Sabtu, 19 September 2015

Zuhriana Ilmi Hasanah

Dibalik Cahaya


Malam yang begitu pekat. Hanya terlihat rembulan yang menghias cakrawala. Cahayanya yang kemilau mengisyaratkan rintihan yang begitu pedih akibat tak ada bintang yang biasanya selalu di sisi. Suara jangkrik bergeming. Rerumputan menari – nari bak gelombang karena terpaan angin malam. Asap yang mengepul menusuk rongga hidungku. Aroma teh mengundang hasrat yang tak tersampaikan. Ku tolehkan kepalaku menyambut seorang paruh baya yang membawa secangkir teh ditemani biskuit kelapa favoritku.
“Junilla, jangan lupa teh dan biskuitmu. Dan persiapkan dirimu untuk kompetisi esok” ucap ibu sembari meletakkan secangkir teh dan biskuit kelapa di hadapanku. Aku hanya membalas ibu dengan senyum hangat sebagai simbol terima kasihku padanya. Ibu pun masuk ke dalam rumah.

Ku petik senar demi senar gitar kesayanganku. Melodi yang bersenandung, menarik imajinasiku pada kisah Romeo dan Juliet. Alunan nada yang begitu lembut mengungkapkan gejolak perasaanku. Terbayang Romeo dan Juliet yang saling mencintai namun harus dipisahkan oleh takdir yang kelam. Perasaan sedalam lautan menyelimuti mereka. Kisah perjuangan cinta mereka begitu populer membelah angkasa. Tak terasa air mataku mengalir bagaikan hujan di tengah kemarau. Kepedihan yang begitu kuat menghancurkan perasaanku. Kisah Romeo dan Juliet begitu melekat denganku. Aku pun tak mengerti. Namun itulah kenyataannya.

Esok hari, aku akan mengikuti kompetisi bakat di kampus. Ini adalah kompetisi pertama yang akan ku hadapi. Aku akan memainkan gitar sambil melantukan lagu. Aku akan memainkan lagu lawas. Menurutku, lagu lawas mengandung seribu satu makna yang tak terungkap. Liriknya begitu dalam dan jauh lebih menyentuh dibandingkan lagu modern era ini.

Aku akan menampilkan lagu dari Westlife yang berjudul My Love. Lagu itu adalah lagu yang sangat disukai ayah. Dahulu, ibu pernah bercerita padaku bahwa ayah menyanyikan lagu itu untuknya pada hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Dan sejak saat itu, aku sering memutar lagu yang dilantunkan oleh Westlife yang berhasil membuatku jatuh cinta pada mereka.

Aku pun mulai menikmati secangkir teh dan biskuit kelapa pemberian ibu. Pandanganku terfokus pada satu titik di luar sana tanpa arah. Pandanganku kosong. Namun dibalik itu tersirat pikiran yang menggangguku. Pertanyaan yang berputar di kepalaku membuatku muak. Dan seakan berbisik, Apa aku bisa menangkan kompetisi ini? Benakku terganggu untuk menunggu jawabannya esok. Aku memutuskan untuk tidur, melupakan sejenak pikiran sampah yang mengganggu otakku.

********

Sang surya telah menampakkan kilaunya dari ufuk timur. Aku sudah terbangun sejak tadi. Tak terasa akhirnya hari pelaksanaan kompetisi ini tiba. Melihat ibu yang masih tertidur lelap, aku tak bisa berkutik. Melihat wajah lelahnya yang semakin menua, membuatku semakin prihatin. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kampus tanpa pamit kepada ibu. Aku mengirimkan memo kecil di pintu lemari es.

Ku kayuhkan sepedaku menuju kampus. Perlahan namun pasti, berharap tak ada gangguan di jalan. Akses jalan menuju kampus begitu sepi, mungkin disebabkan karena aku berangkat terlalu pagi. Aku segera memarkirkan sepeda ku dan menuju studio teater yang merupakan tempat pelaksaanan kompetisi.

Belum terlihat siapapun. Ini adalah kali pertamaku menuju studio teater kampus. Aku pun mencoba berkeliling sekitar studio, untuk mengenal lebih dalam lagi. Objek – objek kuno tersusun rapi. Kostum dan aksesoris pemain teater tergantung di lemari transparan yang dapat dilihat siapapun.

“Wow….” Celetuk ku melihat semua objek yang berada di studio teater ini.
“Namamu siapa? Mengapa aku asing dengan wajahmu?” terdengar suara seseorang tepat dari arah belakangku.

Aku pun sontak membalikkan tubuhku ke arah sumber suara. Aku membalas tersenyum ramah dan membungkukkan badanku sembari berkata “Namaku Junilla, ini memang menjadi tahun pertamaku di kampus. Aku jurusan Sastra Korea. Bagaimana dengan kau?” balasku akrab.

“Namaku Sofwan, aku dari jurusan Teknik sipil. Oh ya, sedang apa kau disini?” Tanya Sofwan ramah.
“Aku kebetulan peserta lomba, hehe. Bagaimana denganmu?” balasku hangat.
“Aku juga peserta haha, berarti kita saingan ya… apa yang ingin kau tampilkan?” seru Sofwan.
“Aku ingin menyanyi sambil bermain gitar, bagaimana denganmu?” jelasku.
“Kau dapat melihatnya nanti. Oh ya, kalau kau ingin bermain dengan gitar… lalu, dimana gitarmu?” ucap Sofwan.

Tiba – tiba tubuhku membeku. Ku perhatikan sekitar tubuhku. Sekujur tubuhku mendadak mengeluarkan keringat. Tidak ada apa pun. Ya Tuhan… aku lupa membawa gitarnya. Tubuhku dengan otomatis membawaku berlari menuju tempat parkir sepeda, yang mengartikan bahwa aku harus segera kembali ke rumah mengambil gitarku.

Bodoh. Konyol. Bagaimana bisa aku melupakan gitarku? Tanpa gitar, peluangku sangat kecil untuk memenangkan kompetisi ini. Ku kayuhkan sepedaku semakin cepat. Tak terasa, sampailah aku di perempatan jalan besar. Sepertinya Tuhan tidak merestuiku untuk mengikuti kompetisi ini. Kendaraan memadat. Asap mengepul berkeliaran mengusik hidung. Tidak ada sedikit pun jalur yang dapat aku lalui. Menepi pun tak bisa. Perasaanku terombang ambing di ambang kehancuran. Batinku kacau. Aku tak bisa keluar dari zona ini. Aku pun memutuskan untuk kembali ke studio teater dengan perasaan kecewa. Sepanjang perjalanan, air mataku terus mengalir.

Sesampainya disana, aku melihat Sofwan sudah berada di atas panggung ingin menampilkan performanya. Ia pun mulai menampilkan performanya. Luar biasa. Aku benar – benar takjub dengan performanya. Aku tak bisa berhenti menganga. Sofwan berhasil menyihir semua penonton dan peserta lain seruangan itu. Ia menampilkan sistem astronomi di galaksi. Ia menggunakan spektrum cahaya untuk memberi kesan hidup di mata para penonton. Planet dan objek angkasa lainnya seakan – akan berjalan tepat di depan mata penonton. Seisi ruangan benar – benar tersihir dengan karya yang menakjubkan itu. Performa pun selesai, semua penonton bertepuk tangan meriah bahkan ada yang sampai berdiri dan berteriak sebagai tanda apresiasi mereka terhadap penampilan Sofwan. Tiba – tiba, aku teringat dengan rencana performa yang akan ku tampilkan di atas panggung. Tuhan menunjukkan ku jalan yang tepat, jika saja aku tetap ikut dalam kompetisi ini.. aku pasti akan tetap kalah, dibandingkan pesaing lain yang lebih unggul.

Kecewa. Itulah yang ada di benakku saat ini. Tak tahu apa yang harus ku lakukan, dan ku sampaikan kepada ibu. Dibalik keinginanku untuk menampilkan bakatku, aku juga ingin memenangkan kompetisi ini. Karena, hadiah yang ditawarkan tak sedikit.

Aku pun merebahkan tubuhku ke lantai. Perasaanku campur aduk. Aku sendiri tak bisa mendeskripsikan perasaaanku saat ini.  

“Padahal tadi aku ingin menawarimu gitar. Kita bisa meminjamnya di studio musik yang tak jauh dari studio teater ini. Kau sudah terlalu panik sampai menghiraukan tawaranku. Kau terlalu fokus untuk mengambil gitarmu di rumah” seru Sofwan yang tiba – tiba sudah di sisiku.

Aku pun terkejut mendengar pernyataan Sofwan. Mengapa aku bodoh sekali? Ya Tuhan… apa masih ada kesempatan untukku?
“Penampilanmu begitu menakjubkan tadi. Apa masih ada peluang bagiku untuk tampil dan menang?” balasku lemas.
“Terima kasih atas pujiannya. Tentu, peluang itu selalu ada. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya” jawab Sofwan dengan senyum tulus.
“Tak ada kesempatan. Tadi ku lihat nomor urutmu nomor 9. Sedangkan aku nomor urut 5. Di peraturan, apabila peserta tidak hadir pada sata gilirannya, akan panitia diskualifikasi dan dilanjutkan dengan peserta berikutnya” jawabku murung.

Tiba – tiba Sofwan terdiam. Tampaknya ia sedang berfikir. Aku tak tahu apa yang harus ku katakan. Dilema yang begitu kuat menyelimutiku saat ini. Aku tak siap untuk pulang ke rumah, dan melihat wajah ibu. Batinku kembali kacau. Kepalaku sakit, dan dadaku sesak. Aku sudah bertekad untuk memenangkan kompetisi ini, namun semuanya gagal.

“Junilla! Aku baru ingat, hari ini juga ada kompetisi menyanyi di jurusan Seni Musik. Deadline pendaftaran mahasiswa/i internal hari ini pukul 17.30. Kau bisa ikut kompetisi itu. Hadiahnya juga tak kalah menarik” seru Sofwan bersemangat.

“Sungguh? Kompetisinya dilaksanakan pada jam berapa dan dimana?” ucapku antusias.
“Dilaksanakan di aula utama pukul 19.30 nanti. Masih ada kesempatan untukmu” seru Sofwan bersemangat.
“Baik, aku akan memanfaatkan kesempatan emas ini. Aku akan daftar sekarang” seruku bersemangat.
“Bagaimana kalau aku yang mendaftarkanmu? Aku yakin untuk jam sekarang, akan sangat ramai pendafataran mahasiswa/i internal. Ini sangat mepet dengan deadline. Sembari aku mendaftarkanmu, kau bisa latihan di studio musik” saran Sofwan.
“Ide yang bagus. Aku akan ke studio musik sekarang. Terima kasih atas bantuanmu. Aku tunggu kau di studio musik” balasku dengan senyuman.
Sofwan hanya menganggukkan kepala pertanda mengerti. Ia segera berlari menuju aula. Dan aku pun menuju studio musik. Aku berlari sekuat tenaga agar tak buang – buang waktu. Di saat yang seperti ini, waktu lah yang harus paling dimanfaatkan dengan baik.

Sesampainya di studio musik, aku segera menuju ke dalam. Saat aku berusaha membuka, ternyata pintu studio musik dikunci. Aku tak mengerti alasan dibalik terkuncinya studio musik ini. Biasanya ruangan ini selalu terbuka dan menerima siapa saja masuk. Aku berusaha tenang dan mencari solusi. Aku mencoba mengetuk pintu, namun tampaknya tiada satu orang pun di dalam. Aku juga berusaha mendobrak, namun pintu studio terlalu kuat sehingga hanya membuat lenganku sakit. Aku diam sejenak untuk memikirkan solusi terbaik.

Akhirnya, aku memutuskan untuk masuk melalui jendela studio. Letaknya begitu tinggi sehingga sulit untuk ku gapai. Aku pun mencari sesuatu yang dapat ku pijak dan mencari suatu benda yang dapat membantuku untuk membuka jendela tersebut. Aku segera  berlari menuju pusat logistik kampus, untuk meminjam peralatan – peralatan yang dapat membantuku. Pusat logistik kampus cukup jauh. Aku harus berlari sekuat tenaga dan mempercepat lajuku.  Keringat yang mengguyur tubuhku tak menjadi alasan untukku untuk berhenti. Wajah ibu yang menari – nari di imajinasiku, menjadi motivasi kuat untukku. Aku tak akan menyerah.

Sesampainya di pusat logistik, aku segera meminjam tangga dan obeng min dengan ukuran jumbo. Aku pun kembali ke studio dengan mengemban tangga dan obeng min sendiri. Tak peduli apa yang orang akan pikirkan atas perbuatanku, namun alasan dibalik itu lah yang perlu diperjuangkan. Dari kejauhan, terlihat Sofwan sudah menunggu di depan studio musik. Melihatku yang sulit membawa barang, otomatis Sofwan menghampiriku dan langsung mengangkat barang yang kubawa.

“Untuk apa kau membawa ini semua? Oh ya, studio musik dikunci. Ku pikir kau latihan, dan menguncinya dari dalam” seru Sofwan sembari membawa barang tersebut ke depan studio.
“Studio ini dikunci. Itulah alasannya aku membutuhkan barang ini untuk dapat masuk.” Jelasku yang tergopoh – gopoh.

Ia hanya menolehkan kepalanya pertanda terkejut namun mengerti dengan situasi. Mengerti maksudku, ia segera menggunakan tangga dan obeng sebagai media untuk membuka jendela studio. Aku hanya memperhatikan dari bawah, dan menunggunya yang sedang berusaha membuka jendela.

Jendela pun berhasil terbuka. Sofwan segera turun tangga. Ia menunggu di luar. Giliranku untuk naik tangga, dan masuk ke dalam. Aku segera menyalakan lampu dan mencari gitar yang akan ku gunakan.

Aku mencoba memetik senar demi senar gitar. Beruntungnya, gitar yang ku gunakan nyaman digunakan. Dengan berkucuran keringat, aku tetap latihan dan menikmati suaraku sendiri. Terbesit di pikiranku, aku akan kalah. Namun, wajah ibu kembali menyemangatiku. 

Sudah kurang lebih satu jam aku latihan. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00. Aku pun menyiapkan diri. Dan segera keluar studio.

“Sudah selesai latihannya? Mari, aku bantu bawa gitarnya” seru Sofwan yang sudah berada di bawah.
“Sofwan? Kau masih disini? Ya Tuhan… aku lupa kalau ada kau disini. Aku langsung terfokus dengan latihanku” ucapku sambil menuruni tangga.
“Tak apa. Mari, aku bantu.” Ucapnya sambil menyodorkan tangannya untuk membantuku turun.
“Sekali lagi, terima kasih banyak. Maaf banyak merepotkanmu, padahal kita baru saja kenal.” Ucapku dengan rasa terima kasih.
“Aku ikhlash melakukannya. Oh ya, sebaiknya.. kau bersihkan dirimu. Masih ada waktu dua puluh lima menit lagi untuk mulai. Aku akan mengembalikan barang yang kau pinjam ini. Dan nanti aku akan beli makan” ucapnya ramah.

Aku hanya mengangguk kan kepala. Kemudian, aku segera menuju toilet. Kebetulan di dekat toilet, terdapat toko khusus wanita. Toko itu menyediakan pakaian, dan keperluan wanita lainnya. Aku memutuskan untuk membeli pakaian baru dan perlengkapan mandi. Tubuhku benar – benar diselimuti keringat dan penampilanku sungguh berantakan. Untuk kompetisi ini, aku tak hanya menampilkan bakatku, aku juga perlu berpenampilan sederhana namun menarik.

Usai membeli keperluan, aku segera membersihkan diri. Aku menggunakan dress merah mudah, dengan pita yang mengikat pingganggku. Rambutku ku ikat dengan pita ber polkadot. Dan tak lupa aku menghias diriku dengan natural make up.

Aku pun keluar dari toilet, dan jam sudah menunjukan pukul 19.23. tersisa 7 menit lagi untuk kompetisi dimulai. Ku lihat Sofwan sudah menunggu di Masjid yang bersebrangan dengan  toilet wanita.

“Hmm… cantik” puji Sofwan padaku.
Aku pun tersipu malu, namun aku berusaha untuk mengalihkan topik.
“Oh ya, berapa harga pendaftarannya? Dan aku urutan ke berapa?” tanyaku.
“Tak perlu diganti, anggap saja pendaftarannya gratis. Karena aku dekat dengan panitianya, kau mendapat urutan nomor tiga. Akan lebih baik jika lebih cepat. Oh ya, aku sudah beli makan. Aku hanya membeli nasi goreng seafood, dan es teh manis. Sebelumnya maaf, kalau mungkin kau tak suka atau mungkin harga makanannya tak sesuai dengan makanan sehari – harimu.” Jelas Sofwan.

“Heeey, kau bicara apa. Justru aku berterima kasih karena kau telah banyak membantuku. Lagipula, aku juga suka nasi goreng kok. Orang Indonesia mana yang tak suka nasi goreng? Haha…” seruku sembari tertawa.
“Ku pikir, makanan mu itu seperti steak, atau makanan kelas atas lainnya. Kau mengerti lah keuangan mahasiswa. Haha… sudahlah, ayo kita makan.” Ucapnya.

Aku hanya mengganggukkan kepala. Kami menuju café dekat aula. Café tersebut menerima mahasiswa/i internal untuk membawa makanan luar. Dan pemilik café itu juga sudah dekat denganku. Oleh karena itu, aku merasa lebih nyaman.

Kami pun menyantap makanan kami. Dengan lahap dan efek lapar yang menggila, kami tak berkutik dan hanya fokus makan. Kami menertawai satu sama lain, karena tak ada satupun diantara kami yang menyanggah kalau kami lapar.

Usai makan, kami segera menuju aula dan aku segera mempersiapkan diri. Tepat saat aku datang, peserta nomor dua menyelesaikan performanya. Aku pun segera menuju panggung dan perform di depan peserta lain dan penonton. Ku lihat Sofwan memperhatikanku dari kejauhan dan menyemangatiku. Aku pun mulai tampil dengan sepenuh hati dan setulus jiwa. Ku sampaikan lirik dengan penegasan perasaan. Aku harap semua orang bisa mendalami lirik dan memaknai artinya.

Setelah perform, semua orang di aula berdiri dan memberiku tepuk tangan yang meriah. Air mataku kembali mengalir, karena usahaku tak sia – sia. Saat ini, yang hanya ada di pikiranku adalah bukan menang atau kalah. Yang penting, aku dapat menampilkan penampilan terbaik dengan usaha kerasku.

Aku pun segera turun dari panggung, dan Sofwan sudah menyambutku dengan wajah ceria di bawah. Tanpanya, mungkin saat ini aku sudah membuat ibu kecewa dan tak mengerti arti dibalik usaha keras. Dan meskipun kami baru kenal, ia mau menolongku setulus hati dan merelakan waktunya terbuang untukku. Aku benar – benar bersyukur karena telah bertemu dengannya.

“Aku tak tahu nantinya menang atau kalah, tapi terima kasih atas semuanya. Aku sungguh berterima kasih. Entah kata apa yang dapat mengungkapkan bentuk terima kasihku, namun aku sungguh – sungguh berterima kasih” seruku puas.
“Ya sama – sama. Ayahku mengajarkanku untuk saling menolong. Jadi, aku harus menerapkan ajaran ayahku.” Cetusnya.

Aku membalasnya dengan senyum. Kini, aku hanya dapat berdoa untuk menang. Kalau pun tidak, yang terpenting adalah aku sudah berusaha keras untuk kompetisi dadakan ini.

Dua jam berlalu. Tibalah saatnya, pemenang akan diumumkan. Jantungku berdegup kencang saat moment- moment seperti ini. Sofwan terus menyemangatiku dan mengingatkanku untuk tetap optimis.

“Pemenang kompetisi menyanyi mahasiswa/i tingkat provinsi diraih oleh…. JUNILLA AJENG dengan nomor urut 03” ucap pembawa acara.

Air mataku kembali mengalir, tanpa sadar aku memeluk Sofwan dan segera naik ke atas panggung. Sang juri memberiku buket bunga, sertifikat, dan sejumlah uang sebagai hadiah. Aku benar – benar percaya keajaiban. Dan untuk mencapai keajaiban, butuh usaha keras. Sofwan memberiku senyuman tulus dan tampak bangga melihatku dapat menerima hadiah ini. Aku yakin, ibu akan sangat senang menyambut kemenanganku nanti.

“Selamat Junilla. Kau memang berhak mendapatkannya. Usahamu tak sia – sia” seru Sofwan bangga.
“Terima kasih Sofwan. Ini berkatmu juga” balasku hangat.
“Sebelumnya, kau bilang kau ingin sekali menang. Dan sekarang kau telah menang. Kalau boleh tau, apa alasan kuat yang membuatmu ingin memenangkan kompetisi?” Tanya Sofwan.

“Itu niatku pada kompetisi pertama, namun karena gagal.. aku rasa, penampilan terbaik pada kompetisi dadakan ini saja sudah cukup. Beruntungnya, Tuhan tahu usaha kerasku dan memberiku kemenangan ini. Alasan kuat yang membuatku ingin sekali menang adalah hadiah sejumlah uang yang ditawarkan. Uang dari hasil kemenangan ini, ingin aku gunakan untuk membantu biaya rumah sakit ayah. Sudah kurang lebih tiga bulan, ayahku terbaring di rumah sakit. Efek keuangan yang tak lancar, sistem pengobatan ayah terhambat. Oleh karena itu, aku ingin ayah cepat sembuh. Kasihan ibu, ibu kesepian dan harus mengurusku seorang diri. Aku tidak ingin merepotkannya, dan aku juga ingin keluargaku kembali lengkap. Jadi, itulah alasan utama dibalik semua ini” jelasku.

Menanggapi itu, Sofwan tersenyum tulus padaku dan hanya menggeleng – gelengkan kepala.


“Sekarang, kau sadar kan.. sebenarnya setiap orang memiliki peluang asal ada usaha keras?” seru Sofwan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar