KERJA KERAS KU, LADANG SUKSES KU!
Nampaknya, pagi itu sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Matahari
pagi di tengah kota Jakarta menyambutku
dengan senyum setiap paginya. Dan itulah yang aku rasakan sekarang. Bahagia,
hidup bersama orang tua ku . tanpa cemoohan yang dikeluarkan orang-orang yang
tak punya hati nurani.
Ya, rutinitas ku
adalah bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan besar dan ternama di
kota Jakarta. Najla, itulah namaku.
Walaupun seorang manager, setiap berangkat dan pulang kerja aku selalu
berjalan kaki atau juga kadang kadang aku menggunakan sepedaku. Aku bisa sukses
seperti ini tak luput dari dukungan keluargaku. Dan juga sahabatku ini, Namanya
Riyadi. Dulu aku tinggal di kampung, sebuah pedalaman di daerah Sumatera Barat,
lebih tepatnya di Pariaman. Jadi bisa dikatakan aku adalah orang minang, yang
tau akan sopan santun dan juga sebagai seorang perempuan minang haruslah bisa
menjadi seorang perempuan yang bisa masak dan melakukan pekerjaan rumah
lainnya. Aku tak tau dengan adat di daerah lain. Mungkin saja sama.
Sebelum mencapai kesuksesan seperti ini, sangat amat
banyak rintangan yang harus aku lalui. Mulai dari ketidak sukaan orang padaku,
kebencian orang padaku dan sebagainya. Tapi semua itu, dengan ikhlas aku hadapai
sampai akhirnya aku bisa hidup seperti sekarang ini.
Dulu saat aku duduk di bangku
Sekolah Dasar. Aku selalu di hina oleh teman sejawat ku. Katanya aku anak orang
miskin. Dan juga tak pintar. Aku tak punya teman, mereka pikir aku bukan teman
yang selevel dengan mereka. Ada satu orang lelaki yang selalu menghinaku
habis-habisan, namanya Sofwan. Awalnya aku sering menangis karnanya, tapi apa
daya, aku hanya orang miskin yang jika aku mengadu pun tak akan di dengar oleh para guru
dan staf. Bagaimana tidak, guru di
sekolah pun tidak ada yang memperlakukan aku sama seperti murid lainnya.
mungkin karana, SPP ku yang sering nunggak. Bagaimana mungkin aku bisa pintar
seperti anak lainnya?orang tua ku tak mampu membelikan buku, apalagi alat-alat
tulis. Paling, aku hanya membawa satu buah pensil ke sekolah dan pensil itu tak
boleh sampai hilang. Aku hanya menulis di daun pisang, yang kadang tulisannya
cept terhapus. Dan Buat makan sekali dalam sehari saja sudah syukur
alhamdulillah. “Mungkin inilah nasibku” , bisikku dalam hati ketika kecil.
Ketika aku duduk di bangku Sekolah
Menengah Pertama, ternyata tak seburuk ketika aku di Sekolah Dasar. Masih ada
yang bisa menghargaiku. Walaupun ada saja yang membenciku. Kala itu sedang
trend dengan yang namanya “Geng”. Di sekolah ku terdapat geng yang sering
membuli anak-anak miskin seperti aku ini. Mereka itu terdiri dari 4 orang,
yaitu Rania, Tuti, Fani dan juga Afa. Jika mereka sudah membuli seseorang,
pasti orang itu tak bisa berkutik dan hanya bisa menerima nasib. Mungkin inilah
nasibku. Lagi-lagi ada saja masalahnya. Aku sekelas dengan mereka. Hari ini
mereka tau, bahwa orang tuaku hanya berjualan singkong. Tapi memang apa
salahnya sih ? toh itu pekerjaan halal. Aku sangat bangga dan sayang pada
mereka, walau mereka hanya bekerja sebagai penjual singkong. Ketika istirahat,
aku rasa mereka melihatku tak seperti hari-hari sebelumnya. Dan kali ini
ketidak beruntungan menimpaku. Aku tak sengaja menumpahkan kuah bakso ke baju
ketua geng itu. Dan habis lah aku dibuli mereka. Awalnya mereka hanya
menertawakanku sebagai anak orang miskin. Tapi, lama kelamaan mereka menghina
orang tuaku. Tak pantas sekali! Aku masih bisa menerima jika mereka hanya
menghinaku. Aku sudah biasa terhadap cemoohan itu, ibarat kata aku sudah kebal.
Tapi ketika mereka sudah mulai menjelakkan orang tuaku, tanpa berfikir panjang
tentang masalah yang akan aku terima nanti aku langsung menampar mereka satu
per satu. Aku tak peduli. Mereka tak berhak berbicara tentang orang tuaku
dengan kata-kata kasar. Aku tak suka mendengarnya. Dan masalah pun belum
selesai sampa disini. Ketika aku pulang, aku dikeroyok oleh teman laki-laki
mereka. Ya, aku terima saja. Muka ku lebam, tapi aku merasa senang. Sekarang aku sudah bisa melawan orang yang
jahat padaku. Tapi sampai di rumah, malah ibuku yang menangis melihat
kondisiku. Padahal aku merasa baik-baik saja. Beliau merasa bersalah, karna
beliau lah, aku tidak bisa hidup enak seperti yang lain. Aku selalu berkata
seperti ini pada orangtuaku “Tak masalah
aku hidup dalam kekurangan ini, asalkan aku bisa hidup dengan cinta bersama ibu
dan ayah. Sudahlah, aku kuat kok!” Aku berusaha membuat ibuku itu tidak cemas
akan kondisiku. Yah setelah kejadian hari itu, mereka tak pernah membuliku
lagi, mungkin tak mau dipermalukan lagi. Setidaknya aku lebih aman sekarang,
karna aku sudah mempunyai beberapa teman dekat. Senang rasanya dapat menemukan
sosok manusia yang tidak melihatku dari sisi ekonomi keluargaku. Mulai dari
sekarang, aku bertekad untuk sukses dan menaikan derajat orang tuaku. Karena
tekad ku yang kuat itu akhirnya aku bisa lulu SMP dengan nilai UN tertinggi dan
akhirnya mendapatkan beasiswa ke Sekolah Menengah Atas di daerah Jakarta.
Awalnya orangtua ku ragu, karna mereka hanya bisa memberiku jajan ketika ada duit saja. Dan aku selalu bilang
pada mereka, aku pasti sanggup menjalani semua ini. Dan akhirnya aku di izinkan
melanjutkan sekolah ke Jakarta
Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta,
aku merasa sepi, sendiri dan asing. Di kota ini, nampaknya orang – orang hanya
mementingkan diri mereka masing-masing. Tak sama dengan orang kampungku. Yang
ramah, dan ringan tangan jika ada yang meminta tolong. Mau bertanya saja,
rasanya tak akan dipedulikan. Mereka tampak tak bersahabat. Mungkin, karna aku
baru menginjakkan kakiku di kota ini. Aku tinggal di sebuah kost an dekat
sekolah ku memang bisa dibilang rumah itu sangat kecil. Tapi aku tetap
bersyukur dengan kondisi itu. Masih banyak orang di luar sana yang hanya tidur
di pinggir jalan saja. Masih untung aku masih bisa tidur di alaskan kasur.
Alhamdulillah, hari pertama aku sekolah di Jakarta berjalan mulus. Mulus
sekali. Aku bergaul dengan siapa saja disana. Ternyata tak sepenuhnya dugaanku
benar akan orang kota, ternyata di sekolah ini lebih banyak yang menghargaiku.
Rutinitas ku setelah pulang sekolah adalah bekerja sambilan. Kadang-kadang aku
menjadi seorang pelayan di salah satu restoran. Kadang aku berjualan koran.
Kadanga aku ngojek atau bahkan berjualan asongan. Tapi tak pernah sekali pun
aku ingin mengamen dan hal lain yang semacam mengemis. Aku yakin, masih banyak
pekerjaan selain harus mengemis kepada orang lain. Oh ya, kadang di sekolah aku
berjualan makanan. Ya lumayan lah untuk tambah-tambah jajan dan uang sakuku. Dan
biasanya uang dari aku berjualan itu, ku pakai untuk pergi ke Wartel. Untuk
menghubungi ayah dan ibuku. Dalam seminggu, aku menelpon mereka mungkin 2 kali,
dan setiap aku berbicara pada mereka aku selalu mengatakan bahwa aku sangat
rindu pada mereka berdua.
Aku berkenalah dengan Riyadi saat aku duduk dibangku
kelas 2 SMA. Dia sangat pintar dan menyenangkan. Dia anggota OSIS di sekolah
ku, termasuk anak yang bisa dibilang eksis. Kami sangat dekat karna guru-guru
sekolah ku sering membuat aku dan Riyadi dalam satu kelompok dalam bidang
pelajaran apapun. Dan dia yang selalu bersemangat untuk menyemangatiku dalam
menuntut ilmu. Kedekatan kami hanya sebagai sahabat, tak lebih. Orang-orang di
sekolah menilai hubungan ku dengannya agak berlebihan. Mereka mengira aku dan
dia berpacaran. Mana mungkin hal itu bisa terjadi.
Akhirnya, ketika lulus SMA aku melanjutkan sekolah ku
ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, namanya Perguruan Tinggi. Alhamdulillah, aku
mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ku di Fakultas Bisnis and
Management ITB. Aku sangat bersyukur sekali pada Allah yang maha kuasa.
Ternyata Riyadi masuk fakultas yang sama sepertiku. Kita berjuang bersama-saman
menempuh pendidikan S1. Saling membantu apabila salah satu diantara kami ada
yang kesusahan. Kami juga sering curhat
dan sebagianya. Pada saat pembuatan skripsi, kita saling membantu satu sama
lain. Bagaimana pun caranya, kita berdua harus lulus dengan nilai yang
memuaskan. Dan Alhamdulillah tujuan itu tercapai dan akhirnya kita menjadi
sarjana S1. Tapi, jujur saja. Aku sangat iri padanya. Ketika wisuda ia bisa
ditemani keluarga tercintanya. Sedangkan aku, hanya sebatang kara. Seakan tak
punya sanak saudara. Hanya aku lah orang yang tidak membawa keluarga saat
wisuda. Mungkin aku harus lebih bersabar.
Ketika aku lulus kuliah, sudah banyak yang menawarkan
ku pekerjaan. Akhirnya aku memiliki pekerjaan tetap, begitu juga Riyadi. Tetapi
posisiku lebih tinggi dan gaji ku juga lebih tinggi dibandingkan dia. Setelah
aku bekerja satu bulan, aku meminta orang tua ku untuk tinggal di Jakarta.
Walau aku hanya tinggal di kontrakan, setidaknya lebih bagus kontrakan ku
dibandingkan rumah dikampung. Alangkah senangnya aku dapat berkumpul dengan
ayah dan ibuku lagi.
Ya, bulan demi bulan pun berlalu. Tak pernah aku
merasakan seperti ini. Pagi itu aku merasakan hal yang aneh pada Riyadi. Dia
tiba-tiba tak ingin berbicara padaku, dan memandangku dengan tatapan sinis. Ada
apa ini? Apa ada yang salah denganku? Ternyata, dia sepertinya iri. Aku di
naikkan jabatannya oleh boss ku. Ya, aku hanya bisa menerima saja. Malah aku
senang mendengarnya. Esok paginya, aku dipanggil oleh boss ku. Tak biasanya
boss ku memanggil ku sepagi ini. Dan dia menceritakan apa yang telah di
ceritakan Riyadi tentang diriku. Sontak aku kaget. Riyadi, sahabatku itu, ia
menjelekkan namaku di depan boss ku. Riyadi berkata bahwa aku melakukan korupsi
dan selalu memalsukan laporan hasil keuangan. Tega sekali sahabat ku itu.
Sebenarnya ada apa dengannya. Tapi untungnya boss ku percaya padaku. Dan
kemudian beliau menegur Riyadi untuk tidak memfitnah ku seperti itu.
Sepulang dari kantor, aku langsung mendekati Riyadi.
Sebenarnya ada apa dengannya. Mengapa dia melakukan hal itu padaku. Dan
akhirnya ia mau bercerita tentang masalahnya padaku. Ternyata ayahnya bangkrut.
Dan dia harus menanggung semuanya di pundaknya. Dia merasa, mengapa tidak dia
yang naik jabatan padahal kerjanya sama saja dengan ku. Ya, aku paham
masalahnya sekarang dan kita sudah berbaikan seperti dulu. Sekarang aku lebih
sering membantunya dalam menyelesaikan oekerjaan kantor agar dia bisa naik jabatan.
Dan akhirnya sekarang aku dan dia menjadi rekan di bidang management kantor
itu. Sekarang, aku bisa membuktikannya kepada mereka semua, yang dulu
mengatakan bahwa aku bodoh dan miskin. Dan sekarang ? Alhamdulillah berkat
kekuasaan dan kebesaran Allah S.W.T lah aku bisa mencapai puncak ini sekarang.
Jerih payah dan keringat yang aku keluarkan, tak sia-sia terbuang. Memang benar
kata orang dulu, apa yang kita tuai adalah yang kita tanam. Sekarang aku bisa
membuktikan bahwa pepatah itu adalah benar apa adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar