebun dengan suasana yang berbeda.” . Lalu aku pun bergegas menuju kebun dengan sepeda kakekku,sesampainya dikebun,benar apa ucap kakekku, sekarang jauh berbeda.Aku pun melihat kebun dengan tanaman nan subur,buah jagung,padi yang menguning menjadi seperti hayalan saja.Dan aku pun melihat sosok pria yang sedang istirahat di sebuah gubuk diantara tanaman padi-padian.Dengan spontan,aku pun berteriak “ARVIAN!” lalu bergegas menghampirinya dan menceritakan tentang apa yang terjadi kepada diriku ini. Kami pun tak tahan untuk meneteskan air mata kebahagiaan.”Vian,sekarang kita bisa buat usaha dengan ini.Gua bakal buat usaha penjualan hasil perkebunan yang sudah diolah!” “Bagaimana cara?Oh iya kan lu sudah menjadi Ahli tentang ini kan?eheheheh.” “Ahahaha,bisa saja.Dan juga lu akan sebagai pendamping usahaku ini.” “Kok?! Gua kan gak bisa apa-apa,cuman ngurusin kebun sih bisa.” “Elu gak sendiri bro,gua disini senantiasa membagi ilmu apa yang sudah gua pelajari di sana.Kan lu sahabat gua juga!”


Dibawah gubuk,saat panas matahari sedang menyerang daratan dibawahnya menjadi tak terasa disaat perbincangan hangat antara Aku dan Arvian,menjadi sebuah kenangan yang akan tersimpan di suatu saat nanti dimana kita berdua akan menjadi usahawan yang sukses dan dapat membanggakan orang tua dan orang sekeliling kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar