Reuni Betty
Brak! Seseorang menggebrak mejaku
keras. Aku terbangun. Ternyata Anita, salah satu rekan kerjaku menghampiriku.
“Najla bangunn! nih, ada 3 interview
buat hari ini sama besok. Terus lo urusin asuransi karyawan baru yang
namanyaa.. hmm aduh gue lupa namanya siapa”
“Fani?”tanyaku. “iya, Fani! Tolong
selesein secepetnya ya. Gua udah diburu-buru bos. Makasih” Anita pergi
meninggalkan mejaku begitu saja bahkan sebelum aku sempat membalas perintahnya.
Parah. Baru 5 menit aku sampai kantor, sudah lebih dari banyak kerjaan yang
harus aku selesaikan. Mataku berat, kepalaku pening. Pantas saja. kalau ku
ingat, semalam aku begadang menyelesaikan tugas essay dari dosenku. Ya, kini
aku sedang menempuh studi S2ku.
Aku baru bekerja dikantor ini selama 1
tahun. Latar belakangku sebagai sarjana psikologi menempatkanku pada salah satu
posisi tersibuk di perusahaan. HRD.
Kerjaanku banyak, mulai dari urusan recruitment
pegawai baru, urus ini itu karyawan, sampai menentukan gaji dan kenaikan
pangkat. Kalau dipikir-pikir, lebih baik aku melamar kerjaan di komnas anak
atau bahkan buat lembaga konsultan sendiri. Tapi memang, semua sudah jalan
takdir. Aku harus bersyukur. Toh banyak orang diluar sana yang berharap
menempati posisiku kini.
Belum sempat aku tertunduk dan
tertidur singkat untuk kedua kalinya, seseorang menghampiriku. Kali ini Pak Nandri,
atasanku di bidang yang sama. Di belakangnya, seorang pria mengenakan kaus dan
celana bahan yang ditekuk berputar pelan sambil melirik ruangan kerjaku. Siapa pria
ini? Sungguh tidak sopan. Kupikir dia salah seorang pelamar yang akan aku
wawancara. Tapi tidak mungkin. Mana ada orang yang ingin melamar pekerjaan
dengan santainya datang dengan kaus dan celana santai? Kantorku yang bergerak
dibidang advertising memang terbilang
santai. Tapi tidak sampai sesantai pria itu. Pak Nandri akhirnya
memperkenalkanku padanya “ini ada anak magang. Namanya Riyadi. Tolong kamu handle selama dia ada disini. Saya
serahkan tanggung jawab sepenuhnya ke kamu.” “Baik pak.” balasku. tambah lagi
kerjaanku satu, pikirku kesal. “Riyadi, ini Najla. HRD.” Ia meyodorkan tangannya. “Najla.” Kataku singkat. “kalau
begitu saya keluar dulu” Pak Nandri meninggalkanku dengan Riyadi.
Riyadi. Aku seperti pernah mendengar
namanya, salah seorang teman SMA-ku. Tapi nama Riyadi itu banyak, tak hanya
satu. Pikirku. Mungkin ia adalah Riyadi lain yang tak kukenal. Lagipula,
wajahnya berbeda 180 derajat. Ia lalu menghampiriku yang sedari tadi duduk
dibelakang meja. “sekarang saya ngapain?” tanyanya sambil mendekat kearahku.
Aku yang sedang menerawang wajah Riyadi dulu, tersentak. “Eh, iya. Hhmm
sekarang mending kamu buatin teh untuk saya. Gulanya sesendok.” Jawabku. Ia
termenung. Mungkin kaget, persis sepertiku yang pertama kali magang saat itu.
Kukira tugasku buat laporan atau sejenisnya. Tapi ternyata, hampir seminggu
hanya disuruh-suruh buat minuman serta fotokopi dan ganti tinta. Ia mengangguk
keras lalu meninggalkanku menuju pantry.
“Ini tehnya. Gulanya sesendok.”
Katanya sambil meletakkan secangkir teh dimejaku. “Makasih ya.” Aku mengambil
tehnya dan meletakkannya lebih dekat kearahku. “Ngomong-ngomong, besok tolong
pakai pakaian yang lebih rapih. Kaus boleh, tapi jangan yang terlalu santai
seperti itu.”kataku lalu meminum teh yang baru saja dibuatnya. Tak kusangka, ia membalas perkataanku santai.
“besok saja kan? Berarti lusa dan seterusnya saya akan pakai kaus oblong lagi.
Hahahah” aku hampir saja tersedak. dasar. Anak magang bau kencur. Diberi
nasihat sama atasannya malah membuat lawakan garing. Yaa walaupun aku bukan
atasan yang sebenarnya, tapi setidaknya aku adalah pegawai tetap. Bukan anak
magang. “tidak lucu.” Balasku. “sudah, sekarang print file saya yang judulnya
MEI di bawah. Printer saya tintanya habis” aku menyerahkan flashdisk ku dengan
kesal. “lima menit ya. Gapake lama” tambahku lagi. Ia mengiyakan perintahku
lalu pergi.
Hampir sembilan menit berlalu sejak
aku menyuruhnya mengeprint dokumenku. tapi ia belum juga kembali. Kemana anak
ini? Aku lalu keluar dan bertanya pada salah satu rekanku, Junilla. “tadi aku
lihat dia keluar”jawabnya. “keluar? Keluar kantor?” tanyaku kaget. “anak magang
yang pake kaos biru itu kan? Tadi dia keluar. Mungkin mau pindahin mobil atau
apaa gitu” jawabnya lagi. Riyadi tiba-tiba datang sambil sedikit berlari dengan
membawa pesanan printku. “dari mana kamu?” tanyaku kesal. “dari tempat print
disebelah. Tadi disini ngantri, takut lebih dari lima menit”. Aku langsung
menarik print-an itu dari tangannya. Sudah tau aku banyak pekerjaan, dia malah
menyulitkanku, bukan membantu. Aku lalu berjalan kembali ke ruanganku dan dia
pun mengikutiku. Apa-apaan anak ini. jelas-jelas dia magang di kantor. bukan
diruanganku. Aku lalu berbalik dan memelototinya “jangan ngikutin saya terus.
Sana bantu yang lain. Tanya-tanya” dia tersenyum lalu berbalik meninggalkanku.
Syukurlah.
Hari kedua sejak Riyadi magang di
kantorku. Tak kusangka ia menuruti perintahku untuk mengganti style pakaiannya yang kelewat santai.
Hari itu ia terlihat rapih dengan atasan kemeja lengan pendek dan celana bahan.
“nih sudah ganti baju” katanya, saat pertama kali datang ke ruanganku. Aku
mengangguk lalu memerintahkannya membuatkan teh seperti biasa. Dia lalu pergi
ketika Pak Nandri datang. “tolong di data dokumen Riyadi. Cek apa riwayat
hidupnya sudah benar. Saya mau input. nanti kalau sudah selesai kasih saya di
ruangan” katanya sambil menyerahkan satu map berwarna merah.” Baik pak. Saya
akan periksa.” Kataku. Ia lalu pergi kembali keruangannya.
Aku mengecek dokumen demi dokumen
dengan teliti. Memastikan semuanya sudah lengkap. sampai akhirnya aku terhenti
di lembaran riwayat hidup. Jiwa penasaranku muncul. Kubaca informasi demi
informasi yang tertera pada lembaran itu.
Mataku tertahan di suatu kalimat: ‘Riwayat pendidikan. SMA 1 Bekasi’ Aku
kaget, tak percaya, tapi juga bingung. Riyadi? Riyadi teman SMAku? Tidak
mungkin. Sama sekali tak mungkin. Pikiranku berkelana kembali ke 10 tahun yang
lalu. Riyadi. Teman sekelasku, primadona sekolah, anak osis, rambutnya
berjambul, ketua klub futsal yang menang lomba sana sini, yang gonta-ganti
pacar setiap bulan. Lalu pikiranku kembali dengan Riyadi yang kini magang
dikantorku. Muka kucel, kulit kusam, rambut keriting berantakan, pakaian
seadanya. Jauh dari kata modis seperti yang dulu ia kerap kenakan. Mana mungkin
Riyadi itu dan Riyadi yang kini magang dikantorku adalah Riyadi yang sama?
Aku masih tersentak. Seperti
dugaanku pada awalnya. Kalaupun ia memang benar-benar Riyadi teman SMA-ku,
ingatanku yang paling jelas tentangnya adalah ejekannya padaku. Dulu badanku gendut,
pendek, gigiku berbehel, dengan kacamata bulat besar dan poni rata yang hampir
menutupi mataku, tak lupa rambutku yang selalu di kelabang ke belakang.
orang-orang, terutama Riyadi dan genk-nya kerap memanggilku Betty. Ya, karena
penampilanku Yang persis Betty La Fea. selepas SMA, aku berusaha mati-matian
memperbaiki penampilanku. Mulai dari perawatan ke dokter kecantikan, facial
sebulan sekali, diet hanya makan roti gandum dan buah, sampai daftar klub zumba
di salah satu tempat fitness terkenal. Sampai akhirnya kudapat penampilanku
kini. Kalau sampai Riyadi ingat denganku, lalu membeberkan bagaimana aku saat
SMA dulu, popularitasku sebagai cewek tercantik dikantor bisa hancur. Bagaimana
pula bila ia sadar bahwa orang yang selama ini terus memerintahnya, yang
bersikap sok galak dan jutek adalah si buruk rupa yang dibullynya dulu? Paling
parahnya, aku bisa saja dipanggil Betty lagi.
Padahal, penampilanku kini yang langsing dan tinggi semampai serta
rambut bersinar dan mata bersoftlens
abu-abu sudah mendekati kata sempurna.
Sebuah
ide terbersit dipikiranku. Kini, Riyadi yang berstatus anak magang berada
dibawah kendaliku sepenuhnya. Aku bisa saja melakukan apapun untuk
mempermalukannya sebagai wujud balas dendamku untuk apa yang telah dia lakukan
selama 3 tahun di SMA. Aku tertawa kecil. sungguh jahat. Pikirku. Tapi tak apa,
hanya sedikit.
Setelah kembali menyerahkan dokumen
kepada pak Nandri, aku mencari Riyadi dan menghampirinya. “Di, tadi Fika
menyuruh saya menyelesaikan beberapa dokumen. Tapi saya lupa dokumen apa saja.
Bisa tolong Tanya dan tulisin apa saja dokumennya?” Aku tahu tulisannya tidak
bagus. Jadi sengaja kusuruh dia tulis tangan. “ooh bisa” balasnya sigap “Fika
ada diruangan sebelah kiri tangga di lantai dua” tambahku lagi. Ia lalu pergi.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan notes kecil ditangannya. Sengaja
kutunggu dia didepan ruanganku. “ini” katanya. Aku mengeraskan suaraku “IHHH
KAMU NULIS APA SIH GA KEBACA” orang orang langsung menengok kearahku dan
Riyadi. Seorang rekanku, Arvian bertanya “Kenapa sih?” “ini si Riyadi
tulisannya gajelas. Saya jadi gatau apa yang harus saya kerjakan” Riyadi
menunduk lalu kembali mendongak dan bahkan sedikit membentakku. “iya, saya tahu
tulisan saya memang seperti cakar ayam” aku berbalik. “kalau gitu saya telfon Fika
sendiri saja” Riyadi yang mendengarku berkata begitu setelah ia naik-turun
tangga kaget dan terlihat kesal. Memang enak. Kataku dalam hati.
Esoknya kukerjai dia makin menjadi.
“Riyadi buatkan minuman untuk saya” Tak seperti biasanya, hari ini ia membalas
perintahku. “memangnya saya OB, setiap pagi disuruh buat minuman.” “dikantor
ini OB hanya untuk berih-bersih. Minuman ambil sendiri” kataku. Ia lalu pergi
begitu saja dan kembali membawa secangkir teh. “loh kok teh?” “biasanya memang
teh kan. Gulanya sesendok” katanya ketus. “hari ini saya mau kopi. Maaf ya saya
lagi sibuk jadi ga bisa buat sendiri” matanya melotot hampir keluar. “ia ibu
boss” balasnya dengan nada yang sengaja meledek. dengan terlihat kesal dia pergi meninggalkan
ruanganku. Aku bisa mendengar dengan pelan dia berkata ‘dasar’. Siangnya, Aku menyuruhnya memfotokopi beberapa
dokumen yang sengaja kusalah-salahkan. Agar ia bekerja berkali-kali, naik-turun
tangga. Ia terlihat semakin kesal dan selalu menghindar dariku agar tak kena
perintahku lagi. Tapi tetap saja, aku kembali menyuruhnya. Lagi dan lagi.
Bahkan aku sempat mempermalukannya ketika ia datang terlambat. Kukatakan,
karena kantor ini memang berbeda dari kantor lain, siapapun yang terlambat
harus bernyanyi, baru boleh masuk. Dengan bodohnya ia mengikuti perintahku
sampai orang-orang memandanginya aneh.
Esoknya ketika istirahat makan
siang, seluruh divisiku termasuk Riyadi berkumpul di pantry. Makan sembari bercerita dan sharing berbagai hal. Pembicaraan berjalan seru namun aku mulai tak
tertarik ketika sampai ke topik yang paling aku takutkan, Masa SMA. Semua orang
terlihat antusias bercerita tentang masa SMAnya, tak terkecuali Riyadi. “Saya
dulu ketua klub futsal. Dan klub futsal yang saya pimpin juara langganan piala
gubernur” katanya bangga. Cuih. Padahal aku tau pasti, klubnya memang sering
juara, tetapi menang piala gubernur hanya sekali. “Najla sebenarnya kamu SMA
mana sih?” Pertanyaan salah seorang rekan terdekatku, Fira mengangetkanku.
Disusul oleh beberpa orang yang menanyakan pertanyaan yang sama. Memang, selama
bekerja tak sekalipun aku memberitahu almamater sekolahku. “saya punya teman
yang suaranya mirip dengan Najla. Jangan-jangan itu kamu ya hahaha” kata
Riyadi. Aku tersentak. Hampir saja tersedak biscuit gandum yang tengah kumakan.
Tidak, Riyadi tidak boleh ingat bahwa aku adalah Khansa, Si Betty yang sering
diejeknya dulu. “siapa memangnya temanmu yang suaranya mirip denganku? Hahaha
ada-ada saja. Suara orang banyak yang mirip kan” balasku. “Namanya Khansa. Ada
yang kenal mungkin hahaha” gawat. Benar-benar gawat. Ternyata ia tau bahkan
masih ingat nama asliku. Beberapa rekan terdekatku mulai meyadari sesuatu. “loh
nama panjangmu kan Taajkhansa?” kata Rania. Rekanku yang lain mulai mengiyakan.
Riyadi yang terlihat kaget berdiri dan menunjukku dengan telunjuknya. “iya! Aku
ingat! Namanya Taajkhansa Najla. HAHAHAHA si Betty yang waktu itu” katanya
sambil tertawa terbahak bahak. Dia lalu mulai mengungkap semua aibku yang tak
bisa aku hentikan. Ditambah tuduhannya yang mengatakan bahwa aku operasi
plastic. Rekanku yang lain ikut tertawa seperti hendak mempermalukanku. Aku
yakin, mulai saat itu orang-orang akan memanggilku Betty. Aku yang kesal lalu
berusaha meninggalkan pantry.
Riyadi menyusulku. “loh kenapa
pergi? Obrolan tadi lagi seru lho” katanya sambil tertawa kecil. “puas membuat
teman-temanku mentertawakanku? Puas bongkar semua aibku?”
“loh-loh saya ga mempermalukanmu kok.
Itukan fakta hahaha saya jadi tau kenapa kamu ngerjain saya habis-habisan beberapa
hari belakangan. Ternyata mau balas dendam ya?” katanya lagi. Sumpah, jika
bukan sedang dikantor sudah ku kata-katai dia habis-habisan. Aku pergi dan
kembali keruanganku.
Pagi itu, aku sampai dikantor disambut
tertawaan orang-orang. Riyadi dengan sengaja membawa buku tahunan SMA. Dan
mempertontonkan bagaimana Betty-nya aku saat sekolah dulu. Ku tarik buku itu.
Semua orang kaget dan menengok kearahku. “kenapa diambil?” tanya seorang
rekanku. “ga lucu. Gaperlu ketawa kaya gitu” kataku lalu berlalu. “Tapi kita
salut loh. Kamu bisa berubah sejauh itu sampai bisa jadi cantik kaya sekarang”
kata Anita. Langkahku terhenti. Seseorang menambahkan lagi “kasih tips dietnya
dong. Aku juga pingin jadi cantik kaya kamu hahaha”. Aku tersadar. Mereka
sebenarnya bukan mentertawakan penampilanku dulu, tapi sebenarnya takjub akan
perubahan yang aku alami. Aku berbalik lalu bertanya. “kalian ngetawain saya
kan? Sampai terbahak-bahak seperti itu?” “kita cuma kaget. Saking kagetnya
sampai tertawa” balas seorang lainnya. Aku tersenyum dan sadar bahwa tidak
pantas berburuk sangka pada seseorang. Lagipula, kalau memang benar mereka
mentertawakanku, aku tak peduli. mereka mentertawakan aku yang dulu, bukan aku yang
sekarang. Aku kembali ke kerumunan rekan-rekanku dan membuka buku tahunan itu
lagi. Malah, ikut tertawa bersama ketika melihat halaman yang terdapat foto
Riyadi didalamnya. Rekanku makin keras tertawa. Riyadi menoleh kearahku dan aku
pun menoleh kearahnya. Kami tersenyum.
Masa lalu yang buruk bukanlah cara
untuk saling mempermalukan tetapi adalah cara untuk saling mengenang. Menjadikannya
pelajaran, bukan sebagai bahan olokan yang harus diprtontonkan. Menyimpannya
sebagai ingatan manis, bukan menutupinya dengan hati meringis. Kini aku dapat
menjalankan kehidupan kantorku yang tenang tanpa harus menutupi apapun.
Mensyukuri kehadiran Riyadi yang secara tak langsung menyadarkan pikiran
kolotku akan masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar