Jadi, Ini Namanya Kehidupan di Ibukota?
Luka masa lalu itu mungkin masih membekas bagi Riyadi. “Bagaimana mungkin sebuah luka tidak meninggalkan bekas walaupun sudah pulih ?”. Riyadi kini harus mempersiapkan segala sesuatunya dari nol kembali. Dalam pikiran Riyadi, mungkin terlintas sesekali rasa takut akan kejadian masa lalu tersebut akan terulang kedua kalinya disini. Akhir bulan April 3 tahun lalu Riyadi dan teman-teman hanya bisa termangu melihat si jago merah melahap kios-kios milik mereka.
Kebakaran yang terjadi di Pasar Senen tersebut telah menyulap kios-kios menjadi debu yang rata dengan tanah. Setelah kejadian tersebut, Riyadi kembali ke rusun dan melaporkan pada istrinya “Najla”akan hal tersebut. Najla hanya dapat memberikan support pada Riyadi, namun tetap Najla meminta usaha Riyadi untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup apalagi di Kota Metropolitan nan era modernisasi ini.
Sempat terlintas dalam pikiran Riyadi untuk mengganti pekerjaannya sebagai pedagang buku bekas di Pasar Senen dengan pekerjaan halal lainnya, hitung-hitung untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara dan modal untuk membeli buku bekas dari penadah selagi menunggu perbaikan yang dilakukan Pemkot. Sebelum perbaikan tersebut telah finishing Riyadi berniat memulai kembali pekerjaan yang paling mudah namun cukup menjanjikan minimal untuk memenuhi kehidupan mereka berdua. Walaupun seperti itu, untungnya Riyadi dan Najla masih memiliki uang sisa tabungan untuk kebutuhan hidup sebulan atau dua bulan kedepan.
Namun, takdir mungkin berkata lain. Mencoba melamar beberapa pekerjaan dengan bermodalkan ijazah SMA cukup mudah untuk Riyadi ditolak. Riyadi dan Najla adalah anak rantau dari kampung lulusan SMA yang mencoba peruntungan di ibukota ini. Mendengar banyak penolakan yang Riyadi dapati saat ini, membuat Riyadi tidak merasa putus semangat dan tetap melakukan lamaran pekerjaan. Sudah 20 perusahaan yang ia hampiri namun hasilnya tetap sama, sama sama gagal.
Dari 20 perusahaan tersebut yang Riyadi datangi, satpam yang berjaga di depan perusahaan sudah menolak terlebih dahulu Riyadi sebelum bertemu dengan manajer perusahaannya. Mungkin ini jelas terjadi apalagi ketika Riyadi berkata ingin menduduki jabatan pegawai di perusahaan tersebut terhadap setiap satpam yang berjaga disana.
Mungkin bagi satpam yang mendengar hal itu merupakan sebuah lelucon, bahkan pernah salah satu satpam dari perusahaan yang terakhir RIyadi kunjungi tersebut berkata “Pak, mana mungkin diterima pegawai dengan ijazah SMA, mana ada gunanya ? saya saja ijazah SMA jadi satpam, kalau bapak bisa jadi pegawai seharusnya dari dulu saya tidak memakai baju satpam ini”. Hal itu memang sedikit menjadi batu cambukan bagi RIyadi. Namun semangatnya tak pernah berhenti sampai disitu.
Riyadi juga sempat bertanya pada satpam tersebut dengan maksud adanya sebuah harapan “Kalau gitu ada lowongan apa aja pak?”. Dengan tertawa kecil satpam tersebut menjawab “Bapak tau sekarang banyak pengangguran wara-wiri ? Kalau masih ada lowongan mungkin penggangguran di kota ini berkurang setidaknya 1%. Saya saja sudah bekerja selama 15 tahun disini demi menghidupi keluarga saya, kalau saya keluar dari pekerjaan ini. Mungkin saya dan keluarga gelandangan jalanan. Sulit pak disini, saran saya kalau bapak anak rantau, lebih baik kembali lagi ke kampung jadi petani, mudahkan ?” Mendengar jawaban satpam Riyadi terdiam dan langsung meninggalkan satpam tersebut.
Empat tahun yang lalu, Riyadi dan Najla menginjakkan kakinya ke ibukota Jakarta. Keadaan ibukota sempat membuat mereka berdua agak takjub dengan konstruksi bangunan-bangunan yang besar begitu juga dengan gedung pencakar langit yang ada serta aktivitas yang berlangsung.Selang beberapa hari Riyadi dan Najla di ibukota, membuat Riyadi dan Najla sadar kehidupan mereka di kota sekarang tak semudah di desa dulu.
Riyadi dan Najla tersadar segala sesuatunya serba mahal dan membutuhkan uang di Jakarta. Dari kejadian tersebut, sejak saat itu juga Riyadi memulai usahanya di Pasar senen. Awalnya Riyadi berjualan, ketika ia datang ke Pasar Senen dan bertanya-tanya kepada beberapa pedagang mengenai keuntungan berjualan di Pasar Senen.
Mendengar hal yang dikatakan seorang pedagang tersebut mengenai kesempatan kerja di Pasar Senen ini cukup menggiurkan, hal tersebut membuat Riyadi tertarik menyewa sebuah kios untuk jualan dan mencari rusun untuk tinggal sekitar pasar, serta memulai bisnis buku bekas di Pasar Senen menggunakan uang sisa dari kampung dengan membelinya dari para penadah.
Riyadi cukup beruntung menyadari akan pentingnya mencari pekerjaan sebelum uang yang mereka bawa habis. Namun, berbeda halnya dengan anak rantau lainnya yang kini menjadi pemulung, gelandangan atau pejuang di jalanan lainnya karena sudah terlena duluan dengan kehidupan Jakarta yang memang nikmat hanya untuk sesaat, berbeda halnya dengan mereka yang berjas dan membawa Toyota setiap harinya.
Tuhan ternyata masih sayang dengan Riyadi dibalik setiap usahanya ada timbal balik yang ia dapatkan, 2 hari kemudian setelah penolakan lamaran pekerjaan yang ia alami. Salah satu tetangganya datang menghampirinya dan menawarkan pekerjaan sebagai supir angkutan kota, karena tetangganya tersebut baru membeli angkutan baru dan belum memiliki supir untuk membawa mobil tersebut. Mendengar hal tersebut RIyadi mengiyakannya, untungnya di kampung dahulu Riyadi sempat belajar membawa mobil pick up milik tetangga di kampungnya.
Hari lepas hari telah Riyadi jalani dengan menjadi supir angkutan kota jurusan Senen. Banyak hal yang telah RIyadi alami dan dapat diambil pelajaran. Ketika ia harus membayar upeti kepada para preman, ditilang polisi, para penumpang yang tidak membayar ongkos bahkan ada penumpang yang marah padanya katanya sih Riyadi bawa mobilnya bagai supir tembak dan pergi tanpa memberikan uang ongkos, dimarahi oleh majikannya meskipun merupakan tetangganya karena setoran Riyadi tak sesuai target, dan lainnya.
Memang Riyadi terkenal dengan ketekunan dan kesabarannya, pernah saat itu di trayek teman-teman seperjuangan angkotnya teman-teman Riyadi mengeluh karena penumpang/sewa pada hari itu sepi. Paling banyak yang mereka bisa bawa pulang saat itu hanya Rp.100.000-, belum lagi beli bensin untuk esoknya, semuanya pasrah dengan keadaan siap menerima nasib dimarahi majikannya.
Namun, tak beberapa lama datang Riyadi. Dengan semangatnya ia datang dan menghampiri teman-temannya, melihat hal tersebut teman Riyadi pun bertanya “Senang amat… Dapat setoran berapa ?” mendengarnya Riyadi sontak menjawab ”Rp. 90.000 nih, lagi sepi” teman-teman Riyadi kaget mendengar hal tersebut dan penasaran apa yang didengarnya. “Lah… terus kenapa senang amat?” tanya salah satu temannya lagi. “Kita kan harus selalu bahagia, tetap bersyukur” jawab Riyadi dengan senang. Mendengar jawaban Riyadi yang seperti itu, sontak membuat teman-teman Riyadi termotivasi olehnya.
Hari, minggu, bulan, dan tahun telah berganti hingga suatu hari Riyadi mendapat tamu yang merupakan temannya di Pasar Senen , ia memberitahu Riyadi informasi bahwa kios-kios atau lapak-lapak untuk mereka berjualan sudah tersedia kembali. Mendengar hal tersebut membuat Riyadi kaget dan langsung menuju pasar untuk menyewa kios kembali sebelum diambil alih oleh pelapak lainnya yang juga sedang mengadu nasib di pasar tersebut.
Riyadi dan temannya sesegeranya keluar dari rusun dan menuju pasar. Tak lupa RIyadi menghampiri rumah tetangga majikan supir angkotnya dan menjelaskan keinginannya bahwa ia akan resign dari supir angkot dan kembali kepada pekerjaan lamanya. Sesampainya di pasar, Riyadi berpisah dengan temannya dan segera menuju ke rencana lapak yang akan disewa masing masing, tak lupa juga Riyadi menemui pengurus pasar dan menyewa sebuah kios di dalam terminal yang berhubungan pasar secara langsung dengan hasil uang jerih payahnya menjadi supir angkot selama ini.
Tak lupa Riyadi mendatangi rumah sang penadah buku bekas sambil membwa pickup hasil sewaannya tadi diperjalanan untuk membawa buku dagangannya nanti. Di rumah penadah tersebut Riyadi bermaksud ingin membeli beberapa buku dan memulai bisnisnya kembali semula lagi. Disana RIyadi meminta keringanan sang penadah yang akhirnya menghasilkan kesepakatan bahwa semua buku tersebut bisa dibayar diakhir 2 bulan kedepan.
Setelah mendengar kesepakatan tersebut, Riyadi dengan semangat berpamitan kepada sang penadah dan segera kembali ke pasar dengan pickup dengan maksud menyelesaikan pekerjaanya untuk menata kembali buku-buku agar besok dapat ia gunakan secara langsung dalam bisnis. Sesampainya di Pasar, Riyadi langung mulai menurunkan setiap buku yang ia beli ke kiosnya. Walau melakukan penataan buku terebut seorang diri, Riyadi tetap terlihat semangat dan tak berputus asa. Namun masih ada kejanggalan yang Riyadi rasakan saat kembali ke pasar rasa takut yang menghampirinya terkadang terlintas di pikirannya.
RIyadi agak sedikit berpikir dari setiap keadaan yang ia alami selama ini di Jakarta bersama istrinya dari mulai kebakaran yang terjadi di pasar, penggangguran, menjadi supir angkot dan kembali lagi menjadi pelapak di pasar adalah hal yang tidak cukup mudah, ia harus merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Didalam pikiran Riyadi sempat terlintas pertanyaan “Jadi, ini namanya kehidupan ibukota? Lebih baik miskin di kampung daripada miskin di ibukota”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar