Gelang Persahabatan
Setapak demi setapak Alan jalani hari-harinya penuh semangat. Menikmati suasana pagi yang tenang dan sejuk dilewatinya bersama Anita dengan sepeda. Ya Anita atau biasa disapa dengan nama Tuti, sahabatnya sejak kecil, Anita selalu ada disaat Alan susah, sedih maupun senang. Sekarang mereka di SMA yang sama, tidak hanya SMA tapi sejak di taman kanak-kanakpun mereka juga sudah bersama, tak heran apabila mereka selalu digosipkan pacaran, sebenarnya tidak. Dari dulu sudah biasa mereka berangkat dan pulang bersama maklum jarak antar rumah mereka berdekatan dan sekolah mereka pun tak jauh dari rumah.
Roda sepeda terus berputar menemani Anita dan Alan menyusuri jalan menuju sekolahnya, diteduhi pepohonan rindang yang menutupi sinar mentari pagi yang menyilaukan.
“Eh, Tut!” panggil Alan sambil mengayuh sepedanya
“Apaan Lan?”
“Hari ini hari pertama kita belajar di SMA nih Tut! Pokoknya di SMA ini gue harus punya band!” kata Alan dengan sorot matanya yang tertuju pada Anita dengan yakinnya.
“Hmmm, paling ngga jadi, di sekolah aja lo pendiem, maju buat nulis jawaban di papan tulis aja ga berani gimana mau buat band?!”
“Yeuh, Tut ngeremehin gue aja, tenang deh semua ada waktunya, gue jamin gue bakal berubah, liat aja”.
Suara bel pelajaran pertama berbunyi Alan dan Anita berada di kelas yang sama. Anita sudah akrab dengan teman sekelasnya, sedangkan Alan masih belum berani dan menutup diri dari lingkungan barunya. Hingga pada suatu ketika Alan memasukki ekskul yang menantang dirinya untuk berani dan disiplin. Mulai sejak itu Alan aktif di kelas dan disenangi oleh para guru, tidak guru saja tapi anak-anak kelas semakin akrab dengannya karena perilakunya yang humoris dan supel. Awalnya Anita senang melihat progress Alan yang kian hari semakin membaik, namun persahabatan antara mereka kini kian merenggang, mereka sibuk dengan urusan masing-masing bahkan waktu mengobrol di sekolah saja jarang, apalagi di luar sekolah.
Alan yang semakin akrab dengan lingkungannya akhirnya berhasil membentuk sebuah band yang bernama Carousel. Hari demi hari berlalu Alan pun semakin terkenal hingga banyak anak-anak perempuan yang mengaguminya, tapi ia bukan seperti Alan yang dulu lagi, sekarang Alan menjadi laki-laki yang genit dengan semua anak perempuan khususnya yang berparas cantik. Hingga suatu ketika Anita menegurnya di dalam kelas
“Alan, lan!”
“Ya?” kata Alan sambil menaruh buku-bukunya ke dalam tas,
“Pulang sekolah belajar bareng yuk?”
“Eng, maaf tut gue ga bisa hari ini gue ada latihan band sama yang lain”
“Oh..., yaudah kalo gitu due duluan ya” kata Anita sedih
“Alan, lan!”
“Ya?” kata Alan sambil menaruh buku-bukunya ke dalam tas,
“Pulang sekolah belajar bareng yuk?”
“Eng, maaf tut gue ga bisa hari ini gue ada latihan band sama yang lain”
“Oh..., yaudah kalo gitu due duluan ya” kata Anita sedih
Rintik-rintik hujan berjatuhan membasahi sepeda Anita yang tergeletak sendirian. Lembutnya hembusan angin mendukung suasana hati Anita yang yang sedih, sambil mengambil sepedanya yang jatuh Anita melihat Alan pergi dengan teman bandnya menaiki mazda terbaru itu. Anita mengenang masa-masa bersama disaat mereka pulang bersama, disaat mereka belajar bersama, disaat mereka mengobrol bersama, semuanya seakan hilang bagai pasir yang terkikis tergerus air.
“Alan kenapa lo sekarang kayak gini, gue pikir kita bisa sama-sama terus sampe kuliah?” kata Anita saat Alan dari jendela kamarnya, yang baru keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah.
Keesokan harinya saat istirahat pertama Anita menghampiri Alan yang sedang memainkan gadgetnya dekat loker sepatu depan kelas. Anita iseng mengambil gadget Alan dan melihat banyak chat-nya dengan cewe dan tersontak kaget, Alan pun langsung mengambil gadgetnya seraya berkata “ngapain lo liat-liat chat gue?”
“Ya, gue iseng aja mau tau kenapa lo jadi sibuk banget?”
“Kenapa? Masalah buat lo? Mau sibuk atau engga itu urusan gue, Tut”
“Ya, gue heran aja gitu kenapa akhir-akhir ini sikap lo agak berubah”
“Berubah? Berubah gimana? Perasaan lo doang kali?”
“Iya, gue ga masalah lo sibuk dengan berbagai kegiatan, tapi jangan sampe lupain orang yang peduli sama lo, jangan lupain sahabat lo Lan. Gue sedih aja kita udah jarang kerja bareng lagi”
“Tut, itu kan hanya masalah waktu, kapan-kapa bisa kok” kata Alan yang masih terpaku dalam pangkuan gadgetnya.
“Ah, ga ngerti lo Lan” ata Anita kesal dan meninggalkan Alan
“Eh, Tut..yah”menatap gadgetnya lagi.
“Ya, gue iseng aja mau tau kenapa lo jadi sibuk banget?”
“Kenapa? Masalah buat lo? Mau sibuk atau engga itu urusan gue, Tut”
“Ya, gue heran aja gitu kenapa akhir-akhir ini sikap lo agak berubah”
“Berubah? Berubah gimana? Perasaan lo doang kali?”
“Iya, gue ga masalah lo sibuk dengan berbagai kegiatan, tapi jangan sampe lupain orang yang peduli sama lo, jangan lupain sahabat lo Lan. Gue sedih aja kita udah jarang kerja bareng lagi”
“Tut, itu kan hanya masalah waktu, kapan-kapa bisa kok” kata Alan yang masih terpaku dalam pangkuan gadgetnya.
“Ah, ga ngerti lo Lan” ata Anita kesal dan meninggalkan Alan
“Eh, Tut..yah”menatap gadgetnya lagi.
Bayu yang lewat di depan Alan, lalu mengajaknya ke kantin bersama yang lainnya.
“Eh, Lan kantin yok!”
“Ayok,” jalan meninggalkan tempatnya dan Anita berbicara tadi
“Eh lo udah ngelancarin lagi belom? Sumpah ya, kemaren masih kurang bagus, kurang pas antara....”
“Eh, Lan kantin yok!”
“Ayok,” jalan meninggalkan tempatnya dan Anita berbicara tadi
“Eh lo udah ngelancarin lagi belom? Sumpah ya, kemaren masih kurang bagus, kurang pas antara....”
Anita hanya melihat Alan dan teman bandnya itu pergi meninggalkannya. Ketika di kantin Bayu dan yang lainnya memesan makanan, sementara Alan merenungi perkataan Anita tadi sambil menatap gelang persahabatan mereka. “Kenapa lo Lan, keliatannya kayak lagi sedih, kenapa?”
“Ehmm, ngga kenapa-kenapa,”
“Lo abis berantem sama Tuti? Oh, itu gelang lo sama si Tuti ya? Cieee”
“Oh, iya ini gelang persahabatan gue,” kata Alan malu-malu
“Coba gue mau liat,” Bayu memaksa Alan melepaskan gelangnya
“Eeh, ini gelang khusus gue sama Tuti, ga boleh diambil sama orang lain!”
“Yailah, pelit amat liat doang si!”
“Pokoknya ga boleh, ini gelang berharga ga boleh ilang”
“Yailah, Lan lebay beud sih,” Bayu menarik gelang Alan dan akhirnya putus
“Yah, Bay putus kan, lo sih nanti Anita marah sama gue!”
“Yaudah... buang aja itu, udah ga bisa dipake jugakan?”
“Eeh, jangan itu...” Bayu melempar gelang tersebut ke tempat sampah
“Ehmm, ngga kenapa-kenapa,”
“Lo abis berantem sama Tuti? Oh, itu gelang lo sama si Tuti ya? Cieee”
“Oh, iya ini gelang persahabatan gue,” kata Alan malu-malu
“Coba gue mau liat,” Bayu memaksa Alan melepaskan gelangnya
“Eeh, ini gelang khusus gue sama Tuti, ga boleh diambil sama orang lain!”
“Yailah, pelit amat liat doang si!”
“Pokoknya ga boleh, ini gelang berharga ga boleh ilang”
“Yailah, Lan lebay beud sih,” Bayu menarik gelang Alan dan akhirnya putus
“Yah, Bay putus kan, lo sih nanti Anita marah sama gue!”
“Yaudah... buang aja itu, udah ga bisa dipake jugakan?”
“Eeh, jangan itu...” Bayu melempar gelang tersebut ke tempat sampah
Alan hanya melihat dan tak bergerak mengambil gelang tersebut, “Eh, mending makan nih baso nanti keburu dingin!”
“Eh, Bay”
“Udeh, makan aja Tuti ga tau ini”
Selagi mereka menyantap makanan, Anita lewat bersama teman-temannya hendak membeli makanan dan minuman juga. Saat Nck salah satu teman Anita membuang sampah makanannya dia tak sengaja melihat gelang yang unik dari anyaman bambu berwana oren dan hitam sebagai listnya.
“Ih, lucu banget” kata Nanda sambil mengambil gelang tersebut
“Eh, eh liat deh masa gue nemu gelang, tapi udah rusak gitu”
“Eh, coba gue liat “ kata Tuti
“Ya ampun, ini kan gelang gue sama Alan”
“Eh iya sama” kata Nanda terkejut
“Eh, Bay”
“Udeh, makan aja Tuti ga tau ini”
Selagi mereka menyantap makanan, Anita lewat bersama teman-temannya hendak membeli makanan dan minuman juga. Saat Nck salah satu teman Anita membuang sampah makanannya dia tak sengaja melihat gelang yang unik dari anyaman bambu berwana oren dan hitam sebagai listnya.
“Ih, lucu banget” kata Nanda sambil mengambil gelang tersebut
“Eh, eh liat deh masa gue nemu gelang, tapi udah rusak gitu”
“Eh, coba gue liat “ kata Tuti
“Ya ampun, ini kan gelang gue sama Alan”
“Eh iya sama” kata Nanda terkejut
Saat bel pulang sekolah seperti biasa Anita pulang sendiri, lalu dengan tiba-tiba Alan mengajak bareng karena Alan merasa tidak enak dengan Anita karena sudah membentaknya tadi“Tuti, pulang bareng yuk”
“Hah, bareng? Ga ada angin ga ada hujan seenaknya lo bilang, sedangkan gelang persahabatan kita aja lo buang!”
“Bukan gitu Tut!”
“Bukan apanya? Lo tau kan itu gelang udah kita buat sejak dari SMP, dan tiba-tiba lo buang gitu aja, itu gelang udah bertahun-tahun Lan!”
“Ya gue tau, tapi bu,” Anita memotong perkataan Alan
“Tapi bukan apa? Je..” Alan juga memotong perkataan Anita
“Iya dengerin omongan gue dulu, jadi gini si Bayu mau liat gelang persahabatan
Anita meninggalkan Alan dan Alan kaget dengan sikap Anita itu.
“Hah, bareng? Ga ada angin ga ada hujan seenaknya lo bilang, sedangkan gelang persahabatan kita aja lo buang!”
“Bukan gitu Tut!”
“Bukan apanya? Lo tau kan itu gelang udah kita buat sejak dari SMP, dan tiba-tiba lo buang gitu aja, itu gelang udah bertahun-tahun Lan!”
“Ya gue tau, tapi bu,” Anita memotong perkataan Alan
“Tapi bukan apa? Je..” Alan juga memotong perkataan Anita
“Iya dengerin omongan gue dulu, jadi gini si Bayu mau liat gelang persahabatan
Anita meninggalkan Alan dan Alan kaget dengan sikap Anita itu.
Keesokan harinya juga masih sama, di kelas, di kantin, di lapangan bahkan sampai rumah mereka belum berbaikan. Saat jam pelajaran kosong Bayu mengajak Alan latihan sebentar tapi Alan menolak. “Lan, latihan bentar yok pake gitar lu”
“Ogah, males gue sama lo Bay!”
“Lah, napa dah?”
“Gara-gara lo kan Tuti jadi marah sama gue”
“Yang mane sih?” Bayu berpikir sejenak dan mengingat
“Oh yang gelang, dia ngambek? Paling cuma sebentar”
“Apanya sebentar, terus solusinya gimana dong?”
“Ehm....kan sabtu ini kan kita ada audisi, undang si Tuti buat nonton terus abis dari situ lu ajak main terus maapan dah”
“Bisa sih Bay, gue coba deh” kata Alan
“Ogah, males gue sama lo Bay!”
“Lah, napa dah?”
“Gara-gara lo kan Tuti jadi marah sama gue”
“Yang mane sih?” Bayu berpikir sejenak dan mengingat
“Oh yang gelang, dia ngambek? Paling cuma sebentar”
“Apanya sebentar, terus solusinya gimana dong?”
“Ehm....kan sabtu ini kan kita ada audisi, undang si Tuti buat nonton terus abis dari situ lu ajak main terus maapan dah”
“Bisa sih Bay, gue coba deh” kata Alan
Seperti biasa di saat pelajaran Pak Barna guru SBK, anak-anak banyak yang tertidur hanya sedikit yang memperhatikan, saat itu Alan yang bangkunya di belakang Anita mencoba mengobrol dengan Anita. “Tuti... Tut..Tut.. eh Tuti” Anita menyadari namun menutup mulutnya enggan berbicara dengan Alan.
“Tuti nanti pulang bareng yuk,”
Akhirnya Tuti menjawab “Ogah, males gue sama lo Lan”
“Maaf-maaf nanti kita buat yang baru lagi deh. Oh ya pulang bareng yuk?”
Anita terdiam “Eh, Tuti” kata Alan memanggil
“Pulang bareng yak, gue bawa mobil nih, nanti sepeda lo taro di atasnya aja”
“Iya, ya” kata Anita
“Yes, makasih Tuti”
“Tuti nanti pulang bareng yuk,”
Akhirnya Tuti menjawab “Ogah, males gue sama lo Lan”
“Maaf-maaf nanti kita buat yang baru lagi deh. Oh ya pulang bareng yuk?”
Anita terdiam “Eh, Tuti” kata Alan memanggil
“Pulang bareng yak, gue bawa mobil nih, nanti sepeda lo taro di atasnya aja”
“Iya, ya” kata Anita
“Yes, makasih Tuti”
Saat bel pulang sekolah, Alan dan Anita pulang bersama belum sampai di parkiran Bayu dan yang lainnya yang se-band dengan Alan memanggil Alan, “Alan, latihan Lan!” kata Bayu sambil menepuk pundak Alan, Alan lupa bahwa hari ini dia ada latihan mengingat waktu audisinya tak lama lagi. “Oh iya,” Alan melirik Anita
“Kenapa? Yaudah sana latihan gue bisa pulang sendiri kok!” lirik Anita seraya meninggalkan Alan
“Yah, bukan gitu Tut!” Alan ingin menghampiri Anita tapi ditarik oleh Bayu
“Udeh, kan lo nanti bisa kasih surat undangannya ke rumah si Tuti kan?”
“Bisa sih, tapi ga enak aja”
“Gue jamin deh nanti dia juga baikan lagi sama lo, tenang-tenang aja, easy man” dengan gaya bicaranya yang santai berusaha membuat Alan untuk bisa tenang.
“Ya... yaudah deh” dengan berat hati Alan meninggalkan Anita lagi.
“Kenapa? Yaudah sana latihan gue bisa pulang sendiri kok!” lirik Anita seraya meninggalkan Alan
“Yah, bukan gitu Tut!” Alan ingin menghampiri Anita tapi ditarik oleh Bayu
“Udeh, kan lo nanti bisa kasih surat undangannya ke rumah si Tuti kan?”
“Bisa sih, tapi ga enak aja”
“Gue jamin deh nanti dia juga baikan lagi sama lo, tenang-tenang aja, easy man” dengan gaya bicaranya yang santai berusaha membuat Alan untuk bisa tenang.
“Ya... yaudah deh” dengan berat hati Alan meninggalkan Anita lagi.
Saat di parkiran lagi-lagi Anita melihat Alan dan teman band nya itu pergi latihan, lagi-lagi dia pulang sendirian. Anita akhirnya sadar kalau memang Anita dan Alan tidak akan selamanya selalu bersama. Hingga akhirnya tibalah Alan dan bandnya pergi audisi, Alan meninggalkan surat undangan dan surat permohonan maaf darinya untuk Anita, setelah menekan bel Anita tiga kali Alan pergi.
“Gue harap lo baca Tut” kata Alan seraya pergi meninggalkan rumah Anita .
“Udah siap?” kata Bayu mengecek
“Siap Bay!”
“Oke berangkat kita!” Mereka pun masuk ke mobil Alan tersebut dan pergi.
Tak selang berapa lama Alan baru pergi bersama teman bandnya, Anita keluar hendak membuang sampah lalu dia terkejut ketika menginjak suatu benda, saat ia lihat itu adalah sebuah surat.
“Surat dari siapa nih?” Anita membuka dan membacanya
“Hah, surat undangan audisi band?”
“Surat permohonan maaf dari Alan?!” Anita terkejut dan membaca isinya
“Udah siap?” kata Bayu mengecek
“Siap Bay!”
“Oke berangkat kita!” Mereka pun masuk ke mobil Alan tersebut dan pergi.
Tak selang berapa lama Alan baru pergi bersama teman bandnya, Anita keluar hendak membuang sampah lalu dia terkejut ketika menginjak suatu benda, saat ia lihat itu adalah sebuah surat.
“Surat dari siapa nih?” Anita membuka dan membacanya
“Hah, surat undangan audisi band?”
“Surat permohonan maaf dari Alan?!” Anita terkejut dan membaca isinya
Anita sahabat terbaik sejagat raya,
Gue minta maaf karena selama ini selalu ninggalin lo sendirian, ngobrol jarang, belajar bareng jarang, bahkan berangkat dan pulang bareng hampir ga pernah. Mungkin karena jadwal gue yang sibuk sehingga ninggalin persahabatan kita. Gue juga minta maaf karena tega membiarkan gelang persahabatan kita rusak dan dibuang gitu aja, walaupun yang buang bukan gue tapi Bayu, tapi tetep kesalahan berawal dari gue yang ngga tegas terhadap diri gue sendiri. Hari ini gue tampil audisi band, maka dari itu gue ngajaknya lo buat nonton buat jadi penyemangat gue. Jam dan tempat audisi bisa lo liat di undangannya. Gue harap lo dateng Tut, sahabat terbaik gue. Terima kasih.
Gue minta maaf karena selama ini selalu ninggalin lo sendirian, ngobrol jarang, belajar bareng jarang, bahkan berangkat dan pulang bareng hampir ga pernah. Mungkin karena jadwal gue yang sibuk sehingga ninggalin persahabatan kita. Gue juga minta maaf karena tega membiarkan gelang persahabatan kita rusak dan dibuang gitu aja, walaupun yang buang bukan gue tapi Bayu, tapi tetep kesalahan berawal dari gue yang ngga tegas terhadap diri gue sendiri. Hari ini gue tampil audisi band, maka dari itu gue ngajaknya lo buat nonton buat jadi penyemangat gue. Jam dan tempat audisi bisa lo liat di undangannya. Gue harap lo dateng Tut, sahabat terbaik gue. Terima kasih.
Alan ganteng
Setelah membaca itu Anita terharu dengan usaha Alan untuk meminta maaf. Sementara di tempat audisi Alan dan teman bandnya siap-siap tampil, saat tampil tidak kelihatan Anita menonton. Alan kecewa dan tidak begitu bersemangat, saat tampil band mereka selesai, Alan duduk sambil memegang bunga dan gelang perak yang mengkilat, Bayu yang melihat Alan sedih segera datang dan mennghampiri.
“Udah Lan, jangan sedih masih ada hari laen kan”
“Yah Bay, tapi ini momen yang tepat buat bilang permohonan maaf gue ke dia”
“Kenapa dia ga bisa dateng lo tau alesannya?”
“Iya dia bilang lewat line dia pergi sama keluarganya ke luar kota”
“Oh gitu, Lan jajan yok”
“Ogah ah gue males”
“Ayook” Bayu menarik Alan. Saat mereka jalan sekelibat Alan seperti melihat Anita, lalu saat Alan memastikan kembali ternyata memang benar itu Anita yang memakai selendang hitam menutupi kepalanya, seketika itu Alan langsung memanggil “Tuti!!” sambil melambaikan tanggannya
“Gue, tau Tut lo itu gengsi” Ketika Anita mendengar suara Alan, Anita pergi dengan terburu-buru
“Eh, Tuti gue tau lo nonton penampilan band gue, tapi ga usah malu-malu gitu Tut!” teriak Alan sambil memanggil Anita, Anita pun kabur sambil tersenyum
“Ih apaansih Lan, engga kok!” akhirnya Anita menemui jalan buntu dan terjebak oleh Alan
“Hayolo Tut, mau kemana lo?”
“Eh, Alan...” sambil menggaru-garuk kepalanya karena malu
“Lo kenapa bilangnya ada acara keluarga?”
“Eh iya, gue mau buat surprise aja buat lo, gue mau buat lo sedih dulu baru deh gue kejutin! Hehe” mulutnya menyeringai
“Tut, maafin gue ya selama ini buat lo kecewa terus”
Anita diam
“Tut?”
“Ehm, iya Lan gapapa” Anita melihat bunga yang dipegang Alan
“Lan, itu bunga buat siapa?”
“Oh ini bunga buat elo!”
Anita terkejut dan mengatakan “Alan, serius?”
“Iya, ini juga gelang khusus buat lo sebagai tanda permohonan maaf gue, ya walaupun emang gelang ini ga sepenuh makna kayak gelang kita, tapi liat dari ketulusan gue ya Tut”
Anita menerima bunga dan gelang pemberian Alan dengan senang
“Ya, Alan gue maafin makasih ya”
“Udah Lan, jangan sedih masih ada hari laen kan”
“Yah Bay, tapi ini momen yang tepat buat bilang permohonan maaf gue ke dia”
“Kenapa dia ga bisa dateng lo tau alesannya?”
“Iya dia bilang lewat line dia pergi sama keluarganya ke luar kota”
“Oh gitu, Lan jajan yok”
“Ogah ah gue males”
“Ayook” Bayu menarik Alan. Saat mereka jalan sekelibat Alan seperti melihat Anita, lalu saat Alan memastikan kembali ternyata memang benar itu Anita yang memakai selendang hitam menutupi kepalanya, seketika itu Alan langsung memanggil “Tuti!!” sambil melambaikan tanggannya
“Gue, tau Tut lo itu gengsi” Ketika Anita mendengar suara Alan, Anita pergi dengan terburu-buru
“Eh, Tuti gue tau lo nonton penampilan band gue, tapi ga usah malu-malu gitu Tut!” teriak Alan sambil memanggil Anita, Anita pun kabur sambil tersenyum
“Ih apaansih Lan, engga kok!” akhirnya Anita menemui jalan buntu dan terjebak oleh Alan
“Hayolo Tut, mau kemana lo?”
“Eh, Alan...” sambil menggaru-garuk kepalanya karena malu
“Lo kenapa bilangnya ada acara keluarga?”
“Eh iya, gue mau buat surprise aja buat lo, gue mau buat lo sedih dulu baru deh gue kejutin! Hehe” mulutnya menyeringai
“Tut, maafin gue ya selama ini buat lo kecewa terus”
Anita diam
“Tut?”
“Ehm, iya Lan gapapa” Anita melihat bunga yang dipegang Alan
“Lan, itu bunga buat siapa?”
“Oh ini bunga buat elo!”
Anita terkejut dan mengatakan “Alan, serius?”
“Iya, ini juga gelang khusus buat lo sebagai tanda permohonan maaf gue, ya walaupun emang gelang ini ga sepenuh makna kayak gelang kita, tapi liat dari ketulusan gue ya Tut”
Anita menerima bunga dan gelang pemberian Alan dengan senang
“Ya, Alan gue maafin makasih ya”
Akhirnya persahabatan mereka pun kembali membaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar