Hujan
Hujan yang dengan ganas mengguyur kota Bekasi, bahkan seluruh Indonesia secara merata telah reda. Yang tersisa hanya anak-anak hujan beserta genangan di sepanjang jalan. Karena ganasnya hujan yang mengguyur, beberapa daerah di Indonesia banjir. Itu yang kuketahui dari teve. Untungnya sekolahku ini belum pernah kebanjiran, mungkin karena banyaknya pohon yang ditanam, yah setidaknya itulah salahsatu sebab yang dapat aku pikirkan.
Aku suka sekali berpikir, diberbagai tempat dan tentang banyak hal. Misalnya tentang bumi dan pengaturnya, Allah SWT. Tentang teman, sekolah, atau kejadian-kejadian yang sudah berlalu. Seringkali pula aku memikirkan masa depan, cita-cita, dan merencanakan kegiatan yang akan dilakukan, meski pun tak sedikit yang kulanggar.
Saat dalam perjalanan menuju sekolah contohnya. Karena aku ke sekolah menggunakan jasa antar-jemput, jadi sambil menikmati musik dengan earphone yang selalu standby di telinga, hangatnya secercah sinar matahari pagi dan semilir angin yang menggelitik kulit aku melayangkan pikiranku untuk memikirkan banyak hal.
Seperti saat ini, aku berpikir tentang kejadian kemarin di Sekolah. Karena pagi itu matahari menyinari dengan semangat, aku berpikir bahwa tidak akan turun hujan. Namun perkiraanku itu salah, mungkin karena menipisnya lapisan ozon, musim menjadi tak menentu. Tak seperti dulu lagi kata Ibuku, Ibuku bilang bahwa dulu musim selalu tepat waktu, jika sedang musim penghujan hujan pasti turun setiap hari dan jika setiap musim panas maka hujan tak akan turun. Mungkin hanya sesekali.
Karena aku tidak membawa jas hujan, jadi aku terpaksa menunggu hujan sampai berhenti atau sekiranya reda. Aku menunggu dengan tak sabar karena besok ada ulangan harian biologi dan aku baru belajar separuhnya saja. Aku menunggu bersama murid lain yang bernasib sama sepertiku, terjebak hujan. Waktu menunggu hujan sampai reda kugunakan untuk membaca bahan ulangan harian untuk esok dan sesekali mengobrol dengan temanku.
Saat membaca buku biologi yang kubawa setiap harinya, temanku tiba-tiba menyenggolku sambil berbisik, “Eh, itu kan kak Bana!”
“Apasih? Terus kenapa?”
“Yah, dia ganteng sih. Lo gak mau liat dulu? Hehehe”
“Dih,apaansih Jun? Lebay. Sama siapa deh Kak Bana? Kok lari-larian gak jelas gitu? Kaya bocah aja hahaha”
“Ih kok bocah sih? Tapi dia kan pinter tau, anak olimpiade cuy! Eh, siapa ya? Gue juga gatau. Tapi mukanya juga lumayan ganteng sih. Kenapa? Naksir?”
“Apaandah? Gak jelas banget sih Jun. Udah ah kalo gatau yaudah, aku mau belajar lagi buat besok!”
“Ih, ya jangan ngambek kali. Nanti gue cari tau deh dia siapa. Tenang aja!”
“Terserahlah.”
Saat hujan mulai reda Junilla berkata,“Eh udah reda nih! Balik yuk!”
“Oh ya bener. Yaudah ayo”
Dalam perjalanan aku memikirkan perkataan Junilla tentang Kakak kelas kami yang berbeda setahun dengan kami. Kak Bana memang banyak penggemarnya, Ia terlibat dalam kegiatan OSIS. Jadi Ia sangat populer, ditambah lagi dengan cerita Junilla kalau Ia mengikuti Olimpiade Sains tingkat Nasional dan keahliannya dibidang olahraga, yaitu basket. Jadi aku sudah mengetahui sedikit tentang Kak Bana.
Aku penasaran dengan teman Kak Bana. Jika Ia sekelas dengan Kak Bana, berarti Ia juga pintar. Karena Kak Bana berada di kelas unggulan. Dan jika Ia teman Kak Bana, kenapa Ia tak sepopuler Kak Bana? Dan kenapa aku baru melihatnya selama di sekolah ini? Apa Ia baru pindah dari sekolah lain? Aku bingung, mungkin besok bisa kutanyakan kepada Junilla. Ia memiliki lebih banyak teman dibandingkan ku, maklumlah ekskulnya saja sampai lima. Jadi lebih baik aku belajar untuk ulangan biologi besok.
Paginya dalam perjalanan sekolah aku kembali teringat dengan teman Kak Bana. Aku teringat kalau Ia mirip dengan seorang aktor yang mempunyai banyak sekali penggemar. Tapi karena aku teringat kalau nanti ada ulangan biologi, dan aku tak mau memoriku tentang biologi terhapus jadi aku memutuskan untuk kembali mengingat-ingat pelajaran biologi dan tak memikirkan yang lainnya.
Sesampainya di sekolah, aku berjalan ke kelasku yang berada di pojok bangunan yang berada di sebelah Utara. Saat menaiki tangga, kudapati Junilla mengirimiku sebuah kontak Line bernama Alan. Karena bingung kubiarkan saja dan tetap menaiki tangga, terus berjalan ke kelas. Di kelas aku menanyai Junilla maksud dari pesan yang Ia kirimkan itu apa, lalu Ia menjawab kalau teman Kak Bana yang kemarin itu namanya Alan. Tapi saat ingin menanyai Junilla lebih lanjut, tiba-tiba guru biologi kami masuk. Ulangannya lumayan sulit, tapi Alhamdulillah aku bisa mengerjakannya.
Dalam perjalanan menuju rumah sepulang sekolah, aku kembali berpikir tentang Kak Alan. Aku tak tau, kenapa aku ingin melihat Dia lagi. Bahkan aku berharap hujan turun dan aku harus menunggu hujan reda agar dapat melihat Dia lagi,berlarian seperti bocah. Walaupun begitu, aku memiliki peraturan bagi diriku sendiri, aku tidak boleh berpacaran. Hal tersebut juga dilarang oleh agama, jadi aku tak mau terlalu memusingkan diri dengan memikirkan tentang Dia.
Setelah beberapa hari kemudian, aku berkumpul untuk kegiatan ekskul. Dan tanpa sengaja aku melihat Kak Alan, sedang berkumpul dengan temannya. Entah sedang apa aku juga tak dapat mendeskripsikannya. Ia seperti sedang melakukan gerakan-gerakan bela diri, yaitu gerakan kaki diatas dan tangan dibawah. Dan melakukan gerakan-gerakan yang tak ku kenali dengan matras.
Baiklah aku mencoba untuk menyibukkan diri agar tidak memikirkan tentang Kak Alan lagi. Toh dia juga tak kenal diriku, jadi untuk apa aku memikirkan Dia? Ini juga tahun terakhirnya di sekolah, jadi aku akan segera naik kelas dan akan melanjutkan studiku sendiri. Lebih baik berpikir tentang masa depan.
Setelah masa-masa yang menegangkan yaitu ulangan kenaikan semester, aku libur sekolah. Selama libur sekolah tak banyak yang aku lakukan. Dan sekembalinya ke Sekolah, ajaran baru telah dimulai. Aku dan teman sekelasku memutuskan untuk menonton film bersama karena pelajaran belum berjalan secara efektif. Dan saat menonton film aku kembali teringat dengan Kak Alan, karena aktor yang bermain di film yang aku tonton adalah aktor yang mirip dengannya.
Aku jadi berpikir ulang kembali, dan jadi mengerti bahwa aku tak perlu berusaha melupakan seseorang. Kupikir aku memang suka padanya, tapi karena aku tak ingin berpacaran, seperti peraturanku sendiri, jadi lebih baik aku mendoakannya saja. Agar Ia dapat melanjutkan sekolah dengan lebih baik dan menjadi sukses. Mungkin itu yang harusnya kulakukan, bukannya berusaha untuk melupakannya.
Setelah menonton film dan bel pulang berbunyi, aku keluar sekolah dan ternyata hujan kembali mengguyur dengan deras Indonesia. Persis kejadian dulu, pikirku. Dan tiba-tiba aku melihat sosok Kak Alan dengan baju bebas karena sudah lulus sedang duduk sendiri menunggu hujan reda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar