Sabtu, 19 September 2015

Nanda Kirana Citagami

Reuni Dadakan

“M..Maksud kamu?” Jantungku perlahan-lahan berdegup dengan cepat.
“Hhh.. Di, aku rasa kita sampai di sini aja,” hela perempuan itu.
“Aha..hah.. Kamu kenapa, sih? Lagi bercanda ya? Kamu cuma lagi iseng, kan?” tanyaku lagi berusaha meyakini bahwa ini semua hanya mimpi belaka.
“Di. Tolong anggap aku serius! Aku. Mau. Udahan.”
Sontak, aku terdiam seribu bahasa karena permintaan itu.
“Kamu… Kamu nggak bisa kasih aku masa depan,” ujar perempuan itu.
Aku tak bergeming. Kaget. Tak bisa menemukan kata-kata.
“Kamu terlalu sibuk dengan diri kamu sendiri.”
“Sibuk…?” tanyaku lebih pada diri sendiri.
“Udah ya, Di. Jaga diri kamu baik-baik. Selamat tinggal.”
Tut. Tut. Tut. Tut.
 Kenangan memilukan itu datang menemaniku untuk kesekian kalinya. Aku pun hanya menghela nafas, menyesali diriku sebentar karena tak bisa mempertahankan perempuan itu. Lalu melanjutkan menyeruput kuah makanan yang kupesan.

 “AAKH! Dasar tukang ojek edan!”
Aku mendengar teriakkan itu ketika melihat seorang perempuan—seusiaku mungkin— yang sedang menyeberang dengan tujuan memasuki rumah makan yang sedang kutempati sekarang. Dengan muka setengah masam, perempuan itu masuk dengan rok dan sepatunya yang basah. Kaki jenjangnya yang mulus berkulit sawo matang itupun juga sedikit kotor terkena cipratan dari becekan hasil hujan sore tadi. Rambutnya bergelombang warna hitam dan terawat, yang sepertinya kalau dipegang bakal terasa halus dan lembut. T-shirt putih yang sesuai dengan ukuran tubuh dimasukkan ke roknya, memperlihatkan tubuhnya yang semampai dan slim. Sambil menenteng blazer di tangannya, dan sling bag di bahunya.
Kuperhatikan langkah dan gerak-geriknya yang anggun dan fleksibel. Sembari duduk, dia mengelap bagian kakinya yang kotor. Kepalanya menengok ke kanan-kiri untuk melihat sekitar. Sampai akhirnya, mata perempuan itu tertuju padaku yang secara tidak sadar sudah memperhatikan dia. Alisnya bertaut, ekspresinya seperti sedang bertanya-tanya bahwa apa dia pernah bertemu denganku sebelumnya atau tidak. Tetapi langsung ku balas dengan senyum sopan untuk mengakhirinya. Lalu aku menunduk dan meneruskan makananku.
Hmph. Cantik. Batinku tiba-tiba berpendapat.
Tanpa ada angin pemberitahuan, suara gemuruh hak sepatu menggema dan mendekat ke arahku. Dan saat itu juga perempuan itu sudah berhenti di samping tempat dudukku. Tanpa kusangka, dia menyapa.
“Hai.” Perempuan itu membungkuk sedikit dan menatapku penasaran.
“H-Hai?” Aku membalasnya keheranan.
“Sori sebelumnya, tapi gue penasaran. Lo… Riyadi Saputra Wibowo, bukan? Alumni smansasi?”
 Aku menggangguk kaget karena dia mengenal diriku.
“Wah! Gue Najla. Taajkhansa Najla?” klaimnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Aku kurang mengenal saat dia menyebut namanya, tapi ketika memerhatikan wajahnya lebih dekat, aku teringat seseorang.
“Oh! Najla-Cepu?” Goblok,” batinku.
Raut wajahnya terlihat kaget, lalu tertawa sopan. Ahahah, yaa.. Mungkin gue dulu terkenal dengan sebutan itu—”
“Sori, maksudku—ekhem— maksud  ‘gue’, dulu kan lo anak pelajar siaga, dan pelajar siaga disebut begitu sama anak-anak angkatan,” sergahku.
“Oh ya?  Tapi rasanya gue yang paling terkenal dengan sebutan itu, ya?” ujarnya.
“Hmm.. Kan lo dulu ketuanya, panteslah kalau terkenal.”  Fyuh. Good,” batinku.
Dia berusaha untuk membalas tetapi terpotong oleh pelayan yang ingin menawarkan pesanan padanya.
“Mbaknya ini mau pesan apa?”
“Oh, iya. Mie godhoknya satu ya, Mbak. Sama minumnya air mineral aja.”
Pelayan itupun mencatat pesanannya. “Tak anter ke meja Mbak, opo ditaruh di meja Mas-mas ini aja?”
Najla terdiam. Lalu tiba-tiba menengok ke arahku, “Keberatan nggak gue duduk disini?”
Aku pura-pura berpikir sejenak. Merasa tidak ada niat untuk ngobrol tentang masa lalu sore ini. Tapi akhirnya aku melihat  jam tanganku dan memutuskan.
Hmm… Enggak, kok. Duduk aja.”  
Aku pun mengangguk ke arah kursi di depanku yang kosong, dan dia duduk. Pelayan itu mengangguk mengerti, lalu pergi meninggalkan kami berdua.
 “Soo… How’s life?” tanyanya membuka topik.
Aku meneguk wedang jahe-ku sebentar lalu menjawabnya, “Sedang proses mencari perdamaian hati.”
Dia kurang paham dengan jawaban itu. “Lagi ada masalah, kah?”
“Ya. Dan enggak,” jawabku sekenanya.
Well, gue nggak bermaksud mencampuri, tapi ambil nasehat dari manusia disini yang selalu ketemu masalah. Jangan terlalu banyak dipikirin, tunggu aja sampai ada pencerahan dari langit, dan ting! tiba-tiba langsung ada solusi di kepala gimana cara nyelesainnya. Oke?” Dia mengacungi jempolnya sendiri.
Aku hanya mengulas senyum kecil tanda setuju.
“Sori, ya, kalo gue kesannya cerewet. Cuma seneng aja ketemu temen lama. Gimana kabar?”
“So far so good.”  Dan kemudian aku mengutuk dalam hati karna jawaban tadi terlihat tidak ramah.
Setelah adegan canggung itu, pesanan Najla datang. Lalu, kita hanya melewati waktu dalam diam dan menghabiskan makanan masing-masing. Entah, mungkin Najla punya banyak pertanyaan yang ingin disampaikan tapi merasa kurang nyaman apabila menanyaiku lebih jauh saat melihat responku terhadapnya.
Selesai makan, kami berdiri bersamaan dengan niat ke arah kasir untuk membayar.  Aku mempersilahkannya untuk duluan.
“Mbak, ini bayar berdua, ya, sama pesanan Mas-mas itu.”
Aku mendengarnya memberitahu pelayan kasir itu saat dia menunjuk ke arahku.
Aku langsung menguber ke sampingnya, “Naj, nggak usah repot-rep—“
“Udahlah nggak apa-apa, belum tentu reuni dadakan lagi, kan?” sergahnya.
Merasa bersalah sudah membuatnya begitu, setelah dia selesai, akhirnya aku bertanya,
“Pulang ke mana, Naj?”
Dia sedikit tersentak karena akhirnya aku memulai pembicaraan.
“Ke rumah, di Villa Kirana.”
Aku berjalan mendahuluinya keluar rumah makan itu sambil mencoba mengingat-ingat.
“Oh, yang di Cut Meutia, ya? Kok jauh banget bisa sampe main kesini?”
Dia menoleh sebentar ke arahku. Sekilas terlihat keheranan. Mungkin dia heran karena tiba-tiba aku terlihat ingin tahu.
“Tadi abis nengokin temen kantor,” jawabnya simpel.
Aku menganggukan kepalaku sambil membentuk huruf O di bibir. Lalu kami lanjut berjalan pelan sampai ke arah tempat mobilku diparkir. Dan aku terpikir sesuatu,
“Mau gue anter pulang?”
Aku sempat ragu saat menawarkannya, tapi harus kulakukan sebagai ucapan terima kasih sudah menraktir.
“Nggak usah, Yad. Gue bisa naik angkot, kok.”
“Udah maghrib, Naj. Perempuan nggak baik kalau pulang jam segini sendirian,” balasku sambil lalu.
Kulihat dia agaknya tersipu dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
“Jadi… dianter ya? Sekalian shalat dulu.”
Dia mengangguk kikuk dan tersenyum. “Yaudah, boleh deh.”
Akhirnya setelah dia setuju, aku masuk mobil dan menyalakan mesinnya, diikuti oleh Najla yang masuk dan duduk di kursi penumpang sebelah kiriku. Tempat yang biasanya diduduki oleh perempuan itu. Tempat favoritnya saat kita masih bersama. Dan tiba-tiba saja aku teringat kata-kata rayuan yang diucap perempuan itu pada saat kami sedang merayakan hari jadi bersama.
“Ayo, Yaaad. Mau ke mana lagi kita? Muter-muter Jakarta, yuk? Aku belum mau pulang.”
Seketika, aku disadarkan oleh deru mesin mobil yang terdengar tidak seperti biasanya. Tapi tak kupedulikan. Langsung kuinjak gas menuju masjid komplek untuk shalat. Sesampainya di masjid, Najla menunggu di mobil karna dia bilang sedang halangan. Jadi aku menuju masjid sendirian. Lima belas menit setelah selesai,  kuteruskan perjalanan untuk mengantar Najla pulang.
Saat dalam perjalanan, aku mendengar suara mesin yang tidak beres itu kembali. Awalnya tak kuhiraukan, tetapi lama kelamaan menjadi jelas karna Najla pun juga menyadarinya.
“Yad, nggak mau minggir dulu aja?” tanyanya dengan nada cemas.
“Enggak usah. Palingan cuma ada yang mengganjel di mesinnya,” jawabku enteng sambil berusaha meyakinkan diri sendiri.
Terus terang, kekhawatirannya tadi membuatku berpikir bahwa mungkin ada baiknya berhenti untuk mengecek. Tapi, telat sudah keputusanku. Si mobil mendadak terbatuk-batuk layaknya kakek tua berumur kepala tujuh. Dan beberapa saat kemudian berhenti menyala. Kucoba untuk menyalakannya lagi beberapa kali, tapi hasilnya nihil. Aku mulai panik dan berusaha melihat sekitar area di luar mobil. Untungnya jalanan tidak begitu ramai. Hanya ada dua atau tiga mobil di belakang.
Aku pun tak menyia-nyiakan waktu dan langsung keluar mobil, berniat memanggil orang-orang sekitar untuk membantuku sebelum mobil di belakang riuh mengklakson. Alhasil, salah satu pengemudi di belakangku cukup peka dan keluar menawarkan dirinya untuk membantu. Gestur simpatinya itu mengundang beberapa warga untuk menolong juga.

“Sori, ya, lo jadi pulang kemalaman,” kataku kepada Najla saat kami berakhir duduk di sebuah kafe seberang bengkel.
“Nggak apa-apa.”
“Sori juga di awal tadi gue kelihatan nggak ramah,” sesalku. “Lagi kurang bersemangat.”
“Masalah cewek, ya?” tuduhnya.
Aku mengangguk lesu. “Udah lama, sih.”
“Kalo tingkah lo sampai segitunya, gue tebak, dia yang mutusin, ya?”
“Benar,” batinku.
Tapi yang kali ini aku tidak meresponnya secara langsung. Karena kurasa, Najla pun juga bisa menebak hanya dengan melihat reaksiku.
Tiba-tiba, aku merasakan tangan menepuk dengkul kananku.  “Gini. Anggap aja… Lo masih diberi kesempatan sama Tuhan untuk ketemu dengan orang yang lebih baik dari dia, Yad.”
Refleks, aku menoleh untuk menatapnya. Mencari tanda kepura-puraan. Tetapi tidak ada. Dia mengatakannya dengan tulus. Seolah-olah dia juga pernah merasakan hal yang sama.
Entah makhluk dari mana merasukiku. Kubeberkan semua kepada Najla tentang perempuan di masa lalu itu. Tentang bagaimana kali pertama kami bertemu, merayakan hari jadi pertama kami, hal-hal lucu, naif, bahkan setiap detail mimpi-mimpi atau khayalan kami. Sampai saat di mana perempuan itu meninggalkanku hanya dengan alasan bahwa aku tidak bisa memberinya masa depan.
Dan, Najla adalah pendengar yang baik. Dia dengan sabar mendengarkan ceritaku layaknya seorang guru yang sedang mendengarkan ocehan anak TK. Tak sedikitpun dia mengelak atau menginterupsi. Seolah-olah curhatanku ini telah menyihirnya untuk selalu mendengarkan. Apabila aku ingin jujur, dia adalah satu-satunya orang yang rasanya aku bisa menceritakan apa saja padanya. Atau mungkin lebih tepatnya, aku merasakan kenyamanan untuk menceritakan apa saja padanya.
Perasaan apa ini? Lalu aku mencoba menganalisa diriku sendiri.  Apa mungkin… secara tidak sadar, aku mulai menyukainya?
Tapi aku mengesampingkan analisa sementara itu dan melanjutkan obrolan. Saking serunya kami ngobrol—faktanya lebih banyak aku yang bicara—baru ngeh kalau jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku merasa bodoh sekali karena sudah membiarkannya pulang larut malam.
“Naj, sori lagi. Lo malah tambah malem pulangnya. Coba cek ke bengkelnya, yuk. Siapa tahu udah selesai, habis itu langsung cepat pulang.”
Najla meneguk sisa kopinya dan manggut-manggut. “Yuk.”
Ternyata benar. Si mobil sudah sehat kembali belum lama setelah aku dan Najla berniat menyebrang tadi. Aku langsung mengecek keadaan mobilku. Setelah puas, aku  memberi imbalan hasil jerih payah tukang bengkel yang sampai malam membetulkan mobilku.
Perjalanan pun dimulai kembali. Dan Najla mengarahkan alamat tempat tinggalnya kepadaku. Setelah belokkan terakhir, kami sampai di depan rumahnya.
Kami sempat diam beberapa saat, berkecamuk dalam pikiran masing-masing. Lalu akhirnya Najla angkat bicara, “Makasih, ya, udah repot-repot mau nganterin.”
Mungkin malam ini adalah kali pertamanya aku mengulas senyum lepas. “Makasih juga udah rela kupingnya panas denger cerita gue.”
Dia tertawa kecil lalu menggeleng. Membuka pintu mobil dan keluar. Kuturunkan kaca pintu mobil tempat kemudiku dan mengawasinya jalan menuju pagar rumahnya. Tiba-tiba, dia berhenti dan menoleh ke belakang.
Menghela nafas sebelum akhirnya bilang, “Well, belum tentu reuni dadakan lagi, kan?”
Aku mengangguk. “Ya. Belum tentu reuni dadakan lagi.”
Setelah itu dia berbalik, membuka kunci pagar rumahnya dan masuk ke dalam.
Aku menutup kaca mobilku dan diam di situ dalam lamunan. Kuulang semua momen tadi saat bersama Najla. Sempat aku berpikir bahwa seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu dengan Najla lebih cepat, mungkin tidak akan begini ceritanya. Tapi, ku teringat kata-kata Najla saat di kafe. Bahwa mungkin, Tuhan memang sudah memberiku kesempatan untuk bertemu dengan yang lebih baik. Dan Dia mempertemukanku dengan Najla. Kata-kata Najla tadi  adalah sebuah pesan dari Tuhan, bahwa Dia sedang membuat rencana dan memberiku kesempatan lain.
Saat berpikir rencana, ku teringat mobilku yang tiba-tiba rusak tidak seperti biasanya. Alih-alih, malah aku dan Najla berhenti di sebuah kafe dan saling bercerita. Ya, itu termasuk rencana Tuhan untukku agar aku mulai lagi untuk membuka hati.
Hah. Kusadarkan diriku sendiri dari lamunan itu.  Menangkupkan kedua tanganku ke muka dan tertawa pelan sambil menggeleng tidak percaya. Setelah itu menancap gas dan membanting setir untuk pulang ke rumah.



 Sungguh. Tuhan adalah Sang Pembuat Skenario Terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar