Sabtu, 19 September 2015

Ezra Valentino Purba

 Sahabat Jadi Cinta

Najla Bergegas menyalakan motor kesayanganya untuk segera melaju ke rumah Riyadi, sahabat dekatnya sedari duduk di bangku SMP. Ia Berencana melakukan belajar Fisika bareng di rumah Riyadi. Belajar bersama dengan Riyadi merupakan kebiasaan Najla Sejak duduk di bangku SMA dan kebiasaan itu awet hingga mereka kelas XII. Memang Riyadi termasuk anak yang cukup cerdas dalam bidang fisika di kelasnya.
Pada saat belajar bersama itu mereka juga ngobrol banyak hal tentang hal yang lagi ngetrend di kalangan anak muda, berita berita tentang ranah politik, sampai ngegosip tentang temen temen satu sekolahan, tak luput dari perbincangan mereka. Tapi sayangnya mereka berdua tak pernah membicarakan tentang yang namanya cinta. Bagi Najla dan Riyadi Cinta bisa dicari sesudah kita mencapai kesuksesan, cinta menurut mereka berdua juga termasuk hal yang dapat mengganggu pendidikan mereka nantinya. Mereka berdua juga sedang bersiap siap menghadapi ujian nasional yang sudah di depan mata.
“Din, kamu pernah ngerasain cinta?” tanya Riyadi di sela sela waktu belajar bareng mereka
“Emmm.. Belum tuh..” kata Najla santai.
Dalam hati Najla heran mengapa Riyadi bertanya seperti itu, padahal selama mereka bersahabat Riyadi tak pernah bertanya apapun yang berhubungan dengan cinta.
“Jadi, kamu belum pernah ngerasain gimana rasanya cinta pada pamdangan pertama dong?”
“Hahahaha kenapa sih kamu Riyd? lagi jatuh cinta yah?”
“kamu gimana sih Naj, Ditanya malah balik nanya, pake ketawa lagi”
“Udah deh sekarang bukan waktunya mikirin cinta, cinta dan cinta, belajar aja dulu buat ngadepin UN”
Riyadi hanya menanggapi ucapan Najla dengan senyum simpulnya
Sejak Dari SMA Riyadi udah ada rasa kepada Najla, yang sejak SMP sudah jadi sohib sejatinya, tapi ia tak pernah mengutarakanya kepada Najla, ia takut jika ia mengatakan yang sebenarnya itu bisa merusak persahabatanya yang dibangun sejak mereka masih ingusan. Riyadi juga tau bahwa prioritas utama Najla adalah menjadi orang sukses di kemudian hari. Najla juga tak pernah kepikiran mau pacaran, menurutnya itu hanya dapat menghambat sekolahnya. Maka dari itu sampai sekarangpun Riyadi tak berani mengutarakan rasa cintanya kepada Najla da hanya mencintai Najla sebatas dalam diam.
“Din, kenapa akhir akhir ini kamu sering muncul di pikiranku, bahkan mimpiku?” kata Riyadi bicara sendiri
“Kenapa rasa ini terus saja bertambah, padahal aku berusaha tidak menghiraukan rasa ini, dan lebih mementingkan pelajaranku dibanding rasa cinta ini padamu? tapi, kenapa semakin aku berusaha menghilangkan rasa sayang ini, bayanganmu semakin kuat di benakku? apa kamu merasakan hal yang saat ini ku rasakan? aku takut rasa cinta ini nantinya membuat persahabatan kita hancur”
Malam itu ia tak bisa tidur, Riyadi terus terbayang oleh wajah cantik Najla.
Ujian Yang ditunggu tunggu pun tiba, 3 minggu sebelum ujian berlangsung, mereka sering belajar bersama, tak jarang mereka juga saling memotivasi satu sama lain. Seiring seringnya ia dan Riyadi bertemu, tak tau kenapa cinta itu juga semakin kuat, tak bisa ia hilangakan, tapi Riyadi tetap menomor dua kan perasaanya itu. Ia juga yakin pasti ada waktu yang pas untuk mengutarakan perihal perasaannya terhadap Najla. Toh kalau jodoh nggak akan kemana mana kan?
“Makasih Riyadi, atas ilmu yang kamu ajarkan sama aku, juga motivasi motivasimu” Kata Najla girang
“hahahaha iya iya sama sama, terimakasih juga udah ngajarin aku. syukur alhamdulillah ya naj, kita lulus ama nilai yang memuaskan” Kata Riyadi tak kalah Girang
“iya iya.. duuuh.. emang kamu sahabat terbaikku” kata Najla, seraya mendaratkan pelukan manis di tubuh Riyadi
Sontak Riyadi terkaget kaget dengan apa yang Najla lakukan.
“Aku sayang kamu lebih dari sahabat din, aku cinta padamu, apa kamu tak merasakan itu semua?” dalam hati Riyadi Berkata.
Esoknya, ketika Riyadi sedang push up untuk melatih fisiknya demi seleksi Akademi Militer. Tiba tiba Hp Riyadi berbunyi, ternyata Najla yang menelponya. Ia mengajak Riyadi ke perpustakaan kota untuk mencari sebuah buku, Riyadi pun meng iyakan ajakan Najla.
Di tengah diskusi mereka tentang suatu hal yang dimuat dalam buku yang diambil Najla, Riyadi tak henti hentinya memandang muka Najla yang kelihatan manis itu.
“Najla, aku mau ngomong sama kamu” kata Riyadi
“iya, ngomong aja, emang mau ngomong apaan?” sahut Najla Santai
“Kita memang udah sahabatan sejak lama. Tapi entah kenapa semenjak kita SMA, aku jadi sayang banget sama kamu. Aku gabisa menahan perasaan ini terus Naj. Maaf yah aku baru bilang sekarang. Mau nggak kamu jadi pacar aku?” kata kata itu pun keluar dari mulut Riyadi.
“Jangan bercanda ah..” Najla membalas
“Enggak aku nggak bercanda, ini serius. Gimana kamu mau?”
Suasana pun mendadak hening
“Sebenernya aku juga sayang sama kamu. Tapi aku baru aja jadian sama Bue. Ini kenapa aku sekarang ngajak kamu makan, aku mau ngasih tau kalo aku baru aja jadian Riyd. Kenapa kamu gabilang dari dulu? Aku nunggu kamu Riyd”. Jawab Najla 
Wajah Riyadi mendadak kaget
“Jadi kita gak bisa bersama?”
“Maaf yah, kamu terlambat Riyd” Tutup Najla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar