Sabtu, 19 September 2015

Yesenia Zurafa

Reuni Betty

Brak! Seseorang menggebrak mejaku keras. Aku terbangun. Ternyata Anita, salah satu rekan kerjaku menghampiriku.
“Najla bangunn! nih, ada 3 interview buat hari ini sama besok. Terus lo urusin asuransi karyawan baru yang namanyaa.. hmm aduh gue lupa namanya siapa”
“Fani?”tanyaku. “iya, Fani! Tolong selesein secepetnya ya. Gua udah diburu-buru bos. Makasih” Anita pergi meninggalkan mejaku begitu saja bahkan sebelum aku sempat membalas perintahnya. Parah. Baru 5 menit aku sampai kantor, sudah lebih dari banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Mataku berat, kepalaku pening. Pantas saja. kalau ku ingat, semalam aku begadang menyelesaikan tugas essay dari dosenku. Ya, kini aku sedang menempuh studi S2ku.
           
Aku baru bekerja dikantor ini selama 1 tahun. Latar belakangku sebagai sarjana psikologi menempatkanku pada salah satu posisi tersibuk di perusahaan. HRD. Kerjaanku banyak, mulai dari urusan recruitment pegawai baru, urus ini itu karyawan, sampai menentukan gaji dan kenaikan pangkat. Kalau dipikir-pikir, lebih baik aku melamar kerjaan di komnas anak atau bahkan buat lembaga konsultan sendiri. Tapi memang, semua sudah jalan takdir. Aku harus bersyukur. Toh banyak orang diluar sana yang berharap menempati posisiku kini.
           
Belum sempat aku tertunduk dan tertidur singkat untuk kedua kalinya, seseorang menghampiriku. Kali ini Pak Nandri, atasanku di bidang yang sama. Di belakangnya, seorang pria mengenakan kaus dan celana bahan yang ditekuk berputar pelan sambil melirik ruangan kerjaku. Siapa pria ini? Sungguh tidak sopan. Kupikir dia salah seorang pelamar yang akan aku wawancara. Tapi tidak mungkin. Mana ada orang yang ingin melamar pekerjaan dengan santainya datang dengan kaus dan celana santai? Kantorku yang bergerak dibidang advertising memang terbilang santai. Tapi tidak sampai sesantai pria itu. Pak Nandri akhirnya memperkenalkanku padanya “ini ada anak magang. Namanya Riyadi. Tolong kamu handle selama dia ada disini. Saya serahkan tanggung jawab sepenuhnya ke kamu.” “Baik pak.” balasku. tambah lagi kerjaanku satu, pikirku kesal. “Riyadi, ini Najla. HRD.” Ia meyodorkan tangannya. “Najla.” Kataku singkat. “kalau begitu saya keluar dulu” Pak Nandri meninggalkanku dengan Riyadi.
            Riyadi. Aku seperti pernah mendengar namanya, salah seorang teman SMA-ku. Tapi nama Riyadi itu banyak, tak hanya satu. Pikirku. Mungkin ia adalah Riyadi lain yang tak kukenal. Lagipula, wajahnya berbeda 180 derajat. Ia lalu menghampiriku yang sedari tadi duduk dibelakang meja. “sekarang saya ngapain?” tanyanya sambil mendekat kearahku. Aku yang sedang menerawang wajah Riyadi dulu, tersentak. “Eh, iya. Hhmm sekarang mending kamu buatin teh untuk saya. Gulanya sesendok.” Jawabku. Ia termenung. Mungkin kaget, persis sepertiku yang pertama kali magang saat itu. Kukira tugasku buat laporan atau sejenisnya. Tapi ternyata, hampir seminggu hanya disuruh-suruh buat minuman serta fotokopi dan ganti tinta. Ia mengangguk keras lalu meninggalkanku menuju pantry.
            “Ini tehnya. Gulanya sesendok.” Katanya sambil meletakkan secangkir teh dimejaku. “Makasih ya.” Aku mengambil tehnya dan meletakkannya lebih dekat kearahku. “Ngomong-ngomong, besok tolong pakai pakaian yang lebih rapih. Kaus boleh, tapi jangan yang terlalu santai seperti itu.”kataku lalu meminum teh yang baru saja dibuatnya.  Tak kusangka, ia membalas perkataanku santai. “besok saja kan? Berarti lusa dan seterusnya saya akan pakai kaus oblong lagi. Hahahah” aku hampir saja tersedak. dasar. Anak magang bau kencur. Diberi nasihat sama atasannya malah membuat lawakan garing. Yaa walaupun aku bukan atasan yang sebenarnya, tapi setidaknya aku adalah pegawai tetap. Bukan anak magang. “tidak lucu.” Balasku. “sudah, sekarang print file saya yang judulnya MEI di bawah. Printer saya tintanya habis” aku menyerahkan flashdisk ku dengan kesal. “lima menit ya. Gapake lama” tambahku lagi. Ia mengiyakan perintahku lalu pergi.
            Hampir sembilan menit berlalu sejak aku menyuruhnya mengeprint dokumenku. tapi ia belum juga kembali. Kemana anak ini? Aku lalu keluar dan bertanya pada salah satu rekanku, Junilla. “tadi aku lihat dia keluar”jawabnya. “keluar? Keluar kantor?” tanyaku kaget. “anak magang yang pake kaos biru itu kan? Tadi dia keluar. Mungkin mau pindahin mobil atau apaa gitu” jawabnya lagi. Riyadi tiba-tiba datang sambil sedikit berlari dengan membawa pesanan printku. “dari mana kamu?” tanyaku kesal. “dari tempat print disebelah. Tadi disini ngantri, takut lebih dari lima menit”. Aku langsung menarik print-an itu dari tangannya. Sudah tau aku banyak pekerjaan, dia malah menyulitkanku, bukan membantu. Aku lalu berjalan kembali ke ruanganku dan dia pun mengikutiku. Apa-apaan anak ini. jelas-jelas dia magang di kantor. bukan diruanganku. Aku lalu berbalik dan memelototinya “jangan ngikutin saya terus. Sana bantu yang lain. Tanya-tanya” dia tersenyum lalu berbalik meninggalkanku. Syukurlah.
            Hari kedua sejak Riyadi magang di kantorku. Tak kusangka ia menuruti perintahku untuk mengganti style pakaiannya yang kelewat santai. Hari itu ia terlihat rapih dengan atasan kemeja lengan pendek dan celana bahan. “nih sudah ganti baju” katanya, saat pertama kali datang ke ruanganku. Aku mengangguk lalu memerintahkannya membuatkan teh seperti biasa. Dia lalu pergi ketika Pak Nandri datang. “tolong di data dokumen Riyadi. Cek apa riwayat hidupnya sudah benar. Saya mau input. nanti kalau sudah selesai kasih saya di ruangan” katanya sambil menyerahkan satu map berwarna merah.” Baik pak. Saya akan periksa.” Kataku. Ia lalu pergi kembali keruangannya.
            Aku mengecek dokumen demi dokumen dengan teliti. Memastikan semuanya sudah lengkap. sampai akhirnya aku terhenti di lembaran riwayat hidup. Jiwa penasaranku muncul. Kubaca informasi demi informasi yang tertera pada lembaran itu.  Mataku tertahan di suatu kalimat: ‘Riwayat pendidikan. SMA 1 Bekasi’ Aku kaget, tak percaya, tapi juga bingung. Riyadi? Riyadi teman SMAku? Tidak mungkin. Sama sekali tak mungkin. Pikiranku berkelana kembali ke 10 tahun yang lalu. Riyadi. Teman sekelasku, primadona sekolah, anak osis, rambutnya berjambul, ketua klub futsal yang menang lomba sana sini, yang gonta-ganti pacar setiap bulan. Lalu pikiranku kembali dengan Riyadi yang kini magang dikantorku. Muka kucel, kulit kusam, rambut keriting berantakan, pakaian seadanya. Jauh dari kata modis seperti yang dulu ia kerap kenakan. Mana mungkin Riyadi itu dan Riyadi yang kini magang dikantorku adalah Riyadi yang sama?
            Aku masih tersentak. Seperti dugaanku pada awalnya. Kalaupun ia memang benar-benar Riyadi teman SMA-ku, ingatanku yang paling jelas tentangnya adalah ejekannya padaku. Dulu badanku gendut, pendek, gigiku berbehel, dengan kacamata bulat besar dan poni rata yang hampir menutupi mataku, tak lupa rambutku yang selalu di kelabang ke belakang. orang-orang, terutama Riyadi dan genk-nya kerap memanggilku Betty. Ya, karena penampilanku Yang persis Betty La Fea. selepas SMA, aku berusaha mati-matian memperbaiki penampilanku. Mulai dari perawatan ke dokter kecantikan, facial sebulan sekali, diet hanya makan roti gandum dan buah, sampai daftar klub zumba di salah satu tempat fitness terkenal. Sampai akhirnya kudapat penampilanku kini. Kalau sampai Riyadi ingat denganku, lalu membeberkan bagaimana aku saat SMA dulu, popularitasku sebagai cewek tercantik dikantor bisa hancur. Bagaimana pula bila ia sadar bahwa orang yang selama ini terus memerintahnya, yang bersikap sok galak dan jutek adalah si buruk rupa yang dibullynya dulu? Paling parahnya, aku bisa saja dipanggil Betty lagi.  Padahal, penampilanku kini yang langsing dan tinggi semampai serta rambut bersinar dan mata bersoftlens abu-abu sudah mendekati kata sempurna.
Sebuah ide terbersit dipikiranku. Kini, Riyadi yang berstatus anak magang berada dibawah kendaliku sepenuhnya. Aku bisa saja melakukan apapun untuk mempermalukannya sebagai wujud balas dendamku untuk apa yang telah dia lakukan selama 3 tahun di SMA. Aku tertawa kecil. sungguh jahat. Pikirku. Tapi tak apa, hanya sedikit.
            Setelah kembali menyerahkan dokumen kepada pak Nandri, aku mencari Riyadi dan menghampirinya. “Di, tadi Fika menyuruh saya menyelesaikan beberapa dokumen. Tapi saya lupa dokumen apa saja. Bisa tolong Tanya dan tulisin apa saja dokumennya?” Aku tahu tulisannya tidak bagus. Jadi sengaja kusuruh dia tulis tangan. “ooh bisa” balasnya sigap “Fika ada diruangan sebelah kiri tangga di lantai dua” tambahku lagi. Ia lalu pergi. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan notes kecil ditangannya. Sengaja kutunggu dia didepan ruanganku. “ini” katanya. Aku mengeraskan suaraku “IHHH KAMU NULIS APA SIH GA KEBACA” orang orang langsung menengok kearahku dan Riyadi. Seorang rekanku, Arvian bertanya “Kenapa sih?” “ini si Riyadi tulisannya gajelas. Saya jadi gatau apa yang harus saya kerjakan” Riyadi menunduk lalu kembali mendongak dan bahkan sedikit membentakku. “iya, saya tahu tulisan saya memang seperti cakar ayam” aku berbalik. “kalau gitu saya telfon Fika sendiri saja” Riyadi yang mendengarku berkata begitu setelah ia naik-turun tangga kaget dan terlihat kesal. Memang enak. Kataku dalam hati.
            Esoknya kukerjai dia makin menjadi. “Riyadi buatkan minuman untuk saya” Tak seperti biasanya, hari ini ia membalas perintahku. “memangnya saya OB, setiap pagi disuruh buat minuman.” “dikantor ini OB hanya untuk berih-bersih. Minuman ambil sendiri” kataku. Ia lalu pergi begitu saja dan kembali membawa secangkir teh. “loh kok teh?” “biasanya memang teh kan. Gulanya sesendok” katanya ketus. “hari ini saya mau kopi. Maaf ya saya lagi sibuk jadi ga bisa buat sendiri” matanya melotot hampir keluar. “ia ibu boss” balasnya dengan nada yang sengaja meledek.  dengan terlihat kesal dia pergi meninggalkan ruanganku. Aku bisa mendengar dengan pelan dia berkata ‘dasar’.  Siangnya, Aku menyuruhnya memfotokopi beberapa dokumen yang sengaja kusalah-salahkan. Agar ia bekerja berkali-kali, naik-turun tangga. Ia terlihat semakin kesal dan selalu menghindar dariku agar tak kena perintahku lagi. Tapi tetap saja, aku kembali menyuruhnya. Lagi dan lagi. Bahkan aku sempat mempermalukannya ketika ia datang terlambat. Kukatakan, karena kantor ini memang berbeda dari kantor lain, siapapun yang terlambat harus bernyanyi, baru boleh masuk. Dengan bodohnya ia mengikuti perintahku sampai orang-orang memandanginya aneh.
            Esoknya ketika istirahat makan siang, seluruh divisiku termasuk Riyadi berkumpul di pantry. Makan sembari bercerita dan sharing berbagai hal. Pembicaraan berjalan seru namun aku mulai tak tertarik ketika sampai ke topik yang paling aku takutkan, Masa SMA. Semua orang terlihat antusias bercerita tentang masa SMAnya, tak terkecuali Riyadi. “Saya dulu ketua klub futsal. Dan klub futsal yang saya pimpin juara langganan piala gubernur” katanya bangga. Cuih. Padahal aku tau pasti, klubnya memang sering juara, tetapi menang piala gubernur hanya sekali. “Najla sebenarnya kamu SMA mana sih?” Pertanyaan salah seorang rekan terdekatku, Fira mengangetkanku. Disusul oleh beberpa orang yang menanyakan pertanyaan yang sama. Memang, selama bekerja tak sekalipun aku memberitahu almamater sekolahku. “saya punya teman yang suaranya mirip dengan Najla. Jangan-jangan itu kamu ya hahaha” kata Riyadi. Aku tersentak. Hampir saja tersedak biscuit gandum yang tengah kumakan. Tidak, Riyadi tidak boleh ingat bahwa aku adalah Khansa, Si Betty yang sering diejeknya dulu. “siapa memangnya temanmu yang suaranya mirip denganku? Hahaha ada-ada saja. Suara orang banyak yang mirip kan” balasku. “Namanya Khansa. Ada yang kenal mungkin hahaha” gawat. Benar-benar gawat. Ternyata ia tau bahkan masih ingat nama asliku. Beberapa rekan terdekatku mulai meyadari sesuatu. “loh nama panjangmu kan Taajkhansa?” kata Rania. Rekanku yang lain mulai mengiyakan. Riyadi yang terlihat kaget berdiri dan menunjukku dengan telunjuknya. “iya! Aku ingat! Namanya Taajkhansa Najla. HAHAHAHA si Betty yang waktu itu” katanya sambil tertawa terbahak bahak. Dia lalu mulai mengungkap semua aibku yang tak bisa aku hentikan. Ditambah tuduhannya yang mengatakan bahwa aku operasi plastic. Rekanku yang lain ikut tertawa seperti hendak mempermalukanku. Aku yakin, mulai saat itu orang-orang akan memanggilku Betty. Aku yang kesal lalu berusaha meninggalkan pantry.
            Riyadi menyusulku. “loh kenapa pergi? Obrolan tadi lagi seru lho” katanya sambil tertawa kecil. “puas membuat teman-temanku mentertawakanku? Puas bongkar semua aibku?”
“loh-loh saya ga mempermalukanmu kok. Itukan fakta hahaha saya jadi tau kenapa kamu ngerjain saya habis-habisan beberapa hari belakangan. Ternyata mau balas dendam ya?” katanya lagi. Sumpah, jika bukan sedang dikantor sudah ku kata-katai dia habis-habisan. Aku pergi dan kembali keruanganku.
           
Pagi itu, aku sampai dikantor disambut tertawaan orang-orang. Riyadi dengan sengaja membawa buku tahunan SMA. Dan mempertontonkan bagaimana Betty-nya aku saat sekolah dulu. Ku tarik buku itu. Semua orang kaget dan menengok kearahku. “kenapa diambil?” tanya seorang rekanku. “ga lucu. Gaperlu ketawa kaya gitu” kataku lalu berlalu. “Tapi kita salut loh. Kamu bisa berubah sejauh itu sampai bisa jadi cantik kaya sekarang” kata Anita. Langkahku terhenti. Seseorang menambahkan lagi “kasih tips dietnya dong. Aku juga pingin jadi cantik kaya kamu hahaha”. Aku tersadar. Mereka sebenarnya bukan mentertawakan penampilanku dulu, tapi sebenarnya takjub akan perubahan yang aku alami. Aku berbalik lalu bertanya. “kalian ngetawain saya kan? Sampai terbahak-bahak seperti itu?” “kita cuma kaget. Saking kagetnya sampai tertawa” balas seorang lainnya. Aku tersenyum dan sadar bahwa tidak pantas berburuk sangka pada seseorang. Lagipula, kalau memang benar mereka mentertawakanku, aku tak peduli. mereka mentertawakan aku yang dulu, bukan aku yang sekarang. Aku kembali ke kerumunan rekan-rekanku dan membuka buku tahunan itu lagi. Malah, ikut tertawa bersama ketika melihat halaman yang terdapat foto Riyadi didalamnya. Rekanku makin keras tertawa. Riyadi menoleh kearahku dan aku pun menoleh kearahnya. Kami tersenyum.


Masa lalu yang buruk bukanlah cara untuk saling mempermalukan tetapi adalah cara untuk saling mengenang. Menjadikannya pelajaran, bukan sebagai bahan olokan yang harus diprtontonkan. Menyimpannya sebagai ingatan manis, bukan menutupinya dengan hati meringis. Kini aku dapat menjalankan kehidupan kantorku yang tenang tanpa harus menutupi apapun. Mensyukuri kehadiran Riyadi yang secara tak langsung menyadarkan pikiran kolotku akan masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar